Logo Repository App UFDK Repository UFDK Universitas Fort De Kock

Daftar Repository

8825 dokumen ditemukan

Reset
Pengaruh Pemberian Feldenkrais Exercise...
Pengaruh Pemberian Feldenkrais Exercise Untuk Meningkatkan Aktivitas Fungsional Pada Kasus Low Back Pain Myogenic Pada Ibu Rumah Tangga Di Desa Santur Tahun 2025

Rindu Febriyeni Utami, Nirwana Amalia Rahmadani · 2025 · KTI · Fakultas Ilmu Kesehatan, D3 Fisioterapi

Low back pain myogenic merupakan salah satu gangguan muskuloskeletal yang umum terjadi, khususnya pada ibu rumah tangga akibat aktivitas fisik berulang seperti membungkuk, mengangkat beban, dan postur tubuh yang tidak ergonomis. Kondisi ini dapat menyebabkan nyeri berkepanjangan dan penurunan aktivitas fungsional. Salah satu intervensi fisioterapi yang digunakan untuk mengatasi masalah ini adalah Feldenkrais Exercises, yaitu teknik latihan somatik yang berfokus pada peningkatan kesadaran gerak, relaksasi otot, serta stabilitas tubuh. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh Feldenkrais Exercises terhadap peningkatan aktivitas fungsional pada kasus low back pain myogenic pada ibu rumah tangga di Desa Santur. Penelitian ini menggunakan desain quasi eksperimen dengan rancangan One Group Pretest-Posttest Design tanpa kelompok kontrol. Sampel terdiri dari 10 ibu rumah tangga yang dipilih secara purposive sampling berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi. Intervensi diberikan selama 4 minggu. Data dikumpulkan menggunakan pengukuran aktivitas fungsional (ODI) sebelum dan sesudah intervensi. Analisis data dilakukan menggunakan uji statistik yang relevan. Terdapat perbedaan yang signifikan pada rata-rata nilai aktivitas fungsional sebelum dan sesudah intervensi, dengan hasil p- value = 0.000 (p < 0.05), yang menunjukkan bahwa Feldenkrais Exercises berpengaruh terhadap peningkatan aktivitas fungsional ibu rumah tangga dengan low back pain myogenic. Feldenkrais Exercises sebaiknya dilakukan secara rutin karena terbukti memantu meningkatkan aktivitas fungsional pada low back pain myogenic. Abstract (EN): Myogenic low back pain is one of the most common musculoskeletal disorders, particularly among housewives due to repetitive physical activities such as bending, lifting loads, and maintaining non-ergonomic postures. This condition can lead to prolonged pain and a decline in functional activity. One of the physiotherapy interventions used to address this issue is Feldenkrais Exercises, a somatic exercise technique focused on enhancing movement awareness, muscle relaxation, and body stability. This study aims to determine the effect of Feldenkrais Exercises on improving functional activity in cases of myogenic low back pain among housewives in Santur Village. The study used a quasi-experimental design with a One Group Pretest-Posttest Design without a control group. The sample consisted of 10 housewives selected through purposive sampling based on inclusion and exclusion criteria. The intervention was administered over a period of four weeks. Data were collected using the Oswestry Disability Index (ODI) to measure functional activity before and after the intervention. The data were analyzed using appropriate statistical tests. There was a significant difference in the average functional activity scores before and after the intervention, with a p-value = 0.000 (p < 0.05), indicating that Feldenkrais Exercises have a significant effect on improving functional activity in housewives with myogenic low back pain. It is recommended that Feldenkrais Exercises be practiced regularly as they have been proven to help improve functional activity in cases of myogenic low back pain.

KTI 2025
Detail
Pengaruh Latihan Plyometric Hurdle Hoppi...
Pengaruh Latihan Plyometric Hurdle Hopping Terhadap Daya Ledak Otot Tungkai Pada Pemain Bulu Tangkis Di GOR-DA Kabupaten Agam Tahun 2025.

