Logo Repository App UFDK Repository UFDK Universitas Fort De Kock

Daftar Repository

8825 dokumen ditemukan

Reset
Pengaruh Pemberian Edukasi Cidera Olahra...
Pengaruh Pemberian Edukasi Cidera Olahraga Dengan Menggunakan Metode Audio Visual Di MTSN Bukittinggi

Irhas Syah, Syautri Tiara Sakti · 2025 · KTI · Fakultas Ilmu Kesehatan, D3 Fisioterapi

Latar Belakang : Cedera olahraga atau yang dikenal dengan Sport Injuries merupakan segala macam bentuk cidera yang terjadi baik pada saat berlatih (latihan), maupun pada waktu berolahraga (bertanding) ataupun setelah pertandingan. Tujuan Penelitian : Bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian edukasi cidera olahraga dengan menggnakan metode audio visual di MTSN Bukittinggi. Metode Penelitian : desain penelitian yang digunakan pada Quasi Experiment dengan pendekatan one group pretest and posttest `dengan sampel 64 orang lansia. Penelitian dilakukan selama 1 minggu. Teknik pengambilan sampel dengan metode purposive sampling, yaitu sesuai dengan kriteria ìnklusi dan eksklusi. Hasil : hasil penelitian setelah diberikan edukasi cidera olahraga dengan menggunakan metode audio visual ditemukan sebagian besar (93,75%) responden menunjukkan pengetahuan yang baik tentang penanganan pertama cedera olahraga dan hanya sebagian kecil (6,25%) dengan pengetahuan cukup. Kesimpulan : Ada terdapat pengaruh Pemberian edukasi cidera olahraga dengan menggunakan metode audio visual Abstract (EN): Background: Sports injuries, also known as "Sport Injuries," refer to all types of injuries that occur during training, exercise (competition), or after a sports match. Research Objective: This study aims to determine the effect of providing education on sports injuries using the audio-visual method at MTSN 1 Bukittinggi. Research Method: The study used a quasi-experimental design with a one-group pretest and posttest approach, involving 64 respondents. The study was conducted over one week. The sampling technique used was purposive sampling, based on inclusion and exclusion criteria. Results: After receiving education on sports injuries using the audio-visual method, the majority of respondents (93.75%) demonstrated good knowledge of first aid for sports injuries. A small portion (6.25%) had moderate knowledge, and none had poor knowledge. Conclusion: There is a significant effect of providing sports injury education using the audio-visual method.

KTI 2025
Detail
Pengaruh Small Side Games 3V2 Terhadap T...
Pengaruh Small Side Games 3V2 Terhadap Teknik Passing Control dan Shooting Pada Pemain Futsal Universitas For De Kock Tahun 2025.

Irhas Syah, Michael Diover · 2025 · KTI · Fakultas Ilmu Kesehatan, D3 Fisioterapi

