Logo Repository App UFDK Repository UFDK Universitas Fort De Kock

Daftar Repository

8825 dokumen ditemukan

Reset
Analisis Faktor-faktor yang Mempengaruhi...
Analisis Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pelaksanaan Imunisasi Dasar Lengkap Pada Balita di Wilayah Kerja Puskesmas Padusunan Kota Pariaman.

Nurhayati, Efriza, Marliana · 2025 · Tesis · Fakultas Ilmu Kesehatan, S2 Kesehatan Masyarakat

Pencapaian imunisasi dasar lengkap di Indonesia ditargetkan sebanyak 92% sedangkan di wilayah kerja Puskesmas Padusunan yaitu 36,0%, sehingga dapat menimbulkan akumulasi populasi rentan terhadap penyakit tertentu. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis pelaksanaan imunisasi dasar lengkap dan faktor-faktor yang mempengaruhi pemberian imunisasi dasar lengkap pada balita. Jenis penelitian menggunakan mix method dilakukan di wilayah kerja Puskesmas Kp. Baru Padusunan Kota Pariaman Pada Bulan Agustus - september Tahun 2025, sampel sebanyak 145 orang dan informan sebanyak 10 orang. Data kualitatif yang di gunakan adalah triangulasi sumber (data). Analisis data untuk kuantitatif memakai uji univariat, uji bivariat dengan analisis chi square dan uji multivariat memakai uji regresi logistik. Hasil analisis univariat pengetahuan hasil p value = 0,000 < α 0,05, dukungan keluarga dengan p value = 0,000 < α 0,05, budaya dengan p value =0,000 < α 0,05, persepsi dengan p value = 0,0111< α 0,05. berhubungan dengan pelaksanaan Imunisasi Dasar Lengkap. Tidak terdapat hubungan yang bermakna antara peran petugas (p value = 0,165 > α 0,05 ), paritas (p value = 1,000 > α 0,05) dengan pelaksanaan imunisasi dasar lengkap. Hasil analisis multivariat ditemukan variabel dukungan keluarga dengan nilai tertinggi (OR=4,1245). Analisis kualitatif menunjukkan bahwa pelaksanaan imunisasi dipengaruhi oleh ketersediaan sumber daya alam dan sarana prasarana . Kesimpulan, pengetahuan, dukungan keluarga, budaya, dan persepsi merupakan faktor yang signifikan mempengaruhi pelaksanaan Imunisasi Dasar Lengkap di wilayah kerja Puskesmas Padusunan. Harapan agar puskesmas perlu meningkatkan edukasi melibatkan keluarga, memperkuat pendekatan budaya, serta mendorong peran aktif petugas kesehatan dalam penyuluhan dan kunjungan rumah. Abstract (EN): The target for complete basic immunization in Indonesia is 92%, while in the working area of the Padusunan Public Health Center, it is 36.0%, which can lead to an accumulation of a population vulnerable to certain diseases. The purpose of this study was to analyze the implementation of complete basic immunization and the factors influencing the provision of complete basic immunization in toddlers. This research used a mixed-method approach, conducted in the working area of the Kp. Baru Padusunan Public Health Center, Pariaman City, from July to August 2025, with a sample of 145 people and 10 informants. The qualitative data used source triangulation (data). Data analysis for the quantitative method employed univariate tests, bivariate tests with chi-square analysis, and multivariate tests using logistic regression. The results of univariate analysis showed that knowledge (p value = 0.000 < α 0.05), family support (p value = 0.000 < α 0.05), culture (p value = 0.000 < α 0.05), and perception (p value = 0.0111 < α 0.05) were related to the implementation of complete basic immunization. There was no significant relationship between the role of officers (p value = 0.165 > α 0.05) and parity (p value = 1.000 > α 0.05) with the implementation of complete basic immunization. The results of multivariate analysis found family support to be the variable with the highest value (OR = 4.1245). Qualitative analysis showed that the implementation of immunization is influenced by the availability of natural resources, facilities, and infrastructure. In conclusion, knowledge, family support, culture, and perception are significant factors influencing the implementation of complete basic immunization in the working area of the Padusunan Public Health Center. It is hoped that the public health center will enhance education involving families, strengthen cultural approaches, and encourage the active role of health workers in outreach and home visits.

Tesis 2025
Detail
Determinasi Resiko Kejadian Stunting pad...
Determinasi Resiko Kejadian Stunting pada Balita di Wilayah Kerja Puskesmas Palembayan Tahun 2025.

