Logo Repository App UFDK Repository UFDK Universitas Fort De Kock

Daftar Repository

8825 dokumen ditemukan

Reset
Cover Faktor yang berhubungan dengan gejala  Musculoskeletal Disorders pada pengrajin songket tradisional di Kecamatan  Silungkang Kota Sawahlunto Tahun 2016
Faktor yang berhubungan dengan gejala Musculoskeletal Disorders pada pengrajin songket tradisional di Kecamatan Silungkang Kota Sawahlunto Tahun 2016

Aria Wahyuni, Fitria Fatma, Rizki Akbar · 2017 · Skripsi · Fakultas Ilmu Kesehatan, S1 Kesehatan Masyarakat

Berdasarkan survey yang dilakukan terhadap pengrajin songket di Kecamatan Silungkang ditemukan pengrajin songket yang mengalami resiko Musculoskeletal Disorders (MSDs) yaitu sakit pada bagian punggung 10%, leher 20%, lengan dan pergelangan tangan 50%. Pengrajin songket telah bekerja selama 5-10 tahun bahkan ada yang lebih dari 10 tahun dengan rata-rata lama waktu bekerja 12-15 jam/hari. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan gejala Musculoskeletal Disorders pada pengrajin songket tradisional di Kecamatan Silungkang Kota Sawahlunto. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan jenis penelitian deskriptif analitik dan pendekatan cross sectional. Populasi pada penelitian ini yaitu sebanyak 334 orang dan sampelnya 77 orang dan cara pengambilan sampel dengan menggunakan Metode Accidental Sampling. Penelitian dilakukan pada bulan September 2016. Pengukuran data dilakukan dengan menggunakan kuesioner dan wawancara. Analisis data pada penelitian ini menggunakan distribusi frekuensi dan uji Chi-square. Hasil uji statistik menunjukkan adanya hubungan yang bermakna antara postur kerja (p = 0,002) nilai OR 5,328, durasi kerja (p = 0,0005) nilai OR 8,400 dengan gejala Musculoskeletal Disorders dan tidak adanya hubungan yang bermakna antara beban kerja (p = 0,088) nilai OR 2,471 dengan gejala Musculoskeletal Disorders pada pengrajin songket tradisional di Kecamatan Silungkang Kota Sawahlunto. Kesimpulan dari penelitian ini adalah terdapat hubungan yang sangat bermakna antara durasi kerja dengan gejala Musculoskeletal Disorders. Disarankan perlu adanya penyuluhan kesehatan dan keselamatan kerja terutama tentang resiko gejala Musculoskeletal Disorders kepada seluruh pengrajin songket tradisional agar dapat menghindari terjadinya gejala Musculoskeletal Disorders tersebut. Abstract (EN): Based on a survey conducted on artisans in the district songket songket Silungkang found craftsmen who runs the risk of Musculoskeletal Disorders (MSDs) is pain in the back of 10%, 20% neck, arm and wrist 50%. Songket craftsmen have been working for 5-10 years and some have more than 10 years with the average length of time working 12-15 hours / day. This study aims to determine the factors associated with symptoms of Musculoskeletal Disorders craftsman traditional songket in District Silungkang Sawahlunto City. This study uses quantitative methods to the type of descriptive analytic and cross sectional approach. The population in this study as many as 334 people and the sample 77 people and a way of sampling using accidental sampling method. The study was conducted in September 2016. The measurement data using questionnaires and interviews. Analysis of the data in this study using frequency distribution and Chi -square test. Statistical analysis showed a significant relationship between work posture (p = 0.002) 5.328 OR values, duration of action (p = 0.0005) with a value of OR 8.400 Musculoskeletal Disorders symptoms and no significant correlation between workload (p = 0.088) OR value of 2.471 with symptoms Musculoskeletal Disorders craftsman traditional songket in District Silungkang Sawahlunto City. The conclusion of this study is a highly significant correlation between the duration of symptoms Musculoskeletal Disorders. Suggested the need for health education and safety, especially on risk symptoms Musculoskeletal Disorders to all artisans of traditional songket in order to avoid the occurrence of symptoms Musculoskeletal Disorders.

Skripsi 2017
Detail
Cover Hubungan Sanitasi Lingkungan Dengan Kejadian Diare Pada Balita Di Jorong Palupuh Nagari Pasia Laweh Wilayah Kerja Puskesmas Palupuh Tahun 2016
Hubungan Sanitasi Lingkungan Dengan Kejadian Diare Pada Balita Di Jorong Palupuh Nagari Pasia Laweh Wilayah Kerja Puskesmas Palupuh Tahun 2016

Harisnal, Fitria Fatma, Yomi Apriman · 2017 · Skripsi · Fakultas Ilmu Kesehatan, S1 Kesehatan Masyarakat