Rindu Febriyeni Utami, Dwi Atma Priyayi · 2025 · KTI · Fakultas Ilmu Kesehatan, D3 Fisioterapi

Bulu Tangkis merupakan salah satu olahraga yang paling banyak dimainkan. Bagi bangsa Indonesia olahraga bulu tangkis merupakan olahraga untuk semua lapisan masyarakat, karena dapat dimainkan oleh anak-anak, dewasa, laki-laki atau perempuan. Plyometrik adalah latihan peregangan pemendekan atau peregangan neuromuskular reaktif. Plyometric gerakan dari rangsangan peregangan otot secara mendadak supaya terjadi kontraksi yang lebih kuat. Penurunan prestasi di bidang olahraga bulu tangkis dipengaruhi oleh daya ledak otot tungkai. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui Pengaruh Latihan Plyometric Hurdle Hopping Terhadap Daya Ledak Otot Tungkai Pada Pemain Bulu Tangkis di GOR-DA Kabupaten Agam Tahun 2025. Jenis penelitian ini adalah kuantitatif menggunakan desain penelitian quasi eksperiment dan pendekatan One Group Pretest-Posttest Design. Pengumpulan sampel menggunakan metode purpossive sampling dengan populasi 40 dan sampel 8 orang sesuia kriteria inklusi yang diberikan Plyometric Hurdle Hopping sebanyak 12 kali perlakuan. Daya Ledak diukur menggunakan Vertical Jump. Hasil penelitian dari pemberian Plyometric Hurdle Hopping sebelum perlakuan dengan nilai rata-rata 30,88 dan sesudah perlakuan dengan nilai rata-rata 69,25, dengan nilai P= 0,000 artinya terdapat pengaruh Latihan Plyometric Hurdle Hopping Terhadap Daya Ledak Otot Tungkai Pada Pemain Bulu Tangkis di GOR-DA Kabupaten Agam Tahun 2025. Diharapkan pemain Bulu Tangkis selalu berperan aktif dan menjalani program latihan dengan sistematis dan berulang. Abstract (EN): Badminton is one of the most widely played sports. In Indonesia, badminton is considered a sport for all levels of society, as it can be played by children, adults, males, or females. Plyometric training involves reactive neuromuscular stretching-shortening exercises. It consists of movements that stimulate a sudden muscle stretch to produce stronger contractions. A decline in athletic performance in badminton is often influenced by the lack of leg muscle explosive power. This study aims to determine the effect of Plyometric Hurdle Hopping training on leg muscle explosive power in badminton players at GOR-DA, Agam Regency, in 2025. This is a quantitative study using a quasi-experimental design with a One Group Pretest-Posttest approach. The sample was selected through purposive sampling, with a population of 40 players and a sample of 8 participants who met the inclusion criteria. The Plyometric Hurdle Hopping intervention was administered 12 times. Explosive power was measured using the Vertical Jump test. The results showed that the average score before the intervention was 30.88, and after the intervention, it increased to 69.25. The p-value was 0.000, indicating a significant effect of Plyometric Hurdle Hopping training on leg muscle explosive power in badminton players at GOR-DA, Agam Regency. It is recommended that badminton players remain actively engaged in their training programs in a systematic and consistent manner to improve performance.

KTI 2025
Detail
Pengaruh Terapi Genggam Jari Dan Terapi...
Pengaruh Terapi Genggam Jari Dan Terapi Rendam Kaki Air Hangat Pada Lansia Hipertensi Di Puskesmas Tigo Baleh Kota Bukittinggi Tahun 2025.

Reza Olyverdi, Desi Maqfiroh · 2025 · KTI · Fakultas Ilmu Kesehatan, D3 Fisioterapi