Neila Sulung, Silvia, M Arsyad · 2025 · Tesis · Fakultas Ilmu Kesehatan, S2 Kesehatan Masyarakat

Data WHO tahun 2020 menunjukkan 22,2% anak mengalami stunting. Di Kabupaten Agam, Puskesmas Palembayan menempati urutan kedua terbanyak balita stunting pada tahun 2023, yaitu sebanyak 68 balita (11,70%). Penelitian ini bertujuan mengetahui faktor determinan risiko kejadian stunting pada balita di wilayah kerja Puskesmas Palembayan. Jenis penelitian adalah case finding dengan rancangan case control, dilaksanakan pada 1–20 September 2025. Populasi kasus adalah 82 balita stunting, sedangkan populasi kontrol 397 balita normal usia 12– 59 bulan. Sampel kasus diambil secara total populasi (82 orang), sedangkan kontrol dipilih dengan perbandingan 1:2 (164 orang) melalui proportional simple random sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner dan observasi, kemudian dianalisis secara bivariat dan multivariat. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 82 balita stunting dan 164 balita tidak stunting. Faktor determinan risiko kejadian stunting meliputi karakteristik orang tua (pendidikan, p=0,008; OR=2,150), intervensi spesifik seperti konsumsi tablet tambah darah (p=0,000; OR=12,677), kunjungan K4 (p=0,000; OR=36,899), pemberian ASI eksklusif (p=0,000; OR=57,534), imunisasi dasar (p=0,000; OR=10,336), serta kunjungan posyandu (p=0,000; OR=6,181). Faktor intervensi sensitif juga berpengaruh, seperti pengelolaan sampah (p=0,000; OR=5,226) dan kepemilikan jamban (p=0,000; OR=4,612). Hasil analisis multivariat menunjukkan faktor dominan yang paling berhubungan dengan kejadian stunting adalah pemberian ASI eksklusif (p=0,000; OR=17,193). Disimpulkan bahwa pemberian ASI eksklusif menjadi faktor utama pencegah stunting. Disarankan kepada orang tua untuk memberikan ASI eksklusif, rutin melakukan kunjungan K4, imunisasi lengkap, dan menjaga sanitasi lingkungan rumah tangga. Abstract (EN): WHO data in 2020 showed that 22.2% of children experienced stunting. In Agam Regency, Palembayan Public Health Center ranked second highest in stunting cases in 2023, with 68 stunted toddlers (11.70%). This study aimed to determine the determinant risk factors for stunting among toddlers in the working area of Palembayan Public Health Center. The research used a case-finding method with a case-control design, conducted from September 1–20, 2025. The case population consisted of 82 stunted toddlers, while the control population included 397 normal toddlers aged 12–59 months. Case samples were taken by total population (82 children), and control samples were selected at a 1:2 ratio (164 children) using proportional simple random sampling. Data were collected using questionnaires and observation, then analyzed using bivariate and multivariate methods. The results showed 82 stunted and 164 non-stunted toddlers. Determinant risk factors for stunting included parental characteristics (education, p=0.008; OR=2.150), specific interventions such as iron tablet consumption (p=0.000; OR=12.677), K4 antenatal visits (p=0.000; OR=36.899), exclusive breastfeeding (p=0.000; OR=57.534), basic immunization (p=0.000; OR=10.336), and attendance at Posyandu (p=0.000; OR=6.181). Sensitive intervention factors also played a role, including waste management (p=0.000; OR=5.226) and latrine ownership (p=0.000; OR=4.612). Multivariate analysis showed that the dominant factor associated with stunting was exclusive breastfeeding (p=0.000; OR=17.193). It was concluded that exclusive breastfeeding is the main preventive factor for stunting. Parents are advised to provide exclusive breastfeeding, attend complete K4 visits, ensure full immunization, and maintain proper household sanitation.

Tesis 2025
Detail
Faktor Yang Berhubungan Dengan Perilaku...
Faktor Yang Berhubungan Dengan Perilaku Pemanfaatan Tanaman Obat Tradisional Pengobatan Gangguan Pencernaan Anak Di Kecamatan Ranah Bahatan Kabupaten Pasaman Barat Tahun 2024

Vedjia Medhyna, Nova Aminora · 2025 · Skripsi · Fakultas Ilmu Kesehatan, S1 Kebidanan

