Logo Repository App UFDK Repository UFDK Universitas Fort De Kock

Daftar Repository

8825 dokumen ditemukan

Reset
Cover Perbedaan Tingkat Nyeri Sebelum Dan Sesudah Senam Lansia Pada Lansia Penderita Rheumatoid Arthritis Region Metatarsalphalangeal Joint Di Posyandu Lansia Pulau Belibis Wilayah Kerja Puskesmas Tanjung Paku Kota Solok Tahun 2015
Perbedaan Tingkat Nyeri Sebelum Dan Sesudah Senam Lansia Pada Lansia Penderita Rheumatoid Arthritis Region Metatarsalphalangeal Joint Di Posyandu Lansia Pulau Belibis Wilayah Kerja Puskesmas Tanjung Paku Kota Solok Tahun 2015

Reza Olyverdi, Mia Anggraini · 2017 · Karya Tulis Ilmiah · Fakultas Ilmu Kesehatan, D3 Fisioterapi

Prevalensi Rheumatoid Arthtritis di Indonesia berdasarkan Perhimpunan Rheumatodologi Indonesia tahun 2014 mencapai 31,3 % dari populasi. Di Kota Solok, jumlah penderita rheumatoid arthtritis di tahun 2014 merupakan yang tertinggi menempati urutan ke 2 dari 10 penyakit terbanyak di kota Solok. Rheumatoid arthtritis dapat dicegah dengan dengan melakukan latihan fisik/ senam. Senam lansia adalah olah raga ringan yang mudah dilakukan dan tidak memberatkan, yang dapat diterapkan pada lansia. Aktivitas olahraga ini akan membantu tubuh lansia agar tetap bugar dan tetap segar, karena senam lansia mampu melatih tulang tetap kuat, mendorong jantung bekerja secara optimal dan membantu menghilangkan radikal bebas yang berkeliaran di dalam tubuh. Tujuan penelitian untuk mengetahui perbedaan tingkat nyeri sebelum dan sesudah senam lansia di Posyandu Lansia Pulau Belibis Kelurahan Tanjung Paku wilayah kerja Puskemas Tanjung Paku Kota Solok. Penelitian ini bersifat Quasi eksperimen, dengan analisa data menggunakan Analisa Univariat dan Bivariat dengan uji statistik t test dependen penelitian telah dilakukan pada tanggal 09 sampai 31 Mei 2015 dan populasi adalah seluruh penderita rheumatoid arthtritis region metatarsalphalangeal joint di Posyandu Lansia Pulau Belibis Kelurahan Tanjung Paku wilayah kerja Puskesmas Tanjung Paku yang berjumlah 22 orang dengan jumlah sampel sebanyak 10 orang. Dengan teknik pengambilan sampel menggunakan Purposive sampling. Alat yang digunakan untuk mengukur nyeri VAS (Visual Analog Scale) serta menggunakan lembar observasi. Dari uji statistik didapatkan nilai signifikan senam dengan penurunan nyeri dengan p value = 0,05, dengan rata – rata nyeri sebelum intervensi 6,70 dan rata – rata nyeri setelah intervensi 2,30 dapat disimpulkan adanya pengaruh senam dengan penurunan nyeri. Dengan adanya perbedaan tingkat nyeri sebelum dan sesudah senam lansia pada lansia penderita rheumatoid arthtritis region metatarsalphalangeal joint diharapkan kepada petugas kesehatan untuk lebih meningkatkan penyuluhan secara berkala setiap kegiatan dalam menganjurkan pasien melakukan senam lansia minimal 2 kali dalam seminggu dengan durasi waktu ±30 menit. Abstract (EN): The prevalence of arthritis Arthtritis in Indonesia based Association Rheumatodologi Indonesia in 2014 reached 31.3 % of the population . In Solok , the number of patients with rheumatoid arthtritis in 2014 was the highest ranks second out of 10 diseases in Solok . Arthtritis arthritis can be prevented by doing physical exercise / gymnastics Gymnastics is a sport elderly lightweight easy to do and not burdensome , which can be applied in the elderly . The sports activities will help the body elderly to keep fit and keep it fresh , because the elderly were able to train gymnastics bones strong , pushing the heart to work optimally and help eliminate free radicals that roam in the body . The aim of research to determine the effect divergence level pain before and after gymnastics influence pain in posyandu elderly Belibis Island work area health center Tanjung Paku Solok City. Quasi- experimental nature of research , studies have been conducted on 09 until May 31, 2015 and the population was all patients with rheumatoid arthtritis metatarsalphalangeal joint region in posyandu elderly Belibis Island work area health center Tanjung Paku Solok City, amounting to 22 people with a total sample of 10 people . With the sampling technique used purposive sampling . The tools used to measure pain VAS ( Visual Analog Scale ) and using observation sheet . From the statistical test obtained significant value gymnastics with a decrease in pain with p value = 0.05 , with level pain is before 6,70 and level pain is after 2,30 we can conclude the influence of gymnastics with a decrease in pain . With there divergence level pain before and after gymnastics influence pain in elderly patients with rheumatoid arthtristis metatarsalphalangeal joint,is expected to further improve the education of health workers regularly every activity within a client advocate doing gymnastics elderly 2 times a week for at least 30 minutes .

