Logo Repository App UFDK Repository UFDK Universitas Fort De Kock

Daftar Repository

8825 dokumen ditemukan

Reset
Cover Hubungan Mutu Pelayanan Terhadap Kepuasan Pasien BPJS Di Ruangan Poliklinik Bedah RSUD Dr. Achmad Mochtar Bukittinggi Tahun 2015
Hubungan Mutu Pelayanan Terhadap Kepuasan Pasien BPJS Di Ruangan Poliklinik Bedah RSUD Dr. Achmad Mochtar Bukittinggi Tahun 2015

Rini Santy, Nurdin, Nofrianto · 2017 · Skripsi · Fakultas Ilmu Kesehatan, S1 Kesehatan Masyarakat

Mutu pelayanan kesehatan adalah derajat dipenuhinya kebutuhan masyarakat atau perorangan terhadap asuhan kesehatan yang sesuai dengan standar profesi yang baik serta kepuasan adalah perasaan senang seseorang yang berasal dari perbandingan antara kesenangan dan harapannya. Mutu Pelayanan di Ruangan Poliklinik Bedah ditinjau dari 5 dimensi mutu yaitu : Keandalan, ketanggapan, jaminan, empati dan bukti langsung. Pencapaiannya dapat diukur dengan tingkat kepuasan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Hubungan Mutu Pelayanan Terhadap Kepuasan Pasien BPJS di Ruangan Poliklinik Bedah RSUD Dr. Achmad Mochtar Bukittinggi. Jenis penelitian adalah survey analitik dengan pendekatan cross sectional. Jumlah sampel sebanyak 99 Responden pengambilannya dengan teknik accidental sampling. Data Penelitian dikumpulkan dengan menggunakan kuesioner. Hasil penelitian disajikan dalam bentuk distribusi frekuensi dan uji statistik Chi-Square Test dengan tingkat kepercayaan 95 %. Hasil uji univariat ketanggapan pelayanan baik sebanyak 52,2%, keandalan baik 58,6 %, jaminan baik 84,8 %, empati baik 82,8%, bukti langsung baik 74,7% dan pasien puas 60,6 %. Hasil uji bivariat dengan menggunakan Chi-Square, ada hubungan yang bermakna antara ketanggapan pelayanan dengan kepuasan pasien (p= 0,000) dengan OR yaitu 8,432, ada hubungan bermakna antara keandalan dengan kepuasan pasien (p= 0,000) dengan OR yaitu 7,393, tidak ada hubungan yang bermakna antara jaminan dengan kepuasan pasien (p= 0,361) dengan OR yaitu 1,954, tidak ada hubungan bermakna antara empati dengan kepuasan pasien (p= 0,126) dengan OR yaitu 2,611, ada hubungan yang bermakna antara bukti langsung dengan kepuasan pasien (p= 0,000) dengan OR yaitu 6,490. Implikasi hasil penelitian menunjukkan mutu pelayanan terhadap kepuasan pasien BPJS di ruangan Poliklinik Bedah RSUD Dr. Achmad Mochtar Bukittinggi memiliki peranan penting dalam kepuasan pasien. Direkomendasikan bagi pihak rumah sakit untuk meningkatkan mutu pelayanan terhadap kepuasan pasien BPJS. Abstract (EN): The health Quality is as degree to fulfill of necessary of society or individual to care of health suitable with good profession standard the satisfaction is cheerful of someone that derive from a comparison between the pleasure and hopeless. Quality of services in surgical polyclinic space was termed of 5 dimensions of quality that: reliability, responsiveness, assurance, empathy and tangible. Achievement can be measured by level of satisfaction. This research aims to indicate the relationship service quality (satisfaction) to BPJS patient in surgical polyclinic space at regional general hospital Dr. Achmad Mochtar Bukittinggi. The type of this research is analytic survey with cross sectional approach. The totality of sample of 99 respondents uptake by accidental sampling technique. Data was collected using questioners. The results of this research are presented in form of frequency distribution and statistical tests chi-square test with a value confidence 95%. The according result test of unvaried good service responsible 52,2%, reliability 58,6%, assurance 84,8%, empathy 82,8%, tangible 74,7% and satisfaction patient 60,6%. The result test of Bivariate use chi-square technique. The meaning of Relationship between responsibility service and satisfaction patient (p= 0,000) with OR that is 8,432, there is a significant correlation between the reliability with patient satisfaction (p= 0,000) with OR that is 7,393, there is no a significant correlation between assurance and satisfaction patient (p= 0,361) with OR that is 1,954, there is no a significant correlation between the empathy patient and satisfaction (p= 0,126) with OR that is 2,611, there is a significant correlation between the tangible and satisfaction patient (p= 0,000) with OR that is 6,490. Implications the quality of this research show the quality service (satisfaction) BPJS patient in surgical polyclinic space of regional general hospital Dr. Achmad Mochtar Bukittinggi have an important role in patient satisfaction. It was recommended by part of hospital to improve the service quality of to BPJS patient.

Skripsi 2017
Detail
Cover Faktor-Faktor yang Berhubungan Dengan Kinerja Petugas Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) di Wilayah Kerja Dinas Kesehatan Kota Bukittinggi Tahun 2015
Faktor-Faktor yang Berhubungan Dengan Kinerja Petugas Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) di Wilayah Kerja Dinas Kesehatan Kota Bukittinggi Tahun 2015

Evi Hasnita, Zuraida, Nurul Hastuti · 2017 · Skripsi · Fakultas Ilmu Kesehatan, S1 Kesehatan Masyarakat