Menurut laporan sepuluh penyakit terbanyak di Puskesmas Palupuh, diare berada pada urutan ke tujuh, dengan jumlah penderita pada tahun 2013 sebanyak 423 orang, tahun 2014 sebanyak 473 orang dan tahun 2015 sebanyak 532 orang. Dari data tersebut terdapat peningkatan jumlah penderita dari tahun ke tahun. Penelitian ini bertujuan untuk melihat hubungan Penyediaan air bersih, kondisi jamban, pembuangan sampah, pengelolaan air limbah dengan kejadian diare pada balita di Jorong Palupuh Nagari Pasia Laweh wilayah kerja Puskesmas Palupuh tahun 2016. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Agustus di Jorong Palupuh. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian analitik dengan rancangan cross sectional. Pengambilan sampel dilakukan secara total sampling dengan jumlah 106 responde. Berdasarkan hasil penelitian didapatkan Separoh dari responden (50%) sudah memiliki penyediaan air bersih yang memenuhi syarat, lebih dari separoh responden (51,9%) belum memiliki kondisi jamban yang memenuhi syarat, lebih dari separuh responden (55%) tidak memiliki pembuangan sampah yang memenuhi syarat, lebih dari separuh responden (59,4%) belum memiliki pengelolaan air limbah yang memenuhi syarat. Dari hasil analisa bivariat didapatkan tidak ada hubungan yang bermakna (p=1,000) dan (OR=1,000) antara penyediaan air bersih dengan kejadian diare, ada hubungan yang bermakna (p=0,026) dan (OR=0,384) antara kondisi jamban dengan kejadian diare, tidak ada hubungan yang bermakna (p=0,069) dan (OR=0,457) antara pembuangan sampah dengan kejadian diare, ada hubungan yang bermakna (p=0,008) dan (OR=0,325) antara pengelolaan air limbah dengan kejadian diare. Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa tidak ada hubungan yang bermakna antara penyediaan air bersih dengan kejadian diare. Ada hubungan yang bermakna antara kondisi jamban, pembuangan sampah, dan pengelolaan air limbah dengan kejadian diare di Jorong Palupuh Nagari Pasia Laweh Wilayah Kerja Puskesmas Palupuh tahun 2016. Disarankan kepada petugas kesehatan untuk dapat meningkatkan program penyuluhan sehingga banyak masyarakat yang mengetahui pentingnya sanitasi lingkungan bagi kesehatan dan diharapkan dapat menekan angka kejadian diare khususnya. Abstract (EN): Diarrhea is a disease that marked with increase in the frequency of defecation more than usual (> 3 times/day) accompanied by a change in stool consistency (to liquid), with or without blood or mucus. According to the World Health Organization (2008), diarrhea is defined as loose stools three or more times in a day. By the time the attack is divided into two, namely acute diarrhea (< 2 weeks) and chronic diarrhea(≥ 2 weeks). This research aims to look at the relationship of water supply, conditions of latrines, garbage disposal, waste water management with the incidence of diarrhea in infants in Jorong Palupuh Nagari Pasia Laweh Health Center Working Area Palupuh 2016. This type of research is an analytic study with cross sectional design. Sampling was done by sampling the total number of 106 respondents. Based on the results of the research indicated no meaningful relationship (p=1,000) and (OR=1,000) between the supply of clean water to the incidence of diarrhea, there was a meaningful relationship (p=0,045) and (OR=2,477) between the condition of latrines with the incidence of diarrhea, there was a meaningful relationship (p=0,001) and (4,664) between garbage disposal with the incidence of diarrhea, there was a meaningful relationship (p=0,000) and (OR=8,714) between waste water management with the incidence of diarrhea. From this research it can be concluded that there is no meaningful relationship between the supply of clean water to the incidence of diarrhea. There is meaningful relationship between the condition of latrines, garbage disposal and waste water management with the incidence of diarrhea in Jorong Palupuh Nagari Pasia Laweh Health Center Working Area Palupuh 2016. It is suggested to the health officers can improve education programs so that many people who know the importance of environmental sanitation for health and is expected to reduce the incidence of diarrhea in particular.

Skripsi 2017
Detail
Cover Hubungan Waktu Kerja danErgonomi Kerja terhadap Keluhan Low Back Pain (LBP) pada Sopir Angkot di Kota Bukittinggi Tahun 2016
Hubungan Waktu Kerja danErgonomi Kerja terhadap Keluhan Low Back Pain (LBP) pada Sopir Angkot di Kota Bukittinggi Tahun 2016

Wenny Lazdia, Rudjito, Waliyul Hasanati · 2017 · Skripsi · Fakultas Ilmu Kesehatan, S1 Kesehatan Masyarakat