Karya Tulis Ilmiah 2017
Detail
Cover Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Perilaku Merokok Didalam Rumah  Kelurahan Tarok Kecamatan Payakumbuh  Utara  Kota  Payakumbuh  Tahun  2014
Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Perilaku Merokok Didalam Rumah Kelurahan Tarok Kecamatan Payakumbuh Utara Kota Payakumbuh Tahun 2014

Cici Apriza Yanti, Misrawati Ishak, Arista Surya Purnama · 2017 · Skripsi · Fakultas Ilmu Kesehatan, D3 Fisioterapi

Merokok adalah perilaku penggunaan tembakau yang menetap, biasanya lebih dari setengah bungkus rokok per hari. Hasil Riskesdas 2013 menunjukkan bahwa terdapat 30,3% perokok aktif di Sumatera Barat. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku merokok didalam rumah Kelurahan Tarok Kecamatan Payakumbuh Utara Kota Payakumbuh Tahun 2014. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional dan dilaksanakan pada tanggal 16 Oktober sampai dengan 5 November 2014. Populasi dalam penelitian ini adalah kepala keluarga perokok yang berada di Kelurahan Tarok Kecamatan Payakumbuh Utara dengan jumlah sampel 162 responden dan dipilih menggunakan teknik Simple Random Sampling. Pengolahan data dilakukan menggunakan analisis univariat dan bivariat (Uji Chi-Square). Dari hasil analisis univariat didapatkan sebagian besar (89,5 %) responden mempunyai perilaku merokok, 62,3% responden memiliki sikap yang negatif, terdapat 51,2% responden memiliki perceive behavioral yang tinggi, dan 56,8 % responden memiliki peran ibu rumah tangga yang tidak optimal. Hasil analisis bivariat menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara peran ibu rumah tangga (p = 0,032 ; OR = 3,6), tidak ada hubungan sikap (p = 0,958 ; OR = 1,18) dan perceive behavioral (p = 0,152 ; OR = 2,5) dengan perilaku merokok didalam rumah. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa ada hubungan peran ibu rumah tangga terhadap perilaku merokok. Untuk itu diharapkan kepada institusi terkait untuk menjalin kerjasama dengan tokoh masyarakat dalam memberikan informasi dan pengetahuan kepada warga di kelurahan Tarok berupa penyuluhan kesehatan tentang merokok agar dapat menghentikan kebisaan merokok didalam rumah. Abstract (EN): Smoking is a behavior of tobacco use that settled, usually more than half packs of cigarettes per day. Based On Riskesdas Result 2013 shows that there were 30.3% of active smokers in West Sumatra. The purpose of this research is to know The Factors that Influence the smoking behavior in Tarok Village North of Payakumbuh in 2014. This research uses a cross sectional design and was done on 16 October until 5 November 2014. The population in this research is head of family in Tarok Village North of Payakumbuh total sample 162 respondents and were selected using Simple Random Sampling technique. The data processing is done using univariate analysis and bivariat (Chi-Square Test). The Result of univariate analysis obtained most respondents have a smoking behaviour in the home (89.5%), 62.3% of respondents have a negative attitude, there were 51.2% of respondents perceive a high behavioral, and 56.9% of the respondents have the role of housewife is not optimal. Bivariat analysis results indicate that there is a significant relationship between the role of a housewife (p = 0.032 ; OR = 3.6), and there is no relationship of attitude (p = 0.958 ; OR = 1.18) and perceive behavioral (p = 0.152 ; OR = 2.5) with the smoking behavior in the home. From the results it can be concluded that there is a relationship the role perceive housewife against the smoking behavior in the home. For it is expected to institutions related to partnering with community leaders in providing information and knowledge to the citizens in Tarok village about smoking in order to stop with the ability to smoke in the House.

Skripsi 2017
Detail
Cover Pengaruh Pemberian Trancutneus Elictrcial Nerve Srimulation Dan William Flexi Pada Kasus Low Back Pein Terhadap Nyeri Di RSUD Achmad Mochtar Bukittinggi Tahun 2015
Pengaruh Pemberian Trancutneus Elictrcial Nerve Srimulation Dan William Flexi Pada Kasus Low Back Pein Terhadap Nyeri Di RSUD Achmad Mochtar Bukittinggi Tahun 2015

Adriani, Madinatur Rahma · 2017 · Karya Tulis Ilmiah · Fakultas Ilmu Kesehatan, D3 Fisioterapi

Pasien yang mengalami nyeri pinggang bawah mempunyai gejala utama yaitu nyeri. Nyeri yang terdapat pada pasien Low Back Pain merupakan nyeri muskuloskeletal yang termasuk pada nyeri kronis. Berdasarkan hasil data dari Rumah Sakit Dr. Achmd Mochtar Bukittinggi prevelensi Low Back Pain pada tahun 2015 adalah sebanyak 63 yang didapat selama bulan januari-juni 2015 ke poli fisioterapi Rumah Sakit Dr. Achmad Mochtar Bukittinggi. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui pengaruh Terapi Latihan William Flexi dan Transcutaneus Electrical Nerve Stimulus (TENS) pada kasus Low Back Pain terhadap nyeri di Rumah Sakit Dr. Achmad Mochtar Bukittinggi tahun 2015. Penelitian ini dilakukan pada bulan juli tahun 2015. Metode penelitian ini Pre Eksperiment dengan desain rancanagn One Group Pretest Posttest Desing dilakukan selama bulan juli dengan perlakuan yang sama yaitu diberikan Transcutaneus Electrical Nerve Stimulus (TENS) dan Terapi Latihan William Flexi dengan skala ukur yang digunkan ialah Visual Analog Scale ( VAS ). Hasil penelitian data yang telah terkumpul kemudian akan dianalisis dekskriptif menurut karakteristik subyek, kemudian untuk menguji hipotesis penelitian akan menggunakan uji sttistik denagn uji Wilcoxon. Dari hasil uji Wilcoxon didapatkan nilai p= 0,008 untuk pemberian Transcutaneus Electrical Nerve Stimulus (TENS) dan Terapi Latihan William Flexi terhadap pengurangan nyeri Low Back Pain. Berdasrkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh pemberian Transcutaneus Electrical Nerve Stimulusdan Terapi Latihan William Flexi untuk pengurangan Nyeri pasien Low Back Pain. Diharapkan petugas kesehatan Rumah Sakit Dr. Achmad Mochtar bagian Fisioterapi dapat memanfaatkan pemberian Transcutaneus Electrical Nerve Stimulus (TENS) dan Terapi Latihan William Flexi terhadap pengurangan nyeri Low Back Pain. Abstract (EN): Patients that had a low back pain had a main characteristic, it is pain. Pain in low back pain’s patient is a muskuloskletal pain that is a chronic pain. Based on the data in Hospital Dr. AchmadMochtarBukittinggi, the prevention of low back pain in 2015 is about 63 in January until juni 2015 in physiotherapi Hospital Dr. AchmadMochtarBukittinggi. The aim of this research is to know the effect ofWilliam Flexi exercise andTranscutaneus Electrical Nerve Stimulus (TENS) in the case of Low Back Pain toward the pain in Hospital Dr. AchmadMochtarBukittinggiin 2015. This research was held on July 2015. This is Pre Experiment research by using One Group Pretest and Posttest design that was held on July by giving the same treatment, that were Transcutaneus Electrical Nerve Stimulus (TENS) andWilliam Flexiwhere the measurement scale that is used is Visual Analog Scale( VAS ). The data that had been collected would be analyze and would be describe based on the characteristics of the subject, then to test the hypothesis of this research would be used Wilcoxon. From the Wilcoxon, it said p= 0,008 in giving Transcutaneus Electrical Nerve Stimulus (TENS) andWilliam Flexi toward the decreasing the pain in Low back Pain. Based on the result, it can be concluded that there are the effect of givingTranscutaneus Electrical Nerve Stimulusand William Flexito decrease Low Back pain. It is hoped to the medics in Hospital Dr. Achmad Mochtare specially in Physiotherapy to use Transcutaneus Electrical Nerve Stimulus (TENS) andWilliam Flexito decrease the low back pain.