Cakupan program KIA di puskesmas di Kota Bukittinggi masih belum memenuhi target, seperti: cakupan pemeriksaan kehamilan yang pertama (K1) sebesar 99% (target 100%), cakupan persalinan oleh tenaga kesehatan sebesar 75,4 % (target 95%), cakupan penanganan komplikasi kebidanan sebesar 75,4 % (target 80%) dan cakupan pelayanan nifas sebesar 91,1 % (target 95%). Survey awal terhadap 10 tenaga kesehatan kota Bukittinggi, 7 orang tidak melakukan kunjungan rumah bagi ibu yang baru siap melahirkan, 3 orang tidak termotivasi karena tidak ada manfaat yang dapat mereka ambil dari kegiatan tersebut, dan 2 orang tidak pernah mengikuti pelatihan tentang kewajiiban bidan terhadap ibu nifas. Tujuan penelitian untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kinerja petugas Puskesmas Kesehatan Ibu dan Anak. Jenis penelitian deskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional. Populasi adalah seluruh tenaga kesehatan yang bergerak di Bidang KIA di wilayah kerja Dinas Kesehatan Bukittinggi, berjumlah 47 orang dengan pengambilan sampel secara total sampling. Data dikumpulkan melalui pengisian kuesioner, kemudian diolah dan dianalisa secara univariat dan bivariat. Hasil analisa univariat diketahui 55,1 % memiliki kinerja baik, 53,1 % sikap positif,53,1 % motivasi tinggi dan 57,1 % tidak ada mengikuti pelatihan tentang kesehatan ibu dan anak. Hasil analisa bivariat diketahui faktor yang berhubungan dengan kinerja petugas yaitu sikap (p = 0,000 dan OR = 19,800), motivasi (p = 0,003 dan OR = 7,619) dan pelatihan (p = 0,004 dan OR = 7,650). Disimpulkan bahwa faktor yang berhubungan dengan kinerja petugas kesehatan ibu dan anak adalah sikap, motivasi dan pelatihan. Oleh sebab itu, diharapkan pada Dinas Kesehatan agar dapat memberikan kesempatan yang sama pada petugas Kesehatan Ibu dan Anak untuk mengikuti pelatihan sesuai dengan tugas dan tanggung jawabnya. Abstract (EN): Coverage of MCH programs in health centers in the city of Bukittinggi is still not meet the target, such as: antenatal care coverage the first of 99% (target 100%), deliveries by skilled health personnel by 75.4% (target 95%), treatment coverage obstetric complications amounted to 75.4% (target 80%) and postpartum care coverage amounted to 91.1% (target 95%). Initial survey of the 10 health workers Bukittinggi, 7 people do not do home visits for new mothers ready to give birth, 3 people are not motivated because there are no benefits that they can take from these activities, and 2 never attended training on midwife to the mother parturition. The aim of research to determine the factors associated with health worker performance Maternal and Child Health. Analytic descriptive research with cross sectional approach. The population health workers operating in the fields of MCH in the region of Bukittinggi City Health Department, totaling 47 people with sampling total sampling. Data were collected through questionnaires, then processed and analyzed by univariate and bivariate. Results of univariate analysis are known to have good performance 55.1%, 53.1% positive attitude, 53.1% and 57.1% higher motivation no training on maternal and child health. Bivariate analysis results are known factors related to the performance of the officer that attitude (p = 0.000 and OR = 19,800), motivation (p = 0.003 and OR = 7.619) and training (p = 0.004 and OR = 7.650). It was concluded that the performance factors related to maternal and child health workers are attitudes, motivation and training. Therefore, it is expected at the Department of Health in order to provide an equal opportunity for Maternal and Child Health officers for training in accordance with duties and responsibilities.

Skripsi 2017
Detail
Cover Faktor-Faktor Yang Yang Berhubungan Dengan Kejadian Gigitan Hewan Penular Rabies Di Wilayah Kerja Puskesmas Sungai Dareh Kabupaten Dharmasraya Tahun 2015
Faktor-Faktor Yang Yang Berhubungan Dengan Kejadian Gigitan Hewan Penular Rabies Di Wilayah Kerja Puskesmas Sungai Dareh Kabupaten Dharmasraya Tahun 2015

Rini Santy, Yelmi Reni Putri, Prima Novriyeni · 2017 · Skripsi · Fakultas Ilmu Kesehatan, S1 Kesehatan Masyarakat

enyebabkan kematian. Di wilayah kerja Puskesmas Sungai Dareh sampai dengan bulan Juli 2015 terdapat 57 kasus gigitan HPR seperti anjing, kucing, dan kera. Survei awal terhadap 10 orang keluarga, 30 % diantara mereka memiliki anggota keluarga yang pernah mengalami gigitan hewan penular rabies. Di lingkungan tempat tinggal mereka banyak anjing dan kucing liar yang berkeliaran, hanya 40% yang mengetahui tentang tanda dan ciri hewan yang sudah terjangkit rabies, tetapi mereka tidak melakukan tindakan pencegahan dengan segera melaporkannya ke kepala desa atau dinas peternakan. Tujuan penelitian untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian gigitan hewan penular rabies. Jenis penelitian deskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional. Penelitian dilaksanakan di wilayah kerja Puskesmas Sungai Dareh pada bulan September 2015. Populasi sebanyak 6.039 keluarga, dan yang menjadi sampel 98 keluarga diambil secara quota sampling. Data dikumpulkan melalui wawancara terpimpin dengan panduan kuesioner, kemudian diolah dan dianalisa secara komputerisasi. Hasil analisis univariat diketahui 32,7 % terjadi gigitan HPR pada anggota keluarganya, 42,9 % lingkungan tempat tinggal beresiko, 26,5 % perilaku kurang baik dan 23,5 % pengetahuan kurang baik tentang vaksinasi rabies. Hasil analisa bivariat diketahui faktor yang berhubungan dengan kejadian gigitan hewan penular rabies adalah lingkungan (p = 0,012 dan OR = 3,333), perilaku (p = 0,001 dan OR = 5,600), dan vaksinasi rabies (p = 0,011 dan OR = 3,832). Disimpulkan bahwa faktor yang berhubungan kejadian gigitan hewan penular rabies adalah lingkungan, perilaku dan vaksinasi rabies. Oleh sebab itu, diharapkan pada pihak Puskesmas agar mengadakan penyuluhan tentang hewan penular rabies dan tindakan pencegahan gigitan hewan penular rabies. Abstract (EN): Rabies is a contagious disease of animals sourced and can cause death. In Sungai Dareh Health Center until the month of July 2015 there were 57 cases of bites animal rabies such as dogs, cats, and monkeys. Initial survey of 10 family members, 30% of them have family members who have had animal bite rabies. In the neighborhood where they live many dogs and stray cats hanging around, only 4 of them (40%) were aware of the signs and characteristics of animals that have been infected with rabies, but they do not take precautions with to soon report to the head of the village or animal husbandry department. The aim of research to determine the factors associated with the incidence of animal rabies bites. Analytic descriptive research with cross sectional approach. The experiment was conducted in Sungai Dareh Health Center in September 2015. The population of as many as 6039 families, and the family of 98 samples taken by quota sampling. Data were collected through interviews guided by the guide questionnaire, then processed and analyzed by computerized. Results of univariate analysis are known, 32.7% occurred in the HPR bite family members, 42.9% living environment at risk, 26.5% less good behavior and 23.5% poor knowledge about the rabies vaccination. Bivariate analysis results are known factors related to the incidence of animal bite is rabies environment (p = 0.012 and OR = 3,333), behavior (p = 0.001 and OR = 5.600), and rabies vaccination (p = 0.011 and OR = 3.832). It was concluded that factors related to the incidence of animal bite is rabies environment, behavior and rabies vaccination. Therefore, it is expected at the health center in order to conduct outreach about animal rabies and animal bites precaution rabies.

