Logo Repository App UFDK Repository UFDK Universitas Fort De Kock

Daftar Repository

8825 dokumen ditemukan

Reset
Pengaruh Cara Pengeringan terhadap Perol...
Pengaruh Cara Pengeringan terhadap Perolehan Kadar Fenol dan Flavonoid pada Ekstrak Daun Jarak Pagar (Jatropha curcas L.).

Oryza Sativa Fitriani, Ijra · 2025 · Skripsi · Fakultas Ilmu Kesehatan, S1 Farmasi

Daun jarak pagar (Jatropha curcas L.) diketahui mengandung senyawa fenol dan flavonoid yang memiliki aktivitas biologis, seperti antihipertensi, antiinflamasi, antipiretik, dan antidiabetes. Kandungan senyawa aktif tersebut dipengaruhi oleh cara pengeringan yang digunakan pada proses pembuatan simplisia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh cara pengeringan (matahari, oven, dan kering angin) terhadap perolehan kadar fenol dan flavonoid dalam ekstrak daun jarak pagar (Jatropha Curcas L.). Proses ekstraksi dilakukan menggunakan metode maserasi dengan pelarut etanol 96%. Penetapan kadar fenol dilakukan menggunakan pereaksi Folin-Ciocalteu dan kadar flavonoid menggunakan metode kompleksasi aluminium klorida (AlCl3). Hasil absorbansi dikonversi menjadi kadar (%), lalu dianalisis secara statistik menggunakan uji Anova satu arah yang dilanjutkan dengan uji Duncan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa cara pengeringan memberikan pengaruh signifikan terhadap perolehan kadar fenol dan flavonoid (p < 0,05). Pengeringan dengan cara kering angin menghasilkan kadar tertinggi baik pada fenol (17,52%) maupun flavonoid (28,92%). Kesimpulannya, cara pengeringan kering angin lebih efektif dalam mempertahankan kandungan senyawa aktif daun jarak pagar (Jatropha Curcas L.) dibandingkan dengan cara lainnya. Abstract (EN): Physic nut leaves (Jatropha curcas L.) are known to contain phenolic and flavonoid compounds that possess biological activities such as antihypertensive, anti-inflammatory, antipyretic, and antidiabetic effects. The content of these active compounds is influenced by the drying method used during the preparation of the simplicia (raw herbal material). This study aims to determine the effect of different drying methods (sun drying, oven drying, and air drying) on the yield of phenolic and flavonoid content in Jatropha curcas L. leaf extract. Extraction was performed using the maceration method with 96% ethanol as the solvent. The phenolic content was determined using the Folin-Ciocalteu reagent, while the flavonoid content was measured using the aluminum chloride (AlCl3) complexation method. Absorbance results were converted to percentage content (%) and analyzed statistically using one-way ANOVA followed by Duncan's post- hoc test. The results showed that the drying method significantly affected the yield of phenolic and flavonoid content (p < 0.05). Air drying resulted in the highest content for both phenolics (17.52%) and flavonoids (28.92%). In conclusion, air drying is more effective in preserving the active compound content of Jatropha curcas L. leaves compared to other drying methods.

Skripsi 2025
Detail
Uji Aktivitas Analgetik Kombinasi Infusa...
Uji Aktivitas Analgetik Kombinasi Infusa Daun Kirinyuh (Chromolaena Odorata) Dan Bawang Dayak (Eleutherine Bulbosa) Pada Mencit Putih Jantan Dengan Metode Writhing Test

Miming Andika, Tiara Julia Sumarlin · 2025 · Skripsi · Fakultas Ilmu Kesehatan, S1 Farmasi