Small Sided Games (SSG) adalah permainan yang dimainkan dengan jumlah pemain 3 orang per tim dan lapangan lebih kecil dari lapangan utama Latihan vs 2 adalah latihan dengan 3 orang sebagai penyerang dan 2 orang sebagai bertahan dengan menggunakan 3 gawang. 3 orang penyerang berusaha memasukkan bola ke dalam 1 gawang sementara 2 orang bertahan berusaha mencegah pemain penyerang, tetapi juga dituntut untuk memasukkan bola ke dalam 2 gawang lawan. Dalam permainan futsal, teknik passing, kontrol, dan shooting sangat penting. Maka teknik ini harus dikuasai karena teknik passing, kontrol, dan shooting termasuk teknik dasar futsal. Tanpa kemampuan passing, kontrol, dan shooting yang baik, permainan tidak akan berjalan dengan baik. Desain penelitian dengan pendekatan purposive sampling dengan desain satu kelompok pretes-postes. Penelitian ini dilakukan di Universitas Fort De Kock pada bulan Mei-Juni 2025 Sampel penelitian seluruh pemain futsal UFDK sebanyak 15 pemain futsal. Hasil penelitian dari pemberian latihan Small Side Games terhadap teknik passing dan control pada pemain futsal bahwa nilai rata- rata sebelum diberikan latihan 1,87 dengan standar deviasi 0,74, sedangkan rata- rata setelah diberikan latihan 45,33 dengan standar deviasi 5,16 dan nilai value sebesar 0,0001. Pada hasil penelitian dari pemberian latihan Small Side Games terhadap shooting pada pemain futsal bahwa nilai rata-rata sebelum diberikan latihan 2,40 dengan standar deviasi 10,55, sedangkan rata-rata setelah diberikan latihan 45,33 dengan standar deviasi 5,16 dan nilai value sebesar 0,0001. Kesimpulan dari penelitian ini, adanya pengaruh Small Sided Games 3v2 terhadap keterampilan Passing, Control dan Shooting pada pemain Futsal Universitas Fort De Kock tahun 2025. Abstract (EN): Small Sided Games (SSG) is a game played with 3 players per team and a field smaller than the main field. Training vs 2 is a training with 3 people as attackers and 2 people as defenders using 3 goals. 3 attackers try to put the ball into 1 goal while 2 defenders try to prevent the attackers, but are also required to put the ball into 2 opposing goals. In futsal games, passing, control, and shooting techniques are very important. Therefore, these techniques must be mastered because passing, control, and shooting techniques are basic futsal techniques. Without good passing, control, and shooting skills, the game will not run well. The research design used a purposive sampling approach with a one-group pretest-posttest design. This research was conducted at Fort De Kock University in May-June 2025. The research sample was all UFDK futsal players totaling 15 futsal players. The results of the study of Small Sided Games training on passing and control techniques in futsal players showed that the average score before training was 1.87 with a standard deviation of 0.74, while the average after training was 45.33 with a standard deviation of 5.16 and a value of 0.0001. The results of the study of Small Sided Games training on shooting in futsal players showed that the average score before training was 2.40 with a standard deviation of 10.55, while the average after training was 45.33 with a standard deviation of 5.16 and a value of 0.0001. The conclusion of this study is the effect of 3v2 Small Sided Games on Passing, Control, and Shooting skills in Fort De Kock University Futsal players in 2025.

KTI 2025
Detail
Pengaruh Pemberian Ergo Care Heel Exerci...
Pengaruh Pemberian Ergo Care Heel Exercise Dan Calf Raise Exercise Terhadap Keseimbangan Dinamis Lansia Di Panti Jompo Wisma Cinta Kasih Padang Tahun 2025.

Riri Segita, Mellisyha Siti Nurhalia · 2025 · KTI · Fakultas Ilmu Kesehatan, D3 Fisioterapi

Peningkatan angka harapan hidup menyebabkan jumlah lansia terus bertambah setiap tahunnya, termasuk di Sumatera Barat yang kini memasuki fase ageing population. Lansia mengalami penurunan fungsi fisik dan kognitif, seperti melemahnya otot ekstremitas bawah serta penurunan fungsi proprioseptif dan vestibular, yang berdampak pada gangguan keseimbangan dan risiko jatuh. Di Panti Jompo Wisma Cinta Kasih Padang, tercatat 30,88% lansia mengalami gangguan keseimbangan. Tujuan Penelitian: Untuk mengetahui pengaruh latihan Ergo Care Heel Exercise dan Calf Raise Exercise terhadap keseimbangan dinamis lansia. Metode Penelitian: Metode yang digunakan adalah kuantitatif eksperimen dengan desain one group pretest-posttest. Instrumen pengukuran menggunakan Time Up and Go Test pada 10 responden. Hasil: menunjukkan peningkatan keseimbangan dinamis dengan rata-rata sebelum intervensi 22,47 dan sesudah intervensi 22,0690, serta terdapat perbedaan signifikan dengan nilai p = 0,005 (p < 0,05). Meskipun peningkatan masih berada dalam kategori risiko jatuh sedang, terdapat perbaikan skor rata-rata keseimbangan. Kesimpulan: Pemberian Ergo Care Heel Exercise dan Calf Raise Exercise berpengaruh terhadap peningkatan keseimbangan dinamis lansia di Panti Jompo Wisma Cinta Kasih Padang tahun 2025. Abstract (EN): The increase in life expectancy has led to a growing elderly population each year, including in West Sumatra, which is now entering the ageing population phase. Elderly individuals experience declines in both physical and cognitive function, such as weakening of the lower extremity muscles and decreased proprioceptive and vestibular function, which impact balance and increase the risk of falling. At Wisma Cinta Kasih Nursing Home in Padang, 30.88% of the elderly were recorded as experiencing balance disorders. Objective: To determine the effect of Ergo Care Heel Exercise and Calf Raise Exercise on dynamic balance in the elderly. Method: This research used a quantitative experimental method with a one-group pretest-posttest design. The Time Up and Go Test was used to measure dynamic balance in 10 respondents. Results: There was an improvement in dynamic balance, with the average score before intervention being 22.47 seconds and after intervention 22.0690 seconds. A significant difference was found with a p-value of 0.005 (p < 0.05). Although the improvement still falls within the moderate fall risk category, there was a notable improvement in average balance scores. Conclusion: The administration of Ergo Care Heel Exercise and Calf Raise Exercise positively affects dynamic balance improvement in the elderly at Wisma Cinta Kasih Nursing Home, Padang, in 2025.

