Logo Repository App UFDK Repository UFDK Universitas Fort De Kock

Daftar Repository

8825 dokumen ditemukan

Reset
Analisis Kualitatif Senyawa Metabolit Se...
Analisis Kualitatif Senyawa Metabolit Sekunder Ekstrak dan Fraksi Daun Gambir (Uncaria gambir (W.Hunter) Roxb.) dan Uji Aktivitas Antioksidan Metode ABTS.

Harry Ade Saputra, Fitri Salsabila · 2025 · Skripsi · Fakultas Ilmu Kesehatan, S1 Farmasi

Radikal bebas merupakan suatu senyawa mengandung molekul reaktif yang mengikat elektron molekul disekitarnya dan berbahaya bagi tubuh. Salah satu tanaman yang dapat menangkal radikal bebas adalah daun gambir (Uncaria gambir (W.Hunter) Roxb.). Metode ekstraksi yang digunakan adalah metode maserasi menggunakan etnaol pa. dan perebusan dengan air, dan fraksinasi meggunakan pelarut n-heksan, etil asetat, dan air. Penelitian ini dilakukan untuk mengidentifikasi senyawa metabolit sekunder dengan metode skrining fitokimia dan LC-HRMS, serta untuk mengetahui aktivitas antioksidan dengan metode ABTS (2,2-Azinobis(3-ethylbenzothiazoline)-6- sulfonic acid) pada ekstrak dan fraksi daun gambir. Hasil uji skrining fitokimia dan LC-HRMS dilakukan untuk menunjukkan adanya senyawa bioaktif seperti alkaloid, flavonoid, saponin, tanin, triterpenoid, dan steroid. Hasil uji aktivitas antioksidan diperoleh nilai % inhbisi ekstrak etanol 8,04%, ekstrak air 5,8%, fraksi n-heksan 10,27%, fraksi etil asetat 7,14%, dan fraksi air 6,7%. Hasil ini menunjukkan bahwa ekstrak dan fraksi daun gambir berpotensi sebagai antioksidan. Abstract (EN): Free radicals are compounds that contain reactive molecules which bind electrons from surrounding molecules and are harmful to the body. One plant known to counteract free radicals is the gambir leaf (Uncaria gambir (W.Hunter) Roxb.). The extraction methods used in this study were maceration using analytical-grade ethanol and decoction using water, followed by fractionation using n-hexane, ethyl acetate, and water as solvents. This research aims to identify secondary metabolite compounds using phytochemical screening and LC-HRMS methods, and to determine antioxidant activity using the ABTS method (2,2-Azinobis(3- ethylbenzothiazoline)-6-sulfonic acid) in the extracts and fractions of gambir leaves. The results from phytochemical screening and LC-HRMS confirmed the presence of bioactive compounds such as alkaloids, flavonoids, saponins, tannins, triterpenoids, and steroids. The antioxidant activity test showed the following % inhibition values: ethanol extract 8.04%, water extract 5.8%, n-hexane fraction 10.27%, ethyl acetate fraction 7.14%, and water fraction 6.7%. These results indicate that the extracts and fractions of gambir leaves have potential as antioxidants.

Skripsi 2025
Detail
Analisis Kualitatif Senyawa Metabolit Se...
Analisis Kualitatif Senyawa Metabolit Sekunder Ekstrak Dan Fraksi Daun Gambir (Uncaria gambir (W.Hunter) Roxb.) Dan Uji Aktivitas Antiinflamasi Metode Denaturasi Protein

Harry Ade Saputra, Sepia Aroza · 2025 · Skripsi · Fakultas Ilmu Kesehatan, S1 Farmasi