Pada tahun 2003 WHO memperkirakan prevalensi gangguan otot rangka mencapai hampir 60 % dari semua penyakit akibat kerja dengan lokasi tersering pada bagian punggung bawah. Dari hasil penelitian secara nasional yang dilakukan di 14 kota di Indonesia oleh PERDOSI tahun 2002, ditemukan 18,13% penderita low back pain. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan waktu kerja dan ergonomic kerja terhadap keluhan low back pain pada sopir angkot di Kota Bukittinggi. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian analitik dengan pendekatan cross-sectional yang dilakukan pada sopir angkot di Kota Bukittinggi bulan Agustus - September 2016. Teknik pengambilan sampel menggunakan random sampling. Jumlah sampel dalam penelitian ini sebanyak 169 responden. Data diperoleh melalui observasi, wawancara dan pembagian kuesioner kepada responden. Data yang diperoleh diolah secara univariat dan bivariat dan dianalisis dengan menggunakan metode statistik chi square dengan program komputerisasi. Dari hasil analisis penelitian terhadap169 sopir angkot terdapat 60 (35,5%) respoden dengan waktu kerja yang tidak sesuai, 87 (51,5%) responden dengan kerja yang tidak ergonomi, dan 112 (66,3%) responden mengalami keluhan low back pain. Uji statistik yang dilakukan pada waktu kerja terhadap keluhan low back pain didapatkan p value = 0,267 (pv >0,05) dengan OR=0,651, sedangkan untuk ergonomic kerja terhadap keluhan low back pain didapatkan p value = 0,000 (pv < 0,05) dengan OR=7,601. Pada penelitian ini didapatkan kesimpulan bahwa waktu kerja tidak berhubungan dengan keluhan low back pain, sedangkan ergonomi kerja mempunyai hubungan yang bermakna terhadap keluhan low back pain pada sopir angkot. Untuk itu diharapkan pada sopir angkot agar menerapkan posisi duduk yang ergonomi saat mengemudi. Abstract (EN): In the year of 2003, WHO estimated that the prevalence of skeletal muscles disorders had reached by 60% from all work-caused diseases. From the results of national studies conducted in 14 cities in Indonesia by PERDOSI 2002, found 18.13% of patients with low back pain. This research is aimed to know the correlation of working hours duration and work ergonomics towards the low back pain on the public transportation drivers in the city of Bukittinggi. The type of research that is used was the analytical research by using the crosssectional approach that was carried out on the IKABE public transportation drivers in the city of Bukittinggi on the month of August - September 2016. The sampling technique used was random sampling. The total of sample in this research was 169 respondents. The data were obtained through the observations, interviews and dissemination of questionnaires to the respondents. The data that had been obtained were then processed univariately as well as bivariately and analyzed by using the chisquare statistical method with computerized program. The results of analysis from this research towards 169 public transportation drivers showed that there were 60 (35.5%) of respondents to the working time is not appropriate, 87 (51.5%) of respondents with inadequate working ergonomics, and 112 (66.3%) of respondents had complaints of low back pain. The statistical test used on the working hours duration towards the low back pain complaints could find the p value of 0.267 (pv>0.05) with OR=0,651, as for the work ergonomic towards the low back pain complaints, the p value was 0.000 (pv<0.05) with OR=7,601. It could then be concluded from this research that the working hours duration did not correlate to the low back pain complaints while the work ergonomics did possess such a significant correlation to the low back pain complaints on the public transportation drivers.For that is expected on public transportation drivers to adopt an ergonomic sitting position while driving.

Skripsi 2017
Detail
Cover Hubungan Pengetahuan, Sikap, Peran Guru Dan Peran Petugas Kesehatan DI SDN 04 Tantaman Kecamatan Palembayan Kabupaten Agam Tahun 2016
Hubungan Pengetahuan, Sikap, Peran Guru Dan Peran Petugas Kesehatan DI SDN 04 Tantaman Kecamatan Palembayan Kabupaten Agam Tahun 2016

Rudjito, Nurdin, Oky Rinaldi · 2017 · Skripsi · Fakultas Ilmu Kesehatan, S1 Kesehatan Masyarakat

Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) dilatar belakangi oleh penerapan visi Indonesia sehat 2010 dalam Sistem Kesehatan Nasional (SKN) sebagai bagian yang tidak terpisahkan dengan rencana pembangunan jangka panjang bidang kesehatan (RJP-K) tahun2005-2025, melalui keputusan menetri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 131/Menkes/SKII/2004, salah satu tatanan PHBS adalah tatanan lingkungan sekolah yang sejalan dengan promosi kesehatan dunia di institusi pendidikan yang di canangkan WHO. Pada Penelitian ini digunakan adalah penelitian Survey analitik dengan menggunakan pendekatan cross-sectional. Untuk mengetahui hubungan pengetahuan, sikap, peran guru dan peran petugas kesehatan terhadap penerapan PHBS di SDN 04 Tantaman. Teknik pengambilan sampel menggunakan cara total sampling. Jumlah sampel sama dengan jumlah populasi sebanyak 63 responden. Data diperoleh melalui observasi, wawancara dan pembagian kuesioner kepada responden. Dari hasil analisis menunujukkan bahwa dari 53 responden terdapat 22 (41.5%) responden yang memiliki pengetahuan kurang baik yang penerapan PHBS Kurang baik 10 (45.5%) dan yang penerapan PHBS baik 12 (54.5%), dan 31 (58.5%) responden yang memiliki pengetahuan baik yang penerapan PHBS kurang baik 5 ( 16.1%) dan 26 (83.9%) yang penerapan PHBS baik.Dari uji statistic didapat nilai pvalue = 0.043 (pvalue < α) maka terdapat hubungan antara pengetahuan murid dengan penerapan PHBS. Kesimpulan penelitian adalah terdapat ada hubungan antara pengetahuan, sikap peran guru dan peran petugas kesehatan dengan penerapan PHBS, dan terdapatnya Hubungan yang bermakna antara sikap murid dengan penerapan PHBS di SDN 04 tantaman Kecamatan Palembayan Kabupaten Agam 2016. Abstract (EN): Indonesia Vision of Healty 2010 in the National System (NHS) was an integral part of Long Term Development Plan for Health (RPJP-K) 2005-2025 which is initiate Clean and healty Behavior (PHBS) program the ough the decree of minister of health of Republic Indonesia No. 131/Menkes/SK/II/2004. One of PHBS order is the order of the school envirotment that is also in line with the global health promation in educational Institutions health promoting school launched by WHO. In this research used analytic survey research by using cross-sectional approach. To determine the relationship of knowledge, attitudes, role of teacher and role officer heath of application PHBS in Public elementary school Tantaman 04. The sampling technique using total sampling. The number of samples is equal to a total population of 53 respondents. Data obtained through observation, interviews and the distribution of questionnaires to respondents. The data obtained were processed using univariate and bivariate and analyzed using chi square statistic method with computerization program. From the analysis of a study of 53 student / student there are 41.5% of respondents who have a mo good knowledge of good category of PHBS experiencing 58.5% and who have a good knowkolec 16.1% . From the statistical test obtained of PHBS P Value = 0.043 (V < 0.05). The conclution from this research showed connetion between the knowledge, attitudes, role of teacher and role officer health of application PHBS in public elementary school Tantaman 04 sub- district Palembayan district Agam 2016.

