Logo Repository App UFDK Repository UFDK Universitas Fort De Kock

Daftar Repository

8825 dokumen ditemukan

Reset
Cover Hubungan Intensitas Pencahayaan, Masa Kerja, dan Lama Jam Kerja dengan Ketajaman Penglihatan Pengrajin Tenun Tradisional di Kenagarian Kubang, Kecamatan Guguak, Kabupaten Lima Puluh Kota Tahun 2015
Hubungan Intensitas Pencahayaan, Masa Kerja, dan Lama Jam Kerja dengan Ketajaman Penglihatan Pengrajin Tenun Tradisional di Kenagarian Kubang, Kecamatan Guguak, Kabupaten Lima Puluh Kota Tahun 2015

Nurdin, Yuniliza, Hidayati Putri Welani · 2017 · Skripsi · Fakultas Ilmu Kesehatan, S1 Kesehatan Masyarakat

Pekerja sektor informal mempunyai risiko gangguan kesehatan yang lebih tinggi dibanding pekerja sektor formal. Kerajinan tenun merupakan salah satu usaha sektor informal. Kerajinan tenun H. Ridwan By dan CV Rangkiang merupakan kerajinan tenun tradisional. Sebanyak 60% pekerjanya menggunakan kacamata saat bekerja, bahkan 54,2% diantaranya mulai menggunakan kacamata setelah bekerja beberapa tahun di tempat ini. Selain itu, juga banyak pekerja yang mengeluh mata perih dan penglihatan tidak fokus saat bekerja. Jenis penelitiannya analitik dengan desain Cross Sectional. Penelitian ini dilakukan pada bulan Agustus 2015. Sampelnya adalah pengrajin tenun di kerajinan tenun H. Ridwan By dan CV Rangkiang sebanyak 40 orang dengan teknik pengambilan sampel total sampling. Analisisnya adalah analisis univariat dan bivariat dengan menggunakan uji Chi Square. Analisis univariat menunjukkan 55% intensitas pencahayaannya tidak sesuai standar, 52,5% masa kerjanya baru, 67,5% lama jam kerjanya tidak sesuai ketentuan, dan 57,5% mengalami penurunan ketajaman penglihatan pada mata kanan dan kiri. Sedangkan analisis bivariat menunjukkan ada hubungan antara intensitas pencahayaan (p value=0,001, OR=11,7) dan lama jam kerja (p value =0,002, OR=9,524) dengan ketajaman penglihatan dan tidak ada hubungan antara masa kerja (p value =0,61) dengan ketajaman penglihatan pengrajin tenun. Kesimpulan dari penelitian ini adalah ada hubungan antara intensitas pencahayaan dan lama jam kerja dengan ketajaman penglihatan pengrajin tenun. Saran dari penelitian ini adalah pihak pengelola hendaknya menambah intensitas pencahayaan di tempat kerja agar lebih memadai dan dapat mengatur jam kerja pekerja agar sesuai dengan ketentuan. Abstract (EN): Informal sector workers are at risk of health problems is higher than formal sector workers. Handicraft weaving is one of the informal sector. H. Ridwan By and CV Rangkiang are traditional weaving craft. As many as 60% of workers use glasses while working, even 54,2% of them started using glasses after working several years in this place. In addition, many workers who complained of sore eyes and eyesight did not focus at work. Type of research is analytic with cross sectional design. This research was conducted in August 2015. The sample was weavers in weaving craft H. Ridwan By and CV Rangkiang as many as 40 people with a total sampling techniques. Analysis are the analysis of univariate and bivariate using Chi Square test. Univariate analysis showed 55% intensity of the lighting is not according to standards, 52,5% of new working period, 67,5% long hours of work is not in accordance with, and a 57,5% decrease in visual acuity in the right and left eyes. While the bivariate analysis showed there are correlation between the intensity of illumination (p value=0,001, OR=11,7) and long working hours (p value=0,002, OR=9,524) with visual acuity and no correlation between work period (p value=0,61) with visual acuity weavers. The conclusion from this research is there are correlation between illumination intensity and long hours of work with visual acuity weavers. Suggestions from this research are the manager should increase the intensity of the lighting in the workplace to be more adequate and may regulate the working hours of workers to comply with the provisions.

Skripsi 2017
Detail
Cover Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kepesertaan KB Pria Di Kota Bukittinggi Tahun 2015
Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kepesertaan KB Pria Di Kota Bukittinggi Tahun 2015

Evi Hasnita, Maisyarah, Yeni Astuti · 2017 · Skripsi · Fakultas Ilmu Kesehatan, S1 Kesehatan Masyarakat