Karya Tulis Ilmiah 2017
Detail
Cover Pengaruh  pemberian Infra Red dan Hold Rilex Exercise Terhadap Peningkatan  Lingkup Gerak Sendi Pasien fraktur Tibia Proximal dan Femur Distal dengan  pemasangan Plate and Screw di RSUD Solok Tahun 2015
Pengaruh pemberian Infra Red dan Hold Rilex Exercise Terhadap Peningkatan Lingkup Gerak Sendi Pasien fraktur Tibia Proximal dan Femur Distal dengan pemasangan Plate and Screw di RSUD Solok Tahun 2015

Aria Wahyuni, Popi Mustika · 2017 · Karya Tulis Ilmiah · Fakultas Ilmu Kesehatan, D3 Fisioterapi

Fraktur adalah patah tulang, biasanya disebabkan oleh trauma atau tenaga fisik. Gejala klinis yang sering ditemukan pada pasien fraktur post orif dengan pemasangan plate and screw antara lain adalah keterbatasan Lingkup gerak sendi (LGS).di RSUD Solok tahun 2014 diketahui bahwa 4 % pasien yang datang keruangan fisioterapi, adalah pasien dengan keluhan fraktur. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian Infra Red dan Hold Rilex Exercise terhadap peningkatan linglup gerak sendi pasien fraktur tibia proximal dan femur distal dengan pemasangan plate and screw di RSUD Solok. Jenis Penelitian ini adalah Quasi Eksperimen dengan pendekatan pre dan post test. Populasi pada penelitian ini adalah seluruh pasien penderita fraktur di RSUD Solok, pada bulan Januari – Maret 2015 adalah sebanyak 19 orang. Pengambilan sampel menggunakan teknik Accidental sampling sehingga di dapatkan sampel sebanyak 8 orang. Pengumpulan data menggunakan lembar obsevasi tingkat LGS dan pengolahan data hasil penelitian dilakukan secara komputerisasi menggunakan uji t test dependen atau wicoxon jika sebaran data tidak normal. Hasil penelitian menunjukan bahwa rata-rata LGS sebelum intervensi adalah 106,88° fleksi dan 3,25° ekstensi menjadi 127,12° fleksi dan 1,88° ekstensi setelah intervensi. Hasil analisis statistic ada peningkatan LGS sebelum dan sesudah intervensi dengan beda rata-rata LGS fleksi 20,250° (p =0,000° ) dan beda rata-rata LGS ekstensi 1,50° (p = 0,180°). Dapat disimpulkan bahwa pemberian terapi dengan modalitas infra red (IR) dan Hold Rilex Exercise efektif meningkatkan LGS penderita fraktur. Untuk itu diharapkan kepada pihak terkait untuk dapat selalu mengembangkan metodemetode pelayanan fisioterapis dalam rangka meningkatkan LGS penderita fraktur salah satunya penerapan terapi dengan modalitas infra red (IR) dan hold rilex exercise. Abstract (EN): Fracture is broken bone, usually caused by trauma or phisical power. The clinic symptons which always found to fracture post orif clients by using plate and screw among others is the range limited of joint movement in RSUD Solok in 2014 known 4 % clients who visited phisiotherapy’s room, are complaint about fracture. This research purposes to know the effect of giving infra red and hold rolex exercise through increasing range joint movement to fracture tibia proximal and femur diatal clients by using plate and screw in RSUD Solok. Kind of this research is Quasi Experiment by approaching pre and post test. The population of research is all fracture’s clients in RSUD Solok, on January – march ; 2015 is 19 clients. Sampling by using accidental sampling teachnigue so obtained that sampling 8 clients. Collecting data by using LGS level observation sheets and research result data processing done as compulerizing by using t-test dependent test or Wilcoxon if data sheets are not normal. The result of research shown that LGS appropriate before intervension is 106,88° flexi and 3,25° extension becomes 127,12° flexi and 1,88° extension after intervension. Analysis statistic result had increased LGS before and after intervension by different appropriate LGS flexi 20,250° (p = 0,000°) and different about LGS extension 1,50° (p = 0,180°). It could be councluded that giving therapy with modality infra red and effective hold rilex exercise increases LGS fracture clients. Therefore, hoped for all people related to be able always to improve the methods of physioterapi services in increasing LGS fracture’s clients either application of therapy be modality infra red (IR) and hold rilex exercise.