Nyeri merupakan respon fisiologis akibat adanya rangsangan yang merusak jaringan dan membutuhkan penanganan farmakologis maupun non-farmakologis. Salah satu alternatif pengembangan obat analgetik berbahan alam adalah melalui pemanfaatan daun kirinyuh (Chromolaena odorata) dan umbi bawang dayak (Eleutherine bulbosa). Kedua tanaman tersebut mengandung senyawa metabolit sekunder seperti flavonoid, alkaloid, dan saponin yang berpotensi memberikan efek analgetik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas analgetik infusa daun kirinyuh, umbi bawang dayak, serta kombinasi keduanya terhadap mencit putih jantan dengan menggunakan metode writhing test. Simplisia masing- masing ditimbang sebanyak 25 gram, dimasukkan ke dalam beaker glass 500 mL, lalu ditambahkan 100 mL aquades. Perebusan dilakukan pada suhu 90°C selama 15 menit dengan sesekali pengadukan. Kombinasi infusa dibuat dengan perbandingan 1:1 (12,5 gram : 12,5 gram). Hewan uji dibagi ke dalam 6 kelompok, yaitu kontrol negatif (Na-CMC 0,5%), kontrol positif (asam mefenamat 500 mg, 0,2 mL), kontrol pembanding, infusa daun kirinyuh, infusa umbi bawang dayak, dan kombinasi infusa. Amati jumlah geliat yang muncul setiap 5 menit selama 30 menit setelah induksi nyeri dengan asam asetat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa infusa daun kirinyuh, umbi bawang dayak, maupun kombinasi keduanya mampu menurunkan jumlah geliat mencit dibandingkan kontrol negatif. Kombinasi infusa memberikan aktivitas analgetik yang lebih tinggi dibandingkan pemberian tunggal, namun masih lebih rendah dibandingkan dengan kontrol positif. Dapat disimpulkan bahwa infusa kombinasi daun kirinyuh (Chromolaena odorata) dan umbi bawang dayak (Eleutherine bulbosa) memiliki aktivitas analgetik pada mencit putih jantan, sehingga berpotensi dikembangkan sebagai kandidat obat herbal analgetik. Abstract (EN): Pain is a physiological response resulting from stimuli that damage tissue and requires both pharmacological and non-pharmacological management. One alternative for developing natural analgesic drugs is through the use of kirinyuh leaves (Chromolaena odorata) and dayak onion bulbs (Eleutherine bulbosa). Both plants contain secondary metabolites such as flavonoids, alkaloids, and saponins, which have potential analgesic effects. This study aimed to determine the analgesic activity of the infusions of kirinyuh leaves, dayak onion bulbs, and their combination in male white mice using the writhing test method. Each simplicia sample was weighed 25 grams and placed into a 500 mL beaker glass, then 100 mL of distilled water was added. The mixture was boiled at 90°C for 15 minutes with occasional stirring. The combined infusion was prepared at a 1:1 ratio (12.5 g : 12.5 g). The test animals were divided into six groups: negative control (0.5% Na-CMC), positive control (mefenamic acid 500 mg, 0.2 mL), comparative control, kirinyuh leaf infusion, dayak onion infusion, and the combined infusion. The number of writhing responses was observed every 5 minutes for 30 minutes after pain induction using acetic acid. The results showed that the infusions of kirinyuh leaves, dayak onion bulbs, and their combination reduced the number of writhing responses in mice compared to the negative control. The combined infusion demonstrated higher analgesic activity compared to single infusions, although still lower than the positive control. It can be concluded that the infusion combination of kirinyuh leaves (Chromolaena odorata) and dayak onion bulbs (Eleutherine bulbosa) exhibits analgesic activity in male white mice and has potential to be developed as a herbal analgesic candidate.

Skripsi 2025
Detail
Analisis Kualitatif Senyawa Metabolit Se...
Analisis Kualitatif Senyawa Metabolit Sekunder Fraksi Daun Gambir (Uncaria Gambir (W.Hunter) Roxb.) Dan Uji Aktivitas Antiinflamasi Metode Enzim Tripsin

Harry Ade Saputra, Thoriq Hafif · 2025 · Skripsi · Fakultas Ilmu Kesehatan, S1 Farmasi