Keluarga Berencana adalah program yang bertujuan membantu pasangan suami isteri untuk mengatur, mengontrol interval diantara kehamilan dan kelahiran dalam keluarga. Laporan PPKB Kota Bukittinggi pencapaian akseptor KB pria sebanyak 4.090 akseptor tahun 2013 pencapaian akseptor KB pria sebanyak 748 akseptor (12,76%).Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kepesertaan KB pria Di Kota Bukittinggi Tahun 2015. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional dan dilaksanakan pada tanggal 11 sampai dengan 23 Mei 2015. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pria PUS yang berada di kota Bukitinggi dengan jumlah sampel 100 orang dan dipilih menggunakan teknik Simple Random Sampling. Pengolahan data dilakukan menggunakan analisis univariat dan bivariat (Uji Chi-Square). Hasil analisis univariat didapatkan 67% memiliki pengetahuan tinggi, 56% memiliki sikap yang positif, 51% mempunyai dukungan keluarga yang kurang, 51% dukungan informasi yang tidak cukup, 58% peran tenaga kesehatan yang kurang dan 56% tidak ikut serta dalam pemakaian kontrasepsi KB. Hasil analisis bivariat menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan, sikap, dan dukungan keluarga dengan kepesertaan KB Pria dengan nilai p dan OR berturut-turut (p=0,031; OR=2,91, p=0,017; OR=2,95, p= 0,000; OR= 11,66) sedangkan dukungan informasi, peran petugas kesehatan tidak terdapat hubungan signifikan dengan kepesertaan KB pria (p=1 ; OR=0,782 dan p=0,41 ; OR=1,52). Keikutsertaan pria dalam program KB, diperlukan sosialisasi petugas kesehatan dan kader untuk melaksanakan penyuluhan kepada suami begitu juga isteri agar isteri berperan aktif dan memberikan dukungan serta pemahaman kepada suami. Pihak BKKBN, PPKB Kota Bukittinggi diperlukan untuk menunjang keaktifan dan kelancaran peran PLKB Kecamatan dan kader KB. Abstract (EN): Family planning is a program aimed at helping couples to set, control the interval between pregnancies and birth in the family. The reports office of the empowerment of women and family planning Bukittinggi City has highest achievement of male family planning acceptors in Bukittinggi city as 748 male acceptors (12,76%) in 2012. The purpose of this study was aimed to know factors influenced the behavior of male family planning acceptors. This research uses a cross sectional design and accured on 11 and ended on 23 May 2015. The population in this research is the whole male accesptor who was in Bukitinggi city total sample of 100 people and selected using Simple Random Sampling technique. The data processing is done using univariate analysis and bivariat (Chi-Square Test). Results obtained from 67% have a high knowledge, 56% have a positive attitude, 51% have less family support, 51% support information is not enough, 58% less health workers role and 56% did not participate in the use of contraception KB. Statistic results indicate that there is a significant relationship between knowledge, attitude, and support families with behavior male family planning with p-value eand OR respectively (p = 0,031; OR = 2.91, p = 0,017; OR = 2.95, p = 0.000; OR = 11,66) but information support, the role of health workers there was no significant relationship with behavior male family planning (p = 1; OR = 0,782 and p = 0,41; OR = 1.52). The participation of men willing to become family planning acceptors required the attention of the government through the socialization of health care workers and cadres through counseling. The wife also needs to be targeted outreach to wives play an active role and provide support to the husband. BKKBN, PPKB Bukittinggi needed to support the activity and the role of the smooth field officers and district cadres of male family planning acceptors.

Skripsi 2017
Detail
Cover Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Kepatuhan Berobat Penderita TB Paru di Wilayah Kerja Puskesmas Dangung-dangung Kabupaten Lima Puluh Kota Tahun 2015
Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Kepatuhan Berobat Penderita TB Paru di Wilayah Kerja Puskesmas Dangung-dangung Kabupaten Lima Puluh Kota Tahun 2015

Rudjito, Zainal Abidin, Amril Rais · 2017 · Skripsi · Fakultas Ilmu Kesehatan, S1 Kesehatan Masyarakat

Penyakit Tuberkulosis membutuhkan pengobatan jangka panjang untuk mencapai kesembuhan. Diantara 22 Puskesmas yang ada di Kabupaten Lima Puluh Kota, angka keberhasilan pengobatan terendah di Puskesmas DangungDangung yaitu 45 %, dengan angka kesembuhan juga 45 %. Hal ini masih jauh dari target yaitu kesembuhan > 85 % dan keberhasilan pengobatan > 90 %. Survey awal terhadap 10 orang penderita TB paru, diperoleh informasi bahwa 60 % diantaranya tidak mau melanjutkan pengobatan setelah 3 bulan minum obat, dengan alasan merasa bosan dengan efek samping yang dirasakan dan merasa telah sembuh dari penyakit TB paru sehingga sudah malas untuk minum obat. Disamping itu, sebanyak 50 % pasien menyatakan kadang lupa minum obat karena tidak ada keluarga yang mengingatkan. Tujuan penelitian untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kepatuhan berobat penderita TB paru. Jenis penelitian analitik dengan pendekatan cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah penderita TB paru dengan BTA (+) di wilayah kerja Puskesmas Dangung-Dangung berjumlah 47 orang, dengan teknik pengambilan sampel secara total sampling. Data dikumpulkan melalui wawancara terpimpin dengan panduan kuesioner, kemudian diolah secara komputerisasi dengan menggunakan uji statistik chi-square. Hasil analisis univariat diketahui 57,4 % responden tidak patuh dalam berobat TB paru, 78,7 % mengalami efek samping obat ringan, 61,7 % memiliki motivasi tinggi, dan 59,6 % menyatakan peran PMO baik. Hasil analisa bivariat diketahui faktor yang berhubungan dengan kepatuhan berobat penderita TB paru adalah motivasi (p = 0,012 dan OR = 7,083) dan peran PMO (p = 0,006 dan OR = 8,242), serta tidak ada hubungan efek samping obat dengan kepatuhan berobat penderita TB paru (p = 0,154 dan OR = 3,789). Disimpulkan bahwa faktor yang berhubungan dengan kepatuhan berobat penderita TB paru adalah motivasi dan peran PMO. Oleh sebab itu, perlu adanya penyuluhan tentang penyakit TB yang berkesinambungan dari petugas puskesmas, sehingga dapat meningkatkan kepatuhan penderita TB paru dalam berobat. Abstract (EN): Tuberculosis disease requiring long-term treatment to achieve a cure. Among the 22 health centers in the District Lima Puluh Kota, the lowest treatment success rate in PHC Dangung-Dangung namely 45%, the cure rate is also 45%. It is still far from the target of recovery> 85% and treatment success> 90%. Initial survey of the 10 patients with pulmonary tuberculosis, obtained information that 60% of them do not want to continue the treatment after 3 months of taking the drug, arguing bored with the side effects perceived and felt he had recovered from the disease pulmonary tuberculosis that has been reluctant to take medication. In addition, as many as 50% of patients stated sometimes forget to take medication because no family is reminiscent. The aim of research to determine the factors associated with treatment compliance pulmonary tuberculosis patients. Type of analytical research with cross sectional approach. The population in this study are patients with pulmonary tuberculosis with BTA (+) in DangungDangung Primary Health Centre totaling 47 people, with total sampling technique sampling. Data were collected through interviews guided by the guide questionnaire, then processed in a computerized using chi-square statistical test. Results of univariate analysis known to 57.4% of respondents do not bey the treatment of pulmonary tuberculosis, 78.7% experienced mild side effects of drugs, 61.7% have a high motivation, and 59.6% stated that the role of the supervisors to take medication either. Results of bivariate analysis known factors associated with treatment compliance pulmonary tuberculosis patients is the motivation (p = 0.012 and OR = 7,083) and the role of the supervisors to take medication (p = 0.006 and OR = 8.242), and there is no relationship of drug side effects with treatment compliance pulmonary tuberculosis patients (p = 0.154 and OR = 3.789). It was concluded that the factors associated with treatment compliance pulmonary tuberculosis patients is the motivation and the role of the supervisors to take medication. Therefore, the need for education on sustainable TB disease of health center personnel, thus increasing patient compliance in the treatment of pulmonary tuberculosis.