Hipertensi adalah kondisi meningkatnya tekanan darah secara persisten di atas normal yang dapat menimbulkan komplikasi serius seperti stroke, penyakit jantung, dan gagal ginjal, terutama pada kelompok lansia. Salah satu alternatif yang mudah dilakukan adalah terapi genggam jari dan terapi rendam kaki air hangat. Kedua terapi ini terbukti memberikan efek relaksasi, meningkatkan sirkulasi darah, serta membantu menurunkan tekanan darah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh terapi genggam jari dan rendam kaki air hangat dalam menurunkan tekanan darah pada lansia hipertensi. Desain penelitian menggunakan quasi eksperimen tanpa kelompok pembanding. Teknik pengambilan sampel adalah purposive sampling dengan jumlah populasi 73 orang lansia hipertensi di Puskesmas Tigo Baleh Kota Bukittinggi. Penelitian dilaksanakan pada tanggal 19 Mei hingga 13 Juni 2025. Intervensi diberikan sebanyak 12 kali dengan frekuensi tiga kali per minggu. Tekanan darah diukur menggunakan sphygmomanometer pada setiap 10 responden. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata tekanan darah sistolik sebelum perlakuan sebesar 167,7 mmHg dan menurun menjadi 146,8 mmHg setelah perlakuan. Sementara itu, ratarata tekanan darah diastolik sebelum perlakuan sebesar 102,4 mmHg dan menurun menjadi 93,2 mmHg setelah perlakuan. Hasil uji statistik menunjukkan nilai p = 0,005 (p < 0,05), yang berarti terdapat perbedaan signifikan antara tekanan darahsebelum dan sesudah intervensi. Kesimpulan penelitian ini adalah terapi genggam jari dan rendam kaki air hangat efektif menurunkan tekanan darah pada lansia hipertensi. Disarankan agar lansia melakukan terapi ini secara rutin 2– 3 kali seminggu sebagai terapi pendamping obat, serta tetap melakukan kontrol ke tenaga kesehatan. Abstract (EN): Hypertension is a condition where blood pressure persistently rises above normal levels, potentially leading to serious complications such as stroke, heart disease, and kidney failure, especially among the elderly. One easy alternative therapy is finger holding therapy and warm water foot soak therapy. Both therapies have been proven to provide relaxation, improve blood circulation, and help lower blood pressure. This study aimed to determine the effect of finger holding therapy and warm water foot soak therapy in reducing blood pressure among elderly hypertensive patients. The research used a quasi-experimental design, with purposive sampling technique. The population consisted of 73 elderly hypertensive individuals at the Tigo Baleh Public Health Center, Bukittinggi City. The study was conducted from May 19 to June 13, 2025. The intervention was given 12 times, with a frequency of three times per week. Blood pressure was measured using a sphygmomanometer on 10 respondents. The results showed that the average systolic blood pressure before treatment was 167.7 mmHg, which decreased to 146.8 mmHg after the intervention. Meanwhile, the average diastolic pressure decreased from 102.4 mmHg to 93.2 mmHg. Statistical tests showed a p-value = 0.005 (p < 0.05), indicating a significant difference between blood pressure before and after the intervention. The conclusion of this study is that finger holding therapy and warm water foot soak therapy effectively lower blood pressure in elderly hypertensive patients. It is recommended that elderly individuals perform these therapies regularly 2–3 times a week as a complementary treatment alongside medication and continue to consult healthcare professionals.

KTI 2025
Detail
Pengaruh Infra Red dan Constrain Induced...
Pengaruh Infra Red dan Constrain Induced Movement Therapy (CIMT) untuk meningkatkan aktivitas fungsional ekstremitas atas pada pasien pasca stroke iskemik di Rumah Sakit Otak Dr. Drs. M. Hatta Bukittinggi Tahun 2025

Evi Hasnita, Nesya Alvia Ranjani · 2025 · KTI · Fakultas Ilmu Kesehatan, D3 Fisioterapi

Latar Belakang Stroke Iskemik merupakan kematian jaringan otak yang disebabkan karena adanya penyumbatan pada pembuluh darah. Infra Red yaitu Infra red merupakan terapi hangat superfisial dengan panjang gelombang 750- 400.000 nm yang memberikan efek fisiologis dan efek terapeutik pada tubuh sebagai peningkatan temperatur lokal, peningkatan aktivitas kelenjar keringat, peningkatan metabolism, vasodilasi dan Pereda nyeri, releksasi otot dan peningkatan suplai darah dan Constraint induced movement therapy (CIMT) yaitu teknik latihan dengan pengekangan dan repetisi untuk meningkatkan penggunaan ekstremitas atas yang paling terkena dampak dari stroke. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh Infra Red dan Constraint induced movement therapy (CIMT) terhadap aktivitas fungsional ekstremitas atas pada pasien pasca stroke non-hemoragik di Rumah Sakit Otak Dr. Drs. M. Hatta Bukittinggi. Metode pengambilan sampel yaitu dengan Quota Sampling dengan jumlah populasi 336 orang dan sampel berjumlah 15 orang yang sesuai dengan kriteria inklusi dan ekslusi. Desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah quasi eksperimen. Sedangkan rancangan penelitiannya dengan membandingkan nilai pretest dan posttest aktivitas fungsional ekstremitas atas sebelum diberikannya intervensi Infra Red dan Constraint induced movement therapy (CIMT) dan sesudah diberikannya intervensi Constraint induced movement therapy (CIMT). Sampel menjalani perlakuan selama 4 minggu dengan frekuensi 2 kali dalam seminggu. Pengumpulan data dilakukan dengan metode observasi dengan mengukur aktivitas fungsional ekstremitas atas sebelum dan sesudah diberikan intervensi. Pengolahan data dilakukan dengan t-test dependent. Hasil penelitian berdasarkan uji i-test dependent menunjukkan bahwa nilai p value 0,000 (p Abstract (EN): Background Ischemic Stroke is the death of brain tissue caused by a blockage in the blood vessels. Infrared is a superficial warm therapy with a wavelength of 750- 400,000 nm which provides physiological effects and therapeutic effects on the body as an increase in local temperature, increased sweat gland activity, increased metabolism, vasodilation and pain relief, muscle relaxation and increased blood supply and Constraint induced movement therapy (CIMT) is an exercise technique with restraints and repetitions to increase the use of the upper extremities most affected by stroke. The purpose of this study was to determine the effect of Infrared and Constraint induced movement therapy (CIMT) on the functional activity of the upper extremities in iscemic post-stroke patients at the Dr. Drs. M. Hatta Bukittinggi Brain Hospital. The sampling method was by Quota Sampling with a population of 336 people and a sample of 15 people who met the inclusion and exclusion criteria. The design used in this study was a quasi-experimental. Meanwhile, the research design was by comparing the pretest and posttest values of upper limb functional activity before and after the Constraint induced movement therapy (CIMT) intervention. The sample underwent treatment for 4 weeks with a frequency of 2 times a week. Data collection was carried out using the observation method by measuring the functional activity of the upper limb before and after the intervention. Data processing was carried out using the dependent t-test. The results of the study based on the dependent i-test test showed that the p value was 0.000 (p