Inflamasi merupakan respon biologis tubuh terhadap cedera atau infeksi, namun penggunaan obat antiinflamasi sintetik sering menimbulkan efek samping. Daun gambir (Uncaria gambir (W. Hunter) Roxb.) diketahui kaya polifenol, terutama katekin, yang berpotensi sebagai agen antiinflamasi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis secara kualitatif senyawa metabolit sekunder ekstrak dan fraksi daun gambir serta mengevaluasi aktivitas antiinflamasi dengan metode enzim tripsin. Daun gambir diekstraksi menggunakan maserasi etanol dan infusa air, kemudian difraksinasi cair-cair dengan n-heksan, etil asetat, dan air. Analisis dilakukan melalui skrining fitokimia, LC-HRMS, dan uji aktivitas enzim tripsin menggunakan substrat kasein pada 275 nm. Hasil menunjukkan rendemen ekstrak etanol 12,20 g, ekstrak air 6,121 g, fraksi n-heksan 0,49 g, fraksi etil asetat 6,60 g, dan fraksi air 3,509 g dari 100 g simplisia. Skrining fitokimia didapatkan adanya alkaloid, flavonoid, tanin, saponin, dan triterpenoid/steroid, dengan dominasi flavonoid pada fraksi etil asetat. Analisis LC-HRMS mengidentifikasi senyawa aktif utama, di antaranya catechin, quercetin-3β-D-glucoside, trifolin, procyanidin B2, doxorubicinone, 18-β-glycyrrhetinic acid, dihydroartemisinin, dan echinenone. Uji aktivitas antiinflamasi menunjukkan seluruh sampel memiliki efek inhibisi terhadap enzim tripsin secara konsentrasi-bergantung, dengan fraksi etil asetat sebagai fraksi paling aktif (IC50 terendah). Dengan demikian, fraksi etil asetat daun gambir yang kaya flavonoid berpotensi dikembangkan sebagai agen antiinflamasi alami melalui mekanisme penghambatan enzim proteolitik dan stabilisasi membran. Abstract (EN): Inflammation is the body's biological response to injury or infection, but the use of synthetic anti-inflammatory drugs often causes side effects. Gambir leaves (Uncaria gambir (W.Hunter) Roxb.) are known to be rich in polyphenols, especially catechins, which have potential as anti-inflammatory agents. This study aims to qualitatively analyze the secondary metabolites of gambier leaf extracts and fractions and evaluate their anti-inflammatory activity using the trypsin enzyme method. Gambir leaves were extracted using ethanol maceration and water infusion, then subjected to liquid-liquid fractionation with n-hexane, ethyl acetate, and water. The analysis was carried out through phytochemical screening, LC-HRMS, and trypsin enzyme activity test using casein substrate at 280 nm. The results showed a yield of 12.20 g of ethanol extract, 6.121 g of water extract, 0.49 g of n-hexane fraction, 6.60 g of ethyl acetate fraction, and 3.509 g of water fraction from 100 g of the crude drug. Phytochemical screening revealed the presence of alkaloids, flavonoids, tannins, saponins, and triterpenoids/steroids, with flavonoids dominating in the ethyl acetate fraction. LC-HRMS analysis identified the main active compounds, including catechin, quercetin-3β-D-glucoside, trifolin, procyanidin B2, doxorubicinone, 18-β-glycyrrhetinic acid, dihydroartemisinin, and echinenone. Anti-inflammatory activity tests showed that all samples had a concentration-dependent inhibitory effect on trypsin, with the ethyl acetate fraction being the most active (lowest IC50). Thus, the flavonoid-rich ethyl acetate fraction of gambier leaves has the potential to be developed as a natural anti-inflammatory agent through proteolytic enzyme inhibition and membrane stabilization.

Skripsi 2025
Detail
Uji toksisitas akut ekstrak daun matoa (...
Uji toksisitas akut ekstrak daun matoa (pometia pinnata) terhadap histopatologi hati mencit putih Jantan.

Miming Andika, ifra Fauziah · 2025 · Skripsi · Fakultas Ilmu Kesehatan, S1 Farmasi