Karya Tulis Ilmiah 2017
Detail
Cover Pengaruh Pemberian Infra Red (IR) dan Breathing Exercise Terhadap Ekspansi Thorak Pada Pasien ISPA DI RSUD Solok  Tahun 2015
Pengaruh Pemberian Infra Red (IR) dan Breathing Exercise Terhadap Ekspansi Thorak Pada Pasien ISPA DI RSUD Solok Tahun 2015

Aria Wahyuni, Mira · 2017 · Karya Tulis Ilmiah · Fakultas Ilmu Kesehatan, D3 Fisioterapi

Penyakit Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) adalah radang akut saluran pernafasan atas maupun bawah yang disebabkan oleh infeksi bakteri dan virus tanpa atau disertai radang parenkim paru. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian Infra Red (IR) dan Breathing Exercise terhadap ekspansi thorak pada pasien ISPA di RSUD Solok Tahun 2015. Jenis penelitian ini adalah quasi experiment dengan pendekatan pre dan post test. Populasi pada penelitian ini adalah seluruh pasien ISPA di RSUD Solok Tahun 2015 yang berjumlah. Pengambilan sampel pada penelitian menggunakan teknik purposive sampling dari populasi 19 orang per bulan sehingga didapatkan sampel sebanyak 8 orang pasien. Pengumpulan data menggunakan lembar observasi ekspansi thorak. Pengolahan data hasil penelitian dilakukan secara komputerisasi menggunakan uji t-dependent test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata ekspansi thorak sebelum intervensi adalah 1,37 cm dan setelah intervensi meningkat menjadi 3,375 cm. Hasil analisis statistik non parametric menggunakan uji wilcoxon diketahui pada ada perbedaan rata-rata ekspansi thorak sebelum dan setelah intervensi dengan nilai p = 0,005 (p< 0,05). Dapat disimpulkan bahwa pemberian terapi dengan modalitas Infra Red (IR) dan breathing exercise efektif dalam meningkatkan ekspansi thorak pada penderita ISPA. Untuk itu diharapkan kepada berbagai pihak untuk dapat selalu memberikan dukungan dan motivasi kepada pasien penderita ISPA untuk selalu periksakan diri kerumah sakit, dengan kerjasama yang baik antara terapis, pasien, keluarga dan masyarakat diharapkan akan tercapai keberhasilan terapi dengan menggunakan IR dan dan Breathing exercise untuk meningkatkan ekspansi thorak. Abstract (EN): ISPA in indonesia is still high, especially for children which are under five. Around 20% - 30% the death of them caused by ISPA. Infection disease of breath acute ( ISPA ) is inflamed upper respiratory tract and lower which caused by bacteria infection and virus with out or as wellas inflamed lungs parenkim. This research purposes to expand thorac to clients ISPA in RSUD Solok in 2015. Kind of tuis research is quasi experiment by approaching pre and post test. Population to reseaching is all clients ISPA in RSUD Solok in 2015. Purposing sampling in this research applies purposing sampling technique from 19 people so that cau get sample 8 clients. By collecting data by using thorac expansion observation sheet. Data processes of research resulting is done by computer by applying t- dependent test. The research result seen that the expansion of appropriate thorac before intervension is 1,37 after of intervension incieases 3,375. The result of statistic analysis non parametric applies wilcoxon test known at difference of appripriate expansion thorac before and intervension which valueable p=0,005 ( p< 0,005 ) The conclusion that given by therapy with modality in infra Red (IR) and breathing exercise which effective in increasing expansion thorac to ISPA clients. For that hope for all people who always be able to give support and motivation to ISPA’s clients always come to see hospital by good teamwork anoug therapist, clients, families and people were hoped will advieve successful but by using IR and breathing exercise to increase thorac expansion.

Karya Tulis Ilmiah 2017
Detail
Cover Pengaruh Mirror Exercise Sebagai Terapi Pengiring Modalitas Faradik Dalam Mengembalikan Fungsional Otot Wajah Pada Penderita Bell’s Palsy di Rumah Sakit Umum Daerah Solok Tahun 2015
Pengaruh Mirror Exercise Sebagai Terapi Pengiring Modalitas Faradik Dalam Mengembalikan Fungsional Otot Wajah Pada Penderita Bell’s Palsy di Rumah Sakit Umum Daerah Solok Tahun 2015

Annisa Ul Fitri, Olyverdi. Reza · 2017 · Karya Tulis Ilmiah · Fakultas Ilmu Kesehatan, D3 Fisioterapi

Bell’s Palsy merupakan suatu sindrom kelamahan wajah dengan tipe lower motor neuron serta nyeri di daerah processus mastoideus yang menyebabkan kelumpuhan pada salah satu sisi wajah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian Mirror Exercise sebagai terapi pengiring modalitas faradik dalam mengembalikan Fungsional Otot Wajah pada Penderita Bell’s Palsy di RSUD Solok Tahun 2015. Jenis penelitian ini adalah pre eksperimental dengan desain pre danpost test. Populasi pada penelitian adalah seluruh pasien Bell’s Palsy di RSUD Solok. Pengambilan sampel menggunakan teknik purposive samplingsehinggadidapatkansampelsebanyak12 orang. Pengumpulan data penelitian menggunakan lembar observasi fungsional otot wajah pasien Bell’s Palsy. Analisis data dilakukan secara komputerisasi menggunakan analisis data non parametric uji wilcoxon. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata fungsional otot wajah sebelum intervensi 42,27% dan setelah intervensi75,55%. Hasil analisis statistic non parametric menggunakan uji wilcoxon diketahui bahwa dengan pemberian 6 kali intervensi terdapat terdapat peningkatan rata-rata fungsional otot wajah sebelum dan sesudah intervensi dengan nilai p = 0,002. Dapat disimpulkan bahwa pemberian terapi dengan modalitas faradic danMirror Exercise efektif dalam mengembalikan fungsional otot wajah pada kasus Bell’s Palsy. Untuk itu diharapkan kepada pihak instansi pelayanan fisioterapis untuk selalu mengembangkan teknik-teknik terapi yang efektif dalam mengembalikan fungsional otot wajah pada pasien penderita Bell’s Palsy salah satunya dengan pemberian Mirror Exercise sebagai terapi pengiring modalitas faradik dalam mengembalikan fungsional otot wajah. Abstract (EN): Bell's Palsy is a low syndrome in the face with the type of lower motor neuron and pain in processus mastoideus that can cause malfuction in one side of the face. The objective of this research is to find the effect of giving mirror exercise as the procession therapy of modalitas faradic toward the increasing the function of the face muscle functional for Bell’s Palsypatient in Solok public Hospital 2015. This is pra eksperimentalresearch by using pre and post test. The population is all of the Bell’s Palsypatient in Solok public Hospital. The sampel was taken by using purposive sampling so that there are 12 patients as samples. The data was collected by using observation sheet about the function of face muscle for Bell’s Palsy patient. The data was analyze by using non parametric Wilcoxon test. The Result of the best showed that the function of the face muscle before intervention is 42,27% and after intervention is 75,55%. The result of statitical analysis in non parametric wilcoxon showed that the giving of 6 times intervention can increase the function of the muscle before and after intervention where p=0,002. In can be concluded that the giving of faradic therapy and mirror exercise is effective to increase the function of the face muscle in Bell’s Palsy case. So that it is hoped to the medics to develop the techniques of therapy in increasing the function of face muscle in Bell’s Palsy patient, one of the way is giving mirror exercise as the procession therapy of modalitas faradic.

