Analisis Integrasi Program Antar Lintas Sektor Dalam Percepatan Penurunan stunting Melalui Aksi Konvergensi Di Kota Solok.
Categorie(s):
Tesis
Author(s):
Juned, Sabria Octrina
Advisor:
Oktavianis
Sulung, Neila
Sulung, Neila
ISSN/ISBN:
-
eISSN/eISBN:
-
Volume:
-
Keyword(s):
integrasi, lintas sektor, stunting
DOI:
-
Abstract :
Stunting masih menjadi masalah kesehatan gizi pada balita di seluruh dunia.
Di Kota Solok, prevalensi stunting berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia
tahun 2023 menurun dari 18,1% menjadi 16,3%, namun kembali meningkat
menjadi 18,6%. Upaya tersebut membutuhkan keterlibatan multisektor dan
sinkronisasi program. Namun, pelaksanaan aksi konvergensi lintas sektor masih
belum optimal karena kurangnya koordinasi antar OPD dan adanya efisiensi
anggaran.
Penelitian ini menggunakan penelitian mix method dilakukan di Kota Solok
pada bulan Juli-Agustus 2025. Sampel sebanyak 105 Ibu yang memiliki anak usia
6-23 bulan dan 14 informan dengan analisis Chi Square.
Hasil analisis univariat distribusi frekuensi stunting 52,4%, ANC sesuai
standar 77,1%, tidak ASI Ekslusif 54,3%, BBLR 54,3%, imunisasi lengkap
55,2%, sanitasi baik 88,6%, pendapatan keluarga tinggi 54,3%, usia ibu saat
hamil tidak beresiko 62,9%, pola asuh tidak baik 50,5%. Analisis bivariat
menunjukkan variabel yang berhubungan dengan kejadian stunting adalah
riwayat ASI Ekslusif (OR = 2,617), riwayat BBLR (OR = 2,617), riwayat
imunisasi (OR = 3,246), sanitasi lingkungan (OR = 5,333), pendapatan keluarga
(OR = 2,957), usia ibu saat hamil (OR = 4,462), dan pola asuh (OR =3,111). Hasil
wawancara diperoleh belum optimalnya integrasi lintas sektor dalam aksi
konvergensi percepatan penurunan stunting karena adanya efisiensi pada tahun
2025, sehingga sasaran yang mendapatkan intervensi berkurang.
Kesimpulan faktor paling berpengaruh terhadap kejadian stunting di Kota
Solok adalah Riwayat ASI Ekslusif dengan P-value 0.000, OR 9,068.
Harapannya agar Pemerintah membuatkan ruang laktasi dan dilakukan
monitoring evaluasi terpadu lintas sektor untuk memastikan program berjalan
sesuai target, dengan sistem data yang akurat dan terintegrasi.
Di Kota Solok, prevalensi stunting berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia
tahun 2023 menurun dari 18,1% menjadi 16,3%, namun kembali meningkat
menjadi 18,6%. Upaya tersebut membutuhkan keterlibatan multisektor dan
sinkronisasi program. Namun, pelaksanaan aksi konvergensi lintas sektor masih
belum optimal karena kurangnya koordinasi antar OPD dan adanya efisiensi
anggaran.
Penelitian ini menggunakan penelitian mix method dilakukan di Kota Solok
pada bulan Juli-Agustus 2025. Sampel sebanyak 105 Ibu yang memiliki anak usia
6-23 bulan dan 14 informan dengan analisis Chi Square.
Hasil analisis univariat distribusi frekuensi stunting 52,4%, ANC sesuai
standar 77,1%, tidak ASI Ekslusif 54,3%, BBLR 54,3%, imunisasi lengkap
55,2%, sanitasi baik 88,6%, pendapatan keluarga tinggi 54,3%, usia ibu saat
hamil tidak beresiko 62,9%, pola asuh tidak baik 50,5%. Analisis bivariat
menunjukkan variabel yang berhubungan dengan kejadian stunting adalah
riwayat ASI Ekslusif (OR = 2,617), riwayat BBLR (OR = 2,617), riwayat
imunisasi (OR = 3,246), sanitasi lingkungan (OR = 5,333), pendapatan keluarga
(OR = 2,957), usia ibu saat hamil (OR = 4,462), dan pola asuh (OR =3,111). Hasil
wawancara diperoleh belum optimalnya integrasi lintas sektor dalam aksi
konvergensi percepatan penurunan stunting karena adanya efisiensi pada tahun
2025, sehingga sasaran yang mendapatkan intervensi berkurang.
Kesimpulan faktor paling berpengaruh terhadap kejadian stunting di Kota
Solok adalah Riwayat ASI Ekslusif dengan P-value 0.000, OR 9,068.
Harapannya agar Pemerintah membuatkan ruang laktasi dan dilakukan
monitoring evaluasi terpadu lintas sektor untuk memastikan program berjalan
sesuai target, dengan sistem data yang akurat dan terintegrasi.