Tanaman obat merupakan bahan alam yang dikembangkan sebagai obat tradisional. Daun matoa (Pometia pinnata) telah dimanfaatkan secara tradisional oleh masyarakat Papua, karena daun matoa mengandung senyawa flavonoid, alkaloid, tanin, saponin, dan terpenoid yang memiliki aktivitas farmakologis, sebagai antioksidan, dan antihipertensi. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi toksisitas akut ekstrak etanol 70% daun matoa terhadap mencit putih jantan berdasarkan nilai LD50, gejala toksik, perubahan berat badan, serta pengaruhnya terhadap gambaran histopatologi hati. Penelitian dilakukan secara eksperimental menggunakan 24 ekor mencit putih jantan yang dibagi menjadi enam kelompok, yaitu satu kelompok kontrol dan lima kelompok perlakuan dengan dosis ekstrak 24 mg/kgBB, 144 mg/kgBB, 864 mg/kgBB, 2592 mg/kgBB, dan 5184 mg/kgBB. Ekstrak diberikan secara oral satu kali pada hari pertama, dilakukan pengamatan selama 14 hari terhadap gejala klinis, perubahan berat badan, dan dilakukan analisis histopatologi hati pada akhir uji. Nilai LD50 dihitung berdasarkan persentase kematian dan gejala toksik, serta dianalisis secara statistik menggunakan ANOVA. Hasil menunjukkan tidak ditemukan kematian pada semua kelompok perlakuan hingga dosis tertinggi (5184 mg/kgBB), sehingga ekstrak daun matoa digolongkan sebagai tidak toksik secara akut (LD50 > 5000 mg/kgBB). Gejala toksik ringan seperti tremor, sesak nafas, dan teang muncul sementara tidak menimbulkan efek sistemik berat. Hasil histopatologi hati tidak menunjukkan adanya kerusakan signifikan pada struktur hati, hanya ditemukan perubahan ringan pada dosis tinggi. tidak menunjukkan efek toksik akut yang signifikan terhadap mencit putih jantan hingga dosis 5184 mg/kgBB, serta aman berdasarkan parameter nilai LD50 dan hasil dari SPSS menunjukan nilai dari organ hati 0,831 menunjukan tidak terdapat perbedaan yang signifikan P≤0,05 pada berat organ hati. Abstract (EN): Medicinal plants are natural substances developed as traditional medicines. Matoa leaves (Pometia pinnata) have been used traditionally by the Papuan people because they contain flavonoids, alkaloids, tannins, saponins, and terpenoids, which have pharmacological, antioxidant, and antihypertensive properties. This study aimed to evaluate the acute toxicity of 70% ethanol extract of matoa leaves on male white mice based on LD50 values, toxic symptoms, changes in body weight, and its effect on liver histopathology. The study was conducted experimentally using 24 male white mice divided into six groups, namely one control group and five treatment groups with extract doses of 24 mg/kgBW, 144 mg/kgBW, 864 mg/kgBW, 2592 mg/kgBW, and 5184 mg/kgBW. The extract was administered orally once on the first day, and observations were made for 14 days on clinical symptoms and weight changes, and histopathological analysis of the liver was performed at the end of the test. The LD50 value was calculated based on the percentage of mortality and toxic symptoms and analyzed statistically using ANOVA. The results showed no mortality in all treatment groups up to the highest dose (5184 mg/kgBW), so matoa leaf extract was classified as acutely non-toxic (LD50 > 5000 mg/kgBW). Mild toxic symptoms such as tremors, shortness of breath, and teang appeared temporarily but did not cause severe systemic effects. Histopathological results of the liver showed no significant damage to the liver structure, with only minor changes found at high doses. There were no significant acute toxic effects on male white mice up to a dose of 5184 mg/kgBW, and it was safe based on the LD50 parameter and the results from SPSS showing a liver organ value of 0.831, indicating no significant difference P≤0.05 in liver organ weight.

Skripsi 2025
Detail
Uji Efektifitas Ekstrak Eta5nol 96% Daun...
Uji Efektifitas Ekstrak Eta5nol 96% Daun Pepaya (Carica Papaya L) Terhadap Gagal Ginjal Dan Histopatologi Ginjal Tikus putih Jantan.

Miming Andika, Thesa Fitrri Yatiningsih · 2025 · Skripsi · Fakultas Ilmu Kesehatan, S1 Farmasi

Gagal ginjal merupakan sebuah ganguan fungsi renal yang progresif irreversible, dimana fungsi ginjal mengalami penurunan dalam mempertahankan metabolisme, keseimbangan cairan dan elektrolit, sehingga terjadi uremia. Salah satu tanaman yang dapat menurunkan kadar kreatinin serum adalah daun pepaya (Carica Papaya L). Tujuan penelitian ini untuk mengetahui adanya efektivitas ekstrak etanol daun pepaya (Carica papaya L) terhadap penurunan kadar kreatinin serum pada tikus putih jantan. Penelitian bersifat eksperimental, menggunakan tikus putih jantan sebanyak 30 ekor yang dibagi menjadi 6 kelompok yaitu kontrol negatif, kontrol positif, kelompok pembanding (furosemide), dan kelompok ekstrak etanol daun pepaya dosis (100, 200 ,400 mg/kgBB). Penginduksi yang digunakan adalah CCl4 1% selama 7 hari. Pengukuran kadar kreatinin serum dilakukan dengan menggunakan alat fotometer. Analisis data menggunakan One Way Anova dan dilanjutkan dengan uji Duncan. Hasil menunjukkan bahwa pemberian ekstrak etanol daun pepaya berpengaruh terhadap penurunan kadar kreatinin serum secara signifikan (p Abstract (EN): Renal failure is a progressive irreversible disorder of renal function, where kidney function decreases in maintaining metabolism, fluid and electrolyte balance, resulting in uremia. One of the plants that can reduce serum creatinine levels is papaya leaves (Carica Papaya L). The purpose of this study was to determine the effectiveness of ethanol extract of papaya leaves (Carica papaya L) on reducing serum creatinine levels in male white rats. The study was experimental, using 30 male white rats which were divided into 6 groups, namely negative control, positive control, comparison group (furosemide), and papaya leaf ethanol extract group doses (100, 200, 400 mg/kgBB). The inducer used was 1% CCl4 for 7 days. Measurement of serum creatinine levels was carried out using a photometer. Data analysis using One Way Anova and continued with Duncan test. The results showed that the administration of papaya leaf ethanol extract had an effect on reducing serum creatinine levels significantly (p