Skripsi 2017
Detail
Cover Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kecelakaan Lalu Lintas Pada Pengendara Sepeda Motor Diwilayah Kerja Kepolisian Resor Payakumbuh Tahun 2015
Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kecelakaan Lalu Lintas Pada Pengendara Sepeda Motor Diwilayah Kerja Kepolisian Resor Payakumbuh Tahun 2015

Cici Apriza Yanti, Maisyarah, Cici Aprilliani · 2017 · Skripsi · Fakultas Ilmu Kesehatan, S1 Kesehatan Masyarakat

Kecelakaan lalu lintas adalah suatu peristiwa di jalan yang tidak diduga dan tidak disengaja yang melibatkan kendaraan dengan atau tanpa pengguna jalan lain yang mengakibatkan korban manusia dan/atau kerugian harta benda. Angka kecelakaan lalu lintas yang terjadi di Sumatera Barat tahun 2013 yang mencapai 2625 kasus dan tahun 2014 menurun 2157 kasus kecelakaan lalu lintas. Di Kota Payakumbuh pada tahun 2012 kejadian kecelakaan lalu lintas dengan korban meninggal dunia sebanyak 9,33 %, pada tahun 2013 kejadian kecelakaan lalu lintas dengan korban meninggal dunia sebanyak 7,78 %, pada tahun 2014 jumlah kejadian kecelakaan lalu lintas meningkat signifikan dibandingkan dengan 2012 dan tahun 2013, yaitu jumlah korban meninggal dunia sebanyak 10,41 %. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kecelakaan lalu lintas pada pengendara sepeda motor diwilayah kerja Kepolisian Resor Payakumbuh tahun 2015 Penelitian ini merupakan penelitian Survey analitik dengan rancangan cross sectional study dan telah dilaksanakan pada tanggal 15 Juni-5 Juli 2015. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pengendara sepeda motor yang berada diwilayah kerja Kepolisian Resor Payakumbuh sebanyak 547 yang memiliki motor diwilayah kerja kepolisian resor payakumbuh pada tahun 2014. Jumlah sampel dalam penelitian ini adalah sebanyak 84 orang dengan teknik pengambilan sampel menggunakan Accidental Sampling, pengolahan data dilakukan secara komputerisasi meliputi analisis univariat dan bivariat (Uji Chi-Square). Dari analisa univariat didapatkan 47,6% responden yang berpengetahuan rendah, 47,6% responden bermotivasi negatif, 40,5% responden yang tidak memiliki SIM, 25% responden yang tidak lengkap menggunakan perlengkapan mengemudi, dan 72,6% responden yang mengalami kecelakaan lalu lintas. Hasil analisis bivariat menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan, motivasi, kepemilikan SIM, dan kelengkapan mengemudi dengan kejadian kecelakaan lalu lintas pada pengendara sepeda motor dengan nilai p dan OR berturut-turut p=0,029 dan OR=3,568 ; p=0,008 dan OR=4,846 ; p=0,017 dan OR=4,597 ; p=0,007 dan OR=4,675. Disimpulkan bahwa ada hubungan antara pengetahuan, motivasi, kepemilikan SIM dan kelengkapan mengemudi dengan kejadian kecelakaan lalu lintas pada pengendara sepeda motor diwilayah kerja Kepolisian Resor Payakumbuh tahun 2015. Untuk itu diharapkan kepada pihak kepolisian agar dapat bekerja sama dengan pihakpihak tertentu untuk memberi dorongan guna meningkatkan pengetahuan tentang peraturan lalu lintas yang lebih baik serta kepada pengendara sepeda motor untuk dapat mematuhi dan memahami peraturan dalam berlalu lintas. Abstract (EN): Traffic accident is an unexpected and an unintended incident happened on the road which involves the vehicles and the people who use the public road. It causes victims, damagings or financial loss. The rate of the traffic accidents in West Sumatera reached 2625 cases in 2013 and the rate descreased in 2014 for 2157 traffic accident cases. In Payakumbuh, the number of traffic accidents happened in 2012 with the death victims reached 9,33%, in 2013 the number of death victims decreased in 7,78%, and the amount of the traffic accidents in 2014 significantly increased in 10,41% of the death victims compare to the numbers in 2012 and 2013. The pupose of this study was to determine the factors assotiated with traffic accidents on motorcyclist resort region police work Payakumbuh 2015. This research is an analytic survey with cross sectional study and has been implemented on June 15th until July 5th, 2015. The population in this research is 547 motorcycle user and owner that can be found around the Police District Commands in Payakumbuh in 2014. The total sample in this research is 84 people and the sample taken by using accidental sampling. The data is computerized processed which covers univariate and bivariate analysis (Chi-Square Test). The univariate analysis shows that 47,6% of respondents have low rate of basic knowledge, 47,6% of respondents have negative motivation, 40,5% of respondents do not have the driving license card, 25% of respondents do not use the complete equipments for driving and 72,6% of respondents experienced the traffic accidents. The bivariate analysis shows that there are significant correlation between basic knowledge, motivation, having driving license card, and the completeness of the driving equipments with the rate of traffic accidents happened to motorcycle users. The numbers of p and OR in rows are p=0,029 and OR=3,568 ; P=0,008 dan OR=4,846 ; p=0,017 and OR=4,597 ; p=0,007 ad OR=4,675. It was concluded that there is a relationship between knowledge, motivation, SIM ownership an completeness of driving with traffic accident in biker resort region police work Payakumbuh 2015. It is recomended for the police to gather and work with the certain sides to help people getting more knowledge about traffic rules and support the motorcycle user to understand and obey the traffic rules on the road.

