Logo Repository App UFDK Repository UFDK Universitas Fort De Kock

Daftar Repository

8825 dokumen ditemukan

Reset
Cover Faktor – Faktor Penyebab Penyakit Periodontal pada Ibu Hamil di Wilayah Kerja Puskesmas Muaro Bodi Kecamatan IV Nagari Kabupaten Sijunjung Tahun 2016
Faktor – Faktor Penyebab Penyakit Periodontal pada Ibu Hamil di Wilayah Kerja Puskesmas Muaro Bodi Kecamatan IV Nagari Kabupaten Sijunjung Tahun 2016

Sukarsi Rusti, Harisnal, Ulfah Utami · 2017 · Skripsi · Fakultas Ilmu Kesehatan, S1 Kesehatan Masyarakat

Penyakit periodontal adalah penyakit yang mengenai jaringan pendukung gigi yang disebabkan oleh bakteri. Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Kabupaten Sijunjung terdapat 9,5% kasus kesehatan gigi dan mulut di Puskesmas Muaro Bodi. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui faktor – faktor yang berhubungan dengan penyebab penyakit periodontal pada ibu hamil di Wilayah Kerja Puskesmas Muaro Bodi Kecamatan IV Nagari Kabupaten Sijunjung Tahun 2016. Penelitian ini bersifat analitik dengan menggunakan pendekatan cross sectional dimana pengumpulan variabel independen dan dependen dilakukan secara bersamaan.Teknik pengambilan sampel menggunakan cara total sampling. Jumlah sampel sama dengan populasi yakni 53 orang. Penelitian dilakukan bulan Agustus 2016 di Wilayah Kerja Puskesmas Muaro Bodi. Data yang terkumpul dianalisis secara univariat dan bivariat dengan uji Chi-Square. Hasil penelitian didapatkan 49,1% responden mengalami penyakit periodontal, 41,5% responden memiliki pengetahuan rendah, 39,6% responden memiliki perilaku kurang baik dan 20,8% responden mengalami tingkat keparahan karang gigi yang parah. Berdasarkan analisis bivariat terdapat hubungan bermakna antara pengetahuan (pvalue 0,000, OR=21,714), Perilaku (pvalue 0,000, OR=86), tingkat keparahan karang gigi (pvalue 0,035, OR=6,618) dengan penyakit periodontal. Kesimpulannya adalah variabel independen yang paling beresiko terhadap variabel dependen adalah karang gigi. Saran dalam penelitian ini terhadap responden diharapkan dapat membersikan karang gigi minimal 1 kali dalam 6 bulan, menjaga kebersihan gigi dan mulutnya dengan cara menyikat gigi dua kali sehari, mengkonsumsi makanan yang mengandung serat. Kepada Puskesmas Muaro Bodi diharapkan lebih meningkatkan kegiatan penyuluhan tentang penyakit periodontal pada ibu hamil. Abstract (EN): Periodontal Disease is tooth net proponet illness cause by bacteria. Based on Sijunjung Healthy Departement, there are 9,5% tooth and mouth health casses at Muaro Bodi Public Healthy Centre. The purpose of this research to find the cause factors with periodontal disease to pregnant women at Muaro Bodi Public Healthy Centre Area, IV Nagari Sub District Sijunjung Regency in 2016. This research is analytic by using cross sectional approach, the collecting dependent and independent variabels doing in the same period. Getting the samples technique using total sample ways. The samples and populations are the same, there are 53 people. The research is done in Agustus 2016 at Muaro Bodi Public Healthy Centre Area. The collecting datas are analyzed by univariate and bivariate with Chi-Square. The result of the research get 49.1% of respondents get periodontal disease, 41.5% of respondents have low known, 39.6% of respondents have not good attitude and 20.8% respondents get bad tooth severe tartar. Based on bivariate analize there are important relationship among knowledge (pvalue 0,000, OR=21,714), attitude (pvalue 0,000, OR=86), bad tooth tartar (pvalue 0,035, OR=6.618) with periodontal didease . The conclussion from this research is all of independent variable have most risk to dependent variable is attitude. The suggestion on this research for respondents be able to break the tartar once in 6 month minimal, keep tooth and mouth clean by tooth brushing twice a day, consumpt fibrous food. Hope to Muaro Bodi Public Healthy Centre to elucidation about periodontal disease for pregnent women more.

Skripsi 2017
Detail
Cover Hubungan Kebisingan, Masa Kerja, dan  Penggunaan APT dengan Gangguan Pendengaran Pada Pekerja Bagian Proses Basah  di PT. LembahKaret Padang Tahun 2016
Hubungan Kebisingan, Masa Kerja, dan Penggunaan APT dengan Gangguan Pendengaran Pada Pekerja Bagian Proses Basah di PT. LembahKaret Padang Tahun 2016

Rini Santy, Nurdin, Rahma Wayuri · 2017 · Skripsi · Fakultas Ilmu Kesehatan, S1 Kesehatan Masyarakat