Skripsi 2025
Detail
Penetapan Kadar Asam Salisilat Pada Faci...
Penetapan Kadar Asam Salisilat Pada Facial Wash Acne Yang Beredar Di Kota Bukittinggi Dengan Metode Spektrofotometri UV-Vis

Tasya Ayuningtias, Fitriani Oryza Sativa · 2025 · Skripsi · Fakultas Ilmu Kesehatan, S1 Farmasi

Asam salisilat merupakan salah satu bahan aktif yang umum digunakan dalam produk perawatan kulit berjerawat. Penggunaan asam salisilat secara berlebihan dapat menimbulkan efek samping seperti iritasi kulit. Berdasarkan Peraturan BPOM No. 17 Tahun 2022, kadar asam salisilat dalam produk kosmetik kategori pembersih wajah dibatasi maksimal sebesar 2%. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan asam salisilat pada facial wash acne dan untuk mengetahui kadar asam salisilat yang terkandung dalam produk facial wash acne yang beredar di Kota Bukittinggi menggunakan metode uji warna dan spektrofotometri UV-Vis. Sebanyak sepuluh sampel facial wash acne dianalisis, yang terdiri dari sembilan produk tanpa notifikasi BPOM dan satu produk yang telah terdaftar BPOM. Uji kualitatif dilakukan menggunakan larutan FeCl3, dan hanya tiga sampel, sampel 2, 8, dan 10 yang menunjukkan reaksi positif berupa warna ungu, yang menandakan adanya asam salisilat. Ketiga sampel tersebut kemudian diuji secara kuantitatif. Hasil analisis menunjukkan kadar asam salisilat pada sampel 2 sebesar 2,55%, sampel 8 sebesar 5,83%, dan sampel 10 sebesar 7,44%. Maka dapat disimpulkan bahwa seluruh sampel tidak memenuhi ketentuan kadar maksimal yang ditetapkan BPOM. Abstract (EN): Salicylic acid is a commonly used active ingredient in skincare products for acne treatment. However, excessive use of salicylic acid can cause side effects such as skin irritation. According to BPOM Regulation No. 17 of 2022, the maximum allowable concentration of salicylic acid in facial cleanser cosmetic products is 2%. This study aimed to determine the presence and concentration of salicylic acid in acne facial wash products circulating in Bukittinggi City using color testing and UV-Vis spectrophotometry. A total of ten facial wash samples were analyzed, consisting of nine unregistered products and one product registered with BPOM. Qualitative testing was carried out using FeCl3 solution, where only three samples (samples 2, 8, and 10) showed a positive reaction by forming a purple color, indicating the presence of salicylic acid. These three samples were further analyzed quantitatively. The results showed that sample 2 contained 2.55% salicylic acid, sample 8 contained 5.83%, and sample 10 contained 7.44%. Based on these findings, it was concluded that all tested samples exceeded the maximum salicylic acid concentration limit set by BPOM and therefore did not comply with regulatory standards.

Skripsi 2025
Detail
Penentuan Pengaruh Jenis Pelarut Ekstrak...
Penentuan Pengaruh Jenis Pelarut Ekstraksi Terhadap Perolehan Kadar Flavonoid Dari Rimpang Lempuyang Gajah (Zingiber zerumbet L.).

Billy Harnaldo Putra, Oryza Sativa Fitriani, Husna Syahrani · 2025 · Skripsi · Fakultas Ilmu Kesehatan, S1 Farmasi