Skripsi 2017
Detail
Cover Pengaruh Terapi Bermain Terhadap Perkembangan Bahasa Dan Bicara Anak Prasekolah di TK Assalaam Tablighiyah Garegeh Bukittinggi Tahun 2014
Pengaruh Terapi Bermain Terhadap Perkembangan Bahasa Dan Bicara Anak Prasekolah di TK Assalaam Tablighiyah Garegeh Bukittinggi Tahun 2014

Cici Apriza Yanti, Feni Ardianti, Emira Apriyeni · 2017 · Skripsi · Fakultas Ilmu Kesehatan, S1 Kesehatan Masyarakat

Kemampuan bahasa dan bicara merupakan salah satu indikator perkembangan anak. Perkembangan bahasa dan bicara berhubungan dengan proses berpikir untuk mengkomunikasikannya. cara meningkatkan perkembangan anak prasekolah yang baik adalah dengan metode pengajaran yang aktif dan partisipatif seperti permainan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Pengaruh Terapi Bermain Terhadap Perkembangan Bahasa Dan Bicara Anak Prasekolah Di TK Assalaam Tablighiyah Bukittinggi Tahun 2014. Penelitian dilakukan dengan cara observasi di TK Assalaam Tablighiyah Jalan Dt Mangkuto Ameh Geregeh Bukittinggi pada tanggal 2-9 Februari 2015. Desain Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian eksperimen dengan menggunakan Pretest – Postest control group design. Pengambilan sampel dilakukan dengan secara purposive sampling dengan sample 12 orang. Analis data dilakukan meliputi analisa univariat dan bivariat menggunakan t-test secara komputerisasi. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata perkembangan bahasa dan bicara anak prasekolah sebelum diberikan terapi bermain yaitu 7,58 (meragukan) dan sesudah diberikan terapi bermain yaitu 9,04 (normal). Hasil pengujian hipotesis dengan teknik nonparametrik Wilcoxon Signed Ranks Test didapatkan perbedaan rata-rata perkembangan bahasa dan bicara anak prasekolah dengan terapi bermain dengan nilai p=0,002 (<0,005). Pada penelitian ini dapat disimpulkan bahwa terapi bermain berpengaruh terhadap perkembangan bahasa dan bicara. Diharapkan kepada staf guru yang mengajar di sekolah memasukkan terapi bermain dalam meningkatkan kemampuan bahasa dan bicara pada anak prasekolah. Abstract (EN): The ability of language and speech is one of the indicators of child development. Language development and speech-related thought processes to comunicate. One of development preschool is teaching methods such as participatory and active games. This research aims to know effect of play therapy on the development of language and speech preschoolers in Assalam Tablighiyah Kinderganten Bukittinggi in 2014. Research done by observation in kindergarten Assalam Tablighiyah at Dt Mangkuto Ameh Geregeh Bukittinggi in 2-9 February 2015. The design of this research uses experimental research design by using Pretest-Postest control group design. Sampling were using purposive sampling was done with a sample of 12 people. Data analyst conducted univariate analysis and bivariat use a t-test is computerized. The results showed an average of language development and speech before giving a play therapy is. 7,58 (dubious) but after giving a play therapy is. 9.04 (normal). Results of hypothesis testing using non parametric Wilcoxon Signed Ranks Test found an difference language development and speech with a play therapy to preschoolers with value p = 0.002 (< 0.005). In this research it can be concluded that the play therapy effect on language development and speech. Expected to teacher whose teached in the school can insert play therapy as extra lesson in improving language skills and talk on preschoolers.

Skripsi 2017
Detail
Cover Analisis Pelaksanaan Klinik Sanitasi Puskesmas Di Wilayah Kerja Dinas Kesehatan Kabupaten Padang Pariaman Tahun 2015
Analisis Pelaksanaan Klinik Sanitasi Puskesmas Di Wilayah Kerja Dinas Kesehatan Kabupaten Padang Pariaman Tahun 2015

Wiwit Febrina, Efriza, Yurika Frimawty M. · 2017 · Skripsi · Fakultas Ilmu Kesehatan, S1 Kesehatan Masyarakat

