Logo Repository App UFDK Repository UFDK Universitas Fort De Kock

Daftar Repository

8825 dokumen ditemukan

Reset
Pengaruh kombinasi i infusa daun afrika...
Pengaruh kombinasi i infusa daun afrika (Vernonia Amygdalina Delile) dengan glimepiride sebagai antidiabetes pada tikus putih jantan

Sri Gusriyani, Nauly Melfan Suryanita · 2025 · Skripsi · Fakultas Ilmu Kesehatan, S1 Farmasi

Daun afrika (Vernonia amygdalina Delile) merupakan salah satu tanaman herbal yang banyak digunakan secara tradisional oleh masyarakat untuk menurunkan kadar gula darah. Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh kombinasi infusa daun afrika dengan glimepiride terhadap penurunan kadar gula darah pada tikus putih jantan. Metode penelitian ini adalah experimental pre-test and post-test control group design. Kadar gula darah hewan uji dinaikkan dengan aloksan selama 7 hari dengan dosis 150 mg/kgBB. Sediaan infusa daun afrika dan glimepiride diberikan secara oral selama 30 hari dengan dosis infusa daun afrika 300 mg/ 200 gramBB dan dosis glimepiride 0,036mg/200gramBB. Berdasarkan hasil penelitian infusa positif mengandung senyawa alkaloid, flavonoid, tannin, dan saponin yang berperan dalam penurunan kadar gula darah. Data hasil penelitian dianalisis dengan uji statistic One Way Anova diperoleh hasil bahwa terdapat perbedaan yang signifikan (P Abstract (EN): African leaves (Vernonia amygdalina Delile) are a commonly used traditional herbal remedy for lowering blood sugar levels. This study aimed to examine the effect of combining African leaf infusion with glimepiride on blood glucose reduction in male white rats. The research method used was an experimental pre- test and post-test control group design. The blood glucose levels of the test animals were elevated using alloxan at a dose of 150 mg/kgBW for seven days. The African leaf infusion and glimepiride preparations were administered orally for 30 days with a dose of 300 mg/200 gBW for the infusion and 0.036 mg/200 gBW for glimepiride. The phytochemical test results confirmed the presence of alkaloids, flavonoids, tannins, and saponins in the infusion, which play a role in lowering blood glucose levels. The data were statistically analyzed using the One- Way ANOVA test, showing a significant difference (P

Skripsi 2025
Detail
Uji Toksisitas Akut Fraksi Etil Asetat B...
Uji Toksisitas Akut Fraksi Etil Asetat Biji Kopi Robusta (coffea canephora) Dan Histopatologi Hepar Pada Mencit Putih Jantan

Miming Andika, Natasya Febrian Adha · 2025 · Skripsi · Fakultas Ilmu Kesehatan, S1 Farmasi

Biji kopi robusta (Coffea canephora.) digunakan sebagai alternatif dalam mengobati penyakit karena memiliki efek sebagai antioksidan, antiinflamasi, dan antidiabetes hingga menurukan risiko kanker.Uji keamanan terhadap obat herbal dilakukan untuk mengetahui dosis aman untuk dikonsumsi Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi toksisitas akut fraksi etil asetat biji kopi robusta (Coffea canephora) berdasarkan jumlah kematian LD50 dengan metode Thomsone weil , batas keamanan dosis dan pengaruhnya terhadap histopatologi hepar pada mencit putih jantan (Mus musculus). Sebanyak 25 ekor mencit jantan dibagi ke dalam 5 kelompok diberikan fraksi etil asetat secara oral dengan dosis bertingkat sesuai metode Thompson dan Weil, yaitu 0 (kontrol), 4 mg/kgBB, 40 mg/kgBB, 400 mg/kgBB, dan 4000 mg/kgBB. dilakukan selama 14 hari untuk mengamati gejala klinis dan kematian. Hasil penelitian menunjukkan tidak adanya kematian pada seluruh kelompok uji, sehingga nilai LD50 fraksi etil asetat biji kopi robusta 4000 mg/kgBB dan tergolong dalam kategori tidak toksik secara akut, pada perubahan berat badan menunjukan hasil analisis >0,05 menunjukan tidak adanya perbedaan signifikan antar kelompok perlakuan dan kontrol negatif.Namun, hasil analisis histopatologi hati menunjukkan adanya kerusakan jaringan. Pada dosis 40 mg/kgBB ditemukan kerusakan minimal. Sedangkan pada dosis 400 mg/kgBB dan dosis 4000 mg/kgBB ditemukan kerusakan hepar sedang hingga berat.dapat disimpulkan bahwa fraksi etil asetat bersifat tidak toksik secara akut namun, konsumsi dalam dosis tinggi dapat menyebabkan kerusakan hati yang signifikan.

Skripsi 2025
Detail
Analisis kejadian Drug Related Problems...
Analisis kejadian Drug Related Problems (DRPs) terhadap keberhasilan terapi pasien gagal ginjal kronik dengan komorbid di rumah sakit Achmad Mochtar Bukittinggi tahun 2023.

Nurhayati, Amanda Lubis · 2025 · Skripsi · Fakultas Ilmu Kesehatan, S1 Farmasi

Drug Related Problems (DRPs) dapat di defenisikan sebagai suatu kondisi terkait dengan terapi obat yang secara potensial mengganggu hasil klinis kesehatan yang diinginkan. Gagal ginjal Adalah gangguan fungsi ginjal yang menyebabkan proses penyaringan darah tidak berjalan sebagaimana mestinya. Kondisi ini mengakibatkan penumpukan limbah, cairan, dan elektrolit dalam tubuh. Gagal ginjal bisa terjadi secara tiba-tiba (akut) atau berkembang secara bertahap (kronis). Kegagalan terapi adalah keadaan dimana tidak tercapainya efek terapi yang diinginkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh DRPs terhadap keberhasilan terapi gagal ginjal kronik pada pasien rawat jalan di RSAM Bukittinggi tahun 2023. Jenis penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif dengan desain analitik menggunakan uji chi-square. Data dikumpulkan melalui rekam medis dan lembar resep. Populasi penelitian sebanyak 10.270 pasien, dengan sampel 100 responden yang dipilih menggunakan metode simple random sampling berdasarkan rumus Slovin. Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar responden berjenis kelamin laki-laki (51%), berusia lansia akhir (36%), berpendidikan rendah (55%), dan bekerja (62%). Identifikasi DRPs menunjukkan tidak ada indikasi yang tidak diobati (74%), tidak ada pemilihan obat yang tidak tepat (84%), dosis subterapeutik (93%), tidak ada overdosis (87%), interaksi obat (74%), serta tidak ada obat tanpa indikasi (85%). Keberhasilan terapi tercapai pada 67% pasien. Hasil uji statistik menunjukkan tidak terdapat hubungan bermakna antara, indikasi yang tidak di obati (p=0,175) pemilihan obat yang tidak tepat (p=0,871), dosis subterapeutik (p=0,321), overdosis (p=0,250) maupun interaksi obat (p=0,839) dengan keberhasilan terapi. Namun, terdapat hubungan signifikan antara penggunaan obat tanpa indikasi dengan keberhasilan terapi (p=0,746; OR=4,95). Abstract (EN): Drug Related Problems (DRPs) are conditions associated with drug therapy that can potentially interfere with the achievement of desired clinical outcomes. Kidney failure is a disorder in kidney function that causes the blood filtration process to not work properly, resulting in the accumulation of waste, fluids, and electrolytes in the body. Kidney failure may occur suddenly (acute) or develop gradually (chronic). Therapeutic failure refers to the condition in which the desired therapeutic effect is not achieved. This study aimed to determine the effect of DRPs on the therapeutic success of chronic kidney disease (CKD) patients with comorbidities in the outpatient department of Achmad Mochtar Hospital Bukittinggi in 2023. This research was a descriptive quantitative study with an analytic design using the chi-square test. Data were collected from medical records and prescription sheets. The study population consisted of 10,270 patients, and a total of 100 respondents were selected using the simple random sampling method based on the Slovin formula. The results showed that most respondents were male (51%), in the late elderly age group (36%), had a low educational background (55%), and were employed (62%). Identification of DRPs revealed no untreated indications (74%), no inappropriate drug selection (84%), subtherapeutic dosing (93%), no overdose (87%), drug interactions (74%), and no unnecessary drug use (85%). Therapeutic success was achieved in 67% of patients. Statistical analysis showed no significant relationship between untreated indications (p=0.175), inappropriate drug selection (p=0.871), subtherapeutic dose (p=0.321), overdose (p=0.250), or drug interactions (p=0.839) and therapeutic success. However, there was a significant relationship between unnecessary drug use and therapeutic success (p=0.046; OR=4.95).

Skripsi 2025
Detail
Uji Efektivitas Antibakteri Ekstrak dan...
Uji Efektivitas Antibakteri Ekstrak dan Fraksi Metanol, N-Heksan dan Etil Asetatdaun Kirinyuh (Chromolaena Odorata L.) Terhadap Staphylococus Aureus.

Evi Hasnita, Alisya · 2025 · Skripsi · Fakultas Ilmu Kesehatan, S1 Farmasi

Infeksi oleh bakteri Staphylococcus aureus merupakan salah satu masalah kesehatan yang umum dan dapat menyebabkan resistensi terhadap antibiotik konvensional, seperti klindamisin. Tanaman daun kerinyuh (Chromolaena odorata L.) dikenal mengandung senyawa metabolit sekunder seperti alkaloid, flavonoid, saponin, tanin, dan triterpenoid yang berpotensi sebagai antibakteri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antibakteri dari ektrak metanol dan fraksi metanol, n-heksan, dan etil asetat daun kerinyuh terhadap pertumbuhan Staphylococcus aureus. Ekstraksi dilakukan dengan metode maserasi, kemudian dilanjutkan dengan fraksinasi menggunakan metode ekstraksi cair-cair. Uji aktivitas antibakteri dilakukan menggunakan metode difusi cakram dengan konsentrasi 7,5%, 15%, dan 30%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak dan ketiga fraksi menunjukkan aktivitas antibakteri dengan zona hambat bervariasi. ekstrak metanol 30% menunjukkan zona hambat terbesar dengan rata- rata 12,95 mm, sementara kontrol positif (klindamisin 0,6%) menghasilkan zona hambat sebesar 29,05 mm. Berdasarkan kategori, aktivitas antibakteri ekstrak dan fraksi daun kerinyuh termasuk dalam kategori sedang. Hasil skrining fitokimia menunjukkan adanya senyawa aktif utama pada ekstrak metanol dan fraksi metanol dan etil asetat yang berperan sebagai antibakteri. Penelitian ini membuktikan bahwa daun kerinyuh memiliki potensi sebagai sumber antibakteri alami alternatif terhadap Staphylococcus aureus. Abstract (EN): Infection by Staphylococcus aureus bacteria is a common health problem that can cause resistance to conventional antibiotics, such as clindamycin. The kerinyuh plant (Chromolaena odorata L.) is known to contain secondary metabolites such as alkaloids, flavonoids, saponins, tannins, and triterpenoids that have potential antibacterial properties. This study aims to determine the antibacterial activity of methanol extracts and methanol, n-hexane, and ethyl acetate fractions of Chromolaena odorata L. leaves against the growth of Staphylococcus aureus. Extraction was performed using the maceration method, followed by fractionation using the liquid-liquid extraction method. The antibacterial activity test was conducted using the disk diffusion method at concentrations of 7.5%, 15%, and 30%. The results showed that the extract and the three fractions exhibited antibacterial activity with varying inhibition zones. The 30% methanol extract showed the largest inhibition zone with an average of 12.95 mm, while the positive control (0.6% clindamycin) produced an inhibition zone of 29.05 mm. Based on the category, the antibacterial activity of the extract and fractions of kerinyuh leaves falls into the moderate category. Phytochemical screening results indicated the presence of primary active compounds in the methanol extract and methanol and ethyl acetate fractions that act as antibacterial agents. This study demonstrates that kerinyuh leaves have potential as an alternative natural antibacterial source against Staphylococcus aureus.

Skripsi 2025
Detail
Analisis Quersetin Menggunakan LC-MS dan...
Analisis Quersetin Menggunakan LC-MS dan Penetapan Kadar Flavonoid Total Ekstrak Daun Sirih Merah (Piper crocatum Ruiz And Pav) Menggunakan Spektrofotometri UV-Vis.

Oryza Sativa Fitriani, Alian Wulan Sari · 2025 · Skripsi · Fakultas Ilmu Kesehatan, S1 Farmasi

Daun sirih merah (Piper crocatum Ruiz & Pav) telah lama digunakan untuk pengobatan tradisional karena memiliki kandungan metabolit sekunder seperti flavonoid yang dapat digunakan untuk mengobati berbagai macam penyakit. Salah satunya adalah peradangan atau inflamasi. Tujuan penelitian ini untuk menetapkan kadar senyawa flavonoid daun sirih merah untuk melihat kualitas bahan baku obat sebagai inflamasi atau peradangan. Metode kuantitatif yang dilakukan adalah spektrofotometri UV-vis dan LC-MS. Hasil penelitian yang diperoleh dari penetapan kadar flavonoid sebesar 2,9846 % dan dari data LC-MS menunjukkan kuersetin sebesar 1,034 ppm. Maka dapat disimpulkan bahwa kadar flavonoid yang terdapat pada ekstrak daun sirih merah memenuhi standar FHI. Abstract (EN): Red betel leaf (Piper crocatum Ruiz & Pav) has long been used for traditional medicine because it contains secondary metabolites such as flavonoids that can be used to treat various diseases. One of them is inflammation or inflammation. The purpose of this study was to determine the levels of flavonoid compounds of red betel leaf to see the quality of medicinal raw materials as inflammation or inflammation. The quantitative methods used were UV-vis spectrophotometry and LC-MS. The results obtained from the determination of flavonoid levels amounted to 2.9846% and from LC-MS data showed quercetin to 1.034 ppm. So it can be concluded that the flavonoid content contained in red betel leaf extract meets the FHI standard.

Skripsi 2025
Detail
Uji Toksisitas Akut Fraksi Etil Asetat D...
Uji Toksisitas Akut Fraksi Etil Asetat Daun Kelor (Moringa Oleifera Lam) Dan Histopatologi Hepar Pada Mencit Putih Jantan

Miming Andika, Nanda Anchela · 2025 · Skripsi · Fakultas Ilmu Kesehatan, S1 Farmasi

Tanaman daun kelor seperti akar, batang, bunga, buah, biji, dan daunnya dapat dimanfaatkan untuk pengobatan penyakit tertentu. Uji keamanan terhadap obat herbal dilakukan untuk mengetahui dosis aman untuk dikonsumsi Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi toksisitas akut fraksi etil asetat dari daun kelor (Moringa oleifera Lam.) dan dampaknya terhadap histopatologi hepar pada mencit putih jantan (Mus Musculus). Metode yang digunakan adalah eksperimental dengan desain in vivo. Sebanyak 25 ekor mencit dibagi menjadi lima kelompok, perlakuan dan diberikan fraksi etil asetat daun kelor secara oral dengan dosis bertingkat sesuai metode Thomson dan Weil, yaitu 0 (control), 5 , 50, 500, 5000 mg/kgbb. Pengamatan dilakukan terhadap gejala toksisitas, perubahan berat badan, dan analisis histopatologi hepar setelah 14 hari perlakuan. Hasil menunjukkan bahwa fraksi etil asetat daun kelor tidak menyebabkan kematian pada semua dosis, sehingga nilai LD50 fraksi etil asetat daun kelor diperkirakan lebih dari 5000 mg/kgbb dan kategori tidak toksik. Pemberian fraksi ini berpengaruh signifikan terhadap perubahan berat badan mencit , Hasil analisis histopatologi hepar menunjukkan kerusakan minimal pada dosis tertinggi. Penelitian ini menyimpulkan bahwa fraksi etil asetat daun kelor tidak menimbulkan kematian akut , konsumsi dalam dosis tinggi dapat menyebabkan kerusakan hati signifikan. Abstract (EN): Various parts of the moringa plant—such as the roots, stems, flowers, fruits, seeds, and leaves—can be used to treat certain diseases. Safety testing of herbal medicines is essential to determine safe dosage levels for consumption. This study aims to evaluate the acute toxicity of the ethyl acetate fraction of moringa leaves (Moringa oleifera Lam.) and its effects on the liver histopathology of male white mice (Mus musculus). This research used an experimental in vivo design. A total of 25 mice were divided into five groups and given oral doses of the ethyl acetate fraction in a graded manner according to the Thomson and Weil method: 0 (control), 5, 50, 500, and 5000 mg/kg body weight. Observations were made on toxicity symptoms, body weight changes, and liver histopathology after 14 days of treatment. The results showed that the ethyl acetate fraction of moringa leaves did not cause mortality at any dose, indicating an LD50 value greater than 5000 mg/kg body weight, thus classified as non-toxic. However, administration of the fraction had a significant effect on the body weight of the mice. Histopathological analysis of the liver showed minimal damage at the highest dose. This study concludes that while the ethyl acetate fraction of moringa leaves does not cause acute mortality, high-dose consumption may lead to significant liver damage.

Skripsi 2025
Detail
Pembuatan dan Evaluasi Sediaan Handbody...
Pembuatan dan Evaluasi Sediaan Handbody Gel Dari Sari Buah Pepaya (Carica Papaya (L.)) Kombinasi Sari Lidah Buaya (Aloe Vera (L.) Burm.F)

Nola Rahmadasmi, Nailatul Padhila · 2025 · Skripsi · Fakultas Ilmu Kesehatan, S1 Farmasi

menjadi perhatian utama di negara tropis seperti Indonesia. Saat ini masih tergolong sedikit penelitian handbody dalam bentuk gel terlebih pemanfaatan berbahan alam yaitu, kombinasi sari buah pepaya dan lidah buaya dalam kosmetik dan kecantikan. Pengembangan handbody gel berbasis bahan alami, seperti buah pepaya (Carica Papaya (L.)) dan lidah buaya (Aloe Vera (L.) Burm.F) diharapkan memberikan solusi efektif dan aman untuk perawatan kulit terutama melembabkan kulit, memenuhi kebutuhan produk kecantikan yang alami dan terjangkau. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah kombinasi dari sari buah pepaya (Carica Papaya (L.)) dan sari lidah buaya (Aloe Vera (L.) Burm.F)dapat diformulasikan dalam sediaan handbody gel. Metode yang digunakan eksperimental dengan pengujian determinasi, preparasi, ekstraksi, pembuatan handbody gel dan evaluasi mutu fisik, terdapat 13 formulasi, F0 (basis), F1, F2, dan F3 (dengan sari buah pepaya (5%, 10%, 15%), F4, F5 dan F6 (dengan sari lidah buaya 5%, 10%, 15%), serta F7, F8, F9, F10, F11, dan F12 (dengan kombinasi sari buah pepaya dan sari lidah buaya 1:1, 2:1, 1:2, 1:1, 3:1, 1:3). Evaluasi yang dilakukan meliputi uji organoleptis, homogenitas, pH, viskositas, daya sebar, daya lekat, dan pengujian stabilitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketiga belas formulasi yang mengandung zat aktif memiliki karakteristik yang baik pada uji mutu fisik dan menunjukkan tidak adanya pengaruh yang signifikan (P>0,05) pada pengujian stabilitas freeze and thaw. Berdasarkan hasil evaluasi sifat fisik sediaan handbody gel yang memiliki stabilitas yang baik adalah F10 (kombinasi sari buah pepaya 2,5% dan sari lidah buaya 2,5%) menunjukkan selama masa pengujian cenderung stabil. Abstract (EN): Dry skin caused by excessive sun exposure is a major concern in tropical countries like Indonesia. Currently, there is still limited research on gel-based handbody formulations, particularly those utilizing natural ingredients such as the combination of papaya fruit extract and aloe vera for cosmetic and skincare applications. The development of a natural-based handbody gel using papaya (Carica papaya L.) and aloe vera (Aloe vera (L.) Burm.f.) aims to offer a safe and effective skin care solution, especially for moisturizing, while meeting the demand for natural and affordable beauty products. This study aims to determine whether a combination of papaya fruit extract and aloe vera extract can be successfully formulated into a handbody gel preparation. The method used was experimental, involving steps of plant determination, preparation, extraction, formulation, and physical quality evaluation. A total of 13 formulations were created: F0 (base only), F1, F2, F3 (with 5%, 10%, 15% papaya extract), F4, F5, F6 (with 5%, 10%, 15% aloe vera extract), F7–F12 (combinations of papaya and aloe vera extracts at ratios of 1:1, 2:1, 1:2, 1:1, 3:1, and 1:3). The evaluations included organoleptic tests, homogeneity, pH, viscosity, spreadability, adhesion, and stability testing (freeze and thaw cycles). The results showed that all thirteen formulations containing active ingredients exhibited good physical quality and no significant effect (p > 0.05) on stability during freeze and thaw testing. Based on the evaluation of physical characteristics, the formulation that demonstrated the best stability was F10 (combination of 2.5% papaya extract and 2.5% aloe vera extract), which remained consistently stable throughout the testing period

Skripsi 2025
Detail
Pembuatan Dan Evaluasi Sediaan Masker ge...
Pembuatan Dan Evaluasi Sediaan Masker gel Peel Off Sari Buah Pepaya Carica Papaya L. Kombinasi Sari Lidah Buaya Aloe Vera (L) Burm.F.

Nola Rahmadasmi, Abelia Putri · 2025 · Skripsi · Fakultas Ilmu Kesehatan, S1 Farmasi

Penggunaan bahan alami dalam produk kosmetik semakin meningkat seiring dengan kesadaran konsumen terhadap keamanan dan efek samping dari bahan alam. Salah satu bentuk kosmetik yang banyak diminati adalah masker gel peel off, yang penggunaan mudah digunakan.Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi masker gel peel off yang mengandung kombinasi sari buah pepaya Carica papaya L.dan sari lidah buaya Aloe vera (L.) Burm.F sebagai bahan aktif alami.Metode penelitian ini bersifat eksperimental laboratorium dengan pengujian determinasi, preparasi, ekstraksi, pembuatan masker gel peel off dan mutu fisik.terdapat 10 formulasi F0 (Basis) F1, F2,F3 ( dengan sari buah papaya 5%.10%15%) F3, F4,F5 (dengan sari lidah buaya 5%10%15%) Serta F6, F7,F8 dan F9 (dengan kombinasi sari buah papaya dan sari lidah buaya 5:5,10:5,5:10). Mutu fisik sediaan meliputi pengujian organoleptis, homogenitas, pH, viskositas, waktu kering, daya sebar,daya lekat, pengujian stabilitas terdiri dari uji cycling test, penyimpanan suhu ruang, dan uji sentrifugasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kesepuluh formulasi yang mengandung zat aktif tidak berdistribusi normal 0,000 yang menunjukkan perbedaan yang signifikan (p Abstract (EN): The use of natural ingredients in cosmetic products is increasing in line with growing consumer awareness of safety and potential side effects of synthetic substances. One popular cosmetic product is the peel-off gel mask, which is favored for its ease of use. This study aims to evaluate a peel-off gel mask formulation that combines papaya fruit extract (Carica papaya L.) and aloe vera extract (Aloe vera (L.) Burm.f.) as natural active ingredients. This study was conducted through laboratory-based experimental methods, including plant identification, preparation, extraction, formulation, and evaluation of the physical quality of the peel-off gel mask. There were 10 formulations: F0 (base formulation), F1, F2, F3 (with 5%, 10%, and 15% papaya extract), F4, F5, F6 (with 5%, 10%, and 15% aloe vera extract), F7, F8, F9 (with combinations of papaya and aloe vera extract in ratios 5:5, 10:5, and 5:10). The physical quality evaluations included tests for organoleptic properties, homogeneity, pH, viscosity, drying time, spreadability, adhesiveness, and stability tests consisting of cycling test, room temperature storage, and centrifugation test. The results showed that all ten active formulations did not follow a normal distribution (p = 0.000), indicating significant differences (p < 0.05) in the cycling test. Further analysis using the non-parametric Mann-Whitney test showed p = 0.088 (p > 0.05), indicating no significant difference in pH values before and after the cycling test. Similarly, the viscosity test at 4°C and 40°C also showed non-normal distribution (p = 0.000), and the Mann-Whitney test yielded p = 0.429 (p > 0.05), showing no significant change in viscosity before and after the cycling test. Based on the physical quality evaluations, the most stable formulation was F8, which contained 10% papaya extract and 5% aloe vera extract. This formulation demonstrated good stability throughout the testing process.

Skripsi 2025
Detail