Infalamasi merupakan respons biologis terhadap cedera atau infeksi yang jika tidak ditangani dapat berkembang menjaadi penyakit kronis seperti rheumatoid arhritis. Penggunaan obat antiinflamasi sintetis seperti natrium diklofenak dapat menimbulkan efek samping jangka panjang, sehingga diperlukan alternatif dari bahan alam. Tanaman gambir (Uncaria gambir (W.Hunter) Roxb.) diketahui kaya akan senyawa metabolt sekunder, seperti katekin dan flavonoid, yang memiliki potensi aktivitas antiinflamasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi senyawa metabolit sekunder dalam ekstrak dan fraksi daun gambir menggunakan LC-HRMS serta menguji aktivitas antiinflamasi secara in vitro melalui metode denaturasi protein. Ekstraksi dilakukan dengan metode maserasi menggunakan etanol, kemudian dilakukan fraksinasi menggunakan n-heksan, etil asetat, dan air. Hasil analisis menunjukkan keberadaan senyawa aktif seperti flavonoid dengan senyawa dominan cianidanol, saponin dengan senyawa dominan gitogenin, tanin dengan senyawa dominan gambiriin C , dan alkaloid dengan senyawa dominan colchicine pada ekstrak dan fraksinya. Uji aktivitas antiinflamasi menunjukkan bahwa fraksi air 458,76μg dan fraksi n-heksan 495,18 μg/ml memiliki nilai IC50 yang lebih rendah dibandingkan kontrol positif natrium diklofenak 526,78 μg/ml, menandakan potensi sebagai agen antiinflamasi alami. Penelitian ini mendukung pemanfaatan daun gambir sebagai kandidat bahan baku obat herbal antiinflamasi. Abstract (EN): Inflammation is a biological response to injury or infection that, if left untreated, can develop into chronic diseases such as rheumatoid arthritis. The use of synthetic anti-inflammatory drugs like sodium diclofenac may cause long-term side effects, highlighting the need for natural alternatives. Gambir (Uncaria gambir (W. Hunter) Roxb.) is known to be rich in secondary metabolites such as catechins and flavonoids, which have potential anti-inflammatory activity. This study aimed to identify secondary metabolites in extracts and fractions of gambir leaves using LC-HRMS and to evaluate their anti-inflammatory activity in vitro through the protein denaturation method. Extraction was carried out using the maceration method with ethanol, followed by fractionation with n-hexane, ethyl acetate, and water. The analysis revealed the presence of active compounds such as: Flavonoids, with cyanidanol as the dominant compound Saponins, dominated by gitogenin Tannins, with gambiriin C as the main compound Alkaloids, dominated by colchicine The anti-inflammatory activity test showed that the aqueous fraction (IC50 = 458.76 μg/mL) and the n-hexane fraction (IC50 = 495.18 μg/mL) had lower IC50 values compared to the positive control sodium diclofenac (IC50 = 526.78 μg/mL), indicating potential as natural anti- inflammatory agents. This study supports the use of gambir leaves as a candidate for herbal anti-inflammatory drug development.

Skripsi 2025
Detail
Uji Aktivitas Antikanker Secara In Vitro...
Uji Aktivitas Antikanker Secara In Vitro dari Ekstrak Pelarut Non Polar Daun Piladang Hijau (Coleus monostachyus) Terhadap Sel Kanker Payudara MCF-7.

Billy Harnaldo Putra, Fira Triastuti · 2025 · Skripsi · Fakultas Ilmu Kesehatan, S1 Farmasi

Kanker payudara merupakan salah satu kanker dengan prevalensi tertinggi. Terapi konvensional seperti kemoterapi sering menimbulkan efek samping pada sel sehat. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi aktivitas antikanker ekstrak non polar daun piladang hijau (Coleus monostachyus) terhadap sel kanker MCF-7 secara in vitro serta menentukan pelarut non polar paling efektif dalam mengekstraksi senyawa sitotoksik. Ekstraksi dengan metode maserasi menggunakan pelarut kloroform, diklorometana, dan n-heksan. Kloroform menghasilkan rendemen tertinggi (18,5%), diikuti diklorometana (17,5%) dan n-heksan (15,5%). Skrining fitokimia menunjukkan seluruh ekstrak mengandung alkaloid, flavonoid, tanin, dan steroid. Uji toksisitas metode Brine Shrimp Lethality Test (BSLT) menunjukkan nilai LC50 terendah pada ekstrak kloroform (100,50 μg/mL), diikuti n-heksan (143,05 μg/mL) dan diklorometana (240,71 μg/mL), semuanya tergolong toksik sedang. Uji sitotoksik metode MTT Assay juga menunjukkan IC50 terendah pada ekstrak kloroform (128,82 μg/mL), diikuti n-heksan (150,02 μg/mL) dan diklorometana (278,84 μg/mL). Seluruh ekstrak menunjukkan efek sitotoksik secara konsentrasi- dependen. Hasil menunjukkan bahwa ekstrak daun Coleus monostachyus dengan pelarut kloroform memiliki potensi tertinggi sebagai agen antikanker alami. Penelitian ini mendukung pemanfaatan tanaman obat sebagai alternatif terapi kanker yang lebih aman dan efektif. Abstract (EN): Breast cancer is one of the most prevalent types of cancer globally. Conventional treatments such as chemotherapy often cause adverse side effects on healthy cells. This study aimed to evaluate the anticancer activity of non-polar solvent extracts from green piladang leaves (Coleus monostachyus) against MCF-7 breast cancer cells in vitro, and to determine the most effective non-polar solvent for extracting cytotoxic compounds. Extraction was carried out using the maceration method with three non-polar solvents: chloroform, dichloromethane, and n-hexane. Chloroform yielded the highest extract percentage (18.5%), followed by dichloromethane (17.5%) and n-hexane (15.5%). Phytochemical screening revealed that all extracts contained alkaloids, flavonoids, tannins, and steroids. Toxicity testing using the Brine Shrimp Lethality Test (BSLT) showed the lowest LC50 value in the chloroform extract (100.50 μg/mL), followed by n-hexane (143.05 μg/mL), and dichloromethane (240.71 μg/mL)—all classified as moderately toxic. Cytotoxicity testing via the MTT Assay also showed the lowest IC50 in the chloroform extract (128.82 μg/mL), followed by n-hexane (150.02 μg/mL) and dichloromethane (278.84 μg/mL). These results indicate that the chloroform extract of Coleus monostachyus leaves possesses the strongest potential as a natural anticancer agent. This research supports the potential use of medicinal plants as safer and more effective alternative therapies for cancer treatment.

