Perbedaan Efektivitas Senam Kaki Diabetik Dengan Refleksi Kaki Terhadap Sensitivitas Kaki Pada Penderita Diabetes Mellitus Di Wilayah Kerja Puskesmas Rasimah Ahmad Kota Bukittinggi Tahun 2024.
Categorie(s):
Skripsi
Author(s):
Nurfazira
Advisor:
Juwita, Lisavina
ISSN/ISBN:
-
eISSN/eISBN:
-
Volume:
-
Keyword(s):
Diabetes Mellitus, Refleksi Kaki, Senam Kaki Diabetik, Sensitivitas Kaki
DOI:
-
Abstract :
International Diabetes Federation pada tahun 2019 melaporkan Diabetes Mellitus
(DM) adalah penyakit kronis yang menyebabkan kematian sebesar 4.6 juta jiwa
pertahun. Masalah yang sering terjadi pada pasien DM adalah penurunan sensitivitas
kaki yang dipengaruhi oleh sirkulasi darah kurang optimal, berakibat lanjut ke neuropati
sampai ulkus diabetik. Penelitian ini bertujuan mengetahui perbedaan efektivitas antara
senam kaki diabetik dan refleksi kaki dalam meningkatkan sensitivitas kaki pada pasien
DM di Puskesmas Rasimah Ahmad Kota Bukittinggi. Desain penelitian adalah quasi-
eksperimen dengan dua kelompok pretest dan posttest. Sampel terdiri dari 20 pasien DM
berusia 50-70 tahun yang dipilih secara purposive sampling dari total populasi 165 pasien.
Pengukuran sensitivitas kaki dilakukan menggunakan alat Light Touch Perception. Analisis
data menggunakan uji t untuk senam kaki dan uji Wilcoxon untuk refleksi kaki.
Perbandingan efektivitas antar kedua intervensi diuji dengan uji Kruskal-Wallis H. Hasil
menunjukkan bahwa rata-rata sensitivitas kaki sebelum intervensi senam kaki diabetik
adalah 4,60 meningkat menjadi 6,90 setelah intervensi. Sementara itu, rata-rata sensitivitas
sebelum refleksi kaki adalah 5,30 dan meningkat menjadi 6,50 setelah intervensi. Uji
statistik menunjukkan nilai p = 0,000 untuk senam kaki diabetik dan p = 0,010 untuk
refleksi kaki. Namun, perbandingan efektivitas antara kedua metode menunjukkan p-value
sebesar 0,510. Kesimpulan bahwa senam kaki diabetik maupun refleksi kaki memiliki
pengaruh positif terhadap peningkatan sensitivitas kaki pada pasien diabetes mellitus.
Namun, tidak terdapat perbedaan dalam efektivitas antara kedua metode tersebut. Ini
menunjukkan bahwa kedua terapi dapat digunakan sebagai alternatif dalam upaya
meningkatkan kesehatan pasien DM dan mencegah komplikasi lebih lanjut.
(DM) adalah penyakit kronis yang menyebabkan kematian sebesar 4.6 juta jiwa
pertahun. Masalah yang sering terjadi pada pasien DM adalah penurunan sensitivitas
kaki yang dipengaruhi oleh sirkulasi darah kurang optimal, berakibat lanjut ke neuropati
sampai ulkus diabetik. Penelitian ini bertujuan mengetahui perbedaan efektivitas antara
senam kaki diabetik dan refleksi kaki dalam meningkatkan sensitivitas kaki pada pasien
DM di Puskesmas Rasimah Ahmad Kota Bukittinggi. Desain penelitian adalah quasi-
eksperimen dengan dua kelompok pretest dan posttest. Sampel terdiri dari 20 pasien DM
berusia 50-70 tahun yang dipilih secara purposive sampling dari total populasi 165 pasien.
Pengukuran sensitivitas kaki dilakukan menggunakan alat Light Touch Perception. Analisis
data menggunakan uji t untuk senam kaki dan uji Wilcoxon untuk refleksi kaki.
Perbandingan efektivitas antar kedua intervensi diuji dengan uji Kruskal-Wallis H. Hasil
menunjukkan bahwa rata-rata sensitivitas kaki sebelum intervensi senam kaki diabetik
adalah 4,60 meningkat menjadi 6,90 setelah intervensi. Sementara itu, rata-rata sensitivitas
sebelum refleksi kaki adalah 5,30 dan meningkat menjadi 6,50 setelah intervensi. Uji
statistik menunjukkan nilai p = 0,000 untuk senam kaki diabetik dan p = 0,010 untuk
refleksi kaki. Namun, perbandingan efektivitas antara kedua metode menunjukkan p-value
sebesar 0,510. Kesimpulan bahwa senam kaki diabetik maupun refleksi kaki memiliki
pengaruh positif terhadap peningkatan sensitivitas kaki pada pasien diabetes mellitus.
Namun, tidak terdapat perbedaan dalam efektivitas antara kedua metode tersebut. Ini
menunjukkan bahwa kedua terapi dapat digunakan sebagai alternatif dalam upaya
meningkatkan kesehatan pasien DM dan mencegah komplikasi lebih lanjut.