WHO (World Health Organization) menyatakan penyakit kanker usus menyebabkan kematian nomor 6 di dunia dan diare menyebabkan kematian nomor 7 di dunia. Tujuan penelitian Faktor yang Berhubungan Dengan Perilaku Masyarakat Dalam Pemanfaatan Tanaman Obat Tradisional Pengobatan Gangguan Pencernaan Anak di Kecamatan Ranah Bahatan Kabupaten Pasaman Barat Tahun 2024. Penelitian deskriptif analitik, variabel independen pengetahuan, sikap, pendapatan dan variabel dependen perilaku masyarakat. Penelitian telah dilakukan pada Oktober s/d Januari 2025 di Kecamatan Ranah Bahatan Kabupaten Pasaman Barat Tahun 2024. Populasi adalah masyarakat Kec. Ranah Batahan yang mengetahui dan menggunakan tumbuhan sebagai bahan obat untuk mengatasi gangguan sistem pencernaan dengan jumlah penduduk 1.576. Teknik pengambilan simple random sampling dengan jumlah sampel 94 orang. Data diolah secara komputerisasi, dianalisis secara univariat dan bivariat dengan uji statistic chi-square. Hasil penelitian lebih dari separuh 53 (56,4%) responden yang memiliki perilaku baik, lebih dari separuh 49 orang (52,1%) yang berpengetahuan tinggi, lebih dari separuh 51 orang (54,3%) yang memiliki sikap positif, lebih dari separuh 59 orang (62,8%) yang memiliki pendapatan tinggi. Hasil uji statistik Chi-Square yaitu ada hubungan signifikan dengan perilaku masyarakat p value < 0,05 yaitu pengetahuan (0,002), sikap (0,000), pendapatan (0,000). Kesimpulan ada hubungan signifikan dengan perilaku masyarakat dengan pengetahuan, sikap dan pendapatan. Diharapkan puskesmas dapat memanfaatkan tanaman obat tradisional dalam pengobatan gangguan pencernaan anak. Abstract (EN): The World Health Organization (WHO) states that colon cancer is the sixth leading cause of death globally, while diarrhea ranks seventh. This study aims to examine the factors related to community behavior in utilizing traditional medicinal plants for treating digestive disorders in children in Ranah Batahan District, West Pasaman Regency, in 2024. This is a descriptive-analytical study with independent variables including knowledge, attitude, and income, while the dependent variable is community behavior. The research was conducted from October to December 2024 in Ranah Batahan District, West Pasaman Regency. The population consists of residents of Ranah Batahan who are aware of and use medicinal plants to treat digestive system disorders, totaling 1,576 people. The study used a simple random sampling technique, with a sample size of 94 respondents. Data were processed using computerized methods and analyzed through univariate and bivariate analysis with the Chi-Square statistical test. The results showed that more than half of the respondents (53 people, 56.4%) exhibited good behavior, 49 people (52.1%) had a high level of knowledge, 51 people (54.3%) had a positive attitude, and 59 people (62.8%) had a high income. The Chi-Square statistical test indicated a significant relationship between community behavior and knowledge (p = 0.002), attitude (p = 0.000), and income (p = 0.000), with p-values < 0.05. Conclusion: There is a significant relationship between community behavior and knowledge, attitude, and income. It is recommended that health centers promote the use of traditional medicinal plants for treating digestive disorders in children.

Skripsi 2025
Detail
Analisis Perilaku Orang Tua Dalam Penera...
Analisis Perilaku Orang Tua Dalam Penerapan Pola Makan Terhadap Kejadian Karies Berdasarkan Status Gizi Pada Balita Di Puskesmas Air Tawar Kota Padang.

Evi Hasnita, Billy Harnaldo Putra, Ice Tresia Dewi · 2025 · Tesis · Fakultas Ilmu Kesehatan, S2 Kesehatan Masyarakat

Karies pada balita berdampak pada kesehatan lokal hingga sistemik yang memengaruhi status gizi. WHO memperkirakan karies anak 60-90%, data nasional 65,5%, Sumatera Barat 48,2% dan kota Padang 36,71%. Penelitian di Puskesmas Air Tawar Kota Padang menganalisis hubungan perilaku orang tua (pengetahuan, sikap, tindakan) dalam penerapan pola makan terhadap kejadian karies, berdasarkan status gizi balita. Penelitian metode mixed methods desain cross-sectional. Data kuantitatif melalui kuesioner, kualitatif melalui wawancara, sampel simple random sampling: 96 orang dilakukan bulan September 2025. Variabel kuantitatif: pengetahuan, sikap, tindakan orang tua terhadap karies. Analisis univariat, bivariat, multivariat, dan triangulasi data untuk kualitatif. Hasil univariat: balita bermasalah gizi dan karies (54,2%), ibu pengetahuan baik (56,3%), sikap baik (61,5%), tindakan kurang (46,9%). Bivariat melalui chi-square; variabel berhubungan status gizi dengan kejadian karies (p value=0,01). Pada semua balita, variabel berhubungan pengetahuan dengan karies (p-value=0,018), variabel sikap dan tindakan tidak. Multivariat melalui regresi logistik; secara bersama-sama variabel pengetahuan dan sikap berpengaruh tehadap karies, yang paling berpengaruh pengetahuan OR 3,007. Pada balita dengan status gizi normal; pengetahuan, sikap, dan tindakan tidak berhubungan dengan karies. Pada balita dengan masalah gizi; sikap ibu berhubungan dengan karies (p-value=0,024), pengetahuan dan tindakan tidak. Multivariat: secara bersama-sama variabel pengetahuan, sikap dan tindakan berpengaruh tehadap karies, variabel sikap paling berpengaruh OR 8,381. Analisis kualitatif: perilaku pemberian makan dipengaruhi faktor multi dimensional, termasuk pola asuh, hambatan ekonomi, dan inkonsistensi praktik. Disimpulkan status gizi memengaruhi dampak perilaku orang tua terhadap karies. Saran, diperlukan integrasi program gizi dan kesehatan gigi, didukung kebijakan agar tercapai output kesehatan balita optimal, kesehatan gigi baik. Abstract (EN): Dental caries in toddlers have local to systemic health impacts that affect nutritionalstatus. The WHO estimates child caries at 60-90%, national data at 65.5%, West Sumatra at 48.2%, and Padang city at 36.71%. A study at the Air Tawar Community Health Center in Padang City analyzed the relationship between parental behavior (knowledge, attitudes, actions) in implementing feeding patterns on the incidence of caries, based on the nutritional status of toddlers. The research used a mixed methods, cross-sectional design. Quantitative data was collected through questionnaires, qualitative data through interviews, using simple random sampling of 96 people conducted in September 2025. Quantitative variables included parental knowledge, attitudes, and actions regarding caries. Analysis involved univariate, bivariate, and multivariate methods, with data triangulation for the qualitative aspect. Univariate results: toddlers with nutritional problems and caries (54.2%), mothers with good knowledge (56.3%), good attitudes (61.5%), and poor actions (46.9%). Bivariate analysis using chi-square showed a relationship between nutritional status and the incidence of caries (p-value=0.01). Among all toddlers, the variable knowledge was related to caries (p-value=0.018), while attitude and action variables were not. Multivariate analysis using logistic regression showed that knowledge and attitudessimultaneously influenced caries, with knowledge being the most influential (OR 3.007). In toddlers with normal nutritional status, knowledge, attitudes, and actions were not associated with caries. In toddlers with nutritional problems, maternal attitudes were related to caries (p-value=0.024), while knowledge and actions were not. Multivariate analysis showed that knowledge, attitudes, and actions simultaneously influenced caries, with attitude being the most influential variable (OR 8.381). Qualitative analysis indicated that feeding behavior is influenced by multidimensional factors, including parenting style, economic constraints, and inconsistencies in practice. It is concluded that nutritional status influences the impact of parental behavior on caries. The suggestion is that integration of nutrition and dental health programs is needed, supported by policies to achieve optimal toddler health outcomes and good dental health.