Skripsi 2025
Detail
Uji Toksisitas Subkronis Ekstrak Kantong...
Uji Toksisitas Subkronis Ekstrak Kantong Semar (Nepenthes ampullaria Jack.) Pada Tikus Putih Galur Wistar

Miming Andika, Selsi Septina Dewita · 2025 · Skripsi · Fakultas Ilmu Kesehatan, S1 Farmasi

Penggunaan obat tradisional di Indonesia semakin meningkat karena dianggap lebih aman, murah, dan mudah diperoleh, namun sebagian besar tanaman obat belum memiliki data toksisitas yang memadai sehingga aspek keamanannya masih diragukan. Salah satu tanaman yang banyak dimanfaatkan adalah kantong semar (Nepenthes ampullaria Jack.), yang diketahui mengandung senyawa bioaktif seperti alkaloid, flavonoid, dan fenolik dengan potensi antioksidan, antiinflamasi, dan antimikroba. Meski demikian, data mengenai keamanan penggunaan jangka panjangnya masih sangat terbatas. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi toksisitas subkronis ekstrak etanol kantong semar pada tikus putih galur Wistar, menentukan rentang dosis toksik, serta menilai pengaruhnya terhadap histopatologi hati dan ginjal. Penelitian eksperimental dilakukan dengan empat kelompok perlakuan, yaitu kontrol, dosis 600 mg/kgBB, 800 mg/kgBB, dan 1000 mg/kgBB. Parameter yang diamati meliputi perilaku, berat relatif organ (hati, ginjal, paru-paru, lambung, jantung, limpa, dan usus), serta gambaran histopatologi hati dan ginjal. Analisis data menggunakan SPSS 20. Hasil penelitian menunjukkan adanya efek dosis-respons, dengan gejala ringan berupa perubahan bulu dan gangguan tidur pada dosis rendah hingga diare persisten, kelemahan tubuh, dan reaksi alergi pada dosis tinggi. Berat relatif organ menunjukkan perbedaan signifikan antar kelompok (p < 0,05). Histopatologi memperlihatkan kondisi normal pada dosis 600 mg/kgBB, sedangkan degenerasi dan nekrosis ringan pada hati serta ginjal terjadi pada dosis 1000 mg/kgBB. Dengan demikian, ekstrak etanol kantong semar berpotensi menimbulkan toksisitas subkronis pada dosis tinggi, sedangkan pada dosis rendah relatif aman. Abstract (EN): The use of traditional medicine in Indonesia is increasing because it is considered safer, cheaper, and easier to obtain. However, most medicinal plants lack adequate toxicity data, thus raising doubts about their safety. One widely used plant is the pitcher plant (Nepenthes ampullaria Jack.), which is known to contain bioactive compounds such as alkaloids, flavonoids, and phenolics with antioxidant, anti- inflammatory, and antimicrobial potential. However, data regarding the safety of its long-term use is still very limited. This study aimed to evaluate the subchronic toxicity of ethanol extract of pitcher plant in Wistar white rats, determine the toxic dose range, and assess its effect on liver and kidney histopathology. The experimental study was conducted with four treatment groups, namely control, doses of 600 mg/kgBW, 800 mg/kgBW, and 1000 mg/kgBW. Parameters observed included behavior, relative organ weights (liver, kidney, lung, stomach, heart, spleen, and intestine), and histopathological features of the liver and kidneys. Data analysis used SPSS 20. The results showed a dose-response effect, with mild symptoms such as fur changes and sleep disturbances at low doses to persistent diarrhea, body weakness, and allergic reactions at high doses. Relative organ weights showed significant differences between groups (p < 0.05). Histopathology showed normal conditions at a dose of 600 mg/kgBW, while mild degeneration and necrosis in the liver and kidneys occurred at a dose of 1000 mg/kgBW. Thus, the ethanol extract of the pitcher plant has the potential to cause subchronic toxicity at high doses, while it is relatively safe at low doses.