Lempuyang gajah (Zingiber zerumbet (L.) merupakan tanaman obat tradisional yang kaya akan senyawa flavonoid, yang memiliki potensi farmakologis signifikan. Penelitian ini memiliki tujuan untuk mengetahui penentuan pengaruh jenis pelarut terhadap perolehan kadar flavonoid dari rimpang lempuyang gajah. Sebagai metode, ekstraksi dilakukan dengan maserasi selama 3 hari menggunakan lima jenis pelarut etanol, metanol, aseton, etil asetat, dan aquades. Kadar flavonoid total dalam ekstrak ditentukan menggunakan metode kolorimetri dengan spektrofotometer UV-Vis pada panjang gelombang 441 nm, menggunakan aluminium klorida (AlCl3) sebagai pereaksi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis pelarut secara signifikan mempengaruhi kadar flavonoid yang diperoleh. Ekstrak yang dihasilkan dengan pelarut etil asetat memiliki kadar flavonoid tertinggi, mencapai 0,0291 %, sedangkan ekstrak dengan aquades:air memiliki kadar flavonoid terendah, yaitu 0,0484 %. Temuan ini mengindikasikan bahwa pelarut semi-polar seperti etil asetat lebih efektif dalam mengekstraksi senyawa flavonoid dari rimpang lempuyang gajah dibandingkan pelarut polar lainnya. Abstract (EN): Elephant ginger (Zingiber zerumbet (L.)) is a traditional medicinal plant rich in flavonoid compounds, which have significant pharmacological potential. This study aimed to evaluate the effect of various solvent types on total flavonoid levels from elephant ginger rhizomes. The extraction method was carried out by maceration for 3 days using five types of solvents ethanol, methanol, acetone, ethyl acetate, and distilled water. The total flavonoid content in the extracts was determined using a colorimetric method with a UV-Vis spectrophotometer at a wavelength of 441 nm, using aluminum chloride (AlCl3) as a reagent. The results showed that the type of solvent significantly affected the flavonoid content obtained. The extract produced with the ethyl acetate solvent had the highest flavonoid content, reaching 0,0291 %, while the extract produced with distilled water had the lowest flavonoid content, at 0,0484 %. These findings indicate that semi-polar solvents such as ethyl acetate are more effective in extracting flavonoid compounds from the ginger rhizome than other polar solvents.

Skripsi 2025
Detail
Pembuatan Dan Evaluasi Mutu Fisik Sediaa...
Pembuatan Dan Evaluasi Mutu Fisik Sediaan Krim Blush On Dari Kombinasi Sari Buah Stroberi (Fragaria x ananassa Duch.) Dan Sari Buah Terong Belanda (Solanum betacium Cav.)

Nola Rahmadasmi, Novi Novita · 2025 · Skripsi · Fakultas Ilmu Kesehatan, S1 Farmasi

Kosmetik dekoratif seperti blush on berfungsi untuk memberikan kesan segar dan merona pada wajah. Namun, penggunaan pewarna sintetis dalam kosmetik berpotensi menimbulkan efek samping, seperti iritasi kulit hingga risiko karsinogenik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui evaluasi mutu fisik sediaan krim blush on menggunakan pewarna alami dari kombinasi sari buah stroberi (Fragaria x ananassa Duch.) dan terong belanda (Solanum betaceum Cav.) yang kaya akan antosianin dan antioksidan. Metode penelitian menggunakan pendekatan eksperimental laboratorium dengan berbagai konsentrasi kombinasi sari buah sebagai bahan aktif. Evaluasi sediaan meliputi uji organoleptis, homogenitas, viskositas, pH, daya sebar, daya oles, stabilitas, iritasi, dan uji hedonik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sediaan krim blush on yang dihasilkan memiliki warna menarik, tekstur homogen, pH sesuai dengan kulit (4,5–7), tidak menimbulkan iritasi, dan disukai oleh responden berdasarkan uji hedonik. Kombinasi sari stroberi dan terong belanda terbukti dapat digunakan sebagai pewarna alami dalam formulasi blush on krim yang aman dan efektif. Penelitian ini memberikan alternatif sediaan kosmetik alami yang berpotensi dikembangkan lebih lanjut. Abstract (EN): Makeup cosmetics such as blush-on are used to give the face a fresh and rosy appearance. However, the use of synthetic colorants in cosmetics may cause side effects, ranging from skin irritation to potential carcinogenic risks. This study aims to evaluate the physical quality of the blush on cream formulation using natural colorants derived from a combination of strawberry (Fragaria x ananassa Duch.) and tamarillo (Solanum betaceum Cav.) juices, which are rich in anthocyanins and antioxidants. The research was conducted using a laboratory experimental approach with various concentrations of fruit juice combinations as active ingredients. The formulation was evaluated through organoleptic testing, homogeneity, viscosity, pH, spreadability, smearability, stability, irritation potential, and hedonic testing. The results showed that the blush-on cream formulation produced an attractive color, homogeneous texture, skin-friendly pH (4.5–7), did not cause irritation, and was preferred by respondents in the hedonic test. The combination of strawberry and tamarillo juices proved effective as a natural colorant in a safe and effective blush-on cream formulation. This study provides an alternative natural cosmetic product with potential for further development.

Skripsi 2025
Detail
Uji Aktivitas Antioksidan Ekstrak Dan Fr...
Uji Aktivitas Antioksidan Ekstrak Dan Fraksi Beras Hitam (Oryza Sativa L.indica) Dengan Metode FIC (Ferrous Ion Chelating).