KTI 2025
Detail
Pengaruh Senam Rhytmic Auditory Stimulat...
Pengaruh Senam Rhytmic Auditory Stimulation Terhadap Keseimbangan Berjalan Lansia Di Posyandu Sayang Bunda Kelurahan Manggis Ganting Tahun 2025

Evi Hasnita, Syafira Lestari · 2025 · KTI · Fakultas Ilmu Kesehatan, D3 Fisioterapi

Latar Belakang : Lansia merupakan kelompok umur yang paling berisiko mengalami gangguan keseimbangan postural dan kesulitan dalam memepertahankan keseimbangan tubuh. Tujuan Penelitian : Bertujuan untuk mengetahui pengaruh senam rhytmic auditory stimulation terhadap keseimbangan berjalan pada lansia di Posyandu lansia Sayang Bunda Kelurahan Manggis Ganting Bukittingi. Metode Penelitian : desain penelitian yang digunakan pada Quasi Experiment dengan pendekatan one group pretest and posttest `dengan sampel 15 orang lansia. Penelitian dilakukan selama 4 minggu. Teknik pengambilan sampel dengan metode purposive sampling, yaitu sesuai dengan kriteria ìnklusi dan eksklusi. Hasil : rata-rata keseimbangan berjalan lansia setelah diberikan senam rhytmic auditory stimulation yaitu 25,9387 dan setelah diberikan senam rhytmic auditory stimulation yaitu 24.0840 dengan nilai P=0,000 artinya adanya pengaruh senam rhytmic auditory stimulation terhadap keseimbangan berjalan lansia Kesimpulan :terdapat pengaruh pemberian senam rhytmic auditory stimulation terhadap keseimbangan berjalan lansia Abstract (EN): Background: The elderly are the age group most at risk of experiencing postural balance disorders and difficulties in maintaining body balance. Research Objective: This study aims to determine the effect of rhythmic auditory stimulation (RAS) exercise on walking balance in the elderly at the Sayang Bunda Elderly Posyandu, Manggis Ganting, Bukittinggi. Research Method: The study used a quasi-experimental design with a one group pretest-posttest approach involving 15 elderly participants. The intervention was conducted over four weeks. Sampling was done using purposive sampling, based on specific inclusion and exclusion criteria. Results: The average walking balance score before the rhythmic auditory stimulation exercise was 25.9387, and after the intervention, it improved to 24.0840, with a p-value of 0.000, indicating a significant effect of the rhythmic auditory stimulation exercise on walking balance in the elderly. Conclusion: There is a significant effect of rhythmic auditory stimulation exercise on improving walking balance in elderly individuals.