Skripsi 2025
Detail
Evaluasi Kelengkapan Resep Terhadap Pote...
Evaluasi Kelengkapan Resep Terhadap Potensi Terjadinya Medication Error Pada Pasien Rawat Jalan Rs Madina Bukittinggi Dengan Metode NCC MERP Tahun 2023.

Silvia, Fetri Diana Alaska · 2025 · Skripsi · Fakultas Ilmu Kesehatan, S1 Farmasi

Medication error merupakan kejadian yang dapat merugikan pasien, namun sebenarnya dapat dicegah. Salah satu faktor yang memicu terjadinya medication error adalah ketidak lengkapan resep. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kelengkapan resep terhadap potensi terjadinya medication error di RS Madina Bukittinggi tahun 2023. Penelitian menggunakan desain deskriptif kualitatif dengan pengambilan data retrospektif. Sampel sebanyak 398 lembar resep diperoleh melalui metode porposional sampling dengan rumus Slovin. Instrumen penelitian berupa checklist skrining resep berdasarkan Permenkes No.72 Tahun 2016. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aspek administratif kelengkapan resep menunjukkan 45,45% lengkap, sementara ketidak lengkapan mencapai 54,55%. Pada aspek farmasetik, kelengkapan resep sebesar 84,7%, sedangkan ketidak lengkapan 15,3%. Aspek klinis memiliki lengkap/aman 83,75% dan tidak lengkap/berpoteni error 16,25%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa identifikasi medication error berdasarkan klasifikasi NCC MERP menunjukan kategori A tercatat 0,08%, kategori B sebesar 96,05%, kategori C 1,72%, kategori D 1,64%, dan kategori E 0,51%. Dapat disimpulkan bahwa seluruh resep yang dianalisis belum sepenuhnya memenuhi kelengkapan sesuai standar Permenkes No.72 Tahun 2016, sehingga masih berpotensi menimbulkan medication error. Saran dari penelitian ini adalah perlunya peningkatan ketelitian dokter dalam menuliskan resep, penerapan sistem elektronik untuk mendukung kelengkapan resep, serta penguatan peran apoteker dalam melakukan skrining resep secara konsisten guna meminimalkan risiko medication error dan meningkatkan keselamatan pasien. Abstract (EN): Medication errors are incidents that can harm patients but are, in fact, preventable. One of the factors that can trigger medication errors is incomplete prescriptions. This study aims to evaluate the completeness of prescriptions and their potential to cause medication errors at Madina Hospital Bukittinggi in 2023. The study used a descriptive qualitative design with retrospective data collection. A total of 398 prescription sheets were obtained using proportional sampling based on Slovin's formula. The research instrument was a prescription screening checklist based on Ministry of Health Regulation No. 72 of 2016. The results showed that for the administrative aspect, 45.45% of prescriptions were complete, while 54.55% were incomplete. For the pharmaceutical aspect, 84.7% were complete and 15.3% were incomplete. In the clinical aspect, 83.75% were complete/safe, while 16.25% were incomplete/at risk of error. Based on NCC MERP classification, the identification of medication errors showed: Category A: 0.08% Category B: 96.05% Category C: 1.72% Category D: 1.64% Category E: 0.51% It can be concluded that the prescriptions analyzed did not fully meet the completeness standards set by Ministry of Health Regulation No. 72 of 2016 and still pose a potential risk for medication errors. This study recommends increasing physicians’ accuracy in writing prescriptions, implementing electronic systems to support prescription completeness, and strengthening the role of pharmacists in consistently screening prescriptions to minimize medication error risks and enhance patient safety.

Skripsi 2025
Detail
Uji Aktivitas Antioksidan Pada Ekstrak E...
Uji Aktivitas Antioksidan Pada Ekstrak Etanol 96% & Fraksi Etil Asetat Pada Bawang Dayak ( Eleutherine bulbosa (Mill.) Urb )

Oryza Sativa Fitriani, Salsabila Ulfa Dani · 2025 · Skripsi · Fakultas Ilmu Kesehatan, S1 Farmasi