Penelitian ini berawal dari pengamatanpeneliti di PT. LembahKaret Padang padapekerjabagian proses basah, dandidapatkandari 10pekerja 7 orang mengalami gangguan pendengaran yang di akibatkan karena kebisingan yang melebihinilaiambangbatas. Penelitian ini bertujuanuntukmengetahuihubunganantarakebisingandengangangguanpendengara npadapekerjabagian proses basah di PT. LembahKaret Padang tahun 2016. Jenispenelitianiniadalah survey analitikdenganrancangancross sectional.Jumlahsampelsebanyak 56 orang pekerjadibagian proses basah di PT. LembahKaret Padang. Pengambilan data tingkatkebisingandangangguanpendengaranmenggunakanalat Sound level meter danGarputala.Pengambilansampelsecaratotal samplingdiolah mengunakan uji Chi-Square. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Agustus di Padang Tahun 2016. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa diantara 56 responden diketahuiresponden yang TergangguPendengarannyasebanyak 35 (62,5%)responden,yang berisikoterhadapintensitaskebisingansebanyak47 (83,9%) responden, yang memilikimasakerja lama sebanyak47 (83,9%)responden, yang tidakmenggunakan APT sebanyak44(78,6%) respondendanpengetahuanrendahsebanyak 29 (51,8). Hasil analisis bivariat menunjukkan bahwa variabel yang berhubungan dengan gangguanpendengaran adalah kebisingan (p=0,008), masakerja (p=0,000), penggunaan APT (p=0,018), dan pengetahuan (p=0,016). Penelitian ini dapat disimpulkan bahwa kebisingan, masakerja, penggunaan APT danpengetahuanmemilikihubungan yang bermakna denganGangguanPendengarandandi harapkan kepada pihakperusahaanmelakukanpengukurandan tes pendengaran dan memberikan penyuluhan yang berkaitan dengan penggunaan APT. Abstract (EN): This study originated from the observation of researchers at PT. Rubber valley Padang to workers part of the wet process, and obtained 10 employees 7 people have a hearing loss that causes due to noise exceeding the threshold value. This study aims to determine the relationship between noise with hearing loss in workers part of the wet process in PT. LembahKaret Padang in 2016. This type of research is analytic survey with cross sectional design. The total sample of 56 workers in the wet process in PT. Rubber valley Padang. Data retrieval noise levels and hearing loss using a sound level meter and a tuning fork. Sampling is total sampling processed using Chi-square test. This study was conducted in August 2016 in Padang. The results of this study showed that among 56 respondents, it is His hearing impaired respondents as many as 35 (62.5%) of respondents, at risk of noise intensity by 47 (83.9%) of respondents, who have long working lives by 47 (83.9% ) respondents who did not use the APT by 44 (78.6%) of respondents, and low knowledge about 29 (51.8). Results of bivariate analysis showed that the variables associated with hearing loss is noise (p = 0.008), age (p = 0.000), the use of APT (p = 0.018), and knowledge (p = 0.016). This study concluded that noise, working period, the use of APT and knowledge have a meaningful relationship with Hearing Loss and the company is expected to perform measurements, hearing tests and provide counseling related to the use of APT.

Skripsi 2017
Detail
Cover Hubungan Motivasi, Stres Kerja, Kompensasi Dan Disiplin Terhadap Kinerja Tenaga Kefarmasian Pada Fasilitas Pelayanan Kesehatan Pemerintah Daerah Kabupaten Agam Tahun 2016
Hubungan Motivasi, Stres Kerja, Kompensasi Dan Disiplin Terhadap Kinerja Tenaga Kefarmasian Pada Fasilitas Pelayanan Kesehatan Pemerintah Daerah Kabupaten Agam Tahun 2016

Nurdin, Vina Novela, Yetti Herawati · 2017 · Skripsi · Fakultas Ilmu Kesehatan, S1 Kesehatan Masyarakat

Keterbatasan sumber daya, mengakibatkan beban kerja menjadi tinggi yang dapat berdampak pada kinerja. Berdasarkan laporan yang di dapatkan dari tenaga Kefarmasian Puskesmas dari bulan Januari – Juni 2016 terdapat 16 dari 23 Puskesmas yang laporannya sering tidak akurat, hal ini terjadi akibat beban kerja yang banyak sehingga memicu terjadinya stres kerja serta menurunnya motivasi kerja. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui Hubungan Motivasi, Stres Kerja, Kompensasi dan Disiplin terhadap Kinerja Tenaga Kefarmasian Pada Fasilitas Pelayanan Kesehatan Pemerintah Daerah Kabupaten Agam Tahun 2016 Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif analitik dengan desain penelitian cross sectional. Penelitian ini dilakukan di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Kabupaten Agam sebanyak 22 puskesmas dan 1 RSUD pada tanggal 30 Agustus s/d 9 September 2016 dengan jumlah sampel penelitian sebanyak 35 responden. Pengolahan data dilakukan secara komputerisasi dengan menggunakan uji statistik Chi-square. Hasil analisis univariat dari 35 responden di peroleh sebanyak 18 responden (51,4%) memiliki kinerja yang baik, 18 responden (51,4%) memiliki motivasi rendah, 21 responden (60%) tidak mengalami stress kerja, 24 responden (68,8%) mengatakan kompensasi tidak sesuai, 19 responden (54,3%) memiliki disiplin yang baik. Berdasarkan hasil dari analisis bivariat menunjukkan bahwa variabel yang berhubungan dengan kinerja yaitu motivasi dengan p value = 0,000) dan OR=37,5 stres kerja dengan p value = 0,000 dan OR=55,25, kompensasi dengan p value =0,005 dan OR=20, dan disiplin dengan p value = 0,011 dan OR=8,4. Hasil penelitian ini dapat di simpulkan bahwa motivasi dan stres kerja yang paling berhubungan dengan Kinerja Tenaga Kefarmasian. Disarankan kepada Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Agam untuk lebih meningkatkan monitoring dan evalusi terhadap Tenaga Kefarmasian guna meningkatkan kinerja tenaga kefarmasian dalam melaksanakan tugasnya, melengkapi sarana dan prasarana untuk penunjang tugastugas karyawan serta perlu memberikan reward, insentif ataupun kompensasi yang sesuai agar dapat menghasilkan kinerja yang baik Abstract (EN): Keterbatasan sumber daya, mengakibatkan beban kerja menjadi tinggi yang dapat berdampak pada kinerja. Berdasarkan laporan yang di dapatkan dari tenaga Kefarmasian Puskesmas dari bulan Januari – Juni 2016 terdapat 16 dari 23 Puskesmas yang laporannya sering tidak akurat, hal ini terjadi akibat beban kerja yang banyak sehingga memicu terjadinya stres kerja serta menurunnya motivasi kerja. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui Hubungan Motivasi, Stres Kerja, Kompensasi dan Disiplin terhadap Kinerja Tenaga Kefarmasian Pada Fasilitas Pelayanan Kesehatan Pemerintah Daerah Kabupaten Agam Tahun 2016 Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif analitik dengan desain penelitian cross sectional. Penelitian ini dilakukan di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Kabupaten Agam sebanyak 22 puskesmas dan 1 RSUD pada tanggal 30 Agustus s/d 9 September 2016 dengan jumlah sampel penelitian sebanyak 35 responden. Pengolahan data dilakukan secara komputerisasi dengan menggunakan uji statistik Chi-square. Hasil analisis univariat dari 35 responden di peroleh sebanyak 18 responden (51,4%) memiliki kinerja yang baik, 18 responden (51,4%) memiliki motivasi rendah, 21 responden (60%) tidak mengalami stress kerja, 24 responden (68,8%) mengatakan kompensasi tidak sesuai, 19 responden (54,3%) memiliki disiplin yang baik. Berdasarkan hasil dari analisis bivariat menunjukkan bahwa variabel yang berhubungan dengan kinerja yaitu motivasi dengan p value = 0,000) dan OR=37,5 stres kerja dengan p value = 0,000 dan OR=55,25, kompensasi dengan p value =0,005 dan OR=20, dan disiplin dengan p value = 0,011 dan OR=8,4. Hasil penelitian ini dapat di simpulkan bahwa motivasi dan stres kerja yang paling berhubungan dengan Kinerja Tenaga Kefarmasian. Disarankan kepada Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Agam untuk lebih meningkatkan monitoring dan evalusi terhadap Tenaga Kefarmasian guna meningkatkan kinerja tenaga kefarmasian dalam melaksanakan tugasnya, melengkapi sarana dan prasarana untuk penunjang tugastugas karyawan serta perlu memberikan reward, insentif ataupun kompensasi yang sesuai agar dapat menghasilkan kinerja yang baik