Tesis 2025
Detail
Determinan Kejadian KEK pada Calon Penga...
Determinan Kejadian KEK pada Calon Pengantin (CATIN) di Wilayah Kerja Puskesmas Singkarak Tahun 2024

Nita Tri Putri, Nofrita Anggreni · 2025 · Skripsi · Fakultas Ilmu Kesehatan, S1 Kebidanan

Masalah gizi remaja putri yaitu Kurang Energi Kronik (KEK). Prevalensi KEK pada catin di Solok pada Januari s/d Juni tahun 2024 sebesar 75 kasus. Tujuan penelitian Untuk mengetahui Determinan Kejadian KEK pada Calon Pengantin (CATIN) di Wilayah Kerja Puskesmas Singkarak Tahun 2024. Penelitian deskriptif analitik, variabel independen pengetahuan, pola makan, riwayat anemia, peran petugas kesehatan dan variabel dependen kejadian KEK. Penelitian telah dilakukan pada Oktober s/d Desember 2024 di Wilayah Kerja Puskesmas Singkarak. Populasi adalah seluruh ibu catin Januari s/d Juni 2024 di Wilayah Kerja Puskesmas Singkarak Tahun 2024 berjumlah 110 orang. Teknik pengambilan sampel total sampling. Data diolah secara komputerisasi, dianalisis secara univariat dan bivariat dengan uji statistic chi-square. Hasil penelitian lebih dari separuh 74,5% responden tidak KEK, lebih dari separuh 55,5% responden yang berpengetahuan rendah, lebih dari separuh 64,5% responden yang memiliki pola makan beragam, lebih dari separuh 54,5% responden yang mengalami anemia, lebih dari separuh 51,8% responden yang memiliki peran petugas positif. Hasil uji statistik Chi-Square yaitu ada hubungan signifikan dengan kejadian KEK p value < 0,05 yaitu pengetahuan (0,000), pola makan (0,000), anemia (0,012), peran tenaga kesehatan (0,000). Kesimpulan ada hubungan signifikan dengan kejadian KEK dengan pengetahuan, pola makan, anemia, dan peran tenaga kesehatan. Diharapkan petugas kesehatan dapat memberikan penyuluhan kesehatan tentang anemia. Abstract (EN): Adolescent girls often face nutritional issues, particularly Chronic Energy Deficiency (CED). The prevalence of CED among brides-to-be (CATIN) in Solok from January to June 2024 reached 75 cases. The aim of this study was to identify the determinants of CED incidents among brides-to-be in the working area of Singkarak Community Health Center in 2024. This research employed a descriptive-analytic design with independent variables including knowledge, dietary patterns, anemia history, and the role of healthcare workers, while the dependent variable was the incidence of CED. The study was conducted from October to December 2024 in the working area of Singkarak Community Health Center. The population consisted of all brides-to-be registered from January to June 2024, totaling 110 individuals. The sampling technique used was total sampling. Data was processed using computerized systems and analyzed using univariate and bivariate analysis with the chi-square statistical test. The results showed that more than half (74.5%) of respondents did not experience CED, while over half (55.5%) had low knowledge levels. Additionally, 64.5% of respondents had diverse dietary patterns, 54.5% experienced anemia, and 51.8% had positive support from healthcare workers. The Chi-Square test revealed a significant relationship between CED incidence and all independent variables with p-values < 0.05, specifically: knowledge (0.000), dietary patterns (0.000), anemia (0.012), and the role of healthcare workers (0.000). Conclusion: There is a significant relationship between CED incidence and knowledge, dietary patterns, anemia, and the role of healthcare workers. It is recommended that healthcare workers provide health education on anemia prevention.

