Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kepesertaan KB Pria Di Kota Bukittinggi Tahun 2015
- Penulis
- Yeni Astuti
- Pembimbing
- Evi Hasnita; Maisyarah
- Jenis repository
- Skripsi
- Tahun
- 2017
- Fakultas
- Fakultas Ilmu Kesehatan
- Program studi
- S1 Kesehatan Masyarakat
- Metode penelitian
- —
- Jenis metode
- —
- Variabel
- —
- Sumber dana
- —
- Lokasi/wilayah penelitian
- —
- Dipublikasikan
- 11 April 2017
Abstrak
Keluarga Berencana adalah program yang bertujuan membantu pasangan suami isteri untuk mengatur, mengontrol interval diantara kehamilan dan kelahiran dalam keluarga. Laporan PPKB Kota Bukittinggi pencapaian akseptor KB pria sebanyak 4.090 akseptor tahun 2013 pencapaian akseptor KB pria sebanyak 748 akseptor (12,76%).Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kepesertaan KB pria Di Kota Bukittinggi Tahun 2015. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional dan dilaksanakan pada tanggal 11 sampai dengan 23 Mei 2015. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pria PUS yang berada di kota Bukitinggi dengan jumlah sampel 100 orang dan dipilih menggunakan teknik Simple Random Sampling. Pengolahan data dilakukan menggunakan analisis univariat dan bivariat (Uji Chi-Square). Hasil analisis univariat didapatkan 67% memiliki pengetahuan tinggi, 56% memiliki sikap yang positif, 51% mempunyai dukungan keluarga yang kurang, 51% dukungan informasi yang tidak cukup, 58% peran tenaga kesehatan yang kurang dan 56% tidak ikut serta dalam pemakaian kontrasepsi KB. Hasil analisis bivariat menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan, sikap, dan dukungan keluarga dengan kepesertaan KB Pria dengan nilai p dan OR berturut-turut (p=0,031; OR=2,91, p=0,017; OR=2,95, p= 0,000; OR= 11,66) sedangkan dukungan informasi, peran petugas kesehatan tidak terdapat hubungan signifikan dengan kepesertaan KB pria (p=1 ; OR=0,782 dan p=0,41 ; OR=1,52). Keikutsertaan pria dalam program KB, diperlukan sosialisasi petugas kesehatan dan kader untuk melaksanakan penyuluhan kepada suami begitu juga isteri agar isteri berperan aktif dan memberikan dukungan serta pemahaman kepada suami. Pihak BKKBN, PPKB Kota Bukittinggi diperlukan untuk menunjang keaktifan dan kelancaran peran PLKB Kecamatan dan kader KB. Abstract (EN): Family planning is a program aimed at helping couples to set, control the interval between pregnancies and birth in the family. The reports office of the empowerment of women and family planning Bukittinggi City has highest achievement of male family planning acceptors in Bukittinggi city as 748 male acceptors (12,76%) in 2012. The purpose of this study was aimed to know factors influenced the behavior of male family planning acceptors. This research uses a cross sectional design and accured on 11 and ended on 23 May 2015. The population in this research is the whole male accesptor who was in Bukitinggi city total sample of 100 people and selected using Simple Random Sampling technique. The data processing is done using univariate analysis and bivariat (Chi-Square Test). Results obtained from 67% have a high knowledge, 56% have a positive attitude, 51% have less family support, 51% support information is not enough, 58% less health workers role and 56% did not participate in the use of contraception KB. Statistic results indicate that there is a significant relationship between knowledge, attitude, and support families with behavior male family planning with p-value eand OR respectively (p = 0,031; OR = 2.91, p = 0,017; OR = 2.95, p = 0.000; OR = 11,66) but information support, the role of health workers there was no significant relationship with behavior male family planning (p = 1; OR = 0,782 and p = 0,41; OR = 1.52). The participation of men willing to become family planning acceptors required the attention of the government through the socialization of health care workers and cadres through counseling. The wife also needs to be targeted outreach to wives play an active role and provide support to the husband. BKKBN, PPKB Bukittinggi needed to support the activity and the role of the smooth field officers and district cadres of male family planning acceptors.