Skripsi 2017
Detail
Cover Hubungan Paparan Asap Rokok, Stres, dan Alergi dengan Kejadian Asma Pada Masyarakat di Wilayah Kerja Puskesmas Pakan Kamis Kecamatan Tilatang Kamang Kabupaten Agam Tahun 2016
Hubungan Paparan Asap Rokok, Stres, dan Alergi dengan Kejadian Asma Pada Masyarakat di Wilayah Kerja Puskesmas Pakan Kamis Kecamatan Tilatang Kamang Kabupaten Agam Tahun 2016

Nurhayati, Welly Femelia, Neneng Safitri · 2017 · Skripsi · Fakultas Ilmu Kesehatan, S1 Kesehatan Masyarakat

Asma adalah salahs atupenyakit kronik (menahun) pada paru-paru dengan pasien terbanyak di dunia. Berdasarkan data WHO tahun 2010, jumlah penderita asma di dunia diperkirakan mencapai 300 juta orang. Angka ini diperkirakan akan terus meningkat hingga 400 juta orang pada 2025. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan paparan asap rokok, stres, dan alergi dengan kejadian asma pada masyarakat di Wilayah Kerja Puskesmas Pakan Kamis Kecamatan Tilatang Kamang Kabupaten Agam Tahun 2016. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan desain cross sectional, dilakukan penelitian terhadap kejadian asma dengan menggunakan kuesioner dengan subjek penelitian berjumlah 79 orang yang memenuhi kriteria inklusi. Analisis data menggunakan uji chi-square. Adapun yang menjadi variabel independen adalah paparan asap rokok, stress, alergi dan variabel dependen adalah kejadian asma. Hasil penelitian menunjukkan bahwa diantara 79 responden diketahui jumlah kejadian asma 28 orang (35,4%), paparan asap rokok atau yang terpapar berjumlah 56 orang (70,9%), stress berjumlah 43 orang (54,4%), sedangkan alergi berjumlah 42 orang (53,2%). Hasil uji statistik hubungan kejadian asma terhadap paparan asap rokok didapatkan nilai p = 0,016 dengan OR = 5,376, terhadap stress diperoleh nilai p = 0,044 dengan OR= 3,043, Terhadap alergi diperoleh nilai p = 0,030 dengan OR = 3,29. Penelitian ini didapatkan kesimpulan bahwa paparan asap rokok, stress dan alergi berhubungan dengan kejadian asma. Dari ketiga variabel penelitian tersebut yang memiliki tingkat hubungan tertinggi adalah variabel paparan asap rokok terhadap kejadian asma. Abstract (EN): Asthma is a chronic disease (prolonged) in the lungs with the most patients in the world. Based of data from the WHO In 2010, the number of asthma in the world is estimated at 300 million people. This figure is expected to rise until 400 million in 2025. This study aims to determine Relationship Between Exposure Of Cigarette Smoke, Stress, and Allergies with The Incidence of Asthma on Society in Work Area of Pakan Kamis Public Health Center, Tilatang Kamang Subdistrict Agam District In 2016. This research was conducted with the approach of cross sectional study, conducted research on the incidence of asthma by using a questionnaire with research subjects amounted to 79 people who meet the inclusion criteria. Data analysis using chisquare test. As for the independent variable is exposure of cigarette smoke, stress, allergies and the dependent variable was the incidence of asthma. The results showed that among 79 respondents know the amount of the incidence of asthma 28 people (35.4%), exposure of cigarette smoke or who are exposed amounted to 56 (70.9%), stress amounted to 43 (54.4%), while allergy numbered 42 people (53.2%). Statistical test results relationship incidence of asthma to exposure to cigarette smoke is obtained with p = 0,016 OR = 5.376, towards stress the values obtained with p = 0,044 OR = 3.043, Towards allergies obtained value p = 0.030 with OR = 3.295. In this study it was concluded that the exposure of cigarette smoke, stress and allergies related to the incidence of asthma. Of the three variables of the study who had the highest relationship level is variable the exposure of cigarette smoke towards the incidence of asthma.

Skripsi 2017
Detail
Cover Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Stress Kerja pada Polisi Lalu Lintas di Polres Kota Bukittinggi Tahun 2016
Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Stress Kerja pada Polisi Lalu Lintas di Polres Kota Bukittinggi Tahun 2016

Neila Sulung, Cici Apriza Yanti, Regina Fadilla · 2017 · Skripsi · Fakultas Ilmu Kesehatan, S1 Kesehatan Masyarakat