Yulia Yesti, Heru Aulia Hardi · 2025 · Skripsi · Fakultas Ilmu Kesehatan, S1 Farmasi

Beras hitam (Oryza sativa L. indica) diketahui mengandung senyawa bioaktif seperti antosianin dan fenolik yang berpotensi sebagai antioksidan. Antioksidan berperan menetralkan radikal bebas yang dapat menyebabkan kerusakan sel dan penyakit degeneratif. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi aktivitas antioksidan ekstrak etanol 70% serta fraksi air, etil asetat, dan n-heksana dari beras hitam menggunakan metode Ferrous Ion Chelating (FIC).Ekstraksi dilakukan secara maserasi dengan etanol 70% lalu difraksinasi bertingkat menggunakan n-heksana, etil asetat, dan air. Aktivitas antioksidan diuji melalui metode FIC dengan mengukur penurunan absorbansi kompleks Fe2+ –ferrozine pada panjang gelombang 562 nm menggunakan spektrofotometer UV-Vis. Parameter yang diamati meliputi persen pengikatan ion logam dan nilai IC5 0 . Hasil menunjukkan semua sampel mampu mengikat ion Fe2+ secara konsentrasi- bergantung. Fraksi etil asetat memiliki aktivitas tertinggi dengan nilai IC5 0 terendah, menunjukkan kandungan senyawa aktif lebih terkonsentrasi. Dengan demikian, fraksi etil asetat dari beras hitam berpotensi tinggi sebagai antioksidan melalui mekanisme pengikatan ion logam transisi, sehingga mendukung pemanfaatannya sebagai sumber alami antioksidan dalam bidang kesehatan. Abstract (EN): Black rice (Oryza sativa L. indica) is known to contain bioactive compounds such as anthocyanins and phenolics that have potential as antioxidants. Antioxidants play a role in neutralizing free radicals that can cause cell damage and degenerative diseases. This study aims to evaluate the antioxidant activity of 70% ethanol extract and water, ethyl acetate, and n-hexane fractions of black rice using the Ferrous Ion Chelating (FIC) method. Extraction was carried out by maceration with 70% ethanol and then fractionated using n-hexane, ethyl acetate, and water. Antioxidant activity was tested using the FIC method by measuring the decrease in absorbance of the Fe2+ –ferrozine complex at a wavelength of 562 nm using a UV-Vis spectrophotometer. The parameters observed included the percentage of metal ion binding and the IC5 0 value. The results showed that all samples were able to bind Fe2+ ions in a concentration-dependent manner. The ethyl acetate fraction had the highest activity with the lowest IC5 0 value, indicating a more concentrated content of active compounds. Thus, the ethyl acetate fraction of black rice has high potential as an antioxidant through the mechanism of binding transition metal ions, thus supporting its use as a natural source of antioxidants in the health sector.

Skripsi 2025
Detail
“Penentuan Total Antosianin Ekstrak dan...
“Penentuan Total Antosianin Ekstrak dan Fraksi dari Beras Hitam (Oryza sativa L.indica) Dengan metode pH Diferensial Spektrofotometri Uv-Vis

Yulia Yesti, Sonia Yasmine Liderta · 2025 · Skripsi · Fakultas Ilmu Kesehatan, S1 Farmasi

Beras hitam (Oryza sativa L. indica) mengandung senyawa bioaktif seperti antosianin, flavonoid, dan fenolik yang berfungsi sebagai antioksidan alami dan berpotensi mencegah penyakit degeneratif. Penelitian ini bertujuan menentukan total kandungan antosianin dalam ekstrak dan fraksi beras hitam menggunakan metode pH diferensial dengan spektrofotometri UV-Vis. Penelitian dilakukan Maret–Juli 2025 di Laboratorium Kimia Farmasi Universitas Fort De Kock, Bukittinggi. Sampel berasal dari Kabupaten Slamet, Jawa Tengah, dan dengan metode eksperimental dengan analisis kualitatif dan kuantitatif untuk mengetahui kandungan total antosianin didalam ekstrak dan fraksi beras hitam (Oryza sativa L.indica) dengan menggunakan metode uji pH diferensial. Hasil ekstraksi menunjukkan rendemen 10,15%, susut pengeringan 6,4%, kadar air 9,6%, dan kadar abu 10,7%. Skrining fitokimia mengidentifikasi alkaloid, flavonoid, saponin, tanin, fenol, terpenoid, dan antosianin. Analisis kandungan antosianin total menunjukkan kadar tertinggi pada ekstrak (55,9%), diikuti fraksi etil asetat (45,7%), fraksi air (39,7%), dan fraksi n-heksan (11,9%). Hasil ini menunjukkan bahwa beras hitam kaya akan senyawa metabolit sekunder, terutama antosianin, yang berpotensi dikembangkan sebagai produk fitofarmaka yang terstandarisasi untuk membantu mencegah stres oksidatif dan penyakit degeneratif.