Skripsi 2017
Detail
Cover Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Keteraturan Kunjungan Antenatal Care Di Wilayah Kerja Puskesmas Sirukam Kecamatan Payung Sekaki Kabupaten Solok Tahun 2015
Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Keteraturan Kunjungan Antenatal Care Di Wilayah Kerja Puskesmas Sirukam Kecamatan Payung Sekaki Kabupaten Solok Tahun 2015

Rini Santy, Zuraida, Meri Susri Linda Putri · 2017 · Skripsi · Fakultas Ilmu Kesehatan, S1 Kesehatan Masyarakat

Pelayanan Antenatal Care (ANC) dilaksanakan sesuai dengan standar pelayanan antenatal yang ditetapkan dalam Standar Pelayanan Kebidanan (SPK). Secara nasional, indikator kinerja cakupan pelayanan kesehatan ibu hamil K4 pada tahun 2013 belum dapat mencapai target Rencana Strategis (Renstra) Kementerian Kesehatan yakni sebesar 93% sedangkan Sumatera Barat menduduki angka 82,92%. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan keteraturan kunjungan antenatal care (ANC) di wilayah kerja Puskesmas Sirukam. Desain penelitian yang digunakan adalah cross sectional study dengan sampel semua ibu yang tercatat dalam keadaan hamil di wilayah kerja Puskesmas Sirukam sampai bulan Juli. Data dikumpulkan dengan kuesioner pada bulan Agustus 2015. Analisa data dilakukan melalui analisis Univariat dan Bivariat yang pengolahan data dilakukan dengan komputerisasi yaitu uji chi-square. Berdasarkan analisis univariat didapatkan 21 orang (27,6%) memiliki motivasi negatif dalam melakukan kunjungan antenatal, sedangkan 36 orang (47,4%) merasa tidak puas dalam menerima pelayanan, selanjutnya 38 orang (50%) ibu hamil menyatakan peran bidan tidak baik dalam memberikn pelayanan antenatal. Hasil analisis bivariat menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara motivasi ibu hamil, kepuasan ibu hamil, dan peran bidan, dengan kunjungan Antenatal Care dengan nilai p dan OR berturut-turut p value 0,022; p value 0,039 dan OR = 2,9; p value 0,041 dan OR = 2,9. Disimpulkan bahwa ada hubungan antara motivasi ibu hamil, kepuasan ibu hamil, dan peran bidan dengan keteraturan kunjungan Antenatal Care (ANC) pada ibu hamil di wilayah kerja Puskesmas Sirukam Kabupaten Solok tahun 2015. Untuk itu diharapkan kepada pihak puskesmas agar dapat meningkatkan mutu pelayanan, terutama meningkatkan peran bidan dalam memberikan pelayanan antenatal, selain itu perlu melengkapi fasilitas tempat pemeriksaan serta memberikan edukasi kepada ibu hamil tentang pentingnya kunjungan antenatal. Abstract (EN): The Antenatal Care (ANC) services were treated as the antenatal service standard that is stated in the Midwifery Service Standard. Nationally, the performance indicators of the pregnant women’s fourth visit (K4) services in 2013 have not achieved the strategic plans’ target of the Ministry of Health that was 93 %, and West Sumatra was 82,92 %. The objective of the research is to know the factors that associated with the regularity Antenatal Care visits in the region of Puskesmas Sirukam. The research design was cross sectional study, and as the sample all the women recorded as pregnant women in Puskesmas Sirukam region until July. The data were collected by using questionnaires in August 2015. The data analysis with Univariat and Bivariat were processed by chi-square analysis. Based on the univariat analysis was found 21 (27,6%) respondent negative motivations, 36 (47,4%) dissatisfaction of the pregnant women, and 38 (50%) respondent talk midwives role wasn’t good. The result of Bivariat analysis showed that there was the significant correlation between the pregnant women motivations, the midwives treatments, the pregnant women satisfactions, and the Antenatal Care (ANC) visits with P and OR values were p value 0,022; pvalue 0.039, and OR = 2,9; p value 0,041 and OR = 2.9. In conclusion, there was the correlation between the pregnant women motivations, the midwives role wasn’t good, the pregnant women satisfactions, and the regularity of Antenatal Care (ANC) visits in the region of Puskesmas Sirukam Kabupaten Solok in 2015. Therefore , it is suggested for the local government clinic to increase the quality services. Especially to increase the role of midwives in antenatal services. In addition, the need to complete the spoot check and provide education to pregnant women about the importance of antental visits.

Skripsi 2017
Detail
Cover Hubungan Pengetahuan, Sikap, dan Perilaku Pemeliharaan Gigi dan  Mulut Pada Ibu Hamil Dengan Kejadian Gingivitis Di Puskesmas Lubuk Basung Kabupaten Agam Tahun 2015
Hubungan Pengetahuan, Sikap, dan Perilaku Pemeliharaan Gigi dan Mulut Pada Ibu Hamil Dengan Kejadian Gingivitis Di Puskesmas Lubuk Basung Kabupaten Agam Tahun 2015

Febriniwati Rifdi, Detty Afriyanti, Yulia Ramadonna Anda · 2017 · Skripsi · Fakultas Ilmu Kesehatan, S1 Kesehatan Masyarakat