Polisi lalu lintas merupakan kesatuan lalu lintas yang bertugas membinadan dalam batas kewenangan yang ditentukan, dilihat dari kondisi kerja polisi lalu lintas yang sangat berbahaya yang menjadi salah satu sumber penyebab terjadinya stress. Stress juga dapat muncul dilingkungan kerja polisi yang dituntut untuk selalu berdisiplin tinggi. Bukittinggi sebagai Kota wisata yang padat pengunjung dan keterbatasan lahan parkir yang membuat para angota Satuan Lalu Lintas Polres Kota Bukittinggi mengalami kesusahan dalam pengaman dan pengaturan lalu lintas dan juga beban kerja yang diterima berat sebagian dari angota Satuan Lalu Lintas kurang memiliki waktu untuk beristirahat. Tujuan penelitian untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan stres kerja polisi lalu lintas. Metode penelitian deskriptif analitik dengan desain cross sectional. Populasi adalah seluruh anggota Polantas Polres Kota Bukittinggi berjumlah 68 orang, dengan pengambilan sampel secara total sampling. Data dikumpulkan melalui wawancara dengan panduan kuesioner.. Hasil analisis univariat diketahui 58,8 % menyatakan beban kerja berat, 58,8 % memiliki jam kerja sesuai, 69,1 % menyatakan hubungan interpersonal buruk dan 66,2 % mengalami stres sedang. Hasil analisa bivariat diketahui faktor-faktor yang berhubungan dengan stres kerja polisi adalah beban kerja (p = 0,036 dan OR = 3,444), jam kerja (p = 0,010 dan OR = 5,429) dan hubungan interpersonal (p = 0,010 dan OR = 4,364). Disimpulkan bahwa faktor yang berhubungan dengan stres kerja polisi lalu lintas adalah beban kerja, jam kerja dan hubungan interpersonal. Diharapkan pada pimpinan Polres Kota Bukittinggi agar memperhatikan kesehatan dan keselamatan kerja bagi para anggota Polisi terutama Polisi Lalu Lintas. Abstract (EN): The traffic police is the unity of traffic served to foster within the limits prescribed authority, judging from the traffic police working conditions are extremely dangerous to be one of the cause of a stress. Stress can also arise in the work environment police are required to always disciplined. City of London as a tourist crowded and limited parking area make the members of the Traffic Police Unit of Bukittinggi in trouble in safety and traffic control and also received a heavy workload as part of the Traffic Unit members have less time to rest. The aim of research to determine the factors associated with job stress traffic police. Descriptive analytic method with cross sectional design. The population of Bukittinggi City Police Traffic Police members amounted to 68 people, with a total ssampling. Data were collected through interviews with the questionnaire guide, and then processed in a computerized using chi-square statistical test The results of the univariate analysis are known 58.8% stated that the heavy workload, 58.8% have a suitable working hours, 69.1% said poor interpersonal relationships and 66.2% experienced moderate stress. The results of the bivariate analysis of unknown factors related to the stress of police work is the work load (p = 0.036 and OR = 3,444), working hours (p = 0.010 and OR = 5,429) and interpersonal relationships (p = 0.010 and OR = 4,364). It was concluded that factors related to the stress of traffic police work is the workload, hours of work and interpersonal relationships. Expected in Bukittinggi City Police leadership to pay attention to health and safety for its members, especially the Police Traffic Police.

Skripsi 2017
Detail
Cover Hubungan Karakteristik Orang Tua Dengan Pengetahuan Pemberian Antibiotika Pada Anak Di Jorong Balai Ahad Lubuk Basung Tahun 2016
Hubungan Karakteristik Orang Tua Dengan Pengetahuan Pemberian Antibiotika Pada Anak Di Jorong Balai Ahad Lubuk Basung Tahun 2016

Rini Santy, Dina Ediana, Sri Susanti · 2017 · Skripsi · Fakultas Ilmu Kesehatan, S1 Kesehatan Masyarakat

Penggunaan antibiotik kurang tepat masih banyak terjadi di Indonesia. Pemilihan dan penggunaan terapi antibiotika yang tepat dan rasional akan menentukan keberhasilan pengobatan untuk menghindari terjadinya resistensi bakteri. Dilihat dari hasil Riskesdas tahun 2013 dimana 35,2% rumah tangga di Indonesia menyimpan obat untuk Swamedika terdiri dari obat keras, obat bebas, antibiotika, obat tradisional dan obat-obat yang tidak teridentifikasi. Dimana menyimpan antibiotika sebesar 27,8% dimana 30,1% terjadi di pedesaan dan 86,1% menyimpan antibiotika tanpa resep. Tujuan penelitian untuk mengetahui hubungan antara karakteristik orang tua (pendidikan, status ekonomi dan pengalamam) dengan pengetahuan dalam pemberian antibiotika pada anak. Jenis penelitian deskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional. Populasi adalah ibu yang memiliki anak 0-5 tahun yang berada di Jorong Balai Ahad berjumlah 69 orang, dengan teknik pengambilan sampel secara total sampling. Data dikumpulkan melalui wawancara dengan panduan kuesioner, kemudian diolah secara komputerisasi dengan menggunakan uji statistik chisquare. Hasil analisis univariat diketahui 60,9 % responden memiliki pendidikan rendah, 55,1 % status ekonomi tinggi, 76,8 % memiliki pengalaman, dan 55,1 % pengetahuan kurang dalam pemberian antibiotika. Hasil bivariat diketahui ada hubungan tingkat pendidikan (p = 0,030 dan OR = 3,400), status ekonomi (p = 0,000 dan OR = 8,013), dan pengalaman (p = 0,034 dan OR = 4,853) dengan pengetahuan orang tua dalam pemberian obat antibiotika pada anak. Disimpulkan bahwa ada hubungan karakteristik dengan pengetahuan orang tua tentang pemberian obat antibiotika pada anak. Diharapkan pada petugas kesehatan agar memberikan penjelasan yang lengkap tentang pemberian obat antibiotika agar dapat bekerja maksimal dalam pengobatan. Abstract (EN): The use of antibiotics is still a lot going on in Indonesia. Selection and use of appropriate antibiotic therapy and rational will determine the success of treatment in order to avoid the occurrence of bacterial resistance. Judging from the results Riskesdas in 2013 where 35.2% of households in Indonesia keep the medicine for Swamedika consists of hard drugs, OTC drugs, antibiotics, traditional medicines and drugs that are not identified. Where to save antibiotics by 27.8% while 30.1% are in rural areas and 86.1% save antibiotics without a prescription. The aim of research to determine the relationship between the characteristic of the parents (education, economic status and experience) with inside knowledge of antibiotics in children. Type descriptive analytic research with cross sectional approach. The population is mothers of children 0-5 years old who are in Jorong Hall on Sunday amounted to 69 people, with a sampling technique total sampling. Data were collected through interviews with the questionnaire guide, and then processed in a computerized using chi-square statistical test. Results of univariate analysis known to 60.9% of respondents with low education, 55.1% of high economic status, 76.8% have the experience, knowledge and 55.1% less in the administration of antibiotics. The results of the bivariate known no relationship between the level of education (p = 0.030 and OR = 3,400), economic status (p = 0.000 and OR = 8.013), and experience (p = 0.034 and OR = 4.853) with the knowledge of parents in the administration of antibiotics to children , It was concluded that there is a correlation characteristics with parental knowledge about the administration of antibiotics to children. Expected to health care workers in order to give a full explanation of the administration of antibiotics in order to work optimally in treatment.