Kondisi sanitasi merupakan salah satu faktor penting yang terpengaruh terhadap derajat kesehatan, karena penyakit berbasis lingkungan masih mendominasi pada 10 penyakit terbanyak di Puskesmas dan dari data Dinas Kesehatan Kabupaten Padang Pariaman tahun 2014 diketahui bahwa pencapaian target klinik sanitasi masih sangat rendah yaitu pencapaiannya 3,36% dari target yang harus dicapai sebesar 79%, oleh karena itu peneliti bertujuan untuk menganalisis Pelaksanaan Program Klinik Sanitasi Puskesmas Di Wilayah Kerja Dinas Kesehatan Kabupaten Padang Pariaman Tahun 2015. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif, pengumpulan datanya didapat dengan mewawancarai 10 informan (Kabid, Kasi, KaPus, Penanggungjawab BP, Sanitarian, masyarakat) pada bulan September 2015 di Puskesmas Pauh Kambar dan Puskesmas Kampung Guci wilayah kerja Dinas Kesehatan Kabupaten Padang Pariaman dengan menganalisis pada komponen input (tenaga, dana, sarana dan prasarana), proses (perencanaan, pelaksanaan, dan pemantauan/evaluasi) serta output (cakupan program klinik sanitasi). Analisis data dilakukan dengan membuat transkrip data, mereduksi data, penyajian data dan membuat kesimpulan. Kekurangan tenaga menyebabkan tenaga sanitasi memiliki tugas rangkap. Dana kegiatan selalu dianggarkan tetapi tidak dialokasikan. Kelengkapan sarana penunjang pelaksanaan program klinik sanitasi puskesmas, masih kurang dan belum memadai untuk seluruh puskesmas. Perencanaan belum dilaksanakan secara terpadu baik dengan lintas program maupun dengan lintas sektor. Pelaksanaan program klinik sanitasi puskesmas, pemantauan dan penilaian program klinik sanitasi puskesmas belum terlaksana dengan optimal. Disarankan kepada Dinkes Kab.Pd.Pariaman, mengusulkan penambahan tenaga kesehatan di puskesmas,menganggarkan dana khusus klinik sanitasi dan melengkapi sarana dan prasarana penunjang sehingga klinik sanitasi dapat berjalan dengan baik. Mengevaluasi kinerja pengelola klinik sanitasi oleh Dinas Kesehatan langsung serta mengajak masyarakat untuk lebih banyak lagi untuk ke klinik sanitasi,bukan hanya sebagai pasien tapi menjadi klien. Abstract (EN): Sanitary conditions is one important factor that affected the degree of health, because disease is still dominated environment based on 10 diseases in health centers and data Padang Pariaman District Health Department in 2014 it is known that the achievement of sanitation clinic is still very low at 3.36% achievement of targets to be achieved by 79%, therefore the researchers aim to analyze the Clinic Sanitation Program Implementation Working Area Health Center in Padang Pariaman District Health Office in 2015. This study used qualitative research methods, data collection obtained by interviewing 10 informants (Head, Head, the Head, Responsible BP, Sanitarian, society) in September 2015 in Puskesmas Pauh Kambar and Puskesmas Village Jar working area of District Health Office of Padang Pariaman by analyzing the component inputs (labor, funds, infrastructure), process (planning, implementation, and monitoring / evaluation) and output (coverage of sanitation clinic program). Data analysis was performed by transcribing the data, data reduction, data presentation and make conclusions. Sanitation causing energy shortages have double duty. Fund activity is always budgeted but not allocated. Completeness means of supporting the implementation of sanitation clinic program clinic, is still lacking and inadequate for the entire clinic. Planning have not been integrated well with the cross and with the cross-cutting program. Health centers sanitation clinic program implementation, monitoring and evaluation of health centers sanitation clinic program has not been implemented optimally. Kab.Pd.Pariaman suggested to the health office, proposed the addition of health workers in health centers, clinics allocates special funds and complete sanitary facilities and infrastructure so that sanitation clinic can run well. Evaluating the performance of managers of sanitation clinic by the Health Department immediately and invite the community to be much more to the clinic to sanitation, not only as patients but becomes a client.

Skripsi 2017
Detail
Cover Faktor- faktor yang Berhubungan dengan Upaya Pencegahan Penyakit Dermatitis di Pesantren Koto Tuo Kecamatan Bonjol Kabupaten Pasaman Tahun 2015
Faktor- faktor yang Berhubungan dengan Upaya Pencegahan Penyakit Dermatitis di Pesantren Koto Tuo Kecamatan Bonjol Kabupaten Pasaman Tahun 2015

Zuraida, Indah Rahayu, Lidya Mardison · 2017 · Skripsi · Fakultas Ilmu Kesehatan, S1 Kesehatan Masyarakat

Angka kejadian alergi di berbagai dunia dilaporkan meningkat drastis dalam beberapa tahun terakhir. Menurut catatan medis di Klinik Pondok Pesantren Koto Tuo Kecamatan Bonjol Kabupaten Pasaman, dermatitis merupakan penyakit terbanyak yang dialami santri. Survey awal terhadap 10 santri didapatkan bahwa 80% berpendapat bahwa penggunaan sabun batang secara bersama tidak berdampak pada kesehatan, 70% terpaksa meminjamkan handuk pada teman karena takut dikucilkan. Tujuan penelitian untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan upaya pencegahan penyakit dermatitis. Metode penelitian survey analitik dengan pendekatan cross sectional. Populasi adalah santri remaja yang berjumlah 128 orang di Pondok Pesantren Koto Tuo, dengan pengambilan sampel secara total sampling/ Data dikumpulkan melalui pengisian kuesioner, kemudian diolah secara komputerisasi dengan menggunakan uji statistik chi-square. Hasil analisis univariat diketahui 59,8 % memiliki pengetahuan baik, 54,6% motivasi tinggi, 57,7 % persepsi baik, dan 53,6 % melakukan upaya baik tentang pencegahan penyakit dermatitis. Hasil bivariat diketahui faktor yang berhubungan dengan upaya pencegahan penyakit dermatitis adalah pengetahuan (p = 0,000 dan OR 5,000), motivasi (p = 0,000 dan OR = 8,205) dan persepsi (p = 0,000 dan OR = 4,941). Disimpulkan bahwa faktor dominan yang berhubungan dengan upaya pencegahan penyakit dermatitis adalah motivasi. Oleh sebab itu, diharapkan pada pembina Asrama agar dapat mengawasi dan perilaku hidup bersih siswa yang beresiko terhadap penyakit dermatitis. Abstract (EN): The incidence of allergies in many of the world reportedly increased dramatically in recent years. According to the medical records at the clinic Boarding Koto Tuo District of Pasaman snag. The number of cases of dermatitis in 2009 were 82 (18.89%) patients. Initial survey of the 10 students found that 80% thought that the use of bar soap together no impact on health, 70% were forced to lend towels at a friend for fear of excommunication. The aim of research to determine the factors associated with the prevention of dermatitis. Analytic survey research method with cross sectional approach. The population is adolescent students totaling 128 people in boarding school Koto Tuo, with sampling total sampling. Data were collected through questionnaires, and then processed in a computerized using chi-square statistical test. Results of univariate analysis are known 59.8% had good knowledge, 54.6% higher motivation, better perception of 57.7%, and 53.6% do good effort on the prevention of dermatitis. Bivariate results are known factors related to the prevention of dermatitis are knowledge (p = 0.000 and OR 5,000), motivation (p = 0.000 and OR = 8.205) and perception (p = 0.000 and OR = 4.941). It was concluded that factors related to the prevention of dermatitis is the knowledge, motivation and perception. Therefore, it is expected the builder Dormitory in order to supervise and hygienic behavior of students who are at risk for dermatitis.