KTI 2025
Detail
Pengaruh Senam Aerobik Low Impact Terhad...
Pengaruh Senam Aerobik Low Impact Terhadap Daya Tahan Kardiorespirasi Pada Lansia Di Puskesmas Tigo Baleh Bukittinggi.

Rindu Febriyeni Utami, Cindy Azhari · 2025 · KTI · Fakultas Ilmu Kesehatan, D3 Fisioterapi

Lansia merupakan kelompok usia 60 tahun ke atas yang mengalami penurunan fungsi tubuh, termasuk sistem kardiorespirasi. Penurunan daya tahan kardiorespirasi pada lansia berdampak pada penurunan kualitas hidup. Daya tahan kardiorespirasi adalah kemampuan tubuh dalam menggunakan oksigen secara efisien selama aktivitas fisik yang berkelanjutan. Intervensi yang efektif untuk meningkatkannya adalah melalui latihan fisik berupa senam aerobik low impact yang disesuaikan dengan kondisi fisik lansia. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh senam aerobik low impact terhadap daya tahan kardiorespirasi lansia di Puskesmas Tigo Baleh Bukittinggi. Desain penelitian ini desain quasi eksperimen one group pretest-posttest. Sampel terdiri dari 8 lansia yang memenuhi kriteria inklusi. Pengumpulan data dilakukan dengan mengukur tingkat daya tahan kardiorespirasi melalui Six Minute Walking Test (6MWT). Hasil menggunakan uji Wilcoxon dan diperoleh hasil nilai p = 0,000 (p < 0,05), yang berarti terdapat pengaruh signifikan senam aerobik low impact terhadap peningkatan daya tahan kardiorespirasi lansia. Kesimpulan penelitian menunjukkan adanya peningkatan signifikan daya tahan kardiorespirasi setelah dilakukan intervensi senam aerobik low impact selama 3 minggu. Penelitian ini diharapkan bisa dijadikan alternatif latihan untuk meningkatkan daya tahan kardiorespirasi pada lansia. Abstract (EN): Elderly individuals, defined as those aged 60 and above, experience a decline in bodily functions, including the cardiorespiratory system. This decline in cardiorespiratory endurance negatively affects quality of life. Cardiorespiratory endurance is the body’s ability to efficiently utilize oxygen during continuous physical activity. An effective intervention to improve this is low-impact aerobic exercise, tailored to the physical condition of the elderly. The aim of this study was to determine the effect of low-impact aerobic exercise on the cardiorespiratory endurance of elderly individuals at Tigo Baleh Health Center, Bukittinggi. This study used a quasi-experimental design with a one-group pretest-posttest approach. The sample consisted of 8 elderly individuals who met the inclusion criteria. Data collection was conducted by measuring cardiorespiratory endurance using the Six Minute Walking Test (6MWT). The Wilcoxon test results showed a p- value of 0.001 (p < 0.05), indicating a significant effect of low-impact aerobic exercise on improving cardiorespiratory endurance in the elderly. Conclusion: There was a significant increase in cardiorespiratory endurance after a 3-week low-impact aerobic exercise intervention. This study suggests that such exercise can be an effective alternative for enhancing cardiorespiratory endurance in the elderly.