Gingivitis atau peradangan pada gingiva menyebabkan perdarahan disertai pembengkakan, kemerahan, eksudat, perubahan kontur normal. Kehamilan dapat memperberat gingivitis yang biasa dikenal dengan pregnancy gingivitis (radang gusi selama kehamilan), yang merupakan respon inflamasi yang berlebih dari gingiva terhadap dental plak dan perubahan hormonal yang biasa terjadi selama masa kehamilan. Di Kabupaten Agam kunjungan ibu hamil ke poli KIA pada bulan Januari s/d Agustus 2015 adalah sebanyak 18632 ibu hamil, sementara yang diintegrasikan ke poli gigi hanya sebanyak 234 (1,25%) ibu hamil. Sedangkan di Puskesmas Lubuk Basung adalah sebanyak 2 orang (0,01%). Jenis penelitian ini adalah deskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional. Populasi penelitian adalah ibu hamil dengan pengambilan sampel seluruh ibu hamil trisemester 1 (total sampling) dengan jumlah 69 orang diwilayah kerja Puskesmas Lubuk Basung pada Bulan September s/d Oktober 2015. Data yang terkumpul kemudian diolah secara univariat dan bivariat. Hasil sebanyak 43,3% responden memiliki pengetahuan rendah, 56,5 responden memiliki sikap negatif dan 37,6 responden berperilaku negatif. Hasil analisa bivariat diketahui bahwa terdapat hubungan antara pengetahuan, sikap, dan perilaku dengan kejadian gingivitis pada ibu hamil di wilayah kerja Puskesmas Lubuk Basung Tahun 2015. Setelah dilakukan penelitian, maka diharapkan lebih meningkatkan penyuluhan serta melakukan itegrasi antara KIA dengan Poli Gigi sehingga gingivitis pada ibu hamil tidak bertambah parah. Abstract (EN): Abstract not available

Skripsi 2017
Detail
Cover Analisis Evaluasi Pelaksanaan Program KB di wilayah Kerja Puskesmas Mandiangin Kota Bukittinggi Tahun 2015
Analisis Evaluasi Pelaksanaan Program KB di wilayah Kerja Puskesmas Mandiangin Kota Bukittinggi Tahun 2015

Nurhayati, Oktavianis, Imelda Sari · 2017 · Skripsi · Fakultas Ilmu Kesehatan, S1 Kesehatan Masyarakat

Program KB diatur dalam UU nomor 10 tahun 1992 tentang perkembangan kependudukan dan pembangunan keluarga sejahtera. Keluarnya UU tersebut karena dirasakannya laju pertumbuhan penduduk yang semakin meningkat.Pencapaian pelaksanaan program KB berdasarkan kunjungan ke poli KB tahun 2014 yaitu 29,21 % sedangkan targetnya 100%.Penelitian ini bertjuan untuk menganalisis evaluasi pelaksanaan program KB di wilayah kerja Puskesmas Mandiangin kota Bukittingi tahun 2015. Desain penelitian ini adalah pendekatan kualitatif. Penelitian dilakukan pada bulan Oktober tahun 2015 di wilayah kerja Puskesmas Mandiangin kota Bukittinggi. Informan dipilih secara purposive sampling yang terdiri dari 1 orang pemegang program KB di Puskesmas, 2 orag kader program KB dan 3 oranpeserta KB. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam. Untuk menganalisis data dilakukan dengan pengumpulan data, reduksi data, penyajian data dan menarik kesimpulan. Hasil penelitian diketahui bahwa evaluasi pelaksanaan program KB belum terlaksana dengan baik. Hal itu di sebabkan oleh perilaku masyarakat yang tidak mau menggunakan alat kontrasepsi dan diantaranya banyak yang sibuk dengan kegiatan sehari-hari. Disimpulkan bahwa kendala yang ditemukan dalam evaluasi pelaksanaan program KB yaitu kurangnya partisipasi masyarakat yang mengikuti program KB. Oleh sebab itu diharapkan kepada masyarakat untuk mengikuti program KB dan petugas juga diharapkan untuk tidak menyerah dalam melakukan pelaksanaan program KB. Abstract (EN): The birth control programis regulated in Law number 10 Year1992 aboutthe development of population and family welfare. The issuance of this law is due tothe increasing in population.Theachievement of birth control programimplementation based on visits to the birth control polyclinic in 2014 was 29.21%, while the target is 100%. This study aims to analyze the evaluation of the birth control program implementation in Mandiangin Public Health Center Bukittinggi 2015. The design of this study is a qualitative approach. The study was conducted in October 2015 in MandianginPublic Health CenterBukittinggi. The Informants were selected by purposive sampling, namely 1 person in charge of birth control in that health center, 2 candidates of birth control program and 3 participants of birth control program. The data were collected through in-depth interview.The data were analyzed by performingdata collection, data reduction, data presentation and draw conclusion. The results of the evaluation showed that the implementation of birth control program has not done better. Sincethe public feel reluctant to use IntraUterine Devices (IUD) and they are engaged with their daily activities. It can beconcluded that the problemfound in the evaluation of birth control program implementation is the lack of public participation enrolled inbirth control program. Therefore, it is expected to the public to participate more in the birth control program and it is alsoexpected to the officers to give their strong efforts in implementing this program.

Skripsi 2017
Detail
Cover Hubungan Mutu Pelayanan Dengan Kepuasan Pasien Rawat Inap Di RSUD Kabupaten Kepulauan Mentawai Tahun 2015
Hubungan Mutu Pelayanan Dengan Kepuasan Pasien Rawat Inap Di RSUD Kabupaten Kepulauan Mentawai Tahun 2015

Adriani, Zainal Abidin, Depi Desmita · 2017 · Skripsi · Fakultas Ilmu Kesehatan, S1 Kesehatan Masyarakat