Skripsi 2017
Detail
Cover Hubungan Kebiasaan Konsumsi Fast Food, Aktifitas Fisik Dan Body Image Dengan Status Gizi Remaja Putri Pada Siswa Smkn Negeri I Kota SolokTahun 2015
Hubungan Kebiasaan Konsumsi Fast Food, Aktifitas Fisik Dan Body Image Dengan Status Gizi Remaja Putri Pada Siswa Smkn Negeri I Kota SolokTahun 2015

Welly Femelia, Rahmi Sarifatunnisa, Rahmi Sari Kusoema · 2017 · Skripsi · Fakultas Ilmu Kesehatan, S1 Kesehatan Masyarakat

Status gizi merupakan keadaan kesehatan akibat interaksi antara makanan, tubuh manusia dan lingkungan hidup manusia. Berdasarkan data riskesdas (2013) terdapat 33,7% remajamengalami status gizitidak normal. Meningkatnya prevelensi status gizi yang tidak normal disebabkan ketidakseimbangan masukan energi dan keluaran energi serta kebiasaan remaja mengkonsumsi fast food, persepsi remaja terhadap body image dapat menentukan pola makan serta status gizinya. Tujuan penelitian ini untuk melihat hubungan kebiasaan konsumsi fast food, aktifitas fisik dan body image dengan status gizi remaja putri pada siswa SMKN Negeri IKota Solok Tahun 2015. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional dan dilaksanakan pada bulan Agustus 2015. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh remaja putri kelas XI SMKN 1 Solok dengan jumlah 478 orang dan dipilih menggunakan teknik Simple Random Sampling. Pengolahan data dilakukan menggunakan analisis univariat dan bivariat (Uji Chi-Square). Dari hasil analisis univariat didapatkan 65,1% responden memiliki status gizi tidak normal. Terdapat 52,8% responden memiliki kebiasaan sering mengkonsumsi fast food, 61% responden mempunyai aktifitas fisik ringan dan 62,4 % responden memiliki body image yang negatif. Hasil analisis bivariat menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara kebiasaan konsumsi fast food, aktifitas fisik, dan body image dengan status gizi remaja, dengan nilai p dan OR berturut-turut (p=0,006; OR=2,287, p=0,000; OR=3,702, p= 0,043; OR= 1,878). Diharapkan kepada pihak sekolah dan petugas kesehatan untuk bekerjasama dalam memberikan informasi kesehatan remaja khususnya tentang status gizi. Disamping itu siswi juga disarankan lebih aktif dalam peningkatan pemahaman tentang status gizi remaja. Abstract (EN): Menarche is the first menstruation that happen to the girls as a biologyc sign of sexual maturity. There are 64% students in Pangkalan 03 elementary school andManggilang 02 elementary school who were fearful, anxienty, and shame when they got menarche. Anxienty and fearful are a rejecting reaction of menarche that show the girls are not ready for menarche. The objective of research to know the assosiationbetween knowledge, attitude, mother-daughter communication andthe readiness in facingof menarche on elementary school students in Pangkalan and Manggilang, Lima Puluh Kota 2014. This research use cross sectional design and conducted on July 17 until July 19, 2014. The population were all of students of Pangkalan 03 elementary school and Manggilang 02elementary school whose aged 10-16 years. The number of samples are 105 students that chooseby simple random sampling technique.Data process by using univarite and bivariate analysis (Chi-Square test). There are 62,9% students who are not ready for menarche. There are 54,3% students who have a low knowledge about menarche, 60% students who have negative attitude of menarche, and 60% students who have negatif mother-daughter communication. The result of bivariate analysis shows that there are a significant relationship between knowledge, attitude, mother-girls communication and the readiness in facing of menarche. Respectively,the p value and Odds Ratio are p=0,000, OR=4,821; p=0,000, OR=5,147; p= 0,001, OR= 4,267. Expected to the schooland health officer to cooporate to give the information about reproductive health especially about menarche to the students. Besides, students must be actively looking for the information about menstruation in order to have readiness to facing of menarche.

Skripsi 2017
Detail
Cover HubunganJumlah Uang Saku, Pengaruh Teman Sebaya Dan Paparan Media Massa Dengan Frekuensi Konsumsi Makanan Cepat Saji (Fast Food) Pada Remaja Di Kawasan Pasar Atas Bukittinggi Tahun 2015
HubunganJumlah Uang Saku, Pengaruh Teman Sebaya Dan Paparan Media Massa Dengan Frekuensi Konsumsi Makanan Cepat Saji (Fast Food) Pada Remaja Di Kawasan Pasar Atas Bukittinggi Tahun 2015

Welly Femelia, Monalisa, Sari Ida Mihardi · 2017 · Skripsi · Fakultas Ilmu Kesehatan, S1 Kesehatan Masyarakat

Kelebihan berat badan pada remaja diantaranya disebabkan oleh konsumsi kalori yang berlebihan seperti konsumsi fast food, dengan semakin marak dan berkembangnya makanan olahan dengan zat gizi rendah, tetapi memiliki banyak kalori sebagai faktor penyebab kelebihan berat badan atau kegemukan pada usia remaja. Tujuan penelitian ini untuk melihat Hubungan Jumlah Uang Saku, Pengaruh Teman Sebaya Dan Paparan Media Massa Dengan Frekuensi Konsumsi Makanan Cepat Saji (Fast Food) Pada Remaja Di Kawasan Pasar Atas BukittinggiTahun 2015. Penelitian ini menggunakandesain cross sectionaldandilaksanakan pada bulanAgustus 2015.Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh remaja yang berusia 14-24 tahun dengan jumlah 273orangdan dipilih menggunakan teknik accidental sampling. Pengolahan data dilakukan menggunakan analisis univariat dan bivariat (UjiChi-Square). Dari hasil analisis univariat didapatkan terdapat148 orang (54,2 %) yang sering mengkonsumsi fast food.Terdapat 60,1% responden memiliki uang saku banyak, 57,9% respondenmempunyaipengaruh teman sebaya dan59,7% responden terpapar media massa. Hasil analisis bivariat menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara jumlah uang saku, pengaruh teman sebaya dan paparan media massadengan frekuensi konsumsi fast food,dengan nilai p dan OR berturut-turut (p=0,017; OR=1,865, p=0,015; OR=1,876, p= 0,024; OR=1,809). Remaja sebaiknya dapat lebih memperhatikan makanan yang akan dikonsumsi. Remaja sebaiknyatidak terpengaruh atau tergantung teman dalam memilih makanan yang akan dikonsumsi. Peneliti selanjutnya harus dapat menemukan faktor-faktor lain penyebab tingginya frekuensi konsumsi fast food pada remaja. Abstract (EN): Excess weight in adolescents are caused by excessive calorie consumption as the consumption of fast food, with increasingly widespread and growing processed foods with low nutrient, but it has a lot of calories as the causes of overweight or obesity in adolescence. The purpose of this studywas to look at the relationship Amount Allowance, Influence Peers And Mass Media Exposure With Fast Food Consumption Frequency (Fast Food) Teen Zone Upper Market In London. This study uses a cross-sectional design and was conducted in August 2015. The population in this study are all adolescents aged 14-24 years with the number 273 and selected using accidental sampling technique. Data processing was performed using univariate and bivariate analysis (chi-square test). Univariate analysis of the results obtained there were 148 (54.2%) who frequently consume fast food .. There were 60.1% of respondents have much pocket money, 57.9% of respondents have peer influence and 59.7% of respondents exposed to mass media , Results of bivariate analysis showed that there is a significant relationship between the amount of pocket money, the influence of peers and exposure to mass media with the frequency of consumption of fast food, with a value of p and OR respectively (p=0.017;OR=1.865,p= 0.015;OR=1.876,p=0.024;OR=1.809). Expected for the restaurant and the manager needs to provide a varied diet and high value not only in terms of quantitative but also quality for example menyediaka high-fiber foods by adding vegetables and fruits in the package they are selling.