Karya Tulis Ilmiah 2017
Detail
Cover Gambaran Penggunaan Infra Red dan Chest Terapi Terhadap Pengurangan Sekret pada Pasien Bronchopneumonia Anak di RSUD Arosuka Tahun 2015
Gambaran Penggunaan Infra Red dan Chest Terapi Terhadap Pengurangan Sekret pada Pasien Bronchopneumonia Anak di RSUD Arosuka Tahun 2015

Shinta Winda Putri, Yenri Ernida · 2017 · Karya Tulis Ilmiah · Fakultas Ilmu Kesehatan, D3 Fisioterapi

Bronchopneumonia adalah radang paru-paru yang disebabkan bermacammacam penyebab seperti virus, bakteri, jamur dan benda asing yang ditandai dengan adanya bentuk bercak pada paru. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran penggunaan Infra Red dan Chest Terapi terhadap pengurangan sekret pada pasien Bronchopneumonia anak di RSUD Arosuka Tahun 2015. Jenis penelitian ini adalah penelitian Quasi Eksperimen Design One Grup Pretest dengan metode pendekatan Pretest – Posttest. Populasi pada penelitian ini adalah seluruh pasien Bronchopneumonia anak yang ada di ruang Fisioterapi RSUD Arosuka pada bulan Juli tahun 2015 yaitu sebanyak 14 orang pasien, pengambilan sampel sebanyak 10 orang, pengumpulan data penelitian menggunakan lembar observasi pengurangan sekret pada pasien Bronchopneumonia anak. Hasil penelitian menunjukkan distribusi frekuensi pengurangan sekret sebelum intervensi 30%, sedangkan distribusi frekuensi pengurangan sekret sesudah intervensi 80%. Dapat disimpulkan bahwa pemberian intervensi Infra Red dan Chest Terapi memberikan hasil yang cukup baik terhadap pengurangan sekret pada pasien Bronchopneumonia anak, untuk itu diharapkan kepada petugas Rumah Sakit bagian fisioterapi dapat memanfaatkan pemberian intervensi Infra Red dan Chest Terapi untuk mengurangi sekret pada pasien Bronchopneumonia anak, serta dapat meningkatkan promosi kesehatan pada masyarakat. Abstract (EN): Bronchopneumonia is lungs inflammation caused by some causes like virus, bacterium, mildew and isolate object which marked with spotting in lungs. The research’s goal is to show the depiction of using Infra Red and Chest Teraphy for reduce fluid in children Bronchopneumoia patient in RSUD Arosuka on 2015. This type of research is Quasi Eksperimen with One Group Pretest and Posttest Design. The population of this research is all of the child Bronchopneumonia patient in Physioterapy room in RSUD Arosuka on July 2015 many as 14 patients, sample taken by using observation sheet of reduce fluid for child Bronchopneumonia patients. The research’s result show that Frequency Distribution to reduce fluid before intervention is 30% and after intervention is 80%. So the conclution is that giving Infra Red and Chest Teraphy intervention give good enough result to reduce fluid for Bronchpneumonia patient, so that’s why Infra Red and Chest Teraphy giving is better to reduce fluid and increase health promotion in society.

Karya Tulis Ilmiah 2017
Detail
Cover Pengaruh Penggunaan Micro Wave Diathermy (MWD) dan William Flexion Exercise terhadap Pengurangan Nyeri Pada Penderita Low Back Pain et.Cause Spondylosis di RSUD Solok Tahun 2015
Pengaruh Penggunaan Micro Wave Diathermy (MWD) dan William Flexion Exercise terhadap Pengurangan Nyeri Pada Penderita Low Back Pain et.Cause Spondylosis di RSUD Solok Tahun 2015

Rezky Zikril Hakim, Yelva Febriani · 2017 · Karya Tulis Ilmiah · Fakultas Ilmu Kesehatan, D3 Fisioterapi

