Kualitas Hidup Anak Tunarungu SLB Negeri 1 Bukittinggi Tahun 2024.
Categorie(s):
Skripsi
Author(s):
Ridwan, Muhammad
Advisor:
Mariyana, Rina
ISSN/ISBN:
-
eISSN/eISBN:
-
Volume:
-
Keyword(s):
kualitas hidup, anak tunarungu, pendidikan inklusif, SLB
Negeri 1 Bukittinggi, kesejahteraan psikososial.
DOI:
-
Abstract :
Anak tunarungu menghadapi berbagai tantangan dalam kehidupan sehari-hari,
termasuk dalam aspek pendidikan, sosial, dan emosional. Menurut data World
Health Organization (WHO), sekitar 34 juta anak di dunia mengalami gangguan
pendengaran. Di Indonesia, terdapat sekitar 472.852 individu dengan gangguan
pendengaran, dengan 27.983 anak tunarungu yang terdaftar di Sekolah Luar Biasa
(SLB). Di Sumatera Barat, terdapat 1.345 anak berkebutuhan khusus yang
menerima pendidikan formal dari total 25.008 anak berkebutuhan khusus. Di
Bukittinggi, jumlah anak tunarungu yang bersekolah di SLB mencapai 47 orang.
Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi kualitas hidup anak tunarungu di
SLB Negeri 1 Bukittinggi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kualitas
hidup anak tunarungu di SLB Negeri 1 Bukittinggi. Metode penelitian yang
digunakan adalah mixed-methods dengan pendekatan kuantitatif dan kualitatif.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa 90.3% anak memiliki kualitas hidup yang
baik, sementara 9.7% mengalami kualitas hidup yang buruk. Didapatkan data
bahwa 33,33% tidak dapat melakukan kegiatan dengan seusia yang bisa
dilakukan.Dari aspek kesehatan dan aktivitas, 45.2% anak menunjukkan kondisi
buruk. Dalam aspek emosi dan perasaan, 35.5% anak mengalami ketidakstabilan
emosional. Sementara itu, 41.9% anak mengalami kesulitan dalam interaksi sosial,
dan 51.6% menunjukkan kualitas hidup yang buruk dalam aspek pendidikan.
Selain itu, pola makan dan lingkungan sosial juga menjadi faktor yang
memengaruhi kualitas hidup mereka, dengan masing-masing 51.6% dan 58.1%
anak berada dalam kategori buruk. Penelitian ini mengidentifikasi beberapa tema
utama terkait kualitas hidup anak tunarungu, baik dari perspektif orang tua
maupun guru. Dari sisi orang tua, tema yang muncul meliputi aktivitas sehari-hari,
respon emosi maladaptif, perlakuan teman sebaya, kondisi fisik, kesulitan belajar,
dan kegiatan keagamaan. Sementara itu, dari perspektif guru, tema yang
teridentifikasi mencakup perkembangan sosial, potensi anak, prestasi akademik,
kategori anak tunarungu, serta hambatan dalam pendidikan. Dari hasil bahwa
perkembangan anak tidak sesuai dengan usianya sehingga disarankan untuk guru
di Sekolah Luar Biasa (SLB) dapat menerapkan penelitian mengenai peningkatan
kosa kata pada anak tunarungu.
termasuk dalam aspek pendidikan, sosial, dan emosional. Menurut data World
Health Organization (WHO), sekitar 34 juta anak di dunia mengalami gangguan
pendengaran. Di Indonesia, terdapat sekitar 472.852 individu dengan gangguan
pendengaran, dengan 27.983 anak tunarungu yang terdaftar di Sekolah Luar Biasa
(SLB). Di Sumatera Barat, terdapat 1.345 anak berkebutuhan khusus yang
menerima pendidikan formal dari total 25.008 anak berkebutuhan khusus. Di
Bukittinggi, jumlah anak tunarungu yang bersekolah di SLB mencapai 47 orang.
Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi kualitas hidup anak tunarungu di
SLB Negeri 1 Bukittinggi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kualitas
hidup anak tunarungu di SLB Negeri 1 Bukittinggi. Metode penelitian yang
digunakan adalah mixed-methods dengan pendekatan kuantitatif dan kualitatif.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa 90.3% anak memiliki kualitas hidup yang
baik, sementara 9.7% mengalami kualitas hidup yang buruk. Didapatkan data
bahwa 33,33% tidak dapat melakukan kegiatan dengan seusia yang bisa
dilakukan.Dari aspek kesehatan dan aktivitas, 45.2% anak menunjukkan kondisi
buruk. Dalam aspek emosi dan perasaan, 35.5% anak mengalami ketidakstabilan
emosional. Sementara itu, 41.9% anak mengalami kesulitan dalam interaksi sosial,
dan 51.6% menunjukkan kualitas hidup yang buruk dalam aspek pendidikan.
Selain itu, pola makan dan lingkungan sosial juga menjadi faktor yang
memengaruhi kualitas hidup mereka, dengan masing-masing 51.6% dan 58.1%
anak berada dalam kategori buruk. Penelitian ini mengidentifikasi beberapa tema
utama terkait kualitas hidup anak tunarungu, baik dari perspektif orang tua
maupun guru. Dari sisi orang tua, tema yang muncul meliputi aktivitas sehari-hari,
respon emosi maladaptif, perlakuan teman sebaya, kondisi fisik, kesulitan belajar,
dan kegiatan keagamaan. Sementara itu, dari perspektif guru, tema yang
teridentifikasi mencakup perkembangan sosial, potensi anak, prestasi akademik,
kategori anak tunarungu, serta hambatan dalam pendidikan. Dari hasil bahwa
perkembangan anak tidak sesuai dengan usianya sehingga disarankan untuk guru
di Sekolah Luar Biasa (SLB) dapat menerapkan penelitian mengenai peningkatan
kosa kata pada anak tunarungu.