Skripsi 2017
Detail
Cover Hubungan Status Gizi, Paparan Media Massa, Uang jajan Dan Konsumsi Junk Food Dengan Usia Menarche Dini Di SMAN I Kota Solok Tahun 2015
Hubungan Status Gizi, Paparan Media Massa, Uang jajan Dan Konsumsi Junk Food Dengan Usia Menarche Dini Di SMAN I Kota Solok Tahun 2015

Welly Femelia, Ermiza, Ina Wahyu Ningsih · 2017 · Skripsi · Fakultas Ilmu Kesehatan, S1 Kesehatan Masyarakat

Menarche dini merupakan menstruasi pertama yang dialami seorang wanita subur pada usia di bawah 12 tahun. Kondisi menarche dini karena mendapat produksi hormon estrogen lebih banyak di banding wanita lain pada umumnya. menarche terlampau dini merupakan faktor resiko terjadinya kanker ovarium,hyperplasia endometrium, kolesistitis,kanker payudara, mioma uteri dan kanker servix. Dari data Riskesdas (2010) pada remaja yang berusia 15-19 terjadi penurunan usia menarche yaitu usia 13-14 tahun sebanyak 51,3% dan yang dibawah usia 12 tahun sebanyak 30%. Tujuan penelitian untuk mengetahui hubungan status gizi, paparan media massa, uang jajan dan konsusmsi junk food denganmenarchedini. Penelitianbersifatanalitikdengandesaincross sectional.Population is as much as 536 people were taken from class XI and XII SMAN I Solok Year 2015. Samples were taken by stratified random sampling , totaling 230 people . Data were collected through interviews guided by the guide questionnaire , then processed in a computerized using chi -square statistical test . Hasil analisis univariat diketahui 34,8 % responden mengalami menarche dini, 32,6 % status gizi tidak normal, 52,2 % paparan media massa tinggi, 68,7 % memperoleh uang jajan besar, dan 48,7 % sering konsumsi junk food. Hasil analisa bivariat diketahui ada hubungan status gizi (p = 0,011 dan OR = 2,336), paparan media massa (p = 0,007 dan OR = 2,239), dan uang jajan (p = 0,024 dan OR = 2,146) dengan kejadian menarche dini, serta tidak ada hubungan konsumsi junk food dengan kejadian menarchedini (p = 1,000). Disimpulkan bahwa ada hubungan status gizi, paparan mediamassa, dan uang jajan dengan kejadian menarche dini. Oleh sebab itu, diharapkan pada pihak sekolah agar kegiatan PKPR lebih diarahkan pada kesehatan reproduksi remaja, khususnya mencegah usia menarche dini. Abstract (EN): Early menarche is the first period experienced by a woman of childbearing age under 12 years old. Condition early menarche as it gets more estrogen production compared to other women in general. too early menarche is a risk factor for ovarian cancer , endometrial hyperplasia , cholecystitis , breast cancer , uterine cancer and cervix uteri . From the data Riskesdas (2010 ) in adolescents aged 15-19 decreased menarche age is the age of 13-14 years by 51.3 % and were under the age of 12 years as many as 30 %. The aim of research to determine the relationship of nutritional status, exposure to mass media, pocket money andkonsusmsi junk food with early menarche. Analytical research with cross sectional design. The population is all students of class X and XI SMAN I Solok 2015 which amounted to 536 people. Samples were taken by stratified random sampling, totaling 230 homes. Data were collected through interviews guided by the guide questionnaire, then processed in a computerized using chi-square statistical test. Results of univariate analysis known to 34.8% of respondents occurred early menarche, 32.6% nutritional status is not normal, 52.2% higher exposure to the mass media, 68.7% earn pocket money big and 72 (31.3%) earn pocket money small, and 48.7% frequent consumption of junk food. Results of bivariate analysis is known to have a relationship of nutritional status (p = 0.011 and OR = 2.336), mass media exposure (p = 0.007 and OR = 2,239), and pocket money (p = 0.024 and OR = 2.146) with the incidence of early menarche, and not no junk food consumption correlation with the incidence of early menarche (p = 1.000). It was concluded that there is a relationship of nutritional status, exposure to mass media, and the allowance with the incidence of early menarche. Therefore, it is expected at the school for activities PKPR more focused on adolescent reproductive health, particularly to prevent premature menarche age.