Low Back Pain merupakan masalah utama di masyarakat, dimana Low Back Pain masuk dalam 10 besar penyakit di Rumah sakit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Pengaruh Penggunaan Microwave (MWD) dan William Flexion Exercise terhadap Pengurangan Nyeri Pada Penderita Low Back Pain et.Cause Spondylosis di RSUD Solok Tahun 2015. Jenis penelitian ini adalah Quasi eksperimen dengan desain One Group Pretest – Postest. Populasi pada penelitian ini adalah seluruh pasen Low Back Pain et.Cause Spondylosis yang ada di ruang fisioterapi RSUD Solok pada bulan Juli tahun 2015 yaitu sebanyak 22 orang pasien. Pengambilan sampel sebanyak 10 orang, pengumpulan data penelitian menggunakan lembar observasi pengurangan nyeri akibat Low Back Pain et.Cause Spondylosis. Analisis data dilakukan secara komputerisasi menggunakan uji dependen T-test jika sebaran data normal dan analisis non parametric uji Wilcoxon jika sebaran data tidak normal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rerata pengurangan nyeri sebelum pemberian MWD dan William Flexion Exercise adalah 6,80 menjadi 4,10 setelah pemberian MWD dan Willian Flexion Exercise, hasil analisis menunjukkan bahwa ada perbedaan rata-rata pengurangan nyeri sebelum dan sesudah intervensi, dengan nilai P. 0,005 , hal itu berarti p < 0,05 Dapat disimpulkan bahwa pemberian terapi dengan modalitas MWD dan William Flexion Exercise memberikan pengaruh cukup baik terhadap pengurangan nyeri pada pasien Low Back Pain et.Cause Spondylosis. Diharapkan kepada petugas rumah sakit bagian fisioterapi agar dapat memanfaatkan penggunaan MWD dan William Flexion Exercise untuk mengurangi nyeri pada pasien Low Back Pain et.Cause Spondylosis, serta dapat meningkatkan promosi kesehatan pada masyarakat. Abstract (EN): In west Sumatera, Low Back Pain still became the big problem in society, where this low back pain always be the 10 of disease in hospital. This research’s goal is to know the influence of Micro Wave Diathermy (MWD) and William Flexion Exercise to reduce pain Low Back Pain et.Cause Spondylosis in RSUD Solok on 2015. This is Quasi Eksperimen with One Group Pretest and Posttest Design. The population of this research is all of Low Back Pain patient in pysioteraphy room on RSUD Solok on July 2015 as 22 patients, and taken sample as 10 patients, sample taken by using observation sheet of reduce pain caused by Low Back Pain et.Cause Spondylosis. The data analysis doing by competensation by using dependent T-test if the data sheet is normal and analysis non parametric Wilcoxon test if the data sheet unnormal. The result show that the average of reduce pain before and after giving MWD and William Flexion Exercise is from 6,80 became 4,10 after giving it, the analysis’ result show that there is different average before and after interventon, with P 0,005,it means tat p < 0,05. So the conclution is giving therapy with MWD and William Flexion Wxwercise giving good enough influence to reduce pain in Low Back Pain patient et.Cause Spondylosis.So hopefully for all of hospital employee of pysioteraphy to use MWD and William Flexion Exercise to reduce pain for Low Back Pain patient et.Cause Spondylosis, and to increase health promotion to society.

Karya Tulis Ilmiah 2017
Detail
Cover Pengaruh Pemberian Ultra Sound dan Terapi Latihan Terhadap Pengurangan Nyeri  Dan Peningkatan Kekuatan Otot Pada Penderita Carpal Tunnel Syndrome Di RSUD Adnaan WD PayakumbuhTahun 2015
Pengaruh Pemberian Ultra Sound dan Terapi Latihan Terhadap Pengurangan Nyeri Dan Peningkatan Kekuatan Otot Pada Penderita Carpal Tunnel Syndrome Di RSUD Adnaan WD PayakumbuhTahun 2015

Evi Hasnita, Lidya Natalia Purba · 2017 · Karya Tulis Ilmiah · Fakultas Ilmu Kesehatan, D3 Fisioterapi

Carpal tunnel syndrome adalah adanya penekanan pada saraf nervus medianus pada pergelangan tangan dengangejala nyeri, kram , tebal dan kesemutan pada pergelangan tangan. Berdasarkan hasil data dari RSUD Adnaan WD Payakumbuh prevalensi Carpal tunnel syndrome pada tahun 2014 adalah 10 % dari total kunjungan ke Poli Fisioterapi RSUD Adnaan WD Payakumbuh. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pemberian ultra sound dan terapi latihan terhadap pengurangan nyeri dan peningkatan otot pada penderita carpal tunnel syndrome. Penelitian ini dilakukan pada bulan juli – agustus tahun 2015. Metode penelitian ini Quasi Eksperimen dengan desain rancangan One Group Pretest Posttest Design dilakukan selama 3 minggu dengan perlakuan yang sama yaitu diberikan Ultra Sound dan terapi latihan dengan skala ukur yang digunakan ialah Visual Analog Scale (VAS) dan manual manual muscle testing (MMT). Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa rata-rata nyeri sebelum pemberian intervensi adalah 4,62 dan rata-rata nyeri sesudah pemberian intervensi adalah 2,26. Dan rata- rata kekuatan otot sebelum di terapi adalah 2,62. Dan kekuatan otot setelah di terapi adalah 3,62. Hasil analisa statistik menunjukkan adanya perbedaan nyeri sebelum dan sesudah pemberian intervensi dengan beda rata-rata sebesar 2,000 dengan nilai pvalue = 0.000, standar deviasi 0,535 dankekuatan otot -1,250 dengan nilai pvalue =0.000, standar deviasi 0,463. Disimpulkan bahwa pemberia ultra sound dan terapi latihan dapat mengurangi nyeri dan meningkatkan kekuatan otot pada penderita carpal tunnel syndrome.. Berdasarkan Hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa adanya pengaruh pemberian Ultra Sound dan terapi latihan terhadap pengurangan nyeri dan peningkatan kekuatan otot pada penderita carpal tunnel syndrome.Sebagai fisioterapi harus bekerja sama dengan disiplin ilmu dan tenaga medis yang lain untuk meningkatkan mutu pelayanan kesehatan yang optimal sehingga didapatkan. Abstract (EN): Carpal tunnel syndrome is the pressure in the nervus medianus nerve in the wrist which has pain, cramps, and pins and needles. Based on the data in RSUD Adnaan WD Payakumbuh prevalens Carpal tunnel syndromein 2014 is 10% from Poli Fisiotheraphy RSUD Adnaan WD Payakumbuh. The aim of this research is to know the effect of giving ultra sound and exercise toward the dereasing of ain and the increasing the power of the muscle in Carpal Tunnel Syndrome. This research is held on July – August exercise and using Visual Analogue Scale (VAS) and manual muscle testing (MMT).2015. This is quasi experiment research by using one group pretest posttest design that was held in 3 weeks with the same treatment that were giving ultra sound and Based on this research, it is known that the average pain before intervention is 4,26 and average pain after the intervention is 2,26 and the power of the muscle before theraphy is 2,62 and the power of the muscle after theraphy is 3,62 The result of statistical analysis shows there was a differentiation between the pain after and before intervention, where the average pain is 2,000 and pvalue = 0.000, deviation standard 0,535 and the power of the muscle -1,250 and ovalue = 0.000, deviation standard 0,436. It can be concluded that the giving of ultra sound and exercise can decrease the pain and increase the power of the pain in carpal tunnel syndrome. Based on the result of the research, it can be concluded that there are the effect of giving ultra sound and exercise toward the dereasing of ain and the increasing the power of the muscle in Carpal Tunnel Syndrome. Fisiotheraphist should work together with another medics to increase the service.