Radikal bebas merupakan senyawa reaktif yang dapat menyebabkan stres oksidatif dan memicu berbagai penyakit degeneratif, termasuk hipertensi. Salah satu tanaman yang dapat menangkal radikal bebas penyebab hipertensi adalah umbi bawang dayak (Eleutherine bulbosa (Mill.) Urb.). Umbi bawang dayak (Eleutherine bulbosa (Mill.) Urb.) memiliki potensi sebagai antioksidan dalam penurunan hipertensi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antioksidan dari ekstrak etanol 96% dan fraksi etil asetat umbi bawang dayak (Eleutherine bulbosa (Mill.) Urb.), serta mengidentifikasi kandungan metabolit sekundernya. Metode ekstraksi yang digunakan adalah maserasi dengan menggunakan pelarut etanol 96%, dilanjutkan fraksinasi cair-cair menggunakan pelarut n-heksan dan etil asetat dan metode uji aktivitas antioksidan dengan metode DPPH (2,2-diphenyl-1-picrylhydrazyl). Hasil skrining fitokimia pada ekstrak etanol 96% dan fraksi etil asetat mengandung senyawa alkaloid, flavonoid, tanin, saponin, fenol, dan steroid, serta hasil uji aktivitas antioksidan serta hasil aktivitas antioksidan ekstrak etanol 96% dan fraksi etil asetat bawang dayak (Eleutherine bulbosa (Mill.) Urb.) dengan nilai IC50 berturut-turut sebesar 74,18 ppm dan 63,03 ppm termasuk kedalam kategori kuat. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa, ekstrak dan fraksi etil asetat bawang dayak (Eleutherine bulbosa (Mill.) Urb.) berpotensi sebagai sumber antioksidan alami yang dapat digunakan untuk mendukung terapi herbal, khususnya dalam pencegahan hipertensi.

Skripsi 2025
Detail
Analisis Kualitatif Senyawa Metabolit Se...
Analisis Kualitatif Senyawa Metabolit Sekunder Fraksi Daun Gambir (Uncaria Gambir (W.Hunter) Roxb) Dan Uji Aktivitas Uji Aktivitas Anti Bakteri Staphylococcus aureus.

Harry Ade Saputra, Farhan Dika Athoullah Rosya · 2025 · Skripsi · Fakultas Ilmu Kesehatan, S1 Farmasi

Tanaman yang memiliki sifat antimikroba banyak ditemukan dalam berbagai jenis, dan masing-masing jenis memiliki bahan bioaktif yang berbeda yang memiliki sifat antimikroba yang kuat melawan patogen. Tanaman gambir (Uncaria gambir Roxb.) Gambir merupakan produk utama yang dihasilkan dari ekstraksi daun dan ranting tanaman Uncaria gambir (W. Hunter) Roxb. Dua komponen utama dalam ekstrak gambir adalah katekin dan asam katekutannat yang keduanya memiliki nilai manfaat tinggi dalam dunia farmasi dan kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan senyawa metabolit sekunder dari fraksi daun gambir (Uncaria gambir Roxb.) serta aktivitas antibakterinya terhadap Staphylococcus aureus. Fraksi dilakukan dengan metode maserasi menggunakan etanol, kemudian hasil ekstrak difraksinasi dengan pelarut n- heksana, etil asetat dan air. Identifikasi kandungan metabolit sekunder dilakukan melalui skrining fitokimia dan analisis LC-HRMS, sedangkan uji aktivitas antibakteri dilakukan dengan metode difusi agar. Hasil skrining menunjukkan bahwa daun gambir mengandung alkaloid, flavonoid, tanin, saponin dan steroid. Analisis LC-HRMS mengidentifikasi adanya katekin, quercetin dan turunannya yang diketahui memiliki efek antibakteri. Uji antibakteri memperlihatkan bahwa semua fraksi memiliki aktivitas penghambatan terhadap Staphylococcus aureus dengan zona hambat 18,50–25 mm (kategori kuat hingga sangat kuat). Fraksi etil asetat menunjukkan aktivitas paling tinggi dengan zona hambat 22–25 mm, fraksi air 21–23 mm, sedangkan fraksi n-heksan relatif lebih rendah 18,50–20,84 mm. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa fraksi daun gambir khususnya fraksi etil asetat, memiliki potensi sebagai sumber senyawa antibakteri terhadap Staphylococcus aureus. Penelitian ini memberikan landasan ilmiah untuk pengembangan gambir sebagai alternatif terapi herbal dalam mengatasi infeksi bakteri serta mendukung upaya mengurangi resistensi antibiotik. Abstract (EN): Plants with antimicrobial properties are widely found in various types, each containing different bioactive compounds with strong antimicrobial activity against pathogens. Gambir (Uncaria gambir Roxb.) is the main product obtained from the extraction of leaves and twigs of the Uncaria gambir (W. Hunter) Roxb. plant. The two major components of gambir extract are catechin and catechu- tannic acid, both of which have high value in the pharmaceutical and health fields. This study aimed to determine the secondary metabolite content of gambir leaf fractions (Uncaria gambir Roxb.) and their antibacterial activity against Staphylococcus aureus. Fractionation was carried out by maceration using ethanol, followed by extraction with n-hexane, ethyl acetate, and water solvents. Identification of secondary metabolites was performed through phytochemical screening and LC-HRMS analysis, while antibacterial activity was tested using the agar diffusion method. Screening results showed that gambir leaves contain alkaloids, flavonoids, tannins, saponins, and steroids. LC-HRMS analysis identified catechin, quercetin, and its derivatives, all of which are known to have antibacterial effects. Antibacterial tests revealed that all fractions exhibited inhibitory activity against Staphylococcus aureus with inhibition zones ranging from 18.50–25 mm (strong to very strong category). The ethyl acetate fraction showed the highest activity with inhibition zones of 22–25 mm, followed by the water fraction (21–23 mm), while the n-hexane fraction showed relatively lower activity (18.50–20.84 mm). Based on these results, it can be concluded that gambir leaf fractions, particularly the ethyl acetate fraction, have potential as a source of antibacterial compounds against Staphylococcus aureus. This study provides a scientific basis for the development of gambir as an alternative herbal therapy for bacterial infections and supports efforts to reduce antibiotic resistance.

