Hubungan Pelaksanaan Mobilisasi Dini dan Mekanisme Koping Dengan Intensitas Nyeri Pada Pasien Post-Op Fraktur di RSUD Achmad Mochtar di Kota Bukittinggi.
Categorie(s):
Skripsi
Author(s):
Khairunnisa, Dinda
Advisor:
Rahmiwati
ISSN/ISBN:
-
eISSN/eISBN:
-
Volume:
-
Keyword(s):
Intensitas Nyeri, Mekanisme Koping, Post-Op Fraktur, Pelaksanaan Mobilisasi Dini
DOI:
-
Abstract :
Menurut WHO, pada tahun 2020 terdapat 234 juta pasien post-op di
seluruh rumah sakit di dunia. Salah satu jenis post-op tertinggi adalah fraktur
dengan 58% kasus disebabkan oleh jatuh. Manifestasi klinik paling menonjol
pada penderita fraktur adalah nyeri. Nyeri yang dirasakan post-op disebabkan
karena terjadinya manipulasi jaringan dan organ. Mobilisasi dini dan
mekanisme koping adalah beberapa upaya yang dapat dilakukan untuk
mengurangi nyeri post-op fraktur. Untuk itu, penelitian bertujuan mengetahui
hubungan pelaksanaan mobilisasi dini dan mekanisme koping dengan intensitas
nyeri pada pasien post-op fraktur di RSUD Achmad Mochtar Kota Bukittinggi.
Jenis penelitian ini kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Populasi
sebanyak 238 pasien post-op fraktur dengan sampel sebanyak 35 orang yang
dipilih secara accidental sampling. Instumen penelitian menggunakan skala ukur
nyeri Numeric Rating Scale (NRS), kuesioner dan lembar observasi. Analisa data
menggunakan uji chi square. Hasil penelitian menunjukkan lebih dari separuh
responden, yaitu 54,3% dengan pelaksanaan mobilisasi dini yang tidak mandiri,
57,1% dengan mekanisme koping adaptif dan 37,1% dengan intensitas nyeri
sedang. Uji Chi-Square hubungan pelaksanaan mobilisasi dini dengan intensitas
nyeri menunjukkan p-value 0,004 dan hubungan mekanisme koping dengan
intensitas nyeri menunjukkan p-value 0,000. Kesimpulan penelitian ada hubungan
antara pelaksanaan mobilisasi dini dan mekanisme koping dengan intensitas nyeri
pada pasien post-op fraktur di RSUD Achmad Mochtar Kota Bukittinggi. Pasien
post-op fraktur diharapkan untuk berpartisipasi aktif dalam program mobilisasi
dini dan menggunakan mekanisme koping yang positif untuk membantu
mengelola rasa nyeri.
seluruh rumah sakit di dunia. Salah satu jenis post-op tertinggi adalah fraktur
dengan 58% kasus disebabkan oleh jatuh. Manifestasi klinik paling menonjol
pada penderita fraktur adalah nyeri. Nyeri yang dirasakan post-op disebabkan
karena terjadinya manipulasi jaringan dan organ. Mobilisasi dini dan
mekanisme koping adalah beberapa upaya yang dapat dilakukan untuk
mengurangi nyeri post-op fraktur. Untuk itu, penelitian bertujuan mengetahui
hubungan pelaksanaan mobilisasi dini dan mekanisme koping dengan intensitas
nyeri pada pasien post-op fraktur di RSUD Achmad Mochtar Kota Bukittinggi.
Jenis penelitian ini kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Populasi
sebanyak 238 pasien post-op fraktur dengan sampel sebanyak 35 orang yang
dipilih secara accidental sampling. Instumen penelitian menggunakan skala ukur
nyeri Numeric Rating Scale (NRS), kuesioner dan lembar observasi. Analisa data
menggunakan uji chi square. Hasil penelitian menunjukkan lebih dari separuh
responden, yaitu 54,3% dengan pelaksanaan mobilisasi dini yang tidak mandiri,
57,1% dengan mekanisme koping adaptif dan 37,1% dengan intensitas nyeri
sedang. Uji Chi-Square hubungan pelaksanaan mobilisasi dini dengan intensitas
nyeri menunjukkan p-value 0,004 dan hubungan mekanisme koping dengan
intensitas nyeri menunjukkan p-value 0,000. Kesimpulan penelitian ada hubungan
antara pelaksanaan mobilisasi dini dan mekanisme koping dengan intensitas nyeri
pada pasien post-op fraktur di RSUD Achmad Mochtar Kota Bukittinggi. Pasien
post-op fraktur diharapkan untuk berpartisipasi aktif dalam program mobilisasi
dini dan menggunakan mekanisme koping yang positif untuk membantu
mengelola rasa nyeri.