Skripsi 2017
Detail
Cover Analisis Perbedaan Rata-Rata Kadar Zat Pewarna Sintetis Pada Minuman Es Sirup dan ES Buah Di Pasar Raya Kota Solok Tahun 2016
Analisis Perbedaan Rata-Rata Kadar Zat Pewarna Sintetis Pada Minuman Es Sirup dan ES Buah Di Pasar Raya Kota Solok Tahun 2016

Sukarsi Rusti, Vina Novela, Erik Fernando · 2017 · Skripsi · Fakultas Ilmu Kesehatan, S1 Kesehatan Masyarakat

Dari survey awal saya mendapat 25 penjual minuman es sirup dan es buah, 20 diantara menggunakan zat pewarna sintetis seperti Carmoisine, Rhodamin B, Ponceaur 4R dan Erythrosine dan 5 diantaranya tidak dicurigai menggunakan zat pewarna sintetis yang dilarang. Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan rata-rata kadar zat pewarna sintetis pada minuman es sirup dengan es buah. Dalam penelitian ini jenis penelitian yang digunakan adalah eksperimen dengan desain penelitian two group yang diaplikasikan dengan metode penelitian intervensi (action research). Penelitian ini bersifat deskriptif dengan menggunakan uji Kruskal-Wallis Test. Penelitian ini dilakukan di pasar raya kota solok pada bulan agustus-september 2016 dengan sampel 20 penjual diantaranya 10 penjual minuman es sirup dan 10 penjual es buah. dari hasil pemeriksaan zat pewarna sintetis terdapat zat pewarna sintetis Rhodamin B 1 sampel (10,0%) 2,20 gr, Erythrosine 2 sampel (20,0%) 4,53 gr, Carmoisine 3 sampel (30,0%) 6,66 gr, Ponceaur 4R 4 sampel (40,0%) 8,92 gr Dari hasil analisa dapat diketahui rata-rata kadar zat pewarna sintetis minuman es sirup 2,2310 gr (95% CI : 2,1632-2,2988 gr) dengan standar deviasi 0,09480 gr,pada es buah dapat diketahui rata-rata kadar zat pewarna sintetis 2,2390 gr (95% CI : 2,1708-2,3072 gr) dengan standar deviasi 0,09527 gr,secara statistik (p=0,017 dan 0,034) dapat diartikan terdapat perbedaan yang bermakna antara ratarata kadar zat pewarna sintetis pada minuman es sirup dengan es buah. Dapat disimpulan bahwa terdapat perbedaan yang bermakna antara rata-rata kadar zat pewarna sintetis minuman es sirup dengan es buah adalah 2,2310 gr dan 2,2390 gr, karena rata-rata kadar berat benang wool minuman es sirup dan es buah tidak melebihi batas normal yang telah ditentukan oleh BPOM 2014 dengan (p=0,017 dan 0,034),dapat disarankan kepada responden tidak menggunakan zat pewarna sintetis pada minuman es sirup dan es buah yang melebihi batas normal yaitu 70 mg/I. Abstract (EN): The use of synthetic dyes in food and beverage production processes need to watch together, either by the manufacturer or by the consumer. From the initial suevey i got 25 sellers of iced drinks and iced fruit syrup, 20 of them were suspected of using such synthetic dyes carmoisine, rhodamine B, ponceaur 4R and erythrosine and 5 of them are not suspected of using banned synthetic dyes. The purpose of this research was to determine differences in average levels of synthetic dyes in beverage syrup with fruit ice. In this research study is a kind of experiment with two group research design was applied by the method of intervention research (action research). This is a descriptive study using a test kruskal-wallis test. This research was conducted in the city highway solok market in august-september 2016. From the research there were 20 respondents, there are four types of synthetic dyes are carmoisine, rhodamine B, ponceaur 4R and erythrosine. From the analysis it can be seen the average levels of synthetic dyes in beverage syrup 2,2310 gr (95% CI : 2,1632 to 2,2988 gr) with a standard deviation of 0,09480 gr, on the ice pieces can be discovered that the average levels of synthetic dyes 2,2390 gr (95% CI : 2,1708 to 2,2390 gr) with a standard deviation of 0,09527 gr. Statistically significant (p=0,001 and 0,003) means there is a significant difference between the average levels of synthetic dyes in beverage syrup with fruit ice From this study it can be concluded that there is a significant difference between the average levels of synthetic dyes in beverage syrup with fruit ice with (p=0,001 and 0,003). Suggested to the respondents do not use synthetic coloring substance in the beverage syrup and iced fruit that exceeds the maximum standard is 70-80 mg/I, but must meet health requirements allowed by Permenkes No. 033 in 2012.