Skripsi 2017
Detail
Cover Hubungan Pengetahuan Gizi, Kebiasaan Makan, Pelayanan Kesehatan Dengan Status Gizi Remaja Asrama Putri MAN/MAKN Kotobaru Padang Panjang Tahun 2016
Hubungan Pengetahuan Gizi, Kebiasaan Makan, Pelayanan Kesehatan Dengan Status Gizi Remaja Asrama Putri MAN/MAKN Kotobaru Padang Panjang Tahun 2016

Rini Santy, Silvia, Rahmah Mulyani · 2017 · Skripsi · Fakultas Ilmu Kesehatan, S1 Kesehatan Masyarakat

Status gizi adalah suatu keadaan tubuh yang diakibatkan oleh keseimbangan antara asupan zat gizi dengan kebutuhan. Dari data status gizi remaja putri Man Koto Baru Padang Panjang tahun 2016, jumlah remaja yang bermasalah status gizinya dengan proporsi 0.18% Sangat Kurus, 15.93% Kurus, 21.97% gemuk, 14.1% obesitas dan sisanya 47.8% berstatus normal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pengetahuan gizi, kebiasaan makan, dan pelayanan kesehatan di MAN/MAKN Kotobaru Padang Panjang Tahun 2016. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan desain cross sectional, dilakukan penelitian terhadap status gizi menggunakan kuesioner dengan subjek penelitian berjumlah 172 responden yang memenuhi kriteria inklusi. Analisis data menggunakan uji chi-square. Adapun yang menjadi variabel independen adalah pengetahuan gizi, kebiasaan makan, pelayanan kesehatan dan variabel dependen adalah status gizi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa diantara 172 responden diketahui jumlah status gizi tidak normal 35 orang (20.3%), pengetahuan gizi rendah 84 orang (48.8%), kebiasaan makan tidak baik 60 orang (34.9%), yang mengatakan pelayanan kesehatan tidak mendukung program pelayanan remaja 71 orang (41.3%). Hasil uji statistik hubungan status gizi dengan pengetahuan gizi didapatkan nilai p = 0,005 dengan OR = 3,305, terhadap kebiasaan makan diperoleh nilai p = 0,004 dengan OR= 3,233, Terhadap pelayanan kesehatan diperoleh nilai p = 0,020 dengan OR = 2.610 Pada penelitian ini didapatkan kesimpulan bahwa pengetahuan gizi, kebiasaan makan, pelayanan kesehatan, berhubungan dengan status gizi. Dari ketiga variabel penelitian tersebut yang memiliki tingkat hubungan tertinggi adalah variabel pengetahuan gizi dengan status gizi. Abstract (EN): Nutritional status is a state of the body caused by the balance between nutrient intake with needs. From the data the nutritional status of young women Man Koto Baru Padang Panjang in 2016, the number of troubled teens nutritional status with the proportion 12:18% Very Petite, Petite 15.93%, 21.97% fat, 14.1% obese and the remaining 47.8% of normal status . This study aims to determine the relationship of nutrition knowledge, eating habits, and health services in the MAN / makn Kotobaru Padang Panjang 2016. This research was conducted with the approach of cross sectional study, conducted research on the nutritional status by using a questionnaire with research subjects totaling 172 people who met the inclusion criteria. Data analysis using chi-square test. As for the independent variable is the knowledge of nutrition, eating habits, health care and the dependent variable was nutritional status. The results showed that among 172 respondents know the amount of nutritional status is not normal 35 people (20.3%), nutritional knowledge Low 84 (48.8%), eating habits are not good 60 people (34.9%), which said the health service does not support the service programs teenager 71 (41.3%). Statistical test results nutritional status relationship with nutritional knowledge obtained with p = 0.005 OR = 3.305, the dietary habits of values obtained with p = 0,004 OR = 3,233, against healthcare acquired value of p = 0.020 with OR = 2.610 In this study it was concluded that the knowledge of nutrition, eating habits, health services, related to nutritional status. Of the three variables of the study who had the highest relationship level is variable nutritional knowledge and nutritional status.

Skripsi 2017
Detail
Cover Hubungan Tingkat Risiko Pencemar Udara Dalam Ruangan Dengan Penyakit ISPA Pada Balita Di Kelurahan Parak Laweh Pulau Air Puskesmas Lubuk Begalung Padang Tahun 2016
Hubungan Tingkat Risiko Pencemar Udara Dalam Ruangan Dengan Penyakit ISPA Pada Balita Di Kelurahan Parak Laweh Pulau Air Puskesmas Lubuk Begalung Padang Tahun 2016

Welly Femelia, Cici Apriza Yanti, Meryati · 2017 · Skripsi · Fakultas Ilmu Kesehatan, S1 Kesehatan Masyarakat