KTI 2025
Detail
Pengaruh Pemberian Ultrasound Dan Mullig...
Pengaruh Pemberian Ultrasound Dan Mulligan exercise pada Osteoarthritis knee di Rumah Sakit Otak Dr. Drs. M. Hatta Bukittinggi Tahun 2025

Evi Hasnita, Nasywa Nadhira Ridra · 2025 · KTI · Fakultas Ilmu Kesehatan, D3 Fisioterapi

Osteoarthritis juga disebut OA, merupakan jenis penyakit sendi akibat proses degeneratif sekaligus peradangan (inflamasi) pada tulang rawan sendi. Tujuan untuk mengetahui Pengaruh Pemberian ultrasound dan Mulligan exercise terhadap kemampuan fungsional pada osteoarthritis knee di Rumah Sakit Otak Dr. DRS. M. Hatta Bukittinggi tahun 2024. Jenis penelitian ini adalah kuantitatif menggunakan desain penelitian Quasy Eksperiment. Pengumpulan sampel menggunakan metode purpossive sampling. Penelitian ini akan dilakukan pada 10 Februari sampai 28 Februari 2025 dengan jumlah populasi 1.216 dan sampel 20 orang dengan 10 sampel sebagai kelompok perlakuan yang diberikan Ultrasound dan Mulligan exercise dan 10 sampel lainnya sebagai kelompok kontrol. Kelompok perlakuan diberikan intervensi sebanyak 6 kali perlakuan dengan dan jeda antar siklus selama 15 detik. Kemampuan Fungsional diukur menggunakan Kuesioner WOMAC. Hasil penelitian dari pemberian Ultrasound dan Mulligan exercise pada kelompok perlakuan menunjukkan bahwa rata- rata kemampuan fungsional sebelum diberikan ultrasound dan Mulligan exercise pada pasien kelompok perlakuan yang diukur dengan kuesioner womac adalah 46.90 sedangkan rata-rata kemampuan fungsional sebelum diberikan ultrasound dan Mulligan exercise pada pasien kelompok perlakuan yang diukur dengan kuesioner womac adalah 31.00 dengan p- value 0.002 < α (0.05) artinya Ho ditolak dan Ha diterima yang berarti adanya Pengaruh Pemberian Ultrasound Dan Mulligan exercise Terhadap Kemampuan Fungsional Pada Osteoarthritis knee Di Rumah Sakit Otak DR. Drs. M. Hatta Bukittinggi Tahun 2025. Abstract (EN): Osteoarthritis, also known as OA, is a type of joint disease caused by a degenerative process along with inflammation of the joint cartilage. Objective: To determine the effect of ultrasound and Mulligan exercise on functional ability in knee osteoarthritis at Dr. Drs. M. Hatta Brain Hospital, Bukittinggi, in 2025. Method: This research is a quantitative study using a quasi-experimental design. Samples were collected using purposive sampling. The study was conducted from 10 February to 28 February 2025, with a total population of 1,216 and a sample of 20 participants—10 in the treatment group (receiving ultrasound and Mulligan exercise) and 10 in the control group. The treatment group received 6 sessions of intervention with a 15-second rest between cycles. Functional ability was measured using the WOMAC questionnaire. Results: The average functional ability score in the treatment group before the intervention (measured using the WOMAC questionnaire) was 46.90, while the post- intervention score was 31.00. The p-value was 0.002 < α (0.05), indicating that the null hypothesis was rejected and the alternative hypothesis was accepted. This means there was a significant effect of ultrasound and Mulligan exercise on improving functional ability in patients with knee osteoarthritis at Dr. Drs. M. Hatta Brain Hospital, Bukittinggi, in 2025.

KTI 2025
Detail
Efektivitas Nordic Hamstring Exercise de...
Efektivitas Nordic Hamstring Exercise dengan Lying Leg Curl Exercise terhadap Ekstensibilitas Hamstring pada Pemain Fun Futsal Kota Bukittinggi Tahun 2025.