Skripsi 2017
Detail
Cover Hubungan  Pengetahuan, Sikap dan Persepsi Ibu Rumah Tangga Terhadap Penggunaa Minyak  Jelantah Di RW 04 Kelurahan Campago Ipuh Kota Bukittinggi Tahun 2016
Hubungan Pengetahuan, Sikap dan Persepsi Ibu Rumah Tangga Terhadap Penggunaa Minyak Jelantah Di RW 04 Kelurahan Campago Ipuh Kota Bukittinggi Tahun 2016

Zuraida, Cici Apriza Yanti, Elta Dofely · 2017 · Skripsi · Fakultas Ilmu Kesehatan, S1 Kesehatan Masyarakat

Minyak goreng berulang kali atau yang lebih dikenal dengan minyak jelantah adalah minyak limbah yang bisa berasal dari jenis-jenis minyak goreng seperti halnya minyak jagung, minyak sayur, minyak samin dan sebagainya, minyak ini merupakan minyak bekas pemakaian kebutuhan rumah tangga umumnya, dapat di gunakan kembali untuk keperluan kuliner, akan tetapi bila ditinjau dari komposisi kimianya, minyak jelantah mengandung senyawa-senyawa yang bersifat karsinogenik, yang terjadi selama proses penggorengan. Penggunaan minyak goreng jelantah secara berulang-ulang dapat membahayakan kesehatan tubuh. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pengetahuan, sikap, persepsi, ibu rumah tangga terhadap penggunaan minyak jelantah di RW 04 daerah Kelurahan Campago Ipuh Bukittinggi Tahun 2016. Dari data Kelurahan Campago Ipuh Bukittinggi pada Tahun 2016 tercatat ada 4 RW/4RT dengan jumlah kepala keluarga 2.162 KK. Dalam penelitian ini peneliti mengambil jumlah sampel pada RW 04 dengan jumlah KK sebanyak 210 dan jumlah sampel ibu rumah tangga 64 orang. Jenis penelitian ini adalah penelitian observasional yang menggunakan rancangan cross sectional studi. Jumlah sampel 64 ibu rumah tangga yang ada di RW 04 Kelurahan Campago Ipuh Bukittinggi dan teknik pengambilan sampel dengan menggunakan teknik total sampling. Data dikumpulkan dengan observasi dan kuisiner. Dan analisis data yang digunakan adalah analisis bivariate dengan uji Chi Square dengan tingkat kepercayaan 95% menggunakan program komputerisasi. Hasil penelitian membuktikan bahwa ibu rumah tangga menggunakan minyak jelantah sebanyak 67,7%, ibu rumah tangga , yang memiliki pengetahuan rendah sebanyak 56,2%, yang memiliki sikap negatif sebanyak 53,1%, memiliki persepsi negatif sebanyak 54,7%. Dari hasil uji statistik didapatkan variable yang memiliki hubungan bermakna dengan penggunaan minyak jelantah oleh ibu rumah tangga di RW 04 daerah Kelurahan Campago Ipuh Bukittinggi yang pengetahuan p=0,048, OR=3,680, sikap p=0,020, OR=4,444, persepsi p=0,033,OR=0,268. Berdasarkan hasil penelitian di atas dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara pengetahuann, sikap dan persepsi ibu rumah tangga terhadap pemakaian minyak jelantah. Saran yaitu diperlukan kerjasama antara Dinas Kesehatan, Kantor Kelurahan dan Puskesmas memberikan informasi dan penyuluhan mengenai penggunaan minyak jelantah. Abstract (EN): Cooking oil repeatedly or better known as the used cooking oil is waste oil that can be derived from other types of cooking oils such as corn oil , vegetable oil , cumin oil and so on, oil is a former oil consumption needs of households in general , can be used back for culinary purposes , but when viewed from the chemical composition, used cooking oils contain compounds that are carcinogenic , which occur during the frying process. The use of used cooking oil repeatedly can harm health . This study aims to determine the relationship of knowledge , attitudes, perceptions , housewives to the use of used cooking oil in RW 04, Village area Campago Ipuh Bukittinggi 2016. This type of research is observational research using cross sectional study. Total sample of 64 housewives in RW 04, Village Campago Ipuh Bukittinggi and sampling techniques using total sampling technique. Data collected by observation and kuisiner . And data analysis used were bivariate analysis with Chi Square test with a confidence level of 95% using a computerized program . The research proves that housewives use waste cooking oil as much as 67.7 % , a housewife , who had low knowledge as much as 56.2 % , which has a negative attitude as much 53.1 %, have a negative perception as much 54.7 %. From the statistical test results obtained variable that has a significant relationship with the use of used cooking oil by housewives in RW 04, Village area Campago Ipuh Bukittinggi knowledge p = 0.048 , OR=0,48 attitude = 0,020,OR=4,444, perception p = 0.033, OR=0,268. Based on the above results it can be concluded that there is a significant relationship between knowledge- attitudes and perceptions housewife on the use of used cooking oil . Suggestions that required cooperation between the Department of Health , Office of the village and the health center to provide information and education about the use of used cooking oil .