Penyakit ISPA masih menjadi salah satu masalah kesehatan masyarakat yang penting untuk diperhatikan kerena merupakan penyakit akut. Penyakit ISPA merupakan salah satu penyakit yang berhubungan dengan lingkungan di dalam rumah. Menurut data puskesmas Lubuk Begalung pada Tahun 2015 terdapat (21.31%) kasus balita yang menderita ISPA. Tujuan Penelitian ini yaitu untuk mengetahui Hubungan antara Pencemar Dalam Ruangan(Ventilasi, Pencahayaan, Kepadatan Hunian, Kebiasaan Merokok, Jenis Bahan Bakar, dan Status Imunisasi). Dengan Kejadian Penyakit ISPA Pada balita. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian deskriptif analitik dengan rancangan cross sectional, di laksanakan di Kelurahan Parak Laweh Pulau Air Puskesmas Lubuk Begalung Padang pada Bulan JuliTahun 2016. Populasi sebanyak 257 orang balita dengan sampel 150. Data di kumpulkan dengan cara membagikan kuesioner dan meminta responden untuk mengisinya serta melakukan pengukuran, Kemudian data di oleh menggunakan komputerisasi dan hasil penelitian di sajikan dalam bentuk univariat dan Bivariat. Hasil analisa univariat diketahui 76.7% responden menderita penyakit ISPA, 52% responden pencahayaan tidak memenuhi syarat, 52.7% responden ventilasi tidak memenuhi syarat, 67.3% responden padat penghuni kamar, 57.35 responden ada kebiasaan merokok, 60% responden menggunakan bahan bakar yang tidak baik, serta 58.7% responden tidak Lengkap status iminisasi. Berdasarkan analisa bivariat ada Hubungan antara Pencahayaan (Pvalue=0.028 OR=2.582),Ventilasi(Pvalue=0.022 OR=0.374),Kepadatan hunian kamar (Pvalue=0.037 OR= 2.450),Kebiasaan Merokok (Pvalue=0.004 OR=0.245),Jenis bahan bakar (Pvalue=0.010 OR=0.345) dan Status imunisasi(Pvalue=0.006 OR=0.315) dengan penyakit ISPA. Hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa ada hubungan antara pencahayaan, ventilasi, kepadatan hunian kamar,kebiasaan merokok,jenis bahan bakar,dan status imunisasi dengan penyakit ISPA pada Balita.Adapun saran di harapkan kepada petugas puskesmas agar lebih meningkatkan derajad kesehatan serta meningkatkan upaya promosi kesehatan masyarakat. Abstract (EN): Acute Respiratory Tract Infection (ARTI) is still one public health problem that is important to note because they constitute acute illness. Acute Respiratory Tract Infection is one of the diseases associated with the environment in the house. According to data from health centers Lubuk Begalung in 2015 there were (21:31%) cases of infants suffering from respiratory infection. The purpose of this study is to determine the association between Indoor Air Pollutants (ventilation, lighting, Density Residential, Smoking Habit, Fuel Type and Immunization Status). With the incidence of disease ISPA In young children. This research uses descriptive analytic research with cross sectional design, carried on in the Village Parak Laweh Pulau Air LubukBegalung Year Padang in July 2016.A population of 257 infants with 150 samples. Data was collected by distributing questionnaires and asked respondents to fill it and make measurements, then the data by using computerized and research results presented in the form of univariate and Bivariat. Results of univariate analysis known to 76.7% of respondents suffer from respiratory diseases, 52% of respondents lighting is not eligible, 52.7% of respondents vents are not eligible, 67.3% of respondents solid occupant, 57.35 respondents smoking habits, 60% of respondents use fuel that is not good, as well as 58.7% of respondents did not complete immunization status. Based on bivariate analysis there is a relationship between lighting (Pvalue=0.028 OR=2.582),Ventilation (Pvalue=0.022 OR=0.374),Density Residential Room (Pvalue=0.037 OR=2.450),Smoking habitat (Pvalue=0.004 OR=0.254),Fuel Type (Pvalue=0.010 OR=0.345) and Status Immunization (Pvalue=0.006 OR=0.315) with ARI disease in Toddlers. The results of this study can be concluded that there is a relationship between lighting,ventilation,room occupancy density,smoking habits,type of fuel,an immunization status with ARI in Balita.Adapun advice is expected to puskesmas officers to improve their health and to improve the degree of health promotion efforts community.

Skripsi 2017
Detail
Cover Perbedaan Perilaku Sebelum dan Sesudah Penyuluhan CTPS dengan Metode Audiovisual Terhadap Siswa SDN 10 Lambung Bukit Kota Padang Tahun 2016
Perbedaan Perilaku Sebelum dan Sesudah Penyuluhan CTPS dengan Metode Audiovisual Terhadap Siswa SDN 10 Lambung Bukit Kota Padang Tahun 2016

Rudjito, Waldirahman, Dina Ediana · 2017 · Skripsi · Fakultas Ilmu Kesehatan, S1 Kesehatan Masyarakat

CTPS adalah cara mudah dilakukan untuk mencegah berbagai penyakit khususnya yang berkaitan dengan saluran pencernaan dan pernapasan. Karena dengan mencuci tangan pakai sabun dapat memutus mata rantai mata rantai penularan penyakit. Berdasarkan data yang diperoleh dari Dinas Kesehatan Kota Padang tahun 2015, pada urutan ke-3 adalah penyakit yang disebabkan oleh kuman penyakit seperti penyakit kulit karena infeksi dengan jumlah kasus 18.729 kasus. Serta diare berada pada urutan ke-7 dengan jumlah 8.466 kasus. Sedangkan diare tertinggi berada pada wilayah kerja Puskesmas Pauh dengan jumlah 784 kasus pada tahun 2015. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juli hingga Agustus 2016 yang bertujuan untuk mengetahui Perbedaan Perilaku Sebelum dan Sesudah Penyuluhan CTPS dengan Metode Audiovisual Terhadap Siswa SDN 10 Lambung Bukit Kota Padang Tahun 2016, dimana penelitian ini dilakukan dengan dua kali uji perlakuan yaitu uji sebelum perlakuan (Pretest) dan uji sesudah perlakuan (Postest). Dengan menggunakan metode Audiovisual. Serta kegiatan penutup adalah demonstrasi CTPS di depan kelas oleh siswa. Berdasarkan penelitian yang dilakukan diperoleh perbedaan pengetahuan, sikap dan tindakan siswa SDN 10 Lambung Bukit Kota Padang sebelum dan sesudah Penyuluhan CTPS dengan metode Audiovisual maka diperoleh selisih rata-rata pengetahuannya 13,9 dan sikap 12,4 dan tindakan 2,5. Ada perbedaan yang signifikan dikarenakan nilai P < 0,05. Untuk itu perlu adanya peningkatan dari pihak sekolah agar menambah sarana promosi kesehatan serta penambahan perbaikan fasilitas sanitasi yang disertai kebijakan dan peraturan oleh kepala sekolah dan guru yang dapat diterapkan kepada siswa agar siswa senantiasa terbiasa menerapkan CTPS di sekolah dan kehidupan sehari-hari. Abstract (EN): CTPS is an easy way to prevent a variety of diseases especially those related to the gastrointestinal and respiratory tract. Because by washing hands with soap can break the chain of disease transmission chain. Based on data obtained from Padang City Health Department in 2015, on the order of 3 is a disease caused by bacteria such as skin diseases due to infection with a number of 18 729 cases. And diarrhea was ranked 7th 8466 the number of cases. While cases of skin diseases and diarrhea due to infection was highest in Puskesmas Pauh the number of 784 cases of diarrhea in 2015. This study was conducted in July – August 2016 which aims to determine the difference Behavior Before and After triggering CTPS with Students Against Audiovisual Methods SDN 10 Lambung Bukit 2016, where the study was conducted with two treatment trials that test before treatment (pretest) and test after treatment (posttest). By using audiovisual methods. As well as the cover is demonstration CTPS activity in front of the class by students. Based on research conducted differences in knowledge, attitudes and action gained students of SDN 49 Padang Kuranji before and after triggering CTPS with the Audiovisual methods obtained an average difference of knowledge and attitudes 13,9, 12,4, and 2,5 significant differences due to the value of P <0.05. For that we need an increase of the schools in order to increase the promotion of health facilities and the addition of improved sanitation facilities are accompanied by policies and regulations by the principal and teachers that can be applied to the students so that the students always used to implement CTPS in school and everyday life.