Skripsi 2025
Detail
Pembuatan Dan Evaluasi Sediaan Handbody...
Pembuatan Dan Evaluasi Sediaan Handbody Gel Dari Sari Buah Tomat (Solanum lycopersicum L.) Kombinasi Lidah Buaya (Aloe vera (L.) Burm.f.)

Nola Rahmadasmi, Salsabila Azani Putri · 2025 · Skripsi · Fakultas Ilmu Kesehatan, S1 Farmasi

Kulit kering merupakan masalah umum yang terjadi akibat rendahnya kelembapan serta produksi minyak alami kulit, dan dapat diperburuk oleh paparan sinar matahari serta faktor lingkungan. Handbody gel menjadi alternatif perawatankarena mampu melembapkan sekaligus memberikan efek sejuk, terutama jika diformulasikan dengan bahan alami seperti tomat (Solanum lycopersicum L.) yang kaya likopen sebagai antioksidan, serta lidah buaya (Aloe vera (L.) Burm.f.) yang memiliki sifat pelembap dan antiinflamasi. Penelitian ini bertujuan merumuskan dan mengevaluasi sediaan handbody gel berbahan aktif sari tomat dan lidah buaya dengan variasi konsentrasi untuk memperoleh formula yang sesuai standar mutu fisik. Metode penelitian menggunakan rancangan eksperimental laboratorium melalui tahapan determinasi, preparasi, ekstraksi, formulasi handbody gel, serta evaluasi mutu fisik. Parameter uji meliputi organoleptis, homogenitas, pH, viskositas, daya sebar, dan stabilitas (sentrifugasi, penyimpanan suhu ruang dan freeze and thaw). Sebanyak sebelas formula diuji, yaitu F0 (basis), F1–F3 (sari buah tomat 5%, 10%, 15%), F4–F6 (sari lidah buaya 5%, 10%, 15%), serta F7–F11 (kombinasi dengan konsentrasi 2,5%:2,5%, 5%:5%, 7,5%:7,5%, 10%:5% dan 5%:10%). Hasil menunjukkan semua formula stabil dengan pH 4,5–6,5, viskositas 3.000-50.000 cPs, homogen, dan memiliki dayasebar baik. Formula F7 (2,5% tomat dan 2,5% lidah buaya) memberikan hasil terbaik karena selama masa pengujian cenderung stabil, dengan tekstur lembut, daya sebar optimal, dan stabilitas tinggi. Kesimpulannya, sari buah tomat dan sari lidah buaya dapat diformulasikan menjadi handbody gel yang memenuhi standar mutu fisik serta berpotensi sebagai perawatan kulit kering. Abstract (EN): Dry skin is a common problem that occurs due to low moisture and natural oil production of the skin, and can be exacerbated by sun exposure and environmental factors. Handbody gel is an alternative treatment because it can moisturize and provide a cooling effect, especially if formulated with natural ingredients such as tomatoes (Solanumlycopersicum L.) which are rich in lycopene as an antioxidant, and aloe vera (Aloe vera (L.) Burm.f.) which has moisturizing and anti-inflammatory properties. This study aims to formulate and evaluate handbody gel preparations containing active ingredients of tomato juice and aloe vera with varying concentrations to obtain a formula that meets physical quality standards. The research method uses a laboratory experimental design through the stages of determination, preparation, extraction, handbody gel formulation, and physical quality evaluation. Test parameters include organoleptic, homogeneity, pH, viscosity, spreadability, and stability (centrifugation, room temperature storage and freeze and thaw). Eleven formulas were tested: F0 (base), F1–F3 (tomato juice 5%, 10%, and 15%), F4–F6(Aloe vera juice 5%, 10%, and 15%), and F7–F11 (combinations with concentrations of 2.5%:2.5%, 5%:5%, 7.5%:7.5%, 10%:5%, and 5%:10%). Results showed all formulas were stable at a pH of 4.5–6.5, with a viscosity of 3,000–50,000cPs, homogeneous, and good spreadability. Formula F7 (2.5% tomato and 2.5% aloe vera) performed best throughout the testing period, maintaining a soft texture, optimal spreadability, and high stability. In conclusion, tomato and aloe vera juice can be formulated into a handbody gel that meets physical quality standards and has potential as a treatment for dry skin.

