Efektivitas MOL (Mikroorganisme Lokal) Rebung Bambu Sebagai Aktivator Dalam Pembuatan Kompos Di Kota Bukittinggi Tahun 2025.
Categorie(s):
Skripsi
Author(s):
Lativa, Salsa Putri
Advisor:
Hasnita, Evi
ISSN/ISBN:
-
eISSN/eISBN:
-
Volume:
-
Keyword(s):
Mikroorganisme Lokal, Rebung Bambu, Pengomposan
DOI:
-
Abstract :
Masalah sampah termasuk salah permasalahan yang patut untuk
diperhatikan. Tingkat timbulan sampah di kota Bukittinggi pada tahun 2023
mencapai 47,287 pertahun. Salah satu metode yang dapat diterapkan untuk
menangani timbulan sampah organik secara lebih efisien adalah melalui
composting, yakni pengolahan sampah organik menjadi kompos yang dinilai
praktis, hemat biaya, dan ramah lingkungan
Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimen menggunakan desain
kuasi eksperimen. Sampel penelitian sebanyak 24 kompos dengan melakukan 6 kali
pengulangan. Pengolahan data dilakukan dengan Uji One Way Anova dan Uji
Bonferroni.
Hasil uji One Way Anova pada variabel yang di periksa didapatkan hasil
value < 0,000, sehingga dapat disimpulkan bahwa setiap perlakuan
Mikroorganisme Lokal (MOL) memiliki perbedaan lama waktu, dan hasil Uji
Bonferroni diperoleh perlakuan yang paling efektif terhadap lama waktu
terbentuknya kompos pada penambahan Mikroorganisme Lokal (MOL) rebung
bambu adalah 40 ml dengan lama waktu yang diperlukan untuk pengomposan yaitu
19 hari.
Kesimpulan bahwa penambahan MOL (Mikroorganisme Lokal) rebung
bambu sebagai aktivator efektif dalam mempercepat proses pengomposan.
Diharapkan bagi masyarakat, untuk dapat lebih memanfaatkan sampah organik
sekitar dengan cara memilah sampah organik yang sekiranya dapat dijadikan
sebagai kompos dan selanjutnya dapat menggunakan MOL (Mikroorganisme
Lokal) rebung bambu sebagai alternatif aktivator dalam pembuatan kompos yang
ramah lingkungan.
diperhatikan. Tingkat timbulan sampah di kota Bukittinggi pada tahun 2023
mencapai 47,287 pertahun. Salah satu metode yang dapat diterapkan untuk
menangani timbulan sampah organik secara lebih efisien adalah melalui
composting, yakni pengolahan sampah organik menjadi kompos yang dinilai
praktis, hemat biaya, dan ramah lingkungan
Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimen menggunakan desain
kuasi eksperimen. Sampel penelitian sebanyak 24 kompos dengan melakukan 6 kali
pengulangan. Pengolahan data dilakukan dengan Uji One Way Anova dan Uji
Bonferroni.
Hasil uji One Way Anova pada variabel yang di periksa didapatkan hasil
value < 0,000, sehingga dapat disimpulkan bahwa setiap perlakuan
Mikroorganisme Lokal (MOL) memiliki perbedaan lama waktu, dan hasil Uji
Bonferroni diperoleh perlakuan yang paling efektif terhadap lama waktu
terbentuknya kompos pada penambahan Mikroorganisme Lokal (MOL) rebung
bambu adalah 40 ml dengan lama waktu yang diperlukan untuk pengomposan yaitu
19 hari.
Kesimpulan bahwa penambahan MOL (Mikroorganisme Lokal) rebung
bambu sebagai aktivator efektif dalam mempercepat proses pengomposan.
Diharapkan bagi masyarakat, untuk dapat lebih memanfaatkan sampah organik
sekitar dengan cara memilah sampah organik yang sekiranya dapat dijadikan
sebagai kompos dan selanjutnya dapat menggunakan MOL (Mikroorganisme
Lokal) rebung bambu sebagai alternatif aktivator dalam pembuatan kompos yang
ramah lingkungan.