Yelva Febriani, Cindi Try Natasya · 2025 · KTI · Fakultas Ilmu Kesehatan, D3 Fisioterapi

Futsal adalah cabang olahraga yang membutuhkan kekuatan otot guna meningkatkan kondisi fisik secara keseluruhan, Ekstensibilitas adalah salah satu faktor yang berkontribusi dalam kemampuan jaringan otot untuk merenggang melebihi panjang normalnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Efektivitas Nordic Hamstring Exercise dengan Lying Leg Curl Exercise terhadap Ekstensibilitas Hamstring pada Pemain Fun Futsal Kota Bukittinggi Tahun 2025. Jenis penelitian ini adalah kuantitatif yang menggunakan desain penelitian quasi eksperimental dengan pre test and post test two grup design. Teknik pengumpulan sampel menggunakan purposive sampling dengan sampel sebanyak 20 orang, kelompok I diberikan Nordic Hamstring Exercise dan kelompok II Lying Leg Curl Exercise. Setiap kelompok diberikan intervensi sebanyak 12 kali perlakuan dengan jeda 1 hari istirahat setelah diberikan perlakuan. Ekstensibilitas Hamstring di ukur dengan Sit And Reach Test. Hasil Penelitian menunjukkan standar deviasi Nordic Hamstring Exercise adalah 1,49 sedangkan standar devisi Lying Leg Curl Exercise adalah 1,39 dengan P value = 0,149 > 0,05 artinya Ha ditolak Ho diterima. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa tidak adanya perbedaan efektivitas Nordic Hamstring Exercise dengan Lying Leg Curl Exercise terhadap peningkatan ekstensibilitas Hamstring pada Pemain Fun Futsal Kota Bukittinggi Tahun 2025. Abstract (EN): Futsal is a sport that requires muscle strength to improve overall physical condition. Extensibility is one of the factors that contributes to the muscle tissue's ability to stretch beyond its normal length. This study aims to determine the effectiveness of Nordic Hamstring Exercise compared to Lying Leg Curl Exercise on Hamstring Extensibility in Fun Futsal Players in Bukittinggi City in 2025. This is a quantitative study using a quasi-experimental design with a pre-test and post- test two-group design. The sampling technique used was purposive sampling with a total of 20 participants. Group I received the Nordic Hamstring Exercise, while Group II received the Lying Leg Curl Exercise. Each group underwent 12 intervention sessions with a one-day rest interval after each session. Hamstring extensibility was measured using the Sit and Reach Test. The results showed that the standard deviation for the Nordic Hamstring Exercise group was 1.49, while the standard deviation for the Lying Leg Curl Exercise group was 1.39, with a p- value of 0.149 > 0.05, indicating that the alternative hypothesis (Ha) is rejected and the null hypothesis (Ho) is accepted. Based on the results, it can be concluded that there is no significant difference in the effectiveness of Nordic Hamstring Exercise versus Lying Leg Curl Exercise in improving hamstring extensibility among Fun Futsal Players in Bukittinggi City in 2025.

KTI 2025
Detail
Pengaruh Brisk Walking Exercise Dan Slow...
Pengaruh Brisk Walking Exercise Dan Slow Deep Breathing Terhadap Tekanan Darah Pada Lansia Hipertensi Di Kelurahan Bukik Apit Bukittinggi Tahun 2025.

Annisa Adenikheir, Cici Julisma Putri · 2025 · KTI · Fakultas Ilmu Kesehatan, D3 Fisioterapi