KTI 2025
Detail
Pengaruh Pemberian Pursed Lips Breathing...
Pengaruh Pemberian Pursed Lips Breathing dan Breathing Exercise untuk meningkatkan ekspansi thoraks pada perokok aktif dikalangan tukang ojek Pokanobektah nagari Tabek Patah Tahun 2025

Stevan Delvianto, Andra Bas Panuturi · 2025 · KTI · Fakultas Ilmu Kesehatan, D3 Fisioterapi

Merokok merupakan tindakan membakar rokok, kemudian menghisap dan menghembuskannya keluar sehingga menimbulkan asap yang dapat terhisap oleh orang-orang di sekitarnya, sehingga berpotensi membahayakan kesehatan mereka. Tujuan untuk mengetahui Pengaruh Pemberian Pursed Lips Breathing dan Breathing Exercise untuk meningkatkan ekspansi thoraks pada perokok aktif dikalangan tukang ojek Pokanobektah nagari Tabek Patah Tahun 2025. Jenis penelitian ini adalah kuantitatif menggunakan desain penelitian quasi eksperiment. Pengumpulan sampel menggunakan metode purpossive sampling dengan populasi 20 orang dan jumlah responden yang digunakan sebanyak 10 orang yang diberikan Pursed Lips Breathing dan Breathing Exercise sebanyak 12 kali perlakuan. Hasil penelitian dari pemberian pursed lips breathing dan breathing exercise dengan nilai P = 0,000 artinya terdapat pengaruh Pursed Lips Breathing dan Breathing Exercise untuk meningkatkan ekspansi thoraks pada perokok aktif dikalangan tukang ojek Pokanobektah nagari Tabek Patah. Kesimpulan dan saran : Diharapkan responden mengetahui manfaat pursed lips breathing dan breathing exercise untuk mengingkatkan ekspansi thoraks. Abstract (EN): Smoking is the act of burning a cigarette, then inhaling and exhaling the smoke, which produces secondhand smoke that can be inhaled by people nearby, thus potentially endangering their health. This study aims to determine the effect of Pursed Lips Breathing and Breathing Exercises on increasing thoracic expansion in active smokers among motorcycle taxi drivers in Pokanobektah, Tabek Patah Village, in 2025. This is a quantitative study using a quasi-experimental design. Samples were collected using purposive sampling, with a population of 20 people, and 10 respondents were selected to receive Pursed Lips Breathing and Breathing Exercises 12 times in total. The research results showed a p-value of 0.000, indicating that there is a significant effect of Pursed Lips Breathing and Breathing Exercises on increasing thoracic expansion in active smokers among motorcycle taxi drivers in Pokanobektah, Tabek Patah Village. Conclusion and suggestion: It is expected that respondents will understand the benefits of Pursed Lips Breathing and Breathing Exercises for improving thoracic expansion.

KTI 2025
Detail
Pengaruh Pemberian Ischemic Compression...
Pengaruh Pemberian Ischemic Compression dan Stretching pada Kasus Myofascial pada Upper Trapezius di Pasar Aur Bukittinggi Tahun 2025.

Erit Rovendra, Luthfi El Hadi · 2025 · KTI · Fakultas Ilmu Kesehatan, D3 Fisioterapi