Skripsi 2025
Detail
Uji Aktivitas Antioksidan dari Fraksi Ai...
Uji Aktivitas Antioksidan dari Fraksi Air Terhidrolisis HCl Ekstrak Etanol Beras Hitam (Oryza sativa L. indica) dengan Metode ABTS.

Yulia Yesti, Fairuzhia Meisya · 2025 · Skripsi · Fakultas Ilmu Kesehatan, S1 Farmasi

Beras hitam (Oryza sativa L. indica) merupakan pangan fungsional kaya senyawa bioaktif seperti antosianin, flavonoid dan polifenol yang berperan sebagai antioksidan alami. Namun, sebagian senyawa tersebut terikat sebagai glikosida sehingga penyerapannya didalam tubuh kurang optimal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antioksidan fraksi air terhidrolisis HCl ekstrak etanol beras hitam (Oryza sativa L. indica) dengan metode ABTS. Metode penelitian menggunakan metode eksperimen dengan analisis kuantitatif. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Kimia Farmasi Universitas Fort De Kock Bukittinggi. Sampel beras hitam diperoleh dari Kabupaten Sleman, Jawa Tengah. Ekstraksi dilakukan dengan metode maserasi menggunakan etanol 70%, kemudian melakukan fraksinasi dan hidrolisis HCl pada fraksi air. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai IC50 dari asam askorbat sebesar 7,39 μg/mL dengan kategori aktivitas antioksidan sangat kuat, nilai IC50 dari fraksi air sebesar 66,91 μg/mL dengan kategori aktivitas antioksidan kuat dan nilai IC50 dari fraksi air terhidrolisis HCl sebesar 46,24 μg/mL dengan kategori aktivitas antioksidan sangat kuat dengan panjang gelombang 731 nm. Pada analisa data menghasilkan nilai p = 0,047 ( Abstract (EN): Black rice (Oryza sativa L. indica) is a functional food rich in bioactive compounds such as anthocyanins, flavonoids, and polyphenols, which act as natural antioxidants. However, some of these compounds are bound as glycosides, making their absorption in the body less optimal. This study aims to determine the antioxidant activity of the HCl-hydrolyzed water fraction from the ethanol extract of black rice (Oryza sativa L. indica) using the ABTS method. The research method involved the extraction of black rice simplicia using an experimental method with quantitative analysis. Black rice samples were obtained from Sleman Regency, Central Java. Extraction was carried out using maceration with 70% ethanol, followed by fractionation and HCl hydrolysis on the water fraction. The results showed that ascorbic acid had an IC50 value of 7.39 μg/mL, classified as having very strong antioxidant activity; the water fraction had a value of 66.91 μg/mL, classified as strong antioxidant activity; and the HCl-hydrolyzed water fraction had a value of 46.24 μg/mL, classified as very strong antioxidant activity at a wavelength of 731 nm. Data analysis yielded a p-value = 0.047 (

Skripsi 2025
Detail
Pembuatan Dan Evaluasi Sediaan Body Scru...
Pembuatan Dan Evaluasi Sediaan Body Scrub Dari Sari Buah Tomat (Solanum Lycopersicum L.) Kombinasi Beras Ketan Hitam (Oryzae Sativa L. var glutinous)

Salasah Nur Insahni, Nola Rahmadani · 2025 · Skripsi · Fakultas Ilmu Kesehatan, S1 Farmasi