Skripsi 2017
Detail
Cover Evaluasi Pencapaian Millenium Development Goals poin Angka Kematian Ibu di Kabupaten Pasaman Barat Tahun 2015
Evaluasi Pencapaian Millenium Development Goals poin Angka Kematian Ibu di Kabupaten Pasaman Barat Tahun 2015

Sukarsi Rusti, Evi Hasnita, Rodina · 2017 · Skripsi · Fakultas Ilmu Kesehatan, S1 Kesehatan Masyarakat

Kesepakatan MDGs mentargetkan Angka Kematian Ibu (AKI) sebesar 102 per 100.000 kelahiran hidup. Data World Health Organization (WHO) menyatakan AKI negara maju lebih rendah dibandingkan dengan negara berkembang dengan rentang 9 per 100.000 kelahiran hidup di Eropa dan 301 per 100.000 kelahiran hidup di Afrika. Negara ASEAN, AKI terendah yaitu di Brunei Darussalam sebesar 13 per 100.000 kelahiran hidup dan Singapura 14 per 100.000 kelahiran hidup, sementara AKI Indonesia sebesar 228 per 100.000 kelahiran hidup. AKI Pasaman Barat tahun 2014 adalah 162 per 100.000 kelahiran hidup. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pencapaian MDG’s angka kematian ibu di Pasaman Barat. Jenis penelitian ini adalah qualitatif research. Penelitian dilakukan di Kabupaten Pasaman Barat pada Oktober 2015. Populasi penelitian adalah petugas kesehatan di Pasaman Barat, pengambilan sampel adalah purposive sampling dengan jumlah informan 7 orang. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara dan analisa data dilakukan dengan cara conclution. Berdasarkan penelitian diketahui bahwa AKI Pasaman Barat masih tinggi yaitu 162 per 100.000 kelahiran hidup, penyebab kematian ibu adalah perdarahan, preeklamsia, dan penyakit jantung. keadaan social ekonomi masyarakat dan akses pelayanan kesehatan yang masih sulit, pukesmas PONED belum berjalan dengan baik di Kabupaten Pasaman Barat, dan kebijakan pemerintah dalam penampatan bidan jorong belum berjalan dengan baik. Berdasarkan penelitian dapat disimpulkan bahwa AKI masih tinggi di Pasaman Barat, untuk itu disarankan perlu didata ulang pelaksanaan Puskesmas PONED termasuk penyediaan tenaga medis dan para medis yang melaksanakan penanganan kegawatdaruratan obstetric dasar sehingga PONED dapat berjalan dengan baik dan dapat menurunkan AKI di Pasaman Barat. Abstract (EN): MDGs targeting Maternal Mortality Rate (MMR) of 102 per 100,000 live births. Data from the World Health Organization (WHO) declared AKI lesser developed countries compared to developing countries with a range of 9 per 100,000 live births in Europe and 301 per 100,000 live births in Africa. ASEAN countries, namely the lowest MMR in Brunei Darussalam was 13 per 100,000 live births and Singapore 14 per 100,000 live births, while AKI Indonesia amounted to 228 per 100,000 live births. AKI West Pasaman 2014 was 162 per 100,000 live births. This study aimed to evaluate the achievement of the MDG's in maternal mortality in West Pasaman. This type of research is qualitatid research. The study was conducted in West Pasaman in October 2015. The study population were health care workers in West Pasaman, sampling is purposive sampling the number of informants 7 people. Data collected by interviews and data analysis done by conclution. Based on the research note that AKI West Pasaman still high at 162 per 100,000 live births, causes of maternal death are hemorrhage, pre-eclampsia and heart disease. Indirect causes are 4 too and 3 late is too young to give birth, too old, spacing pregnancies too close (less than 2 years) and too many children (more than 3), the state of socio-economic communities and access to health services is still difficult, pukesmas PONED not run well in West Pasaman, and government policies in penampatan midwife ellipse has not gone well. Based on this study concluded that the MMR is still high in West Pasaman, it is advisable to re-implementation of the PHC need logged PONED including the provision of medical and para-medical personnel who carry out handling obstetric emergencies basis so PONED can work well and can reduce MMR in West Pasaman.

Skripsi 2017
Detail
Cover Analisis Pelaksanaan Pemberian Izin Dokumen Pengelolaan Lingkungan Di Kabupaten lima puluh kota tahun 2015
Analisis Pelaksanaan Pemberian Izin Dokumen Pengelolaan Lingkungan Di Kabupaten lima puluh kota tahun 2015

Nurdin, Maisyarah, Gusni Waliza · 2017 · Skripsi · Fakultas Ilmu Kesehatan, S1 Kesehatan Masyarakat

Menurut Undang-Undang Perlindungan dan Pengelolaan lingkungan hidup Nomor: 32 Tahun 2009 Pasal 22 Ayat (1) menetapkan bahwa setiap usaha dan/atau kegiatan pembangunan yang berdampak penting terhadap lingkungan hidup wajib memiliki AMDAL (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup). Berdasarkan data dari Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kabupaten Lima Puluh Kota menyatakan bahwa dari sembilan puluh lima perusahaan yang mengajukan dokumen Pengelolaan Lingkungan Hidup, dua puluh empat perusahaan yang sudah mendapat persetujuan dari tim komisi penilai dan enam puluh satu yang belum mendapatkan persetujuan dari tim komisi penilaian. ( profil kabupaten lima puluh kota Tahun 2015). Desain penelitian ini adalah pendekatan kulaitatif. Penelitian ini dilakukan pada bulan september 2015 di kabupaten lima puluh kota.Informan dipilih secara purposive sampling yang terdiri dari kepala bidang badan lingkungan hidup , pemrakarsa, tokoh masyarakat di kabupaten lima puluh kota. Pengumpulan data dilakukan data dilakukan melalui wawancara mendalalam. Alur pikir penelitian terdiri dari input ( Pengetahuan pemrakarsa, peranan instansi pemerintah) komponen proses ( Peraturan bupati, peraturan perundang-undangan) dan komponen output (terlaksananya pemberi izin lingkungan di kabupaten lima puluh kota, evaluasi dalam terlaksananya pemberi izin lingkungan di kabupaten lima puluh kota. Hasil penelitian diketahui dari sembilan puluh lima data yang belum mengurus izin lingkungan. setelah diteliti hanya dua puluh empat yang baru mengurus atau memiliki izin lingkungan, jadi masih banyak yang belum mempunyai atau mengurus izin lingkungan. Ini semua disebabkan karena masih kurangnya pengetahuan atau kesadaran dalam pentingnya mempunyai atau memgurus izin lingkungan, Disimpulkan bahwa kendala yang di temukan dalam izin dokumen pengelolaan lingkungan yaitu karna prosedur dalam mengurus izin lingkungan terlalu banyak persyaratanya yang di berikan dari pihak instansi terlalu rumit dan tahap pengurusan surat izin ini terlalu berbelit-belit sehingga membuat pemrakarsa malas mengurus surat izin lingkungan tersebut. Abstract (EN): Acording to law protection and management of the enviroment number thirty two in twothousand nine article twenty two verse (one) specifies that any business or development activities that have an impormant impact on the enviroment life shall have AMDAL ( enviromental impact assesment). Based on data from enviromental agency ( BLH) kabupaten lima puluh kota states that from ninety five the company filed documents for enviromental management ,twenty four the company has received approval from the commision team of assessors and sixty one which has not received the approval of the commission assesment team ( profile kabupaten lima puluh kota tahun two thousand fifteen ) The research design was qualitative approach. This research was conducted in september two thousand fifteen in kabupaten lima puluh kota. The informants were chosen by using purpose sampling which consists of the head of the enviromental agency, initiator , public figure in kabupaten lima puluh kota. The data was collected by deep interview. The analiysis of this research consisted of input ( knowledge initiator , role of goverment agencies ) the components of process ( regulations regents, legislation), and the components of output ( implementation of enviromental licensor in kabupaten lima puluh kota , evaluation of the implementation of the licensor environment in kabupaten lima puluh kota. The results of the reseaveh has been known by ninety five data whiech don’t make the enviroment of licenses. After researching jusd twenty four has made them, so some of them don’t make the licenses yet. This is due to lack of awareness initiator to know the inportance of the enviromental. it can be concluded that the obstacles found in clearance dokument management of the enviroment it because the procedure in taking care of the environmental too many conditions, which are given from the agency is too complicated and stage too complicated arrangement permits the bush so as to make the initiator lazy care of the license.