Karya Tulis Ilmiah 2017
Detail
Cover Pengaruh Penambahan Terapi Latihan Pada Modalitas Infrared Terhadap Penurunan Nyeri Pada Penderita Osteoarthritis Genu Patello Femoral Joint di RSUD Dr. Adnaan WD Payakumbuh Tahun 2015
Pengaruh Penambahan Terapi Latihan Pada Modalitas Infrared Terhadap Penurunan Nyeri Pada Penderita Osteoarthritis Genu Patello Femoral Joint di RSUD Dr. Adnaan WD Payakumbuh Tahun 2015

Diana Kartika, Ronal Lufitos · 2017 · Karya Tulis Ilmiah · Fakultas Ilmu Kesehatan, D3 Fisioterapi

Osteoartritis adalah suatu keaianan sendi kronis (jangka lama) dimana terjadi proses kelemahan dan disintegrasi dari tulang rawan sendi dan disertai dengan pertumbuhan tulang baru pada sendi. Osteoartritis dapat menimbulkan ganguan kapasitas fisik berupa nyeri pada lutut dan adanya keterbatasan lingkup gerak sendi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penambahan terapi latihan pada modalitas infrared terhadap penurunan nyeri pada penderita osteoarthritis genu patello femoral joint. Jenis penelitian ini adalah Quasi Eksperimen dengan metode pendekatan One Group Pretest – Postest Design. Penelitian ini dilaksanakan pada juli sampai agustus 2015. Sampel dalam penelitian ini adalah 10 responden yang dipilih dengan teknik purposive sampling. Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui bahwa rata-rata nyeri sebelum diberikan intervensi adalah 4,50 dan rata-rata nyeri setelah diberikan intervensi adalah 2,30. Hasil analisa statistik menunjukkan adanya perbedaan nyeri sebelum dan sesudah pemberian intervensi sebesar 2,200 dengan nilai p value=0,000 dan standar deviasi 0,632. Disimpulkan bahwa penambahan pemberian terapi latihan dan infrared dapat mengurangi nyeri pada penderita osteoartritis. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa adanya pengaruh Penambahan Terapi Latihan Pada Modalitas Infrared Terhadap Penurunan Nyeri Pada Penderita Osteoarthritis Genu Patello Femoral Joint. Diharapkan kepada praktek fisioterapi, agar hasil penelitian ini dapat menjadi sumber informasi dalam upaya meningkatkan pelayanan kesehatan khususnya pada pasien osteoartritis. Abstract (EN): Osteoartritis is one abnormalities in the joints (long term) where there are attenuation proccess and disintegration in the cartilaginous joints and followed by the new bones in that joints. Osteoartritis can cause limited physical capacity such as pain in the knees and limited joints movements’ space. The aim of this research is to find out the effect of the addition of exercise therapy in infrared modality towards the decreasing pain in osteoarthritis genu patello femoral joint. This is Quasi Experiment research by using one group pretest – posttest design. This research was held on July until august 2015. Samples on this research were 10 respondents that is chosen by using purposive sampling technique. Based on the result of this research, it can be seen that the average pain before intervention is 4,50 and the average pain after intervention is 2,30. Statistical analysis showed that there are differentiation of the pain after and before intervention, it is 2,200 which p value = 0,000 and deviation standart 0,632. It can be concluded that the giving of exercise therapy and infrared can decrease the pain in osteoartritis patients. Based on this research, it can be concluded that there are the effect of the addition of exercise therapy in infrared modality towards the decreasing pain in osteoarthritis genu patello femoral joint. It is hoped to the physiotherapist to use this research as the source of information in increasing the service to the osteoartritis patients.

Karya Tulis Ilmiah 2017
Detail
Cover Pengaruh Pemberian  Infra Red (IR) Dan Chest Therapy Terhadap Gangguan Pernafasan Pada  Penderita Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) Di Rumah Sakit Umum  Daerah Prof. Dr. MA Hanafiah SM Batusangkar Tahun 2015
Pengaruh Pemberian Infra Red (IR) Dan Chest Therapy Terhadap Gangguan Pernafasan Pada Penderita Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) Di Rumah Sakit Umum Daerah Prof. Dr. MA Hanafiah SM Batusangkar Tahun 2015

Lidya Mardison, Maitri Yolanda · 2017 · Karya Tulis Ilmiah · Fakultas Ilmu Kesehatan, D3 Fisioterapi

Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) adalah penyakit kronis saluran nafas yang di tandai dengan hambatan aliran udara khususnya udara ekspirasi dan bersifat progresif lambat yang menyebabkan gangguan pernafasan yang berakibat frekuensi nafas tidak normal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh Pemberian Infra Red (IR) dan Chest Therapy terhadap Gangguan Pernafasan pada penderita Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) di RSUD Prof. Dr. MA Hanafiah SM Batusangkar Tahun 2015. Jenis penelitian ini adalah quasi eksperiment dengan desain pre dan post test. Populasi pada penelitian adalah seluruh pasien Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) di RSUD Prof. Dr. MA Hanafiah SM Batusangkar yaitu sebanyak 146 orang. Pengambilan sampel menggunakan teknik provossive sampling sehingga didapatkan sampel sebanyak 8 orang. Pengumpulan data penelitian menggunakan lembar observasi. Analisis data dilakukan secara komputerisasi menggunakan analisis data non parametric uji wilcoxon. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata frekuesi nafas sebelum intervensi 34.12 dan setelah intervensi 20.57. hasil analisis statistic non parametric uji wilcoxon diketahui bahwa dengan pemberian 6 kali intervensi terdapat rata-rata frekuensi nafas sebelum dan sesudah intervensi dengan nilai p=0.012. Dapat disimpulkan bahwa pemberian terapi dengan modalitas Infra Red (IR) dan Chest Therapy efektif dalam membantu gangguan pernapasan terhadap frekuensi nafas pada kasus Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) untuk itu diharapkan kepada pihak instansi pelayanan fisioterapis untuk selalu mengembangkan teknikteknik terapi yang efektif dalam membantu gangguan pernapasan terhadap frekuensi nafas pada pasien penderita kasus Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) salah satunya dengan pemberian modalitas Infra Red (IR) dan Chest Therapy. Abstract (EN): Obstructive Chronic Lung Diseases (COPD) is chronic line breathing which marked by obstruction air circulation, especially air expiration and slow progresive that caused by interference of breathing to breathing frequency abnormal. This research purposes to know the influence of giving Infra Red (IR) and Chest Therapy to interfer of breathing to Obstructive Chronic Lung Disease’s Clients (COPD) in RSUD Prof. Dr. MA Hanafiah SM Batusangkar in 2015. Kind of this research is quasi eksperiment with pre dan post test designed. The Population of research is all Obstructive Chronic Lung Disease’s Clients (COPD) in RSUD. Dr. MA Hanafiah SM Batusangkar is 146 clients. Sampling by using provossive sampling’s technique so obtained that sampling is 8 clients. Collecting data’s of research by using observation’s sheet. Data analysis is computerizing using data non parametric uji wilcoxon. The result of research shown the anerage nafas frequency before intervension 34,12 and after intervension 20,57. Statistic analysis result is non parametric wilcoxon test know that by giving 6 times interverension is nafas frequency average before and after intervension p=0.012. In could be coucluded that giving therapy are effective in helping interference breathing to nafas frequency in Obstructive Chronic Lung Diseases’s Case (COPD). For that hoped that all authorities services physiotherapist to be always developing therapy’s technique which effective for helping interference breathing to nafas prequency to obstructive chronic lung diseases’s case (COPD) either by giving modality Infra Red (IR) dan Chest Therapy.

Karya Tulis Ilmiah 2017
Detail
Cover Hubungan Pola Kerja Petani Pemetik Teh terhadap Angka Kejadian Trigger Finger Di Jorong Air Batumbuk Kecamatan Danau Kembar Kabupaten Solok Tahun 2015
Hubungan Pola Kerja Petani Pemetik Teh terhadap Angka Kejadian Trigger Finger Di Jorong Air Batumbuk Kecamatan Danau Kembar Kabupaten Solok Tahun 2015

Oktavianis, Tika Nofia Irma · 2017 · Karya Tulis Ilmiah · Fakultas Ilmu Kesehatan, D3 Fisioterapi

Di Sumatera Barat, pada tahun 2009 diketahui bahwa prevalensi kejadian keluhan nyeri sendi tercatat sebesar 17,6%. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara pola kerja dengan angka kejadian Trigger Finger pada petani pemetik teh di Jorong Air Batumbuk Kecamatan Danau Kembar Kabupaten Solok Tahun 2015. Jenis penelitian ini adalah Deskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional study. Populasi pada penelitian ini adalah seluruh petani pemetik teh yang ada di Jorong Air Batumbuk. Pengambilan sampel menggunakan teknik purposive sampling sehingga didapatkan sampel sebanyak 49 orang. Pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan lembar kuisioner tentang pola kerja dan kejadian trigger finger. Pengolahan data hasil penelitian dilakukan secara komputerisasi menggunakan uji chi square Hasil penelitian menunjukkan bahwa 65,3% responden dengan pola kerja beresiko dan 59,2% responden mengalami kejadian trigger finger. Hasil uji chisquare menunjukkan bahwa ada hubungan antara pola kerja dengan kejadian trigger finger dengan nilai p = 0,017 dan OR = 4,685 Dapat disimpulkan bahwa pola kerja petani pemetik teh berhubungan dengan angka kejadian trigger finger. Untuk itu diharapkan kepada semua pihak, khkususnya para petani pemetik teh untuk selalu memperhatikan teknik dan pola kerja yang tidak beresiko agar petani dapat terhindar dari kejadian trigger finger. Abstract (EN): In west Sumatra, in 2009 it was known that the prevalention of the joints’ pain was about 17,6%. The aim of this research is to know the correlation between working patterns toward the tigger finger cases in Jorong Air Batumbuk Kecamatan Danau Kembar Kabupaten Solok in 2015 The is descriptive analytics research by using cross sectional study approach. Population of this research was the entire tea farmer in Jorong Air Batumbuk. The sample werw taken by using purposive sampling technique so that there were 49 farmer as samples.The data was colleted by using Questionnaire about the working patterns and the trigger finger cases. The data would be computerized by using chi square The result of this research showed that 65,3% of the respondent with risky working pattern and 59,2% respondents got trigger finger. From chisquare,it got that there were the correlation between the working pattern and trigger fingers cases where p=0,017 and OR=4,685. It can be concluded that there are correlation between the working patterns of the tea farmers and trigger finger cases, So that, it is hoped to the tea farmers to take into account the technique and working patterns that is have any risks to prevent trigger finger.

Karya Tulis Ilmiah 2017
Detail