Lanjut usia adalah seseorang yang telah berusia 60 tahun keatas. Hipertensi di Indonesia masih jarang, khususnya di kelurahan bukik apit dimana belum ada penelitian yang sama sebelumnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengatahui pengaruh brsik walking exercise dan slow deep breathing terhadap tekanan darah pada lansia hipertensi di Kelurahan Bukik Apit Bukittinggi tahun 2025. Desain penelitian ini mengunakan desain studi Quasi-Eksperiment, dengan rancangan One Group Pretest-Posttest Design. Penelitian dilakukan pada tanggal 01 Febuari sampai 28 Febuari 2025. Populasi penelitian ini adalah lansia berumur 60-74 tahun. Pengambilan sampel mengunakan teknik Purposive Sampling sehingga didapatkan sampel sebanyak 15 orang. Pengumpulan data penelitian mengunakan sphygmomanometer dan lembar observasi. Berdasarkan uji Paired t-test menunjukkan bahwa nilai 0,00 (P Value < α) dengan rata-rata hipertensi sebelum melakukan brisk walking exercise dan slow deep breathing adalah 146,42 dan rata-rata hipertensi setelah melakukan brisk walking dan slow deep breathing adalah 135,46. Dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh brisk walking exercise dan slow deep breathing terhadap tekanan darah pada lansia hipertensi di Kelurahan Bukik Apit Bukittinggi tahun 2025. Dengan demikian, semakin sering melakukan latihan brisk walking dan slow deep breathing maka tekanan darah pada lansia penderita hipertensi dapat lebih terkontrol dengan baik. Abstract (EN): Elderly refers to individuals aged 60 years and above. Hypertension among the elderly in Indonesia remains under-researched, particularly in the Bukik Apit Subdistrict, where no similar study has previously been conducted. This study aims to determine the effect of brisk walking exercise and slow deep breathing on blood pressure in elderly people with hypertension in Bukik Apit Subdistrict, Bukittinggi, in 2025. This research uses a quasi-experimental design, specifically the One Group Pretest-Posttest Design. The study was conducted from February 1 to February 28, 2025. The study population consisted of elderly individuals aged 60– 74 years. Samples were selected using purposive sampling, resulting in a total of 15 participants. Data collection tools included a sphygmomanometer and an observation sheet. Based on the Paired t-test, the results showed a p-value of 0.00 (p < α). The average blood pressure before performing brisk walking and slow deep breathing was 146.42 mmHg, while the average after the intervention was 135.46 mmHg. It can be concluded that brisk walking exercise and slow deep breathing have a significant effect on reducing blood pressure in elderly people with hypertension in Bukik Apit Subdistrict, Bukittinggi, in 2025. Therefore, the more frequently elderly individuals engage in these exercises, the better their blood pressure can be controlled.

KTI 2025
Detail
Efektivitas Sensory Integration Exercise...
Efektivitas Sensory Integration Exercise dan Vestibular Stimulation Exercise Terhadap Peningkatan Keseimbangan Dinamis Anak Autisme di SLB Al Ikhlas Bukittinggi Tahun 2025

Yelva Febriani, Naisyah Arfah · 2025 · KTI · Fakultas Ilmu Kesehatan, D3 Fisioterapi

Jumlah penderita autisme di Indonesia meningkat setiap tahunnya sebanyak 500 orang. Anak autisme dianggap sebagai kelainan neuro behavioral disorders, yang tidak hanya mengalami gangguan mental dan perilaku tetapi juga adanya gangguan proses sensorik serta keterlambatan dalam perkembangan sensomotorik. Gangguan keseimbangan dinamis pada anak autisme dapat terlihat dari gaya berjalan yang tidak stabil, gerakan tubuh yang tidak terkoordinasi dan mudah jatuh saat bergerak cepat. Tujuan dari penelitian untuk mengetahui efektivitas pemberian Sensory Integration Exercise dan Vestibular Stimulation Exercise terhadap peningkatan keseimbangan dinamis anak autisme. Jenis penelitian ini adalah kuantitatif menggunakan desain penelitian quasi eksperimen. Pengumpulan sampel menggunakan metode purpossive sampling. Penelitian ini dilakukan selama 4 minggu dengan latihan sebanyak 3 kali seminggu dengan jumlah populasi 79 dan sampel sebanyak 20 orang, kelompok I diberikan Sensory Integration Exercise dan kelompok II Vestibular Stimulation Exercise. Tiap kelompok diberikan intervensi sebanyak 12 kali perlakuan. Pengukuran keseimbangan menggunakan Balance Beam Walking Test. Hasil penelitian dari pemberian Sensory Integration Exercise menunjukkan bahwa nilai P= 0,000 Abstract (EN): The number of individuals with autism in Indonesia increases by approximately 500 people each year. Children with autism are considered to have neurobehavioral disorders, which include not only mental and behavioral impairments but also sensory processing disorders and delays in sensorimotor development. Dynamic balance disorders in children with autism can be observed through unsteady gait, uncoordinated body movements, and a tendency to fall easily when moving quickly. The purpose of this study is to determine the effectiveness of Sensory Integration Exercise and Vestibular Stimulation Exercise in improving the dynamic balance of children with autism. This research is quantitative in nature, using a quasi-experimental design. The sample was collected using purposive sampling. The study was conducted over 4 weeks with training sessions three times a week. The total population was 79, with a sample of 20 participants. Group I received Sensory Integration Exercise and Group II received Vestibular Stimulation Exercise. Each group underwent 12 intervention sessions. Balance was measured using the Balance Beam Walking Test. The results of the Sensory Integration Exercise showed a p-value of 0.000 < α (0.05), indicating a significant effect on improving dynamic balance. The Vestibular Stimulation Exercise also yielded a p-value of 0.000 < α (0.05), indicating a significant effect on improving dynamic balance. The effectiveness of intervention showed a difference marked a p-value of 0.000 < α (0.04). Comparison showed a slight difference in means: 11.8 for Sensory Integration Exercise and 11.9 for Vestibular Stimulation Exercise—a difference of only 0.1. It is hoped that these exercises can serve as material and a training program for children with autism to help improve their balance.