Myofascial Pain Syndrome (MPS) merupakan gangguan muskuloskeletal yang umum, dengan prevalensi global 14–71%, menyebabkan disabilitas signifikan, termasuk 33,6 juta kasus pada 2010. Di Indonesia, prevalensi MPS mencapai 40–54%, terutama pada otot upper trapezius, yang rentan terhadap aktivitas fisik berulang dan beban berat. Pekerja porter di Pasar Aur, Bukittinggi, menghadapi risiko tinggi MPS akibat overuse otot saat mengangkat dan membawa barang berat tanpa pemanasan atau peregangan yang memadai. Observasi awal menunjukkan nyeri leher dominan pada area upper trapezius, terutama akibat posisi beban yang tidak seimbang di pundak. Intervensi fisioterapi berupa ischemic compression dan stretching telah terbukti efektif mengurangi nyeri, meningkatkan fleksibilitas, dan memperbaiki fungsi otot. Ischemic compression memberikan tekanan langsung pada trigger point untuk mengurangi ketegangan dan sensitivitas nyeri, sedangkan stretching mempertahankan kelenturan otot dan memperbaiki postur, sehingga menurunkan risiko kekambuhan nyeri. Kombinasi kedua teknik menunjukkan efek sinergis yang lebih optimal dibandingkan terapi tunggal. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi pengaruh kombinasi ischemic compression dan stretching terhadap MPS pada otot upper trapezius porter di Pasar Aur, Bukittinggi. Hasil diharapkan memberikan dasar ilmiah untuk intervensi fisioterapi yang efektif, sekaligus menjadi acuan pengembangan program kesehatan kerja preventif bagi pekerja fisik. Dengan demikian, pendekatan ini tidak hanya meringankan nyeri, tetapi juga mendukung produktivitas dan kesehatan pekerja yang rentan terhadap gangguan muskuloskeletal. Abstract (EN): Myofascial Pain Syndrome (MPS) is a common musculoskeletal disorder, with a global prevalence of 14-71%, causing significant disability, including 33.6 million cases in 2010. In Indonesia, the prevalence of MPS reaches 40-54%, especially in the upper trapezius muscle, which is prone to repetitive physical activity and heavy loads. Porter workers in Aur Market, Bukittinggi, face a high risk of MPS due to muscle overuse when lifting and carrying heavy goods without adequate warm-up or stretching. Initial observation showed neck pain predominantly in the upper trapezius area, mainly due to the unbalanced position of the load on the shoulders. Ischemic compression provides direct pressure on trigger points to reduce tension and pain sensitivity, while stretching maintains muscle flexibility and improves posture, thus reducing the risk of pain recurrence. This study aims to evaluate the effect of a combination of ischemic compression and stretching on MPS in the upper trapezius muscle of porters in Pasar Aur, Bukittinggi. The results showed that the average pain before intervention was 1.80 (SD=0.789) and after intervention it increased to 0.30 (SD=0.483) with a p-value of 0.004 (p

KTI 2025
Detail
Pengaruh Pemberian Vestibular Stimulatio...
Pengaruh Pemberian Vestibular Stimulation Exercise Untuk Meningkatkan Keseimbangan Dinamis Pada Anak Down Syndrome Di SLB Bukittinggi

Riri Segita, Shandrina Putri · 2025 · KTI · Fakultas Ilmu Kesehatan, D3 Fisioterapi

berdampak pada retardasi mental. Retardasi mental merupakan masalah dunia dengan implikasi yang besar terutama bagi negara berkembang. Tujuan Penelitian: bertujuan untuk mengetahui Pengaruh Pemberian Latihan Vestibular Stimulasi Untuk Meningkatkan Keseimbangan Dinamis Pada Anak Down Syndrome di SLB Bukittinggi. Metode Penelitian:Desain penelitian yang digunakan pada Quasi Experiment dengan pendekatan one group pretest and postest dengan sampel sebanyak 9 orang. Penelitian dilakukan selama 4 minggu. Teknik pengambilan sampel dengan metode purposive sampling, yaitu sesuai dengan kriteria inklusi dan ekslusi. Hasil: Menunjukkan bahwa rata rata Keseimbangan dinamis setelah diberikan Vestibular Stimulation yaitu 3.9378. Kesimpulan: Tidak terdapat pengaruh Pemberian Vestibular Stimulation Exercise terhadap keseimbangan dinamis pada anak Down syndrome di mana terjadi peningkatan rata-rata skor keseimbangan dinamis tetapi tidak signifikan setelah 12 kali intervensi. Abstract (EN): Background: Down syndrome is a chromosomal disorder that results in mental retardation. Mental retardation is a global issue with significant implications, especially for developing countries. Objective: This study aims to determine the effect of Vestibular Stimulation Exercise on improving dynamic balance in children with Down syndrome at SLB (Special Needs School) Bukittinggi. Methods: The study used a quasi-experimental design with a one-group pretest- posttest approach, involving a sample of 9 participants. The intervention was carried out over 4 weeks, with participants selected through purposive sampling, based on inclusion and exclusion criteria. Results: The average dynamic balance score after the vestibular stimulation intervention was 3.9378. Conclusion: Although there was an increase in the average dynamic balance score after 12 sessions of vestibular stimulation, the change was not statistically significant. Therefore, it was concluded that Vestibular Stimulation Exercise did not have a significant effect on improving dynamic balance in children with Down syndrome at SLB Bukittinggi.

KTI 2025
Detail
Efektivitas Sensory Integrasi dan Vestib...
Efektivitas Sensory Integrasi dan Vestibular Stimulation Exercise Terhadap Peningkatan Kemampuan Motorik Halus Anak Usia 6-11 Tahun Di SLB Al- Ikhlas Bukittinggi Tahun 2025

Yelva Febriani, Sandra Andam Dewi · 2025 · KTI · Fakultas Ilmu Kesehatan, D3 Fisioterapi

Autisme merupakan gangguan perkembangan neurobiologis kompleks yang didiagnosis mulai muncul sejak usia dibawah tiga tahun.GangguankemampuanMotorikHalusAutismemenunjukankekurangan yangditandai murid masihmengalamikesulitansepertikekakuan pada pergelangantangan,menggerakkanjari-jaritangan dan kurangnyakoordinasimatadengantangan.TujuanuntukmengetahuiEfektivitas Sensory Integrasi dan Vestibular Stimulation Exercise Terhadap Peningkatan Kemampuan Motorik Halus Anak Usia 6-11 Tahun Di SLB Al-Ikhlas Bukittinggi Tahun 2025. Jenispenelitianiniadalahquasi eksperimentdengan teknik pengambilan sampel purposive sampling serta menggunakan rancangan penelitian Two group pretest and posttest. Sampel yang digunakan ini dibagi menjadi 2 kelompok perlakuan. Kelompok pertama diberikan Sensory Integration Exercise dan kelompok kedua diberikan Vestibular Stimulation Exercise. Penelitian ini dilakukan sebanyak 12 kali pertemuan. Alat ukur yang digunanakan adalah KPSP. Hasilpenelitianmenunjukkanbahwa rata-rata motorik halus sebelum diberikan Sensory Integrasi adalah 6,20 dan rata-rata motorik sesudah diberikan Sensory Integrasi adalah 9,10, sedangkan rata-rata motorik halus sebelum diberikan Vestibular Stimulation adalah 6,70 dan rata-rata motorik halus sesudadh diberikan Vestibular Stimulation 8,90 dengannilai P=0,043artinyaterdapatEfektivitas Sensory Integrasi dan Vestibular Stimulation Exercise Terhadap Peningkatan Kemampuan Motorik Halus Anak Usia 6-11 Tahun.Kesimpulan dan saran : Diharapkananak Autis dapat melakukanlatihandenganmandiri. Abstract (EN): Autism is a complex neurobiological developmental disorder that typically begins to manifest before the age of three. Fine motor skill impairments in children with autism are characterized by difficulties such as wrist stiffness, limited finger movement, and poor hand-eye coordination.Objective: This study aims to determine the effectiveness of Sensory Integration and Vestibular Stimulation Exercises in improving fine motor skills in children aged 6–11 years at SLB Al-Ikhlas Bukittinggi in 2025.Method: The research used a quasi-experimental design with purposive sampling, applying a two-group pretest and posttest model. The sample was divided into two treatment groups:Group 1 received Sensory Integration ExercisesGroup 2 received Vestibular Stimulation ExercisesEach intervention was conducted over 12 sessions. The measurement tool used was KPSP (Kuesioner Pra Skrining Perkembangan / Pre-Screening Development Questionnaire).Results:The average fine motor score before Sensory Integration was 6.20, and after the intervention was 9.10.The average fine motor score before Vestibular Stimulation was 6.70, and after was 8.90.Statistical analysis yielded a p-value of 0.043, indicating a significant effect of both interventions on improving fine motor skills in children.Conclusion and Recommendation: Sensory Integration and Vestibular Stimulation Exercises are effective in enhancing fine motor development in autistic children aged 6–11. It is recommended that children with autism be encouraged and guided to practice these exercises independently.

KTI 2025
Detail
Pengaruh Pemberian Infrared dan Visual C...
Pengaruh Pemberian Infrared dan Visual Cue Training Terhadap Kemampuan Berjalan Pasien Posstroke Nonhemoragic di Rumah Sakit Otak DR. Drs. Muhammad Hatta Bukittinggi Tahun 2025

Silvia, Riva Silvfa · 2025 · KTI · Fakultas Ilmu Kesehatan, D3 Fisioterapi

Latar Belakang : Stroke adalah kondisi dimana suplai darah ke otak terganggu, yang mengakibatkan kekurangan oksigen, dan kerusakan otak. Stroke dapat disebabkan oleh gumpalan di arteri yang memasok darah ke otak, keadaan ini yang dikenal sebagai iskemia. Tujuan : untuk mengetahui pengaruh terhadap kemampuan berjalan pasien poststroke nonhemoragic di Rumah Sakit Otak DR. Dra Muhammad Hatta Bukittinggi tahun 2025. Metode Penelitian : Desain Penelilian ini adalah Quasi eksperimental dengan rancangan one group pretest-posttest. Penelitian ini dilakukan pada Desember tahun 2025 dengan frekuensi pemberian sebanyak 3 kali dalam seminggu selama 4 minggu. Populasi dalam penelitian ini 10 orang Di Rumah Sakit Otak DR. Dra. Muhammad Hatta Bukittinggi. Sampel penelitian sebanyak 10 orang yang diteliti secara purposive sampling. Instrumen penelitian menggunakan Dinamic Gait Index. Analisa statis dilakukan iju T. Hasil penelitian : Rata rata kemampuan berjalan sebelum pemberian intervensi adalah 20,80 dengan standard deviasi 0,789. Rata rata kemampuan berjalan sesudah pemberian intervensi adalah 20,80 dengan nilai p = 0,025 (< 0,05) artinya terdapat pengaruh terhadap kemampuan berjalan pasien postsrokenonhemoragic. Kesimpulan dan Saran : Adanya pengaruh pemberian Infrared dan Visual cue Training terhadap kemampuan berjalan pasien posstroke nonhemoragic di Rumah Sakit Otak Dr.Dra Muhammad Hatta Bukittinggi. Peneliti selanjutnya dapat membandingkan efektivitas infrared dan visual cue training dengan metode terapi lainnya untuk mengetahui kombinasi intervensi terbaik bagi pasien poststroke. Abstract (EN): Background: Stroke is a condition where the blood supply to the brain is disrupted, resulting in a lack of oxygen and brain damage. Stroke can be caused by a clot in the arteries that supply blood to the brain, a condition known as ischemia. Objective : providing infrared therapy and visual cue training is to determine their effect on the walking ability of non-hemorrhagic post-stroke patients at DR. Dra Muhammad Hatta Brain Hospital in Bukittinggi in the year 2025. Research Method: The design of this study is quasi-experimental with a one-group pretest-posttest design. The study will be conducted in December 2025 with a therapy frequency of three times per week for four weeks. The population in this study consists of 10 individuals at DR. Dra Muhammad Hatta Brain Hospital in Bukittinggi. The sample includes 10 participants selected through purposive sampling. The research instrument used is the Dynamic Gait Index. Statistical analysis was conducted using the T-test. Research Results: The average walking ability before the administration of intervension was 20.80 The average walking ability after the administration of intervension 20.80.The T-test showed that the pretest value had a p-value (sig) = 0.025 (< 0.05), and the posttest data had a p-value = 0.025 (< 0.05). Conclusion and Recommendation: There is an effect of infrared and visual cue training on the walking ability of non-hemorrhagic post-stroke patients at DR. Dra Muhammad Hatta Brain Hospital in Bukittinggi. Future researchers are encouraged to compare the effectiveness of infrared and visual cue training with other therapy methods to determine the best combination of interventions for post-stroke patients.

KTI 2025
Detail