Kepuasaan masyarakat adalah suatu tanggapan emosional pada evaluasi terhadap pengalaman konsumsi produk atau jasa. RSUD Kabupaten Kepulauan Mentawai sebagai instansi pemerintah dalam pelayanan publik untuk kesehatan masyarakat perlu melakukan kajian terhadap dimensi mutu pelayanan, sehingga akan terlihat seberapa efektif pelayanan yang diberikan oleh RSUD Kabupaten Kepulauan Mentawai terhadap masyarakat. Hasilnya akan memperlihatkan dimensi dari persoalan pelayanan sehingga implementasinya menjadi agenda kedepan bagi RSUD Kabupaten Kepulauan Mentawai dalam melakukan perbaikan terhadap sistem pelayanan. Faktor-faktor yang diteliti adalah dimensi mutu pelayanan yaitu ketanggapan, keandalan, jaminan, empati dan bukti langsung. Desain penelitian yang digunakan adalah cross sectional study dengan populasi seluruh pasien rawat inap selama bulan September dengan Populasi seluruh pasien RSUD kepulauan Mentawai dan sampel seluruh pasien rawat inap RSUD kepulauan Mentawai. Analisis data dengan Univariat dan Bivariat yang pengolahan data dilakukan dengan komputerisasi yaitu uji chi-square. Hasil penelitian ini membuktikan bahwa keandalan tidak baik 23 orang (47,9%), ketanggapan tidak baik 25 orang (52,1%), jaminan kurang baik 26 orang (54,2%), empati tidak baik 25 orang (52,1 %) dan bukti langsung tidak baik 24 orang 50% serta pasien merasa tidak puas 30 orang 62,5%. Selanjutnya ada hubungan antara mutu pelayanan dengan kepuasan pasien dengan nilai p value = 0,007 dan nilai OR = 5,5 artinya pasien dengan mutu pelayanan baik berpeluang 5,5 kali untuk merasa puas dibandingkan dengan pasien yang dengan mutu pelayanan tidak baik. Faktor yang berhubungan dengan kepuasaan pasien yaitunya keandalan, ketanggapan, jaminan, empati, dan bukti langsung. Dengan adanya penelitian ini disarankan Bagi petugas kesehatan di RSUD Kabupaten Mentawai agar lebih meningkatkan lagi mutu pelayanan kesehatan demi mewujudkan masyarakat sehat dan kepuasaan batin dari masyarakat yang mengunakan dan memanfaatkan RSUD tersebut sebagai sarana utama dalam pengobatan. Abstract (EN): Satisfaction of society in a emotional response in evaluting experince of product or service consumstion. RSUD Mentawai Island Regensy as government agent in public service for public health need to do a research to quality service dimension, thus it will present how is effectiveness of service that have been given by RSUD Mentawai Island Regency to the society. The result will present dimension from service problem then it implementation will be a resource in future fro RSUD Mentawai Island Regency in improving the service system. The factors will be studied was quality service dimension they were reactivity, reliability, guarantee, empathy and direct evidence. Desaign of this research was cross sectional study with population was all of the patient during september with the population was all of the patients in RSUD Mentawai Island Regency and sample was all of the patient in RSUD Mentawai Island Regency. The data analysis by using Univariat and Bivariat which the analysing of the data with computerisation that was chi-square test. The result of this reserach prove that reliability was not good 23 peoples (47.9%), reactivity was not good 25 peoples (52.1%), guarantee was avarage good 26 peoples (54.2%), empathy was not good 25 peoples (52.1%) and direct evidence was not good 24 peoples (50%) and unsatisfaction patient were 30 people 62.5%. next, there was correlation between quality service with patient satisfaction with the value p= 0,0007 and value OR=5.5 Relating factor with patient satisfaction they were reliability, reactivity, guarantee, empathy and direct evidence. With there was this reserach, it suggested to health personal in RSUD Mentawai Island Regency should more improve the quality of health service in order to realize healthy public and satisfaction of society that use and joy RSUD Mentawai Island Regency as a major media in medicine

Skripsi 2017
Detail
Cover Faktor- faktor Yang Berhubungan Dengan Gejala Rematik Pada Lansia di Nagari Tanjung Beringin Kecamatan Lubuk Sikaping Tahun 2015
Faktor- faktor Yang Berhubungan Dengan Gejala Rematik Pada Lansia di Nagari Tanjung Beringin Kecamatan Lubuk Sikaping Tahun 2015

Febriniwati Rifdi, Debie Tri Ananda. D, Maisyarah · 2017 · Skripsi · Fakultas Ilmu Kesehatan, S1 Kesehatan Masyarakat

Rematik adalah penyakit yang menyerang anggota tubuh yang bergerak, yaitu bagian tubuh yang berhubungan antara yang satu dengan yang lain dengan perantaraan persendian, sehingga menimbulkan rasa nyeri. Angka kejadian rematik di Indonesia 23,6% hingga 31,3%. Di Puskesmas Lubuk Sikaping angka kejadian rematik pada bulan Agustus tahun 2015 sebesar 9,6%. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor- faktor yang berhubungan dengan gejala rematik pada lansia di Nagari Tanjung Beringin Kecamatan Lubuk Sikaping Tahun 2015. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif analitik dengan rancangan cross sectional dan telah dilaksanakan pada bulan Oktober. Populasi dalam penelitian ini adalah lansia yang ada di Nagari Tanjung Beringin Kecamatan Lubuk Sikaping sebanyak 673 orang. Jumlah sampel adalah sebanyak 249 orang. Pengambilan sampel menggunakan simpel random sampling. Analisa data menggunakan univariat dan bivariat dengan uji Chi Square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 249 responden terdapat 42,2% menderita rematik, pengetahuan rendah 48,2%, pola makan tidak baik 45,8% dan aktivitas fisik berat 49,4%. Ada hubungan signifikan antara pengetahuan lansia p value 0,000 dan OR 0,197, pola makan lansia p value 0,014 dan OR 1,971 dengan gejala rematik. Kesimpulan dari penelitian ini yaitu ada hubungan yang bermakna antara pengetahuan, pola makan lansia dengan gejala rematik. Disarankan kepada tenaga kesehatan agar dapat memberikan penyuluhan, informasi, bimbingan, dan dukungan yang lebih baik ke semua masyarakat tentang rematik. Abstract (EN): Arthritis is a disease that attacks the limbs moving, the relationship between the body parts with each other through the joints, causing pain. The incidence rate of arthritis in Indonesia is 23.6% to 31.3%. In Puskesmas Lubuk Sikaping the incidence rate of arthritis in August 2015 is 9.6%. The goals of the research is to know factors related to the symptoms of arthritis in the elderly in Tanjung Beringin village districts of Lubuk Sikaping 2015. This research is descriptive analytical with cross sectional design and was conducted in October. The population was all of elderly that life in Tanjung Beringin Village Districts of Lubuk Sikaping as much as 673 peoples.. The samples against 249 respondents with simple random sampling. The analysis is used univariate and bivariate with chi square test. The results showed from 249 respondents, there were 42,2% respondents suffering of arthritis, low knowledge is 48,2%, not good dietary habit 45,8% and strenuous physical activity is 49,4%. There is significant related between knowledge of elderly with pvalue 0,000 and OR 0,197, dietary habit with pvalue 0,014 and OR 1,971 with the symptoms of arthritis. The results of study concluded that there is a significant related between knowledge, dietary habit elderly with the symptoms of arthritis. Recommended to health personnel to in order to provide counseling, information, guidance, and better support to all communities about arthritis.