Skripsi 2017
Detail
Cover Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Kepuasan Pasien Peserta BPJS di Ruang Rawat Inap Zal Bedah Rumah Sakit Dr.Achmad Mochtar Bukittinggi Tahun 2016
Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Kepuasan Pasien Peserta BPJS di Ruang Rawat Inap Zal Bedah Rumah Sakit Dr.Achmad Mochtar Bukittinggi Tahun 2016

Rudjito, Syafrian Naili, Elsita Febrianti · 2017 · Skripsi · Fakultas Ilmu Kesehatan, S1 Kesehatan Masyarakat

Kepuasan pasien ialah suatu tingkat perasaan pasien yang timbul sebagai akibat dari kinerja pelayanan kesehatan yang diperolehnya setelah pasien membandingkannya dengan apa yang diharapkannya.Tercatat data indonesia yang menggunakan BPJS berjumlah 139.007.646 orang dan di Bukittinggi sebanyak 909.246 orang. Serta di RSUD Dr.Achmad Mochtar Bukittinggi berjumlah 15.960 orang. Pada tahun 2014 jumlah pasien terbanyak yang menggunakan BPJS diruang rawat inap Zal Bedah yaitu 2.100 orang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kepuasan pasien peserta BPJS diruang rawat inap zal bedah rumah sakit Dr.Achmad Mochtar Bukittinggi Tahun 2016. Jenis penelitian analitik dengan pendekatan cross sectional, populasi berjumlah 132 pasien. analisis data menggunakan ujichi-square. Variabel independen yaitu mutu pelayanan kesehatan, citra rumah sakit dan komunikasi tenaga kesehatan. Variabel dependen adalah kepuasan pasien peserta BPJS di ruang rawat inap zal bedah. Hasil analisis univariat diketahui 55,3% pasien menyatakan puas, 56,1% pasien menyatakan mutu pelayanan kesehatan baik, 70,5% pasien menyatakan citra rumah sakit baik, 81,8% pasien menyatakan komunikasi tenaga kesehatan kurang baik. Hasil bivariat diketahui faktor yang berhubungan dengan kepuasan pasien BPJS adalah mutu pelayanan kesehatan (p = 0,000 dan OR = 6.433) dan komunikasi tenaga kesehatan (p=0,005 dan OR= 5.189). Serta tidak ada hubungan citra rumah sakit dengan kepuasan pasien BPJS (p = 0,058). Disimpulkan bahwa faktor yang berhubungan dengan kepuasan pasien BPJS adalah mutu pelayanan kesehatan dan komunikasi tenaga. Diharapkan pada pihak Rumah Sakit agar meningkatkan mutu pelayanan demi kepuasan pasien. Abstract (EN): Satisfaction patient is levelsthe feeling of patient arising as a result of health services who procures after the patients compare it with what he hadhoped. Recorded data Indonesia to use BPJS were 139.007.646 people, and in Bukittinggi as many as 909.246 people. And at RSUD Dr. Achmad Mochtar Bukittinggi were 15.960 people. In 2014 the number of patients highest numberof use BPJS in patient rooms zal sugical namely 2,100 people. Research aims to understand the factors that associated with pleasure by participants BPJS in-patient room zal surgical hospital Dr.Achmad Mochtar Bukittinggi 2016. The kind of research analytic with the approach cross sectional, population were 132 patients. Analysisdata using chi-square test. The independent variable namely the quality of health services, imagehospital and communication health workers. Dependent variable is satisfaction by participants BPJS inpatient rooms zal surgical. The results of the analysis univariat known 55.3% of patients said satisfied, 56.1% of patients said the quality of services both, 70.5% of patients said stated image hospital good, 81.8% of patients said stated communication health workers less than good. The results of bivariat known factors associated with pleasure patient BPJS is the quality of service (p = 0.000 and OR = 6.433) and communication health workers (p = 0.005 and OR = 5.189). And there was no connection image the hospitals and satisfaction patient BPJS (p = 0.058). Concluded that factors associated with pleasurepatient BPJS is the quality of services and communications health workers. Is expectedin the hospital in order to increase the quality of service by satisfaction patients.

Skripsi 2017
Detail
Cover Analisis Kebijakan Pencegahan dan Penanggulangan Demam Berdarah Dengue di Wilayah Kerja Puskesmas  Lubuk Basung tahun 2016
Analisis Kebijakan Pencegahan dan Penanggulangan Demam Berdarah Dengue di Wilayah Kerja Puskesmas Lubuk Basung tahun 2016

Evi Hasnita, Harisnal, Frima Surya Fitri · 2017 · Skripsi · Fakultas Ilmu Kesehatan, S1 Kesehatan Masyarakat

