Hubungan Sanitasi Rumah Dengan Kejadian Penyakit Dbd (Demam Berdarah Dengue) Diwilayah Kerja Puskesmas Talawi Kota Sawahlunto Tahun 2025.
Categorie(s):
Skripsi
Author(s):
Afrizal, Adinda Vira
Advisor:
Adriani
ISSN/ISBN:
-
eISSN/eISBN:
-
Volume:
-
Keyword(s):
DBD, sanitasi rumah, tempat penampungan air, pengetahuan
DOI:
-
Abstract :
Demam Berdarah Dengue (DBD) masih menjadi masalah kesehatan di Indonesia, termasuk di Kota
Sawahlunto yang mengalami peningkatan kasus dan ditetapkan sebagai daerah Kejadian Luar Biasa (KLB)
pada tahun 2025. Dimana Kota Sawahlunto penemuan kasus penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD)
sebanyak 127 kasus dengan adanya angka kematian sebanyak 2 kasus dan Puskesmas Talawi merupakan
angka kasus kejadian penyakit DBD yang paling tinggi yaitu sebanyak 59 kasus. Penelitian ini bertujuan
mengetahui hubungan antara sanitasi rumah dengan kejadian DBD di wilayah kerja Puskesmas Talawi.
Metode penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif cross-sectional dengan 74 responden, terdiri dari
37 kasus DBD dan 37 non-kasus. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan observasi, kemudian dianalisis
menggunakan uji Chi-Square. Hasil menunjukkan terdapat hubungan bermakna antara kondisi fisik rumah
(p = 0,000; OR = 16,074), tempat penampungan air (p = 0,000; OR = 13,333), dan tingkat pengetahuan (p =
0,000; OR = 54,444) dengan kejadian DBD. Sementara itu, kepadatan hunian tidak menunjukkan
hubungan signifikan (p = 0,261; OR = 3,387). Kesimpulannya, sanitasi rumah dan pengetahuan masyarakat
berpengaruh terhadap kejadian DBD. Upaya edukasi dan perbaikan sanitasi penting dilakukan untuk
menekan angka kasus DBD.
Sawahlunto yang mengalami peningkatan kasus dan ditetapkan sebagai daerah Kejadian Luar Biasa (KLB)
pada tahun 2025. Dimana Kota Sawahlunto penemuan kasus penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD)
sebanyak 127 kasus dengan adanya angka kematian sebanyak 2 kasus dan Puskesmas Talawi merupakan
angka kasus kejadian penyakit DBD yang paling tinggi yaitu sebanyak 59 kasus. Penelitian ini bertujuan
mengetahui hubungan antara sanitasi rumah dengan kejadian DBD di wilayah kerja Puskesmas Talawi.
Metode penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif cross-sectional dengan 74 responden, terdiri dari
37 kasus DBD dan 37 non-kasus. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan observasi, kemudian dianalisis
menggunakan uji Chi-Square. Hasil menunjukkan terdapat hubungan bermakna antara kondisi fisik rumah
(p = 0,000; OR = 16,074), tempat penampungan air (p = 0,000; OR = 13,333), dan tingkat pengetahuan (p =
0,000; OR = 54,444) dengan kejadian DBD. Sementara itu, kepadatan hunian tidak menunjukkan
hubungan signifikan (p = 0,261; OR = 3,387). Kesimpulannya, sanitasi rumah dan pengetahuan masyarakat
berpengaruh terhadap kejadian DBD. Upaya edukasi dan perbaikan sanitasi penting dilakukan untuk
menekan angka kasus DBD.