Determinan Resiko Bunuh Diri Pada Remaja Kelas XI SMA Negeri Di Bukittingi Tahun 2024.
Categorie(s):
Skripsi
Author(s):
Kamil, Najmi Hanifah
Advisor:
Sulung, Neila
ISSN/ISBN:
-
eISSN/eISBN:
-
Volume:
-
Keyword(s):
Depresi, Determinan, Remaja, Resiko Bunuh Diri
DOI:
-
Abstract :
Bunuh diri merupakan masalah kesehatan mental dan kasus ini paling
banyak terjadi pada remaja dibanding kelompok usia lain. Secara global, kasus
bunuh diri merupakan penyebab kematian kedua terbanyak pada individu yang
berusia 15-29 tahun, dan sekitar 74% dari 1018 remaja usia 15-29 tahun pernah
melakukan percobaan bunuh diri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui
Determinan Resiko Bunuh Diri Pada Remaja Di SMA Negeri Di Bukittinggi
Tahun 2024. Jenis penelitian kuantitatif menggunakan desain cross-sectional
dengan populasi sebanyak 1.759 orang dan sampel sebanyak 326 orang. Penelitian
dilakukan pada bulan Agustus - November 2024. Pengambilan sampel
menggunakan teknik proportionated stratified random sampling. Pengumpulan
data menggunakan lembar kuesioner, analisis data meliputi univariat, bivariatdan
multivariat. Hasil penelitian dari 326 responden diketahui terdapat hubungan
depresi (Pvalue = 0,000 dan OR = 3.3), bullying (Pvalue = 0,000 dan OR = 3.2) dan
pola asuh orangtua (Pvalue = 0,000 dan OR = 3.1) dengan resiko bunuh diri pada
remaja kelas XI SMA Negeri di Bukittinggi. Namun, tidak terdapat hubungan
penyalahgunaan narkoba (Pvalue = 0,354) dengan resiko bunuh diri pada remaja
kelas XI SMA Negeri di Bukittinggi. Hasil analisis multivariat menujukkan
bahwa variabel yang paling berpengaruh terhadap resiko bunuh diri adalah depresi
(Pvalue = 0,000). Diharapkan remaja depresi untuk mengalihkan rasa depresinya
kearah yang positif seperti olahraga bersama teman sebayanya ataupun bermain
dengan keluarga maupun hewan peliharaan untuk melepas depresi yang dialami.
Selain itu, remaja juga dianjurkan untuk bercerita dengan orangtua ataupun
konsultasi dengan guru konseling di sekolah untuk mencari solusi dari depresi
yang dialami dan manajemen stress dimasa mendatang.
banyak terjadi pada remaja dibanding kelompok usia lain. Secara global, kasus
bunuh diri merupakan penyebab kematian kedua terbanyak pada individu yang
berusia 15-29 tahun, dan sekitar 74% dari 1018 remaja usia 15-29 tahun pernah
melakukan percobaan bunuh diri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui
Determinan Resiko Bunuh Diri Pada Remaja Di SMA Negeri Di Bukittinggi
Tahun 2024. Jenis penelitian kuantitatif menggunakan desain cross-sectional
dengan populasi sebanyak 1.759 orang dan sampel sebanyak 326 orang. Penelitian
dilakukan pada bulan Agustus - November 2024. Pengambilan sampel
menggunakan teknik proportionated stratified random sampling. Pengumpulan
data menggunakan lembar kuesioner, analisis data meliputi univariat, bivariatdan
multivariat. Hasil penelitian dari 326 responden diketahui terdapat hubungan
depresi (Pvalue = 0,000 dan OR = 3.3), bullying (Pvalue = 0,000 dan OR = 3.2) dan
pola asuh orangtua (Pvalue = 0,000 dan OR = 3.1) dengan resiko bunuh diri pada
remaja kelas XI SMA Negeri di Bukittinggi. Namun, tidak terdapat hubungan
penyalahgunaan narkoba (Pvalue = 0,354) dengan resiko bunuh diri pada remaja
kelas XI SMA Negeri di Bukittinggi. Hasil analisis multivariat menujukkan
bahwa variabel yang paling berpengaruh terhadap resiko bunuh diri adalah depresi
(Pvalue = 0,000). Diharapkan remaja depresi untuk mengalihkan rasa depresinya
kearah yang positif seperti olahraga bersama teman sebayanya ataupun bermain
dengan keluarga maupun hewan peliharaan untuk melepas depresi yang dialami.
Selain itu, remaja juga dianjurkan untuk bercerita dengan orangtua ataupun
konsultasi dengan guru konseling di sekolah untuk mencari solusi dari depresi
yang dialami dan manajemen stress dimasa mendatang.