Skripsi 2017
Detail
Cover Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan  Penerapan Keselamatan Dan Kesehatan Kerja (K3) Pada Pekerja Kontruksi  Gedung Dan Perumahan Di Kota Bukittinggi  Tahun 2016
Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Penerapan Keselamatan Dan Kesehatan Kerja (K3) Pada Pekerja Kontruksi Gedung Dan Perumahan Di Kota Bukittinggi Tahun 2016

Rudjito, Vina Novela, Silvia Rahmi · 2017 · Skripsi · Fakultas Ilmu Kesehatan, S1 Kesehatan Masyarakat

Penerapan keselamatan dan kesehatan kerja merupakan masalah utama saat ini didunia kerja, dilihat dari masih adanya pekerja yang tidak mau menerapkan keselamatan dan kesehatan kerja saat bekerja, pengetahuan pekerja mengenai keselamatan dan kesehatan kerja sudah baik, tetapi masih ada pekerja yang pengetahuan rendah mengenai keselamatan dan kesehatan kerja, sikap pekerja yang buruk saat bekerja, penyediaan APD yang masih di angap tidak perlu oleh manajemen kontruksi, dan pengawasan masih ada yang kurang. Pekerja berangapan kalau menerapkan keselamtan dan kesehatan kerja dapat memperlambat pekerjaan dan menganggu pekerjaan. Penelitian ini bersifat analitik mengunakan rancangan cross sectional jumlah sampel 71 orang yang diambil secara random sampling dengan tingkat kemaknaan 90% (α 0,1). Analisis data mengunakan uji Chi-Square. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juli-Agustus di Kota Bukittinggi Tahun 2016. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa diantara 71 responden diketahui Pengetahuan responden yang Tinggi sebanyak 59 (83,1%), sikap pekerja yang baik yaitu sebanyak 55 (77,5%) responden, penyediaan APD yang lengkap 60 (84,5%), dan pengawasan tidak ada dilakukan 36 (50,7%) responden. Hasil analisis bivariat menunjukkan bahwa variabel yang berhubungan dengan penerapan K3 adalah pengetahuan pekerja (p=0,022), sikap (p=0,004), penyediaan APD (p=0,013), dan tidak terdapat hubungan bermakna antara pengawasan dengan penerapan Keselamatan dan kesehatan kerja (p=1,000). Penelitian ini dapat disimpulkan bahwa pengetahuan pekerja , sikap, penyediaan APD berhubungan bermakna dengan Penerapan Keselamatan dan kesehatan kerja dan di harapkan kepada pihak dinas sosial dan ketenagakerja dan BPJS ketenagakerjaan agar memberikan penyuluhan mengenai penerapan Keselamatan dan kesehatan kerja kontruksi agar terhindar dari bahaya di tempat kerja dan kecelakaan kerja penyakit akibat hubungan kerja. Abstract (EN): The application of health and safety is a major problem today in the world of work, be inferred from the presence of the workers are not willing to implement safety and health at work, knowledge workers on occupational safety and health has been good, but there are still workers who are low know ledge on occupational safety and health work, poor attitude of workers at work, provision of PPE still was regarded not need the construction management and supervision are still missing. Berangapan workers when applying salvation and health can slow work and interfere with work. This research is an analytic using cross sectional sample of 71 people taken at random sampling of the significance level of 90% (α 0,1). Data analysis using Chi-square test. This research was conducted in July-August in the city of Bukittinggi year 2016. This study was conducted in July-August 2016 in Bukittinggi. The results of this study showed that among 71 respondents note High Knowledge of respondents who were 59 (83.1%), a good worker attitude that as many as 55 (77.5%) of respondents, providing a complete APD 60 (84.5%), and no monitoring is done 36 (50.7%) of respondents. Results of bivariate analysis showed that the variables associated with the implementation of K3 are knowledge workers (p = 0.022), attitude (p = 0.004), the provision of PPE (p = 0.013), and there is no significant relationship between supervision by the application of safety and occupational health (p = 1.000). It was concluded that the knowledge workers, the attitude, the provision of PPE associated significantly with the adoption of safety and occupational health and is expected to the social services and employment and BPJS employment in order to provide counseling regarding the application of the safety and health of construction in order to avoid hazards in the workplace and disease due to occupational accidents employment relationship.

Skripsi 2017
Detail
Cover Hubungan Alat Pelindung Telinga (APT) Lama Kerja dan Intensitas Kebisingan dengan Keluhan Gangguan Pendengaran pada Bagian Produksi PTPN VI Danau Kembar Kabupataten Solok Tahun 2016
Hubungan Alat Pelindung Telinga (APT) Lama Kerja dan Intensitas Kebisingan dengan Keluhan Gangguan Pendengaran pada Bagian Produksi PTPN VI Danau Kembar Kabupataten Solok Tahun 2016

Evi Hasnita, Cici Apriza Yanti, Refnaleti Zabid · 2017 · Skripsi · Fakultas Ilmu Kesehatan, S1 Kesehatan Masyarakat