KTI 2025
Detail
Pengaruh Swiss Ball Exercise Dan Balance...
Pengaruh Swiss Ball Exercise Dan Balance Strategy Exercise Terhadap Peningkatan Keseimbangan Dinamis Pada Lansia di Puskesmas Mandiangin Koto Selayan Kota Bukittinggi.

Erit Rovendra, Azzahra Dwi Syafira · 2025 · KTI · Fakultas Ilmu Kesehatan, D3 Fisioterapi

Lanjut usia (lansia) merupakan fase kehidupan yang ditandai dengan penurunan berbagai fungsi tubuh, termasuk keseimbangan dinamis, yang dapat meningkatkan risiko jatuh dan menurunkan kualitas hidup. Fisioterapi memiliki peran penting dalam meningkatkan keseimbangan melalui intervensi latihan fisik. Tujuan Penelitian ini untuk mengetahui pengaruh Swiss Ball Exercise dan Balance Strategy Exercise terhadap peningkatan keseimbangan dinamis pada lansia di Puskesmas Mandiangin Koto Selayan Kota Bukittinggi tahun 2025. Metode pengambilan sampel yaitu purposive sampling dengan jumlah populasi 800 lansia dan sampel 10 lansia yang sesuai dengan kriteria inklusi dan ekslusi. Desain yang digunakan dalam penelitian ini quasi eksperimen serta menggunakan pendekatan PreTest dan PostTest dengan rancangan penelitian membandingkan nilai keseimbangan dinamis sebelum diberikan intervensi Swiss Ball Exercise dan Balance Strategy Exercise dan setelah diberikan intervensi Swiss Ball Exercise dan Balance Strategy Exercise. Penelitian ini dilakukan selama 4 minggu dengan frekuensi 3 kali seminggu dengan total perlakuan 12 kali, keseimbangan dinamis diukur menggunakan Time Up and Go Test (TUGT). Hasil penelitian berdasarkan uji Paired Sample T-Test menunjukkan bahwa nilai rata-rata keseimbangan dinamis pada lansia sebelum diberikan intervensi yaitu 22,3 detik dan setelah diberikan intervensi terlihat adanya peningkatan menjadi 18,29 detik. Terdapat perbedaan rata rata keseimbangan dinamis yaitu 4,01 dengan nilai P-Value = 0,001 < (0,05). Artinya Ho ditolak yang bermakna bahwa ada pengaruh Swiss Ball Exercise dan Balance Strategy Exercise terhadap peningkatan keseimbangan dinamis pada lansia Di Puskesmas Mandiangin Koto Selayan Kota Bukittinggi tahun 2025. Abstract (EN): The elderly is a phase of life marked by a decline in various bodily functions, including dynamic balance, which can increase the risk of falls and reduce quality of life. Physiotherapy plays an important role in improving balance through physical exercise interventions. This study aims to determine the effect of Swiss Ball Exercise and Balance Strategy Exercise on improving dynamic balance in elderly people at the Mandiangin Community Health Center, Koto Selayan, Bukittinggi City in 2025. The sampling method used was purposive sampling with a population of 800 elderly individuals and a sample of 10 who met the inclusion and exclusion criteria. The study employed a quasi-experimental design with a Pre-Test and Post-Test approach, comparing dynamic balance scores before and after the intervention of Swiss Ball Exercise and Balance Strategy Exercise. The intervention was carried out over 4 weeks, with a frequency of 3 times per week, totaling 12 sessions. Dynamic balance was measured using the Timed Up and Go Test (TUGT). The results, based on the Paired Sample T-Test, showed that the average dynamic balance time before the intervention was 22.3 seconds, and after the intervention, it improved to 18.29 seconds. There was an average difference in dynamic balance of 4.01 seconds, with a P-Value = 0.001 < (0.05). This indicates that the null hypothesis (Ho) is rejected, meaning that there is a significant effect of Swiss Ball Exercise and Balance Strategy Exercise on improving dynamic balance in the elderly at the Mandiangin Community Health Center, Koto Selayan, Bukittinggi City in 2025.

KTI 2025
Detail