Skripsi 2025
Detail
Analisis Faktor yang Mempengaruhi Pemili...
Analisis Faktor yang Mempengaruhi Pemilihan Kontrasepsi MKJP di Puskesmas Kota Pariaman tahun 2025.

Neila Sulung, Nurhayati, Enti Elita · 2025 · Tesis · Fakultas Ilmu Kesehatan, S2 Kesehatan Masyarakat

Tren kebutuhan penggunaan metode/alat KB di antara wanita menikah pada SDKI 2023 yaitu sebesar 73%, hal ini menunjukkan penurunan yang minim dilihat dari periode sebelumnya yaitu sebesar 74% pada SDKI 2022. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis faktor yang mempengaruhi pemilihan kontrasepsi MKJP di Puskesmas Kota Pariaman tahun 2025. Objek penelitian yang dilakukan di 4 Puskesmas Kota Pariaman. Jenis penelitian mix method. Variabel penelitian independen adalah pengetahuan, dukungan pasangan, peran petugas, budaya, persepsi. Variabel dependen adalah penggunaan kontrasepsi MKJP. Sampel dalam penelitian ini adalah akseptor KB sebanyak 374 orang. Informan dalam penelitian ini adalah Kepala UPTDKB, Kepala Puskesmas, pemegang program KB dinas KB dan Puskesmas dan Akseptor KB. Data dikumpulkan dengan cara melakukan wawancara pada informan dan penyebaran angket dan uji analisa data yang digunakan adalah triangulasi sumber (data), uji univariat dan uji bivariat dengan analisa chi square. Terdapat hubungan pengetahuan, dukungan suami, budaya, persepsi dengan pemilihan kontrasepsi MKJP. Tidak terdapat hubungan peran petugas terhadap pemilihan kontrasepsi MkJP dengan p value 0,664. Kebijakan pelaksanaan program Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP) di Kota Pariaman telah didukung oleh sumber daya manusia yang sudah berkompeten dan juga dukungan sarana dan prasarana, kesesuaian anggaran dana untuk operasional program kontrasepsi MKJP. Capaian program masih di bawah target yang telah ditetapkan. Kesimpulan penelitian bahwa capaian metode kontrasepsi MKJP di Kota Pariaman masih belum mencapai target. Salah satu faktor yang mempengaruhi capaian program MKJP tersebut adalah dukungan suami yang masih kurang dan juga pengetahuan masyarakat yang masih rendah. Kerjasama dengan lintas sektoral ke depannya lebih ditingkatkan lagi dan juga durasi dan frekuensi edukasi kesehatan kepada pasangan usia subur juga ditingkatkan. Abstract (EN): The trend of using contraceptive methods/devices among married women in the 2023 IDHS (Indonesian Demographic and Health Survey) is 73%, which indicates a minimal decrease from the previous period, which was 74% in the 2022 IDHS. The purpose of this study is to analyze the factors that influence the choice of long-term contraceptive methods (MKJP) at the Pariaman City Health Center in 2025. The research was conducted in 4 Health Centers in Pariaman City, using a mixed-methods research approach. The independent variables of the study are knowledge and support." staff roles, culture, and perception. The dependent variable is the use of long-term contraceptive methods (MKJP). The sample in this study consisted of 374 family planning acceptors. Informants in this study included the Head of UPTDKB (Technical Implementation Unit for Family Planning), Head of the Health Center, family planning program holders in the Health Office, and Family Planning Acceptors. Data were collected through interviews with informants, questionnaire distribution, and data analysis using triangulation of sources (data), univariate tests, and bivariate tests with chi-square analysis. There is a relationship between knowledge, spousal support, culture, and perception with the choice of long-term contraceptive methods (MKJP). There is no relationship between staff roles and the choice of long-term contraceptive methods (MKJP) with a p-value of 0.664. The policy implementation of the Long- Term Contraceptive Method (MKJP) program in Pariaman City is supported by competent human resources and adequate facilities and infrastructure, as well as the suitability of budget funds for the operational program of long-term contraceptive methods (MKJP). The achievement of the program is still below the set target. The conclusion of the study is that the achievement of the long-term contraceptive method (MKJP) program in Pariaman City has not yet reached the target. One of the factors that influences the achievement of the MKJP program is the lack of spousal support and the lack of public knowledge with high demand. Cross-sectoral cooperation needs to be further enhanced, and the duration and frequency of health education for fertile-age couples should also be increased.