Gangguan pendengaran adalah suatu penyakit berkurang atau hilangnya fungsi pendengaran di salah satu atau kedua telinga, gangguan pendengaran yang bersifat menetap diakibatkan oleh pajanan kebisingan dengan waktu yang lama. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui Hubungan Alat Pelindung Telinga (APT) Lama Kerja dan Intensitas Kebisingan dengan Keluhan Gangguan Pendengaran pada Bagian Produksi PTPN VI Danau Kembar Kabupataten Solok Tahun 2016. . Penelitian ini bersifat deskriptif analitik dengan menggunakan pendekatan cross seksional dimana pengumpulan variabel independent dan variabel dependent dilakukan secara bersamaan. Teknik pengambilan sampel menggunakan cara total sampling. Jumlah sampel didapatkan dengan menggunakan rumus yaitu semua pekerja bagian produksi Pada PTPN VI Danau Kembar Kabupaten Solok Tahun 2016 dengan jumlah sampel 81 orang. Data yang terkumpul kemudian diolah secara univariat dan bivariat. Data yang terkumpul kemudian dianalisis secara univariat dan bivariat dengan memakai uji Chi-Square. Hasil analisa univariat diketahui bahwa responden tidak menggunakan APT yaitu (61,7)%, pekerja yang lama kerja (≥ 10 tahun) (65,4%), pekerja yang tidak memenuhi intensitas kebisingan (69,1%), pekerja yang mengalami gangguan pendengaran (51,9%).Hasil analisa bivariat menunjukkan ada hubungan antara APT Odds Ratio = 8,000, Lama kerja Odds Ratio = 2,743, dan Intensitas Kebisingan Odds Ratio = 5,700 dengan Gangguan Pendengaran pekerja (Pvalue ≤ 0,05). Kesimpulan penelitian adalah terdapat hubungan bermakna antara Alat Pelindung Telinga (APT), Lama Kerja dan Intensitas Kebisingan pada pekerja bagian produksi PTPN VI Danau Kembar Kabupaten Solok Tahun 2016. Saran yang dapat diberikan diharapkan Perusahaan harus menyediakan Alat Pelindung Telinga (APT) agar dapat melindungi pekerja dari intensitas kebisingan yang melebihi nilai ambang batas dan Diharapkan tenaga kerja menyadari pentingnya penggunaan alat pelindung telinga (APT) sebagai salah satu alternatif terakhir untuk pengendalian kebisingan yang melebihi NAB. Abstract (EN): Hearing disturbance is marked by decreasing or losing hearing function in the one both ears, primary hearing function in the one or both ears, primary heary disturbance causes by getting some noises in unpredictable time. The purpose of this research to find the relationship between ear protector’s work duration and noisy intensity with hearing disturbance in production division at PTPN VI Twin Lake of Solok Regency. This research belong to a analytic descriptive researh by using cross sectional approach. The variabel used were independent and dependent simultaneously. The sample of this research got by using total sampel there are 81 samples. The data processed by using univariat and bivariat, then tested by chi square. The resulth of univariat analysis showed that there are 61,7% respondents who didn’t use APT 65,4% for worker respondents who had worked more than 10 years 69,1% worker respondents who didn’t fulfill the noise intensity and 51,9% for hearing disturbance workers, while bivariat analysis resulth showed there are relationship between APT, work period and noise intensity with hearing disturbance. In summary, there were a truly relationship between APT Odds Ratio = 8,000, work period Odds Ratio = 2,743 and noise intensity Odds Ratio = 5,700 with hearing disturbance in production division at PTPN VI Twin Lake of Solok Regency for the suggestion in the ear protector to protect the workers from uncontrolled noise intensity and it is hoped that the workers also realized how important the APT for them as a alternative for uncontrolled noises.

Skripsi 2017
Detail
Cover Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Dampak Penggunaan Pestisida Pada Kesehatan Petani Jeruk Di Desa Pincuran Puti Kecematan Baso Kabupaten Agam Tahun 2106
Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Dampak Penggunaan Pestisida Pada Kesehatan Petani Jeruk Di Desa Pincuran Puti Kecematan Baso Kabupaten Agam Tahun 2106

Harisnal, Nurdin, Mutiara Agustina · 2017 · Laporan tugas akhir · Fakultas Ilmu Kesehatan, S1 Kesehatan Masyarakat

Penggunaa pestisida berdampak terhadap kesehatan manusia dan lingkungan pada manusia dampak petisida ada dua yaitu dampak jangka panjang dan dampak jangka pendek. jangka pendek iritasi mata dan pengeluaran air mata terus menerus, luka bakar, kulit gatal, sakit kepala, depresi, kehilangan kesadaran. Dampak jangka panjang paparan pestisida menimbulkan gangguan kesehatan yang bersifat kronis, diantaranya adalah peningkatan resiko kanker, kerusakan sistem syaraf, gangguan reproduksi dan kerusakan organ tubuh. Penelitian ini merupakan penelitian survey analitik dengan rancangan cross sectional study dan telah dilaksanakan pada bulan agustus2016. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh petani jeruk yang berada di Desa Pincuran Puti Tahun 2016 Jumlah sampel dalam penelitian ini adalah sebanyak 53 orang dengan teknik pengambilan sampel menggunakan total sampling, pengolahan data dilakukan secara komputerisasi meliputi analisis univariat dan bivariat (Uji ChiSquare). Dari analisa univariat didapatkan 60,4%responden yang bersikap negatif, 58,5%responden yang tidak menggunakan ADP, 43,4% responden yang tidak berpersonal hygiene baik , dan 54,7%responden yang mengalami dampak penggunaan pestisida. Hasil analisis bivariat menunjukkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara sikap(p= 0,002 dan OR=7,875), penggunaan APD(p= 0,011 dan OR=5,238) dan personal hygiene(p= 0,001 dan OR=9,500) dengan dampak penggunaan petisida pada kesehatan petani jeruk. Disimpulkan bahwapersonal Hygienelebihberesikoyang dipengaruhi oleh sikap petani yang tidak baik dengandampak penggunaan pestisida pada kesehatan petani jeruk di Desa Pincuran Puti Kecematan Baso Kabupaten Agam. Untuk itu diharapkan kepada Dinas Pertanian yang dibantu puskesmasuntuk memberi dorongan guna meningkatkan sikap dan personal hygiene yang lebih baik. Abstract (EN): Pesticide use impacts on human health and the environment on the human impact of petisida there are two long-term effects and the short-term impact. Short-term irritation of the eyes and tear of continuous expenditures, burns, skin itching, headaches, depression, loss of consciousness. Long-term impact of exposure to pesticides cause chronic health problems, such as increased risk of cancer, nervous system damage, reproductive disorders and organ damage. This research is analytic survey with cross sectional study and was conducted in August 2016. The population in this study are all citrus farmers in the village of Puti Pincuran 2016 Number of samples in this study are as many as 53 people with a sampling technique using total sampling, data processing is computerized include univariate and bivariate analysis (Chi-Square Test). The results of the univariate analysis found 60.4% of respondents who act negatively, 58.5% of respondents who do not use ADP, 43.4% of respondents who do not berpersonal good hygiene, and 54.7% of respondents who experienced the impact of pesticide use. The results of the bivariate analysis showed that there was a significant relationship between attitude (p = 0.002 and OR = 7.875), use of PPE (p = 0.011 and OR = 5.238) and personal hygiene (p = 0.001 and OR = 9.500) with the impact of using petisida on health citrus growers. Personal Hygiene concluded that more risk is influenced by the attitude of farmers who are not good with the health impacts of pesticide use on citrus farmers in the village of Puti Kecematan Pincuran Baso Agam. For that is expected to the Department of Agriculture assisted health clinic to give impetus to improve posture and personal hygiene better.

Laporan tugas akhir 2017
Detail