Kulit merupakan organ penting dalam menunjang penampilan, terutama bagi perempuan. Paparan radikal bebas dan sinar UV dapat menyebabkan penuaan dini, kulit kusam, dan kerusakan struktur kulit. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan sediaan body scrub dari sari buah tomat dikombinasikan dengan beras ketan hitam yang sesuai dengan standar evaluasi mutu fisik sediaan yang baik. Penelitian menggunakan metode eksperimental dengan empat formula: F0 (kontrol), F1, F2, dan F3, mengandung kombinasi bahan aktif masing-masing sebesar 5%, 10%, dan 15%. Evaluasi meliputi uji organoleptik (menggunakan aplikasi Color Name), pH (4,5–6,5), viskositas (2000 –50.000 cPs), stabilitas suhu dingin (16–18 °C) dan suhu ruang selama 28 hari, uji stabilitas cyling test, serta uji iritasi pada hewan dan sukarelawan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua formulasi memenuhi standar mutu fisik seperti organoleptik, pH, viskositas, non-iritasi, serta stabil pada kondisi penyimpanan suhu dingin. Uji stabilitas pada suhu ruang dan cycling test menunjukkan perubahan pada organoleptik, pH, dan viskositas. Uji hedonik menunjukkan F2 paling disukai dari segi warna, aroma, tekstur, dan kenyamanan. Disimpulkan bahwa kombinasi sari tomat dan beras ketan hitam dapat diformulasikan menjadi body scrub dengan konsentrasi 5%, 10% dan 15%, dengan stabilitas terbaik pada suhu dingin. Abstract (EN): The skin is an important organ in supporting appearance, especially for women. Exposure to free radicals and UV rays can lead to premature aging, dull skin, and structural skin damage. This study aims to develop a body scrub formulation from tomato fruit extract combined with black glutinous rice that meets good physical quality evaluation standards. The study employed an experimental method using four formulations: F0 (control), F1, F2, and F3, containing active ingredient combinations of 5%, 10%, and 15%, respectively. The evaluation included organoleptic testing (using the Color Name application), pH (4.5–6.5), viscosity (2000–50,000 cPs), cold temperature stability (16–18 °C) and room temperature over 28 days, cycling stability test, and irritation testing on animals and volunteers. The results showed that all formulations met physical quality standards such as organoleptic properties, pH, viscosity, were non-irritating, and stable under cold storage conditions. Stability testing at room temperature and through the cycling test showed changes in organoleptic properties, pH, and viscosity. Hedonic testing showed that F2 was the most preferred in terms of color, aroma, texture, and comfort. It was concluded that the combination of tomato extract and black glutinous rice can be formulated into a body scrub at concentrations of 5%, 10%, and 15%, with the best stability at cold temperatures.

Skripsi 2025
Detail
Pembuatan Dan Evaluasi Krim Dari Ekstrak...
Pembuatan Dan Evaluasi Krim Dari Ekstrak Metanol Daun Kirinyuh (Chromolaena Odorata L.).

Evi Hasnita, Eriya Amelia Putri · 2025 · Skripsi · Fakultas Ilmu Kesehatan, S1 Farmasi

Daun kirinyuh (Chromolaena odorata L.) merupakan tanaman yang mengandung senyawa metabolit sekunder seperti flavonoid, alkaloid, saponin, tanin, dan fenol. Saponin merupakan salah satu senyawa yang dapat merangsang pembentukan kolagen, suatu struktur protein yang berperan dalam proses penyembuhan luka, serta mempunyai kemampuan sebagai pembersih, sehingga efektif dalam penyembuhan luka terbuka, sedangkan tanin dan flavonoid mempunyai aktivitas antiseptik dan antibakteri. Krim dipilih sebagai bentuk sediaan karena memiliki kemampuan menyebar merata di kulit, mudah digunakan, serta memberikan efek hidrasi yang baik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui mutu fisik dari sediaan krim ekstrak metanol daun kirinyuh yang diformulasikan dalam berbagai variasi konsentrasi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimental dengan menggunakan lima formula, yaitu F0 (tanpa ekstrak), F1 (2,5%), F2 (5%), F3 (7,5%), dan F4 (10%). Evaluasi sediaan meliputi uji organoleptis, homogenitas, pH, viskositas, daya sebar, daya lekat, uji stabilitas menggunakan metode cycling test, dan uji stabilitas sentrifugasi. Semua sediaan baik dalam pemeriksaan mutu fisik akan tetapi untuk pemeriksaan stabilitas uji cycling test, sediaan yang mengandung ekstrak mengalami perubahan pigmen warna pada suhu 40 ̊C. Formula yang mempunyai mutu fisik yang paling baik adalah formula F4 dengan konsentrasi ekstrak 10%. Abstract (EN): Kirinyuh leaves (Chromolaena odorata L.) are plants that contain secondary metabolites such as flavonoids, alkaloids, saponins, tannins, and phenols. Saponins are one of the compounds that can stimulate collagen formation, a protein structure involved in the wound healing process, and have cleansing properties, making them effective in treating open wounds. Tannins and flavonoids, on the other hand, possess antiseptic and antibacterial activities. Cream was chosen as the formulation form because it spreads evenly on the skin, is easy to use, and provides good hydration effects. This study aims to determine the physical quality of the methanol extract cream formulation of Kirinyuh leaves formulated in various concentration variations. The method used in this study is an experimental method using five formulas: F0 (without extract), F1 (2.5%), F2 (5%), F3 (7.5%), and F4 (10%). The evaluation of the formulations included organoleptic testing, homogeneity, pH, viscosity, spreadability, adhesion, stability testing using the cycling test method, and centrifugal stability testing. All formulations passed the physical quality examination; however, in the cycling test stability examination, formulations containing the extract exhibited pigment colour changes at 40°C. The formulation with the best physical quality was formulation F3 with a 7,5% extract concentration.

Skripsi 2025
Detail