Skripsi 2017
Detail
Cover Pengaruh Lama Penyimpanan Terhadap Kualitas Air Minum Isi Ulang Pada Depot Air Minum Di Wilayah Kerja Puskesmas Nilam Sari Kota Bukittinggi Tahun 2015
Pengaruh Lama Penyimpanan Terhadap Kualitas Air Minum Isi Ulang Pada Depot Air Minum Di Wilayah Kerja Puskesmas Nilam Sari Kota Bukittinggi Tahun 2015

Rudjito, Maisyarah, Yesfika Yeni · 2017 · Skripsi · Fakultas Ilmu Kesehatan, S1 Kesehatan Masyarakat

Saat ini penggunaan AMIU semakin populer digunakan oleh masyarakat. Air minum yang aman haruslah memenuhi standar yang telah ditetapkan mulai dari aspek fisik, kimia, mikrobiologi, dan radioaktif. Observasi awal pada 3 depot wilayah kerja Puskesmas Nilam Sari, pada saat pengambilan sampel air minum tiga depot yang tidak dikonsumsi selama 2 hari didapatkan 2 air minum depot mempunyai bakteri karena pada saat dikonsumsi peneliti mengalami diare sedangkan satu depot kualitas air minumnya baik karena depot sudah dilengkapi sistim RO (Reverse Osmosis). Penelitian bertujuan untuk mengetahui Perbedaan Rata-Rata Kadar E.Coli Dan PH Air Minum Isi Ulang Dengan Hari 1, 3 Dan 5 Pada Depot Air Minum. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan September tahun 2015 dengan penelitian eksperimen, time series Disigne dan populasi penelitian ini 8 depot air isi ulang. Sampel menggunakan metode total sampling. Analisa dalam penelitian ini menggunakan analisa univariat dan bivariat dengan uji statistik non parametric kruskal wallis dengan derajat kepercayaan 95%(α= 0.05). Hasil penelitian menunjukkan pada hari I penyimpanan rata-rata kadar E.Coli :0.55 dan PH : 6.50. Pada lama penyimpanan 3 hari rata-rata kadar E.Coli : 0.00 Dan PH : 6.62, dan pada lama penyimpanan lima hari rata-rata kadar E.Coli : 0.94 Dan PH : 5.57. Hasil bivariat diketahui tidak Perbedaan Rata-Rata Kadar E.Coli (Pvalue : 0.365) dan ada perbedaan PH( Pvalue : 0,032) pada Air Minum Isi Ulang Dengan Lama Penyimpanan 1,3 Dan 5 Hari Di Wilayah Kerja Puskesmas Nilam Sari Tahun 2015. Kesimpulan dari penelitian ini yaitu ada pengaruh antara lama penyimpanan terhadap kualitas kadar PH air minum isi ulang pada depot air minum, lama penyimpanan yang baik untuk kualitas pH air adalah 1 – 3 hari. Disarankan kepada pengguna air minum isi ulang untuk tidak mengkonsumsi air minum isi ulang yang sudah disimpan lebih dari 3 hari. Kepada pemilik depot agar meningkatkan kualitas air minum terutama kualitas PH. Terhadap Dinas Kesehatan khususnya seksi penyehatan lingkungan yang membawahi masalah depot air minum agar melakukan pembinaan dan pengawasan terhadap depot air isi ulang. Abstract (EN): Today the use of AMIU is increasingly popular among the public. Safe drinking water must meet the standard which has been established ranging from physical, chemical, microbiological, and radioactive aspects. Preliminary observation on 3 depots around Nilam Sari Public Health Center, when the samples were taken in which the water of three depots were not consumed for 2 days, it was found the water of 2 drinking water depots that contain bacteria, because when they were being consumed, the researcher experienced diarrhea, while the other depot have a qualified drinking water since the depot is equipped with RO system (Reverse Osmosis). This study aims to determine the difference in mean level of E. coli and water refill PH on day 1, 3 and 5 In Drinking Water Depot. This research was conducted in September 2015 using the experimental research, the time series design and the populations of this study were 8 refill water depots. Samples were taken using total sampling method. The analysis in this study were using univariate and bivariate with Kruskal Wallis non parametric statistical test with the level of confidence 95% (α = 0.05). The results showed that on the first day of storage the average level of E. coli : 0.55 and PH : 6:50. On the day 3 torage the average level of E. coli : 0.00 and PH : 6.62, while on the day 5 storage the average level of E. coli : 0.94 and PH : 5.57. From the bivariate results it was found that there was no difference in mean level of E. coli (Pvalue :0365) and there was a difference on PH (pvalue: 0.032) in Drinking Water Refill With 1,3 and 5 days storage in Nilam Sari Public Health Center year 2015. It can be concluded that from the research there is an effect of storage duration towards the quality of PH level of drinking water refill on water depots, which the right storage duration for the qualified water PH is for 1-3 days. It is suggested to the refill drinking water consumers not to consume that water in more than 3 days storage, while to the depot owners to improve their drinking water quality, especially the quality of the PH. Particularly to public health officers especially the officers who deal with the environmental health problems to provide guidance and supervision of water refill depots.

Skripsi 2017
Detail