Hubungan Pola Asuh Pemberian Mpasi dan ASI Ekslusif Dengan Kejadian Stunting Pada Usia Belita 12-24 Bulan di Puskesmas Talawi Kota SawahLunto Tahun 2024
Categorie(s):
Skripsi
Author(s):
Dewi, Friska Prima
Advisor:
Hasnita, Evi
ISSN/ISBN:
-
eISSN/eISBN:
-
Volume:
-
Keyword(s):
MPASI, ASI Ekslusif, Stunting.
DOI:
-
Abstract :
Permasalahan Stunting masih menjadi masalah yang cukup serius
yang sering terjadi pada anak balita. Berdasarkan data SSGI,
prevalensi stunting secara nasional pada tahun 2022 yaitu (25,2%).
Menurut data SSGI tahun 2023, prevalensi stunting di Sumatera Barat
sebesar (23,6%) dan di Kota Sawahlunto sebesar (19,5%). Di
Puskesmas Talawi Kota Sawahlunto terdapat sebanyak 7 balita
stunting dari 75 total sampel balita. Tujuan penelