Logo Repository App UFDK Repository UFDK Universitas Fort De Kock

Daftar Repository

8825 dokumen ditemukan

Reset
Pengaruh Pemberian Latihan Circuit Train...
Pengaruh Pemberian Latihan Circuit Training Terhadap Daya Ledak Otot Tungkai Bawah Pada Non Atlet Bela Diri Tarung Derajat Kota Bukittinggi

Annisa Adenikheir, Wulan Duri Oktavia · 2025 · KTI · Fakultas Ilmu Kesehatan, D3 Fisioterapi

Latar Belakang : Daya ledak otot adalah kemampuan sebuah otot atau sekelompok otot untuk mengatasi tahanan beban dengan kecepatan tinggi dalam suatu gerakan yang utuh. Tujuan Penelitian : Bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian circuit training terhadap daya ledak otot tungkai bawah pada non atlet bela diri tarung derajat kota Bukittinggi. Metode Penelitian : desain penelitian yang digunakan pada Quasi Experiment dengan pendekatan one group pretest and posttest dengan sampel 11 orang. Penelitian dilakukan selama 4 minggu. Teknik pengambilan sampel dengan metode purposive sampling, yaitu sesuai dengan kriteria ìnklusi dan eksklusi. Hasil : Menunjukan bahwa rata-rata daya ledak otot tungkai bawah non atlet setelah diberikan circuit training yaitu 20.82 Kesimpulan : Ada terdapat pengaruh Pemberian latihan circuit training terhadap daya ledak otot tungkai bawah non atlet bela diri tarung derajat Kota Bukittinggi. Abstract (EN): Background: Explosive muscle power is the ability of a muscle or group of muscles to overcome resistance at high speed in a complete movement. Objective: This study aims to determine the effect of circuit training on the lower limb explosive power of non-athlete Tarung Derajat martial arts practitioners in Bukittinggi City. Methods: This research applied a quasi-experimental design with a one-group pretest-posttest approach. The sample consisted of 11 participants selected through purposive sampling based on inclusion and exclusion criteria. The intervention was carried out over 4 weeks. Results: The results showed that the average lower limb explosive power after circuit training was 20.82. Conclusion: Circuit training has a significant effect on improving lower limb explosive power in non-athlete Tarung Derajat martial arts practitioners in Bukittinggi City.

KTI 2025
Detail
Pengaruh Pemberian Infra Red dan Seated...
Pengaruh Pemberian Infra Red dan Seated Exercion Exercise Terhadap Pengurangan Nyeri Osteoarhtritis Genu di Rumah Sakit Otak Bukittinggi Tahun 2025.

Siti Munawarah, Mutia Amora Zalenda · 2025 · KTI · Fakultas Ilmu Kesehatan, D3 Fisioterapi

Gangguan yang sering terjadi pada lansia yang dapat mempengaruhi aktivitas hidup sehari hari disertai dengan timbulnya berbagai penyakit dan penurunan fungsi tubuh, penyakit degeneratif yang sering terjadi pada proses penuaan salah satunya yaitu Osteoarthritis. Infra Red merupakan jenis terapi menggunakan gelombang elektromagnetik memberikan sinar hangat yang dapat meningkatkan vasodilatasi sehingga memperlancar metabolisme untuk mengurangi nyeri. Seated Exercion Exercise merupakan salah satu latihan yang dilakukan dalam posisi duduk, latihan ini metode yang efektif untuk meningkatkan mobilitas dan mengurangi nyeri pada pasien Osteoarthritis. Tujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian Infra Red dan Seated Exercion Exercise Terhadap Pengurangan Nyeri Osteoarhtritis Genu di Rumah Sakit Otak Bukittinggi Tahun 2025. Jenis penelitian ini adalah kuantitatif menggunakan desain penelitian quasi eksperiment. Pengumpulan sampel menggunakan metode purpossive sampling dengan populasi 407 dan sampel 10 orang yang diberikan Infra Red dan Seated Exercion Exercise selama 4 minggu dengan frekuensi 2 kali dalam seminggu. Nyeri diukur menggunakan Visual Analoge Scale (VAS). Hasil penelitian yaitu ada pengaruh pemberian Infra Red dan Seated Exercion Exercise Terhadap Pengurangan Nyeri Osteoarhtritis Genu di Rumah Sakit Otak Bukittinggi dengan nilai p value = 0,000 < É‘ (0,05). Kesimpulan dan saran : Diharapkan lansia dengan nyeri Osteoarhtritis melakukan latihan dengan sistematis dan berulang.

KTI 2025
Detail
Pengaruh Lower Extremity Strengthening E...
Pengaruh Lower Extremity Strengthening Exercise Terhadap Keseimbangan Dinamis Pada Lansia Di Posyandu Cendrawasih Kota Bukittinggi Tahun 2025

Annisa Adenikheir, Viona Rahmadani · 2025 · KTI · Fakultas Ilmu Kesehatan, D3 Fisioterapi

Latar Belakang Gangguan keseimbangan merupakan penyebab utama masalah kesehatan serius yang dihadapi oleh lansia, karena dapat mengakibatkan meningkatnya ketergantungan, cacat, dan kematian. Tujuan Untuk mengetahui pengaruh Lower Extremity Strengthening exercise Terhadap Keseimbangan Dinamis pada Lansia di Posyandu Cendrawasih di Kota Bukittinggi di Tahun 2025. Jenis penelitian ini adalah kuantitatif menggunakan desain penelitian quasi eksperiment. Pengumpulan sampel menggunakan metode purpossive sampling dengan populasi 72 dan sampel 9 orang diberikan Lower Extremity Strengthening exercise selama 4 minggu sebanyak 12 kali perlakuan. Hasil penelitian dari pemberian Lower Extremity Strengthening exercise menunjukkan bahwa rata-rata keseimbangan dinamis sebelum perlakuan adalah 18,78 dan rata-rata keseimbangan dinamis sesudah perlakuan adalah 9,78 dengan nilai P= 0,000 artinya terdapat pengaruh Lower Extremity Strengthening exercise Terhadap Keseimbangan Dinamis pada Lansia di Posyandu Cendrawasih di Kota Bukittinggi di Tahun 2025. Kesimpulan dan saran Lower Extremity Strengthening exercise dapat meningkatkan keseimbangan dinamis pada lansia. Diharapkan lansia dengan gangguan keseimbangan dinamis melakukan Latihan dengan sistematis dan berulang. Abstract (EN): Background: Balance disorders are a major cause of serious health issues in the elderly, as they can lead to increased dependence, disability, and mortality. Objective: To determine the effect of Lower Extremity Strengthening Exercise on dynamic balance in the elderly at Posyandu Cendrawasih, Bukittinggi City, in 2025. This research is a quantitative study using a quasi-experimental design. The sample was collected using purposive sampling, with a total population of 72 and a sample of 9 elderly participants who were given Lower Extremity Strengthening Exercise over a period of 4 weeks, with a total of 12 sessions. Results: The average dynamic balance score before the intervention was 18.78, and after the intervention, it improved to 9.78, with a p-value of 0.000, indicating a statistically significant effect of the exercise on dynamic balance in the elderly at Posyandu Cendrawasih. Conclusion and Recommendation: Lower Extremity Strengthening Exercise can improve dynamic balance in the elderly. It is recommended that elderly individuals with balance issues engage in systematic and repetitive exercise programs.

KTI 2025
Detail
Pengaruh Pemberian Slow Deep Breathing D...
Pengaruh Pemberian Slow Deep Breathing Dan Deep Tissue Self MassageTherapy Terhadap Penurunan Tekanan Darah Pada Lansia Hipertensi Di Puskesmas Mandiangin Tahun 2025

Nurhayati, Tasya Aldwina Putri · 2025 · KTI · Fakultas Ilmu Kesehatan, D3 Fisioterapi

Hipertensi merupakan suatu keadaan dimana terjadi peningkatan tekanan darah secara abnormal dan terus menerus pada beberapa kali pemeriksaan. Tujuan untuk mengetahui Pengaruh Pemberian Slow Deep Breathing dan Deep Tissue Self Massage Therapy Terhadap Penuruan Tekanan Darah Pada Lansia Hipertensi di Puskesmas Mandiangin Tahun 2025. Jenis penelitian ini adalah kuantitatif menggunakan desain penelitian quasi eksperiment. Pengumpulan sampel menggunakan metode purpossive sampling dengan populasi 317 dan sampel 30 orang dengan 15 sampel sebagai kelompok perlakuan yang diberikan Slow Deep Breathing dan Deep Tissue Self Massage Therapy dan 15 sampel lainnya sebagai kelompok kontrol. Kelompok perlakuan diberikan intervensi sebanyak 12 kali perlakuan. Tekanan darah diukur menggunakan Sphygnomanometer. Hasil penelitian dari pemberian Slow Deep Breathing dan Deep Tissue Self Massage Therapy pada kelompok perlakuan menunjukkan bahwa rata-rata tekanan darah sistolik sebelum perlakuan adalah 146,73 mmHg dan rata-rata diastolik sebelum perlakuan adalah 94,85 mmHg, sedangkan rata-rata tekanan darah sistolik sesudah perlakuan adalah 135,79 mmHg dan rata-rata diastolik sesudah perlakuan 84,94 mmHg dengan nilai P = 0,000 artinya terdapat pengaruh Slow Deep Breathing dan Deep Tissue Self Massage Therapy terhadap penurunan tekanan darah. Kesimpulan dan saran : Diharapkan lansia dengan hipertensi melakukan latihan dengan sistematis dan berulang. Serta lansia juga diharapkan untuk menjalankan pola hidup yang sehat. Abstract (EN): Hypertension is a condition in which there is an abnormal and continuous increase in blood pressure over several examinations. The purpose of this study was to determine the effect of slow deep breathing and deep tissue self-massage therapy on reducing blood pressure in elderly hypertensive patients at the Mandiangin Health Center in 2024. Type of research: This research is a quantitative study using a quasi-experimental design. Sampling was conducted using a purposive sampling method, with a population of 317 and a sample size of 30 people—15 assigned to the treatment group, who received slow deep breathing and deep tissue self-massage therapy, and 15 to the control group. The treatment group received 12 intervention sessions. Blood pressure was measured using a sphygmomanometer. Results: The study showed that in the treatment group, the average systolic blood pressure before the intervention was 146.73 mmHg and the average diastolic pressure was 94.85 mmHg. After the intervention, the average systolic pressure decreased to 135.79 mmHg, and the average diastolic pressure to 84.94 mmHg, with a p-value of 0.000, indicating a significant effect of slow deep breathing and deep tissue self-massage therapy on reducing blood pressure. Conclusions and suggestions: It is expected that elderly hypertensive will practice systematically and repeatedly. As well as elderly hypertensive are also expected to live a healthy lifestyle.

KTI 2025
Detail
Efektivitas Pemberian Latihan Box Jumps...
Efektivitas Pemberian Latihan Box Jumps Dan Interval Lari 30 Meter Terhadap Kecepatan Tendangan”T” Pada Atlet Pencak Silat SMI Bukittinggi Tahun 2025.

Yelva Febriani, Muhammad Fauzan Azzima · 2025 · KTI · Fakultas Ilmu Kesehatan, D3 Fisioterapi

Kecepatan dalam olahraga pencak silat sangat berpengaruh untuk meraih prestasi. Kecepatan mempunyai 3 kelompok, yaitu kecepatan reaksi, kecepatan gerak dan kecepatan antisipasi. Tujuan penelitian : untuk mengetahui Efektivitas Pemberian Latihan Box Jumps Dan Interval Lari 30 Meter Terhadap Kecepatan Tendangan”T” Pada Atlet Pencak Silat SMI Bukittinggi. Metode penelitian : Desain penelitian yang digunakan pada metode quasi experiment dengan pendekatan two group pre dan post test dengan sampel sebanyak 18 orang. Penelitian ini dilakukan selama 3 kali per-minggu. Teknik dalam pengambilan sampel dengan cara purposive sampling, yaitu sesuai dengan kriteria insklusi dan ekslusi. Hasil : penelitian dari pemberian box jumps menunjukkan bahwa rata-rata kecepatan tendangan sebelum intervensi adalah 17.67 dan sesudah intervensi meningkat menjadi 19.44 dengan nilai P= 0,000 artinya terdapat pengaruh terhadap peningkatan kecepatan tendangan “T”. Hasil penelitian pemberian Interval Lari 30 Meter menunjukkan bahwa rata-rata kecepatan tendangan “T” sebelum intervensi adalah 16.89 dan sesudah intervensi meningkat menjadi 20.56 dengan nilai P= 0,000 artinya terdapat pengaruh terhadap peningkatan kecepatan tendangan “T”. Kesimpulan : Disimpulkan terdapat Efektivitas Pemberian Latihan Box Jumps Dan Interval Lari 30 Meter Terhadap Kecepatan Tendangan”T” Pada Atlet Pencak Silat SMI Bukittinggi tahun 2025. Abstract (EN): Speed is a crucial factor in pencak silat performance and plays a significant role in achieving athletic success. Speed is generally divided into three categories: reaction speed, movement speed, and anticipation speed. Objective: This study aimed to determine the effectiveness of box jump training and 30- meter interval running exercises on improving the "T" kick speed of SMI Bukittinggi pencak silat athletes. Method: This research employed a quasi- experimental design with a two-group pretest-posttest approach, involving 18 athletes as samples. The intervention was conducted three times per week, and participants were selected through purposive sampling based on specific inclusion and exclusion criteria. Results: The results from the box jump training group showed that the average "T" kick speed increased from 17.67 before intervention to 19.44 after intervention, with a p-value of 0.000, indicating a significant improvement. In the 30-meter interval running group, the average "T" kick speed increased from 16.89 before intervention to 20.56 after intervention, also with a p- value of 0.000, showing a significant effect on improving kick speed. Conclusion: The study concludes that both box jump training and 30-meter interval running exercises are effective in increasing the "T" kick speed of SMI Bukittinggi pencak silat athletes in 2025.

KTI 2025
Detail
Pengaruh Latihan Pltometric Barrier Hops...
Pengaruh Latihan Pltometric Barrier Hops (PBH) Dan Zig-Zag Untuk Meningkatkan Power Otot Tungkai Bawah Pada Pemain Sepak Bola Amri Fc Di Nagari Batu Taba Tahun 2025.

Annisa Adenikheir, Tarisa Vadelis · 2025 · KTI · Fakultas Ilmu Kesehatan, D3 Fisioterapi

Power otot tungkai bawah merupakan salah satu komponen penting dalam menunjang performa atlet sepak bola, terutama dalam aktivitas seperti menendang, berlari cepat, dan perubahan arah secara mendadak. Meskipun banyak pemain telah menguasai teknik dasar permainan, tetapi belum tentu memiliki power otot yang optimal. Salah satu bentuk latihan yang terbukti efektif dalam meningkatkan kekuatan dan daya ledak otot tungkai adalah Plyometric Barrier Hops (PBH) dan Zig-Zag. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh latihan PBH dan Zig-Zag terhadap peningkatan power otot tungkai bawah pada pemain sepak bola Amri FC di Nagari Batu Taba tahun 2025. Penelitian ini menggunakan desain quasi eksperimen dengan rancangan one group pretest-posttest. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 11 orang pemain sepak bola berusia 16–18 tahun yang dipilih secara purposive sampling. Intervensi dilakukan selama 4 minggu dengan frekuensi tiga kali latihan per minggu. Instrumen pengukuran yang digunakan adalah vertical jump test. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan rata-rata power otot tungkai dari 32,00 cm sebelum intervensi menjadi 36,00 cm setelah intervensi. Hasil uji Wilcoxon menunjukkan nilai signifikansi sebesar p=0,003 (p Abstract (EN): Lower limb muscle power is one of the key components in supporting the performance of football athletes, especially in activities such as kicking, sprinting, and sudden changes in direction. Although many players may have mastered the basic techniques of the game, they do not necessarily possess optimal muscular power. One form of training that has been proven effective in enhancing lower limb strength and explosiveness is Plyometric Barrier Hops (PBH) and Zig-Zag drills. This study aimed to determine the effect of PBH and Zig-Zag training on increasing lower limb muscle power in Amri FC football players in Nagari Batu Taba in 2025. This research used a quasi-experimental design with a one-group pretest-posttest approach. The sample consisted of 11 football players aged 16–18 years, selected through purposive sampling. The intervention lasted for four weeks, with a training frequency of three sessions per week. The measurement instrument used was the vertical jump test. The results showed an increase in the average lower limb power from 32.00 cm before the intervention to 36.00 cm after the intervention. The Wilcoxon test revealed a significance value of p = 0.003 (p < 0.05), indicating that PBH and Zig-Zag training had a statistically significant effect on lower limb power. In conclusion, plyometric barrier hops and zig-zag drills can significantly improve lower limb muscle power. This type of training can serve as an effective alternative method in physical training programs to support the performance of football players.

KTI 2025
Detail
Hubungan Pengetahuan,Sikap Dan Beban Tas...
Hubungan Pengetahuan,Sikap Dan Beban Tas Ransel Siswa Terhadap Kejadian Scoliosis Di SD Negeri 02 Percontohan Kota Bukittinggi.

Irhas Syah, Miftahul jannah · 2025 · KTI · Fakultas Ilmu Kesehatan, D3 Fisioterapi

Seiring berkembangnya dunia pendidikan, siswa dituntut untuk lebih aktif dalam kegiatan belajar mengajar. Hal ini membuat siswa harus membawa banyak perlengkapan seperti buku, alat tulis, bekal, dan perlengkapan lainnya setiap hari. Akibatnya, tas menjadi sangat berat dan dapat meningkatkan risiko gangguan tulang belakang seperti skoliosis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pengetahuan dan sikap siswa terhadap kejadian scoliosis di SD Negeri 02 Percontohan Kota Bukittinggi. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain cross-sectional dan dilaksanakan pada bulan Mei 2025, melibatkan 72 siswa yang dipilih melalui teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner dan dianalisis secara univariat serta bivariat. Hasil penelitian diperoleh 54,2% siswa memiliki pengetahuan rendah, 52,8% memiliki sikap yang negatif, 51,4% membawa beban tas ransel yang tidak beresiko, namun 87,5% kategori normal (tidak scoliosis). Terdapat hubungan antara beban tas ransel (Pvalue =0,013) dengan kejadian scoliosis di SD Negeri 02 Percontohan Kota Bukittinggi Tahun 2025. Tidak terdapat hubungan antara pengetahuan (Pvalue =1,000) dan sikap (Pvalue =1,000) dengan kejadian scoliosis di SD Negeri 02 Percontohan Kota Bukittinggi Tahun 2025.Disimpulkan bahwa hanya variabel beban tas ransel berhubungan dengan kejadian scoliosis di SD Negeri 02 Percontohan Kota Bukittinggi Tahun 2025. Oleh karena itu, disarankan bagi siswa untuk mengurangi beban tas ransel yang dibawa ke sekolah. Hal ini dilakukan untuk mengurangi risiko beban berlebih yang diterima tulang belakang serta menurunkan risiko scoliosis. Abstract (EN): As the education system evolves, students are required to be more active in teaching and learning activities. This leads to students carrying numerous items such as books, stationery, lunch, and other school supplies daily. As a result, backpacks become very heavy, increasing the risk of spinal disorders such as scoliosis. This study aims to determine the relationship between students‟ knowledge and attitudes and the incidence of scoliosis at SD Negeri 02 Percontohan, Bukittinggi City. This quantitative research used a cross-sectional design and was conducted in May 2025, involving 72 students selected through purposive sampling. Data were collected using questionnaires and analyzed both univariately and bivariately. The results showed that 54.2% of students had low knowledge, 52.8% had negative attitudes, and 51.4% carried backpack loads considered non-risky. However, 87.5% were categorized as normal (not having scoliosis). A significant relationship was found between backpack load (P value = 0.013) and the incidence of scoliosis at SD Negeri 02 Percontohan in 2025. No significant relationship was found between knowledge (P value = 1.000) or attitude (P value = 1.000) and the incidence of scoliosis. It can be concluded that only the backpack load variable is related to the incidence of scoliosis at SD Negeri 02 Percontohan, Bukittinggi City, in 2025. Therefore, it is recommended that students reduce the weight of the backpacks they carry to school, in order to minimize excessive spinal load and reduce the risk of scoliosis.

KTI 2025
Detail