Evaluasi Aktivitas Antikanker Secara In Vitro Dari Ekstrak Pelarut Polar Daun Inggu (Ruta graveolens L.) Terhadap Sel Kanker Payudara MCF-7.
Categorie(s):
Skripsi
Author(s):
Larassaty, Dellia
Advisor:
Putra, Billy Harnaldo
ISSN/ISBN:
-
eISSN/eISBN:
-
Volume:
-
Keyword(s):
Ruta graveolens, MCF-7, pelarut polar, Brine Shrimp Lethality Test,
MTT Assay
DOI:
-
Abstract :
Salah satu penyakit degeneratif yang paling mematikan yaitu kanker payudara.
Terapi konvensional seperti kemoterapi sering menimbulkan efek samping yang
serius, sehingga diperlukan alternatif pengobatan yang lebih aman dan efektif.
Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi aktivitas antikanker ekstrak polar daun
inggu (Ruta graveolens L.) terhadap sel kanker payudara MCF-7 secara in vitro
dengan pelarut metanol, aseton, dan aquades. Ekstraksi dilakukan dengan metode
maserasi. Rendemen tertinggi diperoleh dari ekstrak aquades (36%), diikuti
metanol (22,5%), dan aseton (11%). Uji skrining fitokimia menunjukkan semua
ekstrak mengandung alkaloid, flavonoid, tanin, kumarin, terpenoid, dan steroid. Uji
toksisitas dilakukan menggunakan metode Brine Shrimp Lethality Test (BSLT) dan
uji sitotoksik menggunakan metode Mtt Assay. Hasil menunjukkan bahwa ekstrak
metanol memiliki nilai LC50 sebesar 8,035 g/mL dan tergolong sangat toksik,
sedangkan ekstrak aseton dan aquades menunjukkan toksisitas sedang dengan nilai
LC50 masing-masing sebesar 44,36 g/mL dan 72,175 g/mL. Uji MTT
menunjukkan bahwa ekstrak metanol memiliki nilai IC50 sebesar 42,26 g/mL
(toksik sedang), ekstrak aseton sebesar 108,60 g/mL (toksik sedang), dan ekstrak
aquades sebesar 544,31 g/mL (tidak toksik). Dengan demikian, ekstrak metanol
daun inggu menunjukkan potensi tertinggi sebagai agen antikanker terhadap sel
MCF-7 dibandingkan pelarut lainnya.
Terapi konvensional seperti kemoterapi sering menimbulkan efek samping yang
serius, sehingga diperlukan alternatif pengobatan yang lebih aman dan efektif.
Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi aktivitas antikanker ekstrak polar daun
inggu (Ruta graveolens L.) terhadap sel kanker payudara MCF-7 secara in vitro
dengan pelarut metanol, aseton, dan aquades. Ekstraksi dilakukan dengan metode
maserasi. Rendemen tertinggi diperoleh dari ekstrak aquades (36%), diikuti
metanol (22,5%), dan aseton (11%). Uji skrining fitokimia menunjukkan semua
ekstrak mengandung alkaloid, flavonoid, tanin, kumarin, terpenoid, dan steroid. Uji
toksisitas dilakukan menggunakan metode Brine Shrimp Lethality Test (BSLT) dan
uji sitotoksik menggunakan metode Mtt Assay. Hasil menunjukkan bahwa ekstrak
metanol memiliki nilai LC50 sebesar 8,035 g/mL dan tergolong sangat toksik,
sedangkan ekstrak aseton dan aquades menunjukkan toksisitas sedang dengan nilai
LC50 masing-masing sebesar 44,36 g/mL dan 72,175 g/mL. Uji MTT
menunjukkan bahwa ekstrak metanol memiliki nilai IC50 sebesar 42,26 g/mL
(toksik sedang), ekstrak aseton sebesar 108,60 g/mL (toksik sedang), dan ekstrak
aquades sebesar 544,31 g/mL (tidak toksik). Dengan demikian, ekstrak metanol
daun inggu menunjukkan potensi tertinggi sebagai agen antikanker terhadap sel
MCF-7 dibandingkan pelarut lainnya.