Skripsi 2025
Detail
Uji Karakterisasi Dan Aktivitas Antikank...
Uji Karakterisasi Dan Aktivitas Antikanker Payudara (MCF-7) Dari Ekstrak Kulit Kau Bajakah Tempala (Spatholobus Littoralaris Hassk).

Nanda, Haris Munandar · 2025 · Skripsi · Fakultas Ilmu Kesehatan, S1 Farmasi

Bajakah (Spatholobus littoralis Hassk.) merupakan salah satu tanaman obat tradisional yang dipercaya memiliki khasiat dalam mengobati berbagai penyakit, termasuk kanker. Penelitian ini dilakukan untuk mengkaji kandungan fitokimia, toksisitas, serta aktivitas antikanker dari ekstrak etanol kulit kayu bajakah. Proses ekstraksi dilakukan dengan metode maserasi menggunakan pelarut etanol 96%. Selanjutnya dilakukan uji fitokimia untuk mengidentifikasi metabolit sekunder, serta pengujian parameter nonspesifik berupa kadar air pada ekstrak kulit kayu bajakah (Spatholobus littoralis Hassk) sebesar 9,37%. Semakin rendah kadar air dalam suatu sampel, maka kualitasnya akan semakin baik. Hal ini disebabkan karena kadar air yang tinggi dapat memicu pertumbuhan mikroorganisme, sehingga meningkatkan risiko kontaminasi dan memperpendek masa simpan sampel (Maryam et al., 2023). Dan kadar abu untuk mengetahui mutu ekstrak hasil kadar abu ekstrak kulit kayu bajakah (Spatholobus littoralis Hassk) yaitu sebesar 6,29%. Dari hasil yang di dapatkan bahwa ekstrak kulit kayu bajakah (Spatholobus littoralis Hassk) memenuhi standar Farmakope Herbal Indonesia 2017 yaitu tidak lebih dari 10%. Aktivitas toksisitas diuji menggunakan metode Brine Shrimp Lethality Test (BSLT), sedangkan uji sitotoksik terhadap sel kanker payudara MCF-7 dilakukan dengan metode WST-8. Selain itu, analisis karakterisasi kandungan ekstrak mengunakan LC-HRMS untuk mengidentifikasi senyawa bioaktif dalam ekstrak. Uji BSLT menghasilkan nilai LC50 1244 μg/mL yang termasuk kategori tidak toksik. Hasil uji sitotoksik terhadap sel MCF-7 juga menunjukkan nilai IC50 yang tergolong aktif 59,566 μg/mL, menandakan adanya kemampuan ekstrak dalam menghambat pertumbuhan sel kanker. Analisis LC- HRMS memperkuat hasil tersebut dengan teridentifikasinya senyawa bioaktif yang berperan dalam aktivitas Antikanker Payudara MCF-7 diantaranya Formononetin, Isovanilic Acid, Betaine. Abstract (EN): Bajakah (Spatholobus littoralis Hassk.) is a traditional medicinal plant believed to have properties for treating various diseases, including cancer. This study was conducted to evaluate the phytochemical content, toxicity, and anticancer activity of the ethanol extract of bajakah bark. Extraction was carried out using the maceration method with 96% ethanol as the solvent. Phytochemical screening was then conducted to identify secondary metabolites, along with non-specific parameter tests such as moisture content, which was found to be 9.37% in the bajakah bark extract. A lower moisture content generally indicates better sample quality, as high moisture levels can promote microbial growth, increasing the risk of contamination and reducing shelf life (Maryam et al., 2023). The ash content, used to assess the extract’s quality, was 6.29%, which complies with the standards of the Indonesian Herbal Pharmacopeia 2017 (maximum 10%). Toxicity activity was tested using the Brine Shrimp Lethality Test (BSLT) method, while cytotoxic activity against MCF-7 breast cancer cells was evaluated using the WST-8 method. Additionally, extract characterization was performed using LC-HRMS to identify the bioactive compounds present in the extract. The BSLT test yielded an LC50 value of 1244 μg/mL, categorized as non-toxic. Meanwhile, the cytotoxic test on MCF-7 cells showed a highly active IC50 value of 59,566 μg/mL, indicating the extract’s potential to inhibit cancer cell growth. LC-HRMS analysis supported these findings by identifying bioactive compounds potentially responsible for the anticancer activity against MCF-7 cells, including Formononetin, Isovanillic acid, and Betaine.

Skripsi 2025
Detail