Uji Aktivitas Antikanker Secara In Vitro dari Ekstrak Pelarut Non Polar Daun Piladang Hijau (Coleus monostachyus) Terhadap Sel Kanker Payudara MCF-7.
Categorie(s):
Skripsi
Author(s):
Triastuti, Fira
Advisor:
Putra, Billy Harnaldo
ISSN/ISBN:
-
eISSN/eISBN:
-
Volume:
-
Keyword(s):
Kanker payudara, Coleus monostachyus, BSLT, MTT Assay
DOI:
-
Abstract :
Kanker payudara merupakan salah satu kanker dengan prevalensi tertinggi. Terapi
konvensional seperti kemoterapi sering menimbulkan efek samping pada sel sehat.
Penelitian ini bertujuan mengevaluasi aktivitas antikanker ekstrak non polar daun
piladang hijau (Coleus monostachyus) terhadap sel kanker MCF-7 secara in vitro
serta menentukan pelarut non polar paling efektif dalam mengekstraksi senyawa
sitotoksik. Ekstraksi dengan metode maserasi menggunakan pelarut kloroform,
diklorometana, dan n-heksan. Kloroform menghasilkan rendemen tertinggi
(18,5%), diikuti diklorometana (17,5%) dan n-heksan (15,5%). Skrining fitokimia
menunjukkan seluruh ekstrak mengandung alkaloid, flavonoid, tanin, dan steroid.
Uji toksisitas metode Brine Shrimp Lethality Test (BSLT) menunjukkan nilai LC50
terendah pada ekstrak kloroform (100,50 g/mL), diikuti n-heksan (143,05 g/mL)
dan diklorometana (240,71 g/mL), semuanya tergolong toksik sedang. Uji
sitotoksik metode MTT Assay juga menunjukkan IC50 terendah pada ekstrak
kloroform (128,82 g/mL), diikuti n-heksan (150,02 g/mL) dan diklorometana
(278,84 g/mL). Seluruh ekstrak menunjukkan efek sitotoksik secara konsentrasi-
dependen. Hasil menunjukkan bahwa ekstrak daun Coleus monostachyus dengan
pelarut kloroform memiliki potensi tertinggi sebagai agen antikanker alami.
Penelitian ini mendukung pemanfaatan tanaman obat sebagai alternatif terapi
kanker yang lebih aman dan efektif.
konvensional seperti kemoterapi sering menimbulkan efek samping pada sel sehat.
Penelitian ini bertujuan mengevaluasi aktivitas antikanker ekstrak non polar daun
piladang hijau (Coleus monostachyus) terhadap sel kanker MCF-7 secara in vitro
serta menentukan pelarut non polar paling efektif dalam mengekstraksi senyawa
sitotoksik. Ekstraksi dengan metode maserasi menggunakan pelarut kloroform,
diklorometana, dan n-heksan. Kloroform menghasilkan rendemen tertinggi
(18,5%), diikuti diklorometana (17,5%) dan n-heksan (15,5%). Skrining fitokimia
menunjukkan seluruh ekstrak mengandung alkaloid, flavonoid, tanin, dan steroid.
Uji toksisitas metode Brine Shrimp Lethality Test (BSLT) menunjukkan nilai LC50
terendah pada ekstrak kloroform (100,50 g/mL), diikuti n-heksan (143,05 g/mL)
dan diklorometana (240,71 g/mL), semuanya tergolong toksik sedang. Uji
sitotoksik metode MTT Assay juga menunjukkan IC50 terendah pada ekstrak
kloroform (128,82 g/mL), diikuti n-heksan (150,02 g/mL) dan diklorometana
(278,84 g/mL). Seluruh ekstrak menunjukkan efek sitotoksik secara konsentrasi-
dependen. Hasil menunjukkan bahwa ekstrak daun Coleus monostachyus dengan
pelarut kloroform memiliki potensi tertinggi sebagai agen antikanker alami.
Penelitian ini mendukung pemanfaatan tanaman obat sebagai alternatif terapi
kanker yang lebih aman dan efektif.