Tesis 2025
Detail
Pengaruh Terapi Mewarnai Terhadap Penuru...
Pengaruh Terapi Mewarnai Terhadap Penurunan Kecanduan Gadged Pada Anak Usia 3 – 6 Tahun

Vedjia Medhyna, Nike Puspita Sari · 2025 · Skripsi · Fakultas Ilmu Kesehatan, S1 Kebidanan

Penggunaan media teknologi interaktif melalui gadget meningkat pesat di kalangan anak prasekolah (3-6 tahun) yang menyebabkan kecanduan dan berakibat terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak. Bidan sebagai pelaksana, dapat berkolaborasi dengan orang tua dalam mengurangi kecanduan gadget pada anak prasekolah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh terapi mewarnai untuk mengurangi kecanduan gadget pada anak usia 3-6 tahun. Penelitian ini menggunakan design quasy-experiment with control group. Penelitian ini melibatkan 35 responden pada masing masing kelompok dengan teknik acidental sampling di Kecamatan Bukit Barisan. Terapi mewarnai diberikan sebanyak 1 kali sehari selama 30 menit selama 5 hari. Kecanduan gadget dinilai menggunakan kuesioner. Hasil penelitian pada kelompok intervensi nilai rata – rata kecanduan gadget sebelum dilakukan intervensi sebesar 43,91 dan menurun menjadi 30.05 dengan p value 0,000, sedangkan pada kelompok control sebelum intervensi sebesar 44,88 dan menjadi 45,34 setelah dilakukan intervensi. Hasil uji statistic antara kedua kelompok didapatkan nilai t sebesar 18,60 yang menunjukkan bahwa terapi mewarnai memiliki efek signifikan dalam mengurangi kecanduan gadged pada anak usia 3- 6 tahun daripada kelompok kontrol. Dapat disimpulkan bahwa terapi mewarnai efektif dalam mengurangi kecanduan gadged pada anak usia 3-6 tahun. Diharapkan bidan dapat mengadakan program edukasi rutin bagi orang tua mengenai terapi alternative dalam mengurangi kecanduan gadged pada anak seperti terapi mewarnai. Abstract (EN): The use of interactive technological media through gadgets has rapidly increased among preschool children (3–6 years old), leading to addiction and affecting their growth and development. Midwives, as practitioners, can collaborate with parents to reduce gadget addiction in preschool children. This study aims to determine the effect of coloring therapy on reducing gadget addiction in children at 3–6 years. This research employed a quasi-experimental design with a control group, involving 35 respondents in each group, selected through acidental sampling in Bukit Barisan Subdistrict. Coloring therapy was conducted once daily for 30 minutes over five days. Gadget addiction was assessed using a questionnaire. The results showed that in the intervention group, the average gadget addiction score decreased from 43.91 before intervention to 30.05 after intervention, with a p-value of 0.000. In the control group, the score increased slightly from 44.88 before intervention to 45.34 afterward. Statistical analysis between the two groups showed a t-value of 17.5, indicating that coloring therapy had a significant effect on reducing gadget addiction in children aged 3–6 years compared to the control group. It can be concluded that coloring therapy is effective in reducing gadget addiction in children aged 3–6 years. Midwives are encouraged to organize routine educational programs for parents about alternative therapies to reduce gadget addiction in children, such as coloring therapy.

Skripsi 2025
Detail
Analisis Faktor Pelaporan Insiden Kesela...
Analisis Faktor Pelaporan Insiden Keselamatan Pasien Terhadap Peningkatan Mutu Pelayanan Di Rumah Sakit Islam Siti Rahmah Kota Padang Tahun 2025.

Evi Hasnita, Billy Hernaldo Putra, Elmi Eliawati · 2025 · Tesis · Fakultas Ilmu Kesehatan, S2 Kesehatan Masyarakat

Menurut WHO Keselamatan pasien didefinisikan sebagai tidak adanya bahaya yang dapat dicegah pada pasien dan pengurangan risiko bahaya yang tidak perlu, terkait dengan perawatan kesehatan ke tingkat minimum yang dapat diterima. Penelitian ini bertujuan untuk Analisis Faktor Pelaporan Insiden Keselamatan Pasien Terhadap Peningkatan Mutu Pelayanan di Rumah Sakit Islam Siti Rahmah Kota Padang Tahun 2025. Penelitian ini menggunakan penelitian mix method yang dilakukan di Rumah Sakit Islam Siti Rahmah pada bulan Juli 2025. Sampel sebanyak 163 tenaga kesehatan dan 7 Informan. Hasil penelitian menunjukkan dari 163 tenaga kesehatan berpengetahuan rendah 51, sikap kurang baik 57, persepsi kurang baik 57, motivasi kurang baik 43, kebijakan tidak berperan 46, budaya melapor kurang baik 91, mutu pelayanan yang kurang baik 76. Analisis bivariat menunjukkan 112 pengetahuan yang tinggi 33,9% mutu yang kurang baik, 120 motivasi yang baik 36,7% mutu yang kurang baik, 86 budaya pelaporan yang baik 45,3% mutu yang kurang baik, analisis multivariat yang paling berpengaruh variable pengetahuan dengan P Value 0,006 Abstract (EN): According to the World Health Organization (WHO), patient safety is defined as the absence of preventable harm to a patient and the reduction of unnecessary risk of harm associated with healthcare to an acceptable minimum. This study aims to analyze the factors influencing patient safety incident reporting and its impact on the improvement of service quality at Siti Rahmah Islamic Hospital in Padang City in 2025. This research uses a mixed-methods approach, conducted at Siti Rahmah Islamic Hospital in July 2025. The sample included 163 healthcare workers and 7 key informants. The results show that among the 163 healthcare workers: 51 had low knowledge, 57 had poor attitudes, 57 had poor perceptions, 43 had low motivation, 46 stated that policy played no significant role, 91 indicated a poor reporting culture, and 76 reported poor service quality. Bivariate analysis revealed: Among those with high knowledge (112), 33.9% still reported poor service quality. Among those with good motivation (120), 36.7% reported poor service quality. Among those with a good reporting culture (86), 45.3% still reported poor service quality. Multivariate analysis identified knowledge as the most influential variable, with a P-value of 0.006 < 0.05 and Odds Ratio (OR) of 2.516. Interview results indicated that lack of socialization and guarantees of safety for reporters contributed to the low level of patient safety incident reporting. Conclusion: Knowledge regarding patient safety incident reporting significantly affects service quality improvement in hospitals, with a P-value < α (0.05). It is recommended that hospital management becomes more proactive in socializing the importance of reporting and ensuring the safety of reporters, so that the reporting rate of patient safety incidents can increase.