Kabupaten Agam, khususnya wilayah kerja Puskesmas Lubuk Basung merupakan daerah endemis penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) karena adanya kecendrungan peningkatan kasus dari tahun 2011 sampai tahun 2015. Setiap ada kasus, kebiasaan masyarakat selalu meminta fogging sesegera mungkin sehingga upaya kebijakan yang dilakukan oleh instansi yang terkait tidak sesuai dengan standar operasional (SOP). Tujuan Penelitian untuk mengeksplorasi kebijakan program pencegahan dan penanggulangan demam berdarah dengue di wilayah kerja Puskesmas Lubuk Basung tahun 2016. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus eksplanatori. Pengumpulan data dengan menggunakan pedoman wawancara kemudian dianalisa melalui transkrip, konten hasil wawancara dan tringulasi pada pemangku kebijakan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa diperlukan komitmen yang kuat untuk pencegahan dan penanggulangan DBD, bentuk koordinasi yang jelas dilapangan, adanya upaya efektif untuk pencegahan berupa gerakan 3M Plus, pengendalian vektor dan sosialisasi di masyarakat. Meningkatkan suveilance/ pengamatan kasus secara aktif, memaksimalkan penyelidikan epidemiologi kasus, meningkatkan promosi kesehatan melalui radio, leaflet dan penyuluhan ke institusi pendidikan, kantor dan sarana umum, serta himbauan- himbauan yang ada saat ini direkomendasikan untuk dibuatkan dalam bentuk kebijakan yang lebih kuat secara berjenjang mulai dari jorong, nagari, kecamatan dan kabupaten. Berdasarkan hal tersebut diharapkan pihak terkait dapat membentuk dan mengaktifkan kembali Pokjanal DBD, menggerakan masyarakat dengan strategi Advokasi, Bina Suasana dan Gerakan Masyarakat (ABG) serta didukung dengan kebijakan untuk membuat peraturan daerah. Abstract (EN): Agam district, especially Lubuk Basung Health Centre is endemic Dengue Hemorrhagie Fever (DHF) for their trend of increase in cases from 2011 to 2015. Every case, people always ask fogging as soon an possible so that policy efforts undertaken by the agency not in accordance with the relevant operasional standards (SOP). The purpose of this study was to explore the program policy of prevention and control of dengue in Lubuk Basung Health Centre 2016. This study used a qualitative method with cases study approach explanatory. Collecting data using interview guide is then analyzed through transcrips, interviews and trigulation content on stakeholders. The results showed that it takes a strong commitment to the prevention and control of dengue fever, a good coordination to prevent dengue cases, their efforts to be effective for the prevention of 3 M Plus, vector control and socialization in the community. Increase surveilence/observation of active case, maximizing the epidemiological investigation of cases, improving health promotion through radio, leaflets and outreach to education institutions, offices and public facilities, as well as the appeal calls the current recommended to be made in the from policy stronger gradually becan of oblong, villages, districts and counties. Expected parties concerned can esrablish and reactivate the working groups operating DBD, mobilize communities with advocacy strategy, social support and empowerment and supported by policies to make local regulations.

Skripsi 2017
Detail
Cover Hubungan Mutu Pelayanan Kesehatan Dengan Kepuasan Pasien di Puskesmas Pauh Pariaman Kota Pariaman Tahun 2016
Hubungan Mutu Pelayanan Kesehatan Dengan Kepuasan Pasien di Puskesmas Pauh Pariaman Kota Pariaman Tahun 2016

Zainal Abidin, Fitria Fatma, Vivi Amriyenni Putri · 2017 · Skripsi · Fakultas Ilmu Kesehatan, S1 Kesehatan Masyarakat

Mutu pelayanan kesehatan di Indonesia, bila dipandang dari segi fisik, terlihat bahwa persebaran sarana pelayanan kesehatan baik pusat kesehatan masyarakat (Puskesmas) maupun rumah sakit serta sarana kesehatan lainnya termasuk sarana penunjang dapat dikatakan merata di seluruh pelosok wilayah Indonesia. Penelitian bertujuan untuk mengetahui hubungan mutu pelayanan kesehatan dengan kepuasan pasien di Puskesmas Pauh Pariaman Kota Pariaman Tahun 2016. Penelitian dilakukan dengan menggunakan pendekatan desain cross sectional, dilakukan penelitian terhadap kepuasan pasien dengan menggunakan kuesioner dengan subjek penelitian berjumlah 67 orang yang memenuhi kriteria inklusi. Analisis menggunakan uji chi-square. Variabel independen adalah bukti langsung, kehandalan, ketanggapan, jaminan, kepedulian dan variabel dependen adalah kepuasan pasien. Hasil penelitian menunjukkan diantara 67 responden diketahui bukti langsung sebesar 50 orang (74,6%), kehandalan sebesar 73 orang (55,2), ketanggapan sebesar 42 orang (62,7%), jaminan sebesar 40 orang (59,7%), kepedulian sebesar 50 orang (74,6%), dan kepuasan pasien sebesar 36 orang (53,7%). Hasil uji statistik terdapat hubungan antara kepuasan pasien terhadap bukti langsung didapatkan nilai p = 0,000 dengan OR = 37,333, terhadap kehandalan didapatkan nilai p = 0,001 dengan nilai OR = 6,300, terhadap ketanggapan didapatakan nilai p = 0,012 dengan nilai OR = 4,250, terhadap jaminan didapatkan nilai p = 0,045 dengan nilai OR = 3,157, dan terhadap kepedulian didapatkan nilai p = 0,041 dengan nilai OR = 3,916. Saran dalam penelitian ini terhadap Puskesmas diharapkan lebih meningkatkan mutu pelayanan kesehatan dengan menerapkan dimensi mutu, terutama pada bukti langsung yang akan membuat pasien merasa puas dengan pelayanan yang diberikan, serta petugas diharapkan lebih memperhatikan kelengkapan alat medis, penampilan dan penambahan kursi pada ruang tunggu untuk kenyamanan pasien. Abstract (EN): Quality of health services in Indonesia , when viewed in terms of physical , it shows that the distribution of health care facilities both community health centers ( Puskesmas ) and hospitals and other health facilities including the supporting infrastructure can be said to be evenly distributed throughout the territory of Indonesia. The purpose of this study was to determine the relationship of health care quality and patient’s satisfaction in Puskesmas Kota Pariaman Pariaman Pauh 2016. This secearch was conducted by using cross sectional design approach, conducted a study of patient satisfaction using a questionnaire to the subject of study amounted to 67 people who met the inclusion criteria. This analysis using the chi-square test. As for the independent variable is tangible, reliability, responsiveness, assurance, emphaty, and dependent variable is patient satisfaction. The results showed that among 67 respondents, it is tangible of 50 people (74,6%), reliability of 73 people (55,2%), responsiveness of 42 people (52,7%), assurance of 40 people ( 59,7%), emphaty of 50 people (74,6%), and patient satisfaction of 36 people (53,7%). Statistical test results there is a relationship between patient saticfaction with tangible obtained p value = 0,000 with OR = 37,333, the reliability obtained p value = 0,001 with OR = 6,300, the responsiveness obtained p value = 0,012 with OR = 4,250, the assurance obtained p value = 0,045 with OR = 3,157, the emphaty obtained p value = 0,041 with OR = 3,916. Suggestions in this research to the health center is expected to further improve the quality of healthcare by applying the quality dimensions , especially on direct evidence that would make patients feel satisfied with the services provided, and officers are expected to pay more attention completeness of medical devices , appearance and additional seats in the waiting room for patient comfort .