Skripsi 2017
Detail
Cover Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Obesitas Pada Anak Sekolah Dasar Di Wilayah Kerja Puskesmas Tanjung Paku Kota Solok Tahun 2015
Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Obesitas Pada Anak Sekolah Dasar Di Wilayah Kerja Puskesmas Tanjung Paku Kota Solok Tahun 2015

Silvia, Welly Femelia, Septiana Maya Dewi · 2017 · Skripsi · Fakultas Ilmu Kesehatan, S1 Kesehatan Masyarakat

Obesitas merupakan suatu kelainan atau penyakit yang ditandai dengan penimbunan jaringan lemak tubuh secara berlebihan. Salah satu kelompok umur yang beresiko adalah anak usia sekolah. Obesitas anak akan menjadi masalah kesehatan yang serius,seperti gangguan psikososial, gangguan pertumbuhan fisik, gangguan pernafasan, dan lain-lain. Prevalensi obesitas pada anak sekolah dasar di Kota Solok sebanyak 13,2%. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktorfaktor yang berhubungan dengan kejadian obesitas pada anak sekolah di wilayah kerja Puskesmas Tanjung Paku Kota Solok. Jenis penelitian bersifat survei analitik menggunakan desain cross sectionaldengan variabel dependen kejadian obesitas dan variabel independen pengetahuan, pola makan dan aktivitas fisik. Jumlah sampel sebanyak 210 orang. Teknik pengambilan sampel dengan menggunakan teknik acak stratifikasi. Analisis data yang dilakukan adalah univariat dan bivariat menggunakan chi square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 33,8% responden mengalami obesitas. Hasil uji statistik menunjukkan bahwa adanya hubungan yang signifikan antara pengetahuan dengan kejadian obesitas (pv = 0,002 ; OR = 2,650), pola makan (pv = 0,001 ; OR = 2,821), dan aktivitas fisik (pv = 0,017 ; OR = 2,149 ). Dapat disimpulkan bahwa ada hubungan signifikan antara pengetahuan, pola makan dan aktivitas fisik dengan kejadian obesitas. Untuk itu disarankan kepada tenaga kesehatan mengadakan kembali monitoring status gizi anak sekolah terutama siswa sekolah dasar untuk memantau pertumbuhan dan perkembangan status gizi. Abstract (EN): Obesity is a disorder or a disease characterized by the accumulation of excess body fat tissue. One age group at risk are children of school age. Obese children will become a serious health problem, such as psychosocial disorders, impaired physical growth, respiratory disorders, and others. The prevalence of obesity in primary school children in the city of Solok as much as 13,2%. This study aims to determine factors that associated with the incidence of obesity in school children at Tanjung Paku Health Centers Working Ares, Solok City. This type of research is an analytical survey using cross are sectional design with the dependent variable obesity and the independent variables knowledge, diet and physical activity. The total sample of 210 persons. The sampling technique using stratified random sampling. Data analysis was performed univariate and bivariate using chi square. The results showed that as many as 33,8% of respondents are obese. Statistical analysis showed that there is significant correlation between knowledge with the incidence of obesity (pv = 0,002 ; OR = 2,650). There is a significant relationship between diet and obesity (pv = 0,001 ; OR = 2,821). There is a significant relationship between physical activity with obesity (pv = 0,017 ; OR = 2,149). It can be concluded that there is a significant relationship between knowledge, diet and physical activity with obesity. It is recommended to hold back medical personnel monitoring the nutritional status of school children, especially primary school students to monitor the growth and development of nutritional status.

Skripsi 2017
Detail
Cover Analisis Pengelolaan Limbah Cair Industri Rumah Tangga di Wilayah Kerja Kantor Lingkungan Hidup (KLH) Kota Solok Tahun 2015
Analisis Pengelolaan Limbah Cair Industri Rumah Tangga di Wilayah Kerja Kantor Lingkungan Hidup (KLH) Kota Solok Tahun 2015

Evi Hasnita, Rudjito, Voni Gita Wanodia · 2017 · Skripsi · Fakultas Ilmu Kesehatan, S1 Kesehatan Masyarakat

Mengenai limbah B3 diatur dalam PP RI No. 101 tahun 2014. Salah satu limbah B3 berasal dari limbah cair industri. Jika limbah industri tidak dilakukan pengolahan dengan baik maka akan dapat berdampak buruk terhadap lingkungan. Cakupan kepemilikan IPAL di industri rumah tangga baru 25% sedangkan target pencapaian tahun 2015 adalah 100%. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengelolaan limbah cair industri rumah tangga di wilayah kerja Kantor Lingkungan Hidup (KLH) kota Solok. Desain penelitian ini adalah pendekatan kualitatif. Penelitian dilakukan bulan September 2015 di wilayah kerja KLH kota Solok. Informan dipilih secara purposive sampling yang terdiri dari Kepala KLH, Kasi pengawasan dan pengendalian lingkungan, kasi AMDAL KLH, Sanitarian Puskesmas Nan Balimo, Pengelola industri tahu, Tokoh masyarakat dan masyarakat.Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam dan diskusi kelompok terarah (DKT). Untuk menganalisis data dilakukan dengan pengumpulan data, reduksi data, penyajian data dan menarik kesimpulan. Hasil penelitian diketahui bahwa IPAL yang digunakan oleh industri tidak berfungsi dengan baik Sehingga banyak IPAL yang masih tersumbat. Akhirnya limbah yang tanpa pengolahan langsung di buang ke lingkungan (sungai). Disimpulkan bahwa pengelola industri tidak peduli ketika IPAL tersumbat. Hal tersebut juga dipengaruhi karena lemahnya peraturan tentang pengolahan limbah industri. Diharapkan kepada petugas yang bertanggung jawab untuk lebih menetapkan peraturan dengan tegas. Abstract (EN): Regarding B3 waste stipulated in Government Regulation No. 101 in 2014. One of the B3 waste originating from industrial wastewater. If the industrial waste processing is not done properly then it will be an adverse impact on the environment. Coverage ownership of industrial wastewater in only 25% of households, while the target achievement in 2015 was 100%. This study aims to analyze the management of domestic wastewater in the working area Environment OfficeSolok town. The design of this study is a qualitative approach. The study was conducted in September 2015 in the region of the town of Solok Environment Office. Informants selected by purposive sampling consisting of the Head of the Ministry of Environment, Head of supervision and control of the environment, analisys about the effect of environment, Sanitarian Public Health Center Nan Balimo, business tofu industry, community leaders and the public. Data collected through in-depth interviews and focus group discussions (FGD). To analyze the data carried by the data collection, data reduction, data presentation and draw conclusions. The survey results revealed that the wasre water treatment plant (WWTP) is used by the industry are not functioning properly So many WWTP are still clogged. Finally waste without processing directly in the exhaust into the environment (rivers). It was concluded that industrial managers do not care when the WWTP is clogged. It is also affected because of weak regulations on industrial waste processing. Expected to officers who are responsible for more firmly establish rules.

Skripsi 2017
Detail
Cover Analisis Perbedaan Kadar Fe Air Sebelum Dan Sesudah Disaring Arang Tempurung Kelapa Di Kelurahan Koto Selayan Wilayah Kerja Puskesmas Nilam Sari Kota Bukittinggi Tahun 2015
Analisis Perbedaan Kadar Fe Air Sebelum Dan Sesudah Disaring Arang Tempurung Kelapa Di Kelurahan Koto Selayan Wilayah Kerja Puskesmas Nilam Sari Kota Bukittinggi Tahun 2015

Rini Santy, Efriza, Inggra Wahyuni · 2017 · Skripsi · Fakultas Ilmu Kesehatan, S1 Kesehatan Masyarakat

Fe dan Mn merupakan logam berat esensial, di mana keberadaannya dalam kadar tertentu sangat dibutuhkan oleh tubuh manusia, namun dalam kadar yang berlebihan dapat menimbulkan efek racun. Dalam air minum, kadar besi yang diperbolehkan yakni masing- masing 0,2 mg/L dan 0,4 mg/L sedangkan untuk kadar maksimum yang diperbolehkan kandungan zat besi (Fe) untuk air bersih adalah 0,3 Mg/l (PerMenKes RI, 2010). Penelitian ini Untuk Analisis Perbedaan Kadar Fe Air Sebelum Dan Sesudah Disaring Arang Tempurung Kelapa Di Wilayah Kerja Puskesmas Nilam Sari Kota Bukittinggi Tahun 2015. Telah dilakukan penelitian Analisis Perbedaan Kadar Fe Air Sebelum Dan Sesudah Disaring Arang Tempurung Kelapa Di Kenagarian Koto Selayan Wilayah Kerja Puskesmas Nilam Sari Kota Bukittinggi Tahun 2015. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Oktober tahun 2015 dengan penelitian Quasi eksperimental design dan populasi penelitian ini 70 buah sumur gali. Sampel menggunakan metode teknik purposive sampling. Jumlah sampel dalam penelitian ini adalah 8 sumur gali. Analisa dalam penelitian ini menggunakan analisa univariat dan bivariat dengan uji statistik dependen sampel t-test dependent dengan derajat kepercayaan 95%(α= 0.05). Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 8 sumur gali, Ada perbedaan kadar zat besi (Fe) yang signifikan sebelum dilakukan perendaman dengan arang tempurung kelapa, dibandingkan dengan rendaman 12 jam dengan P value 0.011 . Ada perbedaan kadar zat besi (Fe) yang signifikan sebelum dilakukan perendaman dengan arang tempurung kelapa, dibandingkan dengan rendaman 24 jam dengan P value 0.011.Ada perbedaan kadar zat besi (Fe) yang signifikan setelah direndam 12 jam, dengan rendaman 24 jam menggunakan arang tempurung kelapa dengan P value = 0.00 Kesimpulan dari penelitian ini yaitu arang batok kelapa efektif dalam penurunan kadar Fe pada perendaman 12 jam dan 24 jam pada air sumur di Wilayah Kerja Puskesmas Nilam Sari Kota Bukittinggi tahun 2015. Disarankan kepada Puskesmas dan Dinas Kesehatan Agar dilakukan pemeriksaan parameter kimia pada sumur gali masyarakat secara berkala. Abstract (EN): Fe and Mn are essential heavy metal, where its presence in some measure is needed by the human body, but excessive levels may cause toxic effects. In drinking water, the iron content is allowed that each 0.2 mg/l and 0.4 mg/l, while for the maximum allowable concentration in iron (Fe) for water is 0.3 Mg/l (Permenkes RI 2010). This study For Difference Analysis Fe Content Filtered Water Before And After Coconut Shell Charcoal In Public Healt Center Nilam Sari Bukittinggi 2015 . Difference Analysis research has been done Fe Content Filtered Water Before And After Coconut Shell Charcoal On Koto Selayan Public Healt Center Nilam Sari Bukittinggi year 2015. The research was conducted in October 2015 with Quasi- experimental research design and study population is 70 wells dug. Samples using purposive sampling method. The number of samples in this study were 8 wells. The analysis in this study using univariate and bivariate statistical test dependent dependent sample t-test with a 95% confidence level ( α = 0.05) The results showed that out of 8 wells, There are differences in the levels of iron (Fe) significantly prior to immersion in coconut shell charcoal, compared with a 12 -hour immersion with P value of 0.011. There are differences in the levels of iron (Fe) significantly prior to immersion in coconut shell charcoal, compared with a 24 -hour immersion with P value 0.011. Differences in levels of iron (Fe) significantly after being soaked 12 hours, with 24 hours using a marinade charcoal coconut with a P value of 0:00. The conclusion from this research that coconut shell charcoal is effective in decreased levels of Fe at a 24 -hour immersion in water wells in Public Healt Center Nilam Sari Bukittinggi in 2015. It is recommended to the Health Center and the Department of Health in order to inform the public about the decreased levels of fe in water by immersion for 24 hours with coconut shell charcoal.

Skripsi 2017
Detail