Tesis 2025
Detail
Analisis Kualitas Pelayanan Terhadap Kep...
Analisis Kualitas Pelayanan Terhadap Kepuasan Pasien pada Instalasi Rawat Jalan RSUD Tuanku Imam Bonjol Lubuk Sikaping Tahun 2025.

Oktavianis, Nurdin, Efit Enida Fitma · 2025 · Tesis · Fakultas Ilmu Kesehatan, S2 Kesehatan Masyarakat

Menurunnya tingkat kepuasan pasien dan menurunnya jumlah kunjungan pasien. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kualitas pelayanan (tangible, reliability, responsiveness, assurance, emphaty dan waktu tunggu rawat jalan) terhadap kepuasan pasien pada Instalasi Rawat Jalan RSUD Tuanku Imam Bonjol. Penelitian menggunakan metode campuran (mixed methods). Kuantitatif menggunakan pendekatan cross sectional. Sampel penelitian adalah pasien yang berkunjung ke instalasi rawat jalan, teknik pengambilan sampel menggunakan accidental sampling berjumlah 110 orang. Data dianalisis menggunakan uji Chi Square dan Regresi Logistik. Informan kualitatif adalah internal rumah sakit dan pasien yang diambil dengan teknik purposive sampling sebanyak 17 orang. Pengumpulan data menggunakan metode wawancara mendalam, telaah dokumen dan observasi dianalisis dengan triangulasi. Penelitian dilakukan selama bulan April-Juni 2025. Hasil penelitian diperoleh tangible p-value 0.000, reliability p- value 0.000, responsiveness p-value 0.000, assurance p-value 0.000, emphaty p- value 0.156, waktu tunggu rawat jalan p-value 0.029, variabel yang berpengaruh secara bersama-sama adalah tangible, responsiveness, assurance dan waktu tunggu rawat jalan dengan p-value 0.001, dan variabel yang paling berpengaruh adalah responsiveness dengan p-value 0.001 dan odds ratio 37.144. Komponen input kebijakan dan ketersediaan SDMK sudah mencukupi, biaya dan sarana prasarana masih kurang. Komponen proses perencanaan, pengorganisasian dan pelaksanaan sudah berjalan sesuai aturan, monitoring dan evaluasi berjalan kurang efektif dan kepuasan yang dirasakan pasien masih kurang baik. Terdapat hubungan signifikan antara variabel tangible, reliability, responsiveness, assurance dan waktu tunggu rawat jalan dengan kepuasan pasien, variabel yang berpengaruh secara bersama-sama adalah tangible, responsiveness, assurance, waktu tunggu rawat jalan dan variabel yang paling berpengaruh adalah responsiveness. Komponen yang paling berpengaruh terhadap kepuasan pasien adalah komponen input variabel sarana prasarana. Untuk meningkatkan kualitas pelayanan dan kepuasan pasien perlu membuat kebijakan pasien datang 1 (satu) jam sebelum estimasi dilayani, memperkuat komitmen bersama dokter penanggung jawab pelayanan agar pelayanan di instalasi rawat jalan sesuai jadwal yang ditentukan, penambahan kursi di ruang tunggu, kursi roda serta meningkatkan monitoring dan evaluasi. Abstract (EN): The decreasing levels of patient satisfaction and decreasing number of patient visits. This study aims to analyze the quality of service (tangible, reliability, responsiveness, assurance, empathy and outpatient waiting time) on patient satisfaction at the Outpatient Installation of Tuanku Imam Bonjol Regional Hospital. The study used mixed methods. Quantitative using a cross-sectional approach. The study sample was patients visiting the outpatient installation, the sampling technique used accidental sampling totaling 110 people. Data were analyzed using the Chi Square test and Logistic Regression. Qualitative informants were internal hospital and patients taken with a purposive sampling technique of 17 people. Data collection used in-depth interviews, document reviews and observations analyzed with triangulation. The study was conducted from April to June 2025. The results of the tangible research obtained a p-value of 0.000, reliability p-value of 0.000, responsiveness p-value of 0.000, assurance p- value of 0.000, empathy p-value of 0.156, outpatient waiting time p-value of 0.029, the variables that influence together are tangible, responsiveness, assurance and outpatient waiting time with a p-value of 0.001, and the most influential variable is responsiveness with a p-value of 0.001 and an odds ratio of 37.144. The results of the research on input components, policy and the availability of HHR (Health Human Resources) are sufficient, costs and infrastructure are still lacking. The process components, planning, organizing and implementation have been running according to the rules, monitoring and evaluation are less effective and patient satisfaction is still less good. There is a significant relationship between tangible, reliability, responsiveness, assurance and outpatient waiting time variables with patient satisfaction, the variables that influence together are tangible, responsiveness, assurance, outpatient waiting time and the most influential variable is responsiveness. The most influential component on patient satisfaction is the input component of infrastructure variables. To improve the quality of service and patient satisfaction, it is necessary to create a policy for patients to arrive 1 (one) hour before the estimated time of service, strengthen the joint commitment with the doctor in charge of services so that services in the outpatient installation are according to the specified schedule, add chairs in the waiting room, wheelchairs and improve monitoring and evaluation.

Tesis 2025
Detail
Faktor – Faktor Yang Mempengaruhi Tinggi...
Faktor – Faktor Yang Mempengaruhi Tingginya Pemberian Susu Fortlmula Pada Bayi Baru Lahir Di Wilayah Kerja Puskesmas Sungai Limau Kabupaten Dharmasraya Tahun 2024

Ainal Mardiah, Nengsih · 2025 · Skripsi · Fakultas Ilmu Kesehatan, S1 Kebidanan

Susu formula merupakan susu sapi yang susunan nutrisinya diubah sedemikian rupa hingga dapat diberikan kepada bayi tanpa memberikan efek samping. Pemberian susu formula pada bayi biasanya dilakukan karena keadaan keadaan yang terjadi pada ibu, seperti puting rata, puting lecet, payudara bengkak, saluran susu tersumbat, infeksi payudara, abses payudara, dan karena pekerjaan. Data dunia sebanyak 67.69% ASI ekslusif, Indonesia dengan persentase 73-97%, data Smatera Barat sebanyak 75.84% ASI ekslusif, Kabupaten Dharmasraya ASI ekslusif sebanyak 30.9%, Puskesmas Sungai Limau sebanyak 25% ASI ekslusif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Faktor yang Mempengaruhi Tingginya Pemberian Susu Formula pada Bayi Baru Lahir di Puskesmas Sungai Limau Tahun 2024. Penelitian ini dilakukan akan dilakukan pada bulan Oktober- November 2024 di Puskesmas Sungai Limau. Jenis penelitian ini menggunakan metode Kuantitaif dengan desain penelitian cross sectional. Populasi dalam penelirian ini sebanyak 137 ibu menyusui dan sampel sebanyak 58 responden. Berdasarkan hasil penelitian didapatkan p-value sebesar 0.166 > α (0.05) yang artinya tidak ada hubungan pengetahuan dengan pemberian susu formula. Didapatkan nilai p-value sebesar 0.633 > α (0.05) yang artinya tidak ada hubungan sikap dengan pemberian susu formula. 0.083 > α (0.05) yang artinya tidak ada hubungan dukungan suami dengan pemberian susu formula. Didapatkan nilai p-value sebesar 0.083 > α (0.05) yang artinya tidak ada hubungan budaya dengan pemberian susu formula. Dapat disimpulkan bahwa di Wilayah Kerja Puskesmas Sungai Limau Kabupaten Dharmasyara pengetahuan, sikap, dukungan suami dan budaya tidak ada pengaruh terhadap pemberian susu formula pada bayi baru lahir. Disarankan kepada masyarakat untuk terus menggali informasi tentang susu formula. Abstract (EN): Formula milk is cow's milk that has been nutritionally modified to the extent that it can be given to infants without causing side effects. Formula milk is typically given to infants due to various conditions affecting mothers, such as flat nipples, cracked nipples, engorged breasts, blocked milk ducts, breast infections, breast abscesses, and work-related reasons. Globally, the percentage of exclusive breastfeeding is 67.69%, while Indonesia reports a range of 73-97%. In West Sumatra, the rate of exclusive breastfeeding is 75.84%, compared to 30.9% in Dharmasraya Regency and 25% in Sungai Limau Community Health Center. This study aims to identify the factors influencing the high use of formula milk for newborns in Sungai Limau Community Health Center in 2024. The study will be conducted from October to November 2024 at Sungai Limau Community Health Center. This research adopts a quantitative method with a cross-sectional design. The population consists of 137 breastfeeding mothers, with a sample size of 58 respondents. The study's findings reveal a p-value of 0.166 > α (0.05), indicating no significant relationship between knowledge and formula milk use. A p-value of 0.633 > α (0.05) indicates no relationship between attitudes and formula milk use. A p-value of 0.083 > α (0.05) shows no relationship between spousal support and formula milk use, and a p-value of 0.083 > α (0.05) indicates no relationship between cultural factors and formula milk use. In conclusion, in the working area of Sungai Limau Community Health Center, Dharmasraya Regency, knowledge, attitudes, spousal support, and cultural factors do not significantly influence the use of formula milk for newborns. The study recommends that the community continue seeking information about formula milk.

Skripsi 2025
Detail