Skripsi 2017
Detail
Cover Hubungan Unsafe Action dan Unsafe  Condition dengan Kecelakaan Kerja Karyawan di PT Kuansing Mineral  Sejahtera di Kota Solok Tahun 2016
Hubungan Unsafe Action dan Unsafe Condition dengan Kecelakaan Kerja Karyawan di PT Kuansing Mineral Sejahtera di Kota Solok Tahun 2016

Rudjito, Nurdin, Ade Absirwan Putra · 2017 · Skripsi · Fakultas Ilmu Kesehatan, S1 Kesehatan Masyarakat

Kecelakaan kerja adalah kecelakaan kerja yang terjadi di tempat kerja kususnya di lingkungan industri. PT Kuansing Mineral Sejahtera Kota Solok pada tahun 2016 dari bulan Januari sampai dengan Juli terdapat 20 kasus kecelakaan kerja. Kecelakaan kerja pada proyek ini masih dalam kategori kecelakaan ringan, belum ditemukan kecelakaan berat maupun kecelakaan fatal (kematian).Kasus kecelakaan kerja lebih banyak menimpa pekerja konstruksi dibandingkan dengan pekerja di bagian manajemen.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan Unsafe Action dan Unsafe Condition dengan Kecelakaan Kerja Karyawan di PT Kuansing Mineral Sejahtera di Kota Solok. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan jenis penelitian deskriptif analitik dan pendekatan cross sectional. Populasi pada penelitian ini yaitu sebanyak 68 orang dan sampelnya 68 orang dan cara pengambilan sampel dengan menggunakan Metode Total Random Sampling. Penelitian dilakukan pada bulan September 2016.Pengukuran data dilakukan dengan menggunakan kuesioner dan wawancara.Analisis data pada penelitian ini menggunakan distribusi frekuensi dan uji Chi-square. Hasil penelitian menunjukkan dari 68 orang karyawan mengalami kecelakaan kerja sebanyak 35 (51,5%) orang. Hasil uji statistik menunjukkan adanya hubungan yang bermakna antara Unsafe Action (p = 0,007) nilai OR 4,408 dengan kecelakaan kerja dan tidak adanya hubungan yang bermakna antara Unsafe Condition (p = 0,880) nilai OR 1,286 dengan kecelakaan kerja pada karyawan di PT Kuansing Mineral Sejahtera di Kota Solok. Kesimpulan dari penelitian ini adalah terdapat hubungan antara Unsafe Action dengan kecelakaan kerja dan tidak adanya hubungan Unsafe Conditiondengan kecelakaan kerja.Disarankan perlu adanya penyuluhan atau pelatihan kesehatan dan keselamatan kerja kepada seluruh karyawan di PT Kuansing Mineral Sejahtera Kota Solok agar angka kejadian kecelakaan kerja dapat diturunkan. Abstract (EN): Workplace accidents are accidents that occur in the workplace especially be true inindustrial environments. PT Kuansing Mineral SejahteraSolok City in 2016 from January to July there were 20 cases of work accidents. Accident working on this project is still in the category of minor accidents, undiscovered serious accident or a fatal accident (death). More cases of occupational accidents befall construction workers compared to workers in the management section.This study aims todetermineUnsafe Action andUnsafe Condition with employee work accidents in PT Kuansing Mineral Sejahtera in Solok City. This study uses quantitative methods to the type of descriptive analytic and cross sectional approach. The population in this study as many as 68 people and sample 68 and the sampling technique using a Total Random Sampling Method. The study was conducted in September 2016. The measurement data using questionnaires and interviews.Analysis of the data in this study using frequency distribution and Chi -square test. The results showed 68 employees injured at work a total of 35 (51.5 %) persons.Statistical analysis showed a significant relationship between Unsafe Action (p = 0.007)OR value of4,408 with a work accident on employeesand no significant relationship between Unsafe Condition (p = 0.880) OR value of1,286 with a work accident on employees in PT Kuansing Mineral Sejahtera in Solok City. The conclusion from this study is there a relationship between Unsafe Action withworkplace accidents and the absence of Unsafe Condition relationship with accidents. Suggested the need for counseling or occupational health and safety training to allemployees in PT Kuansing Mineral Sejahtera Solok City that the incidence of workplaceaccidents can be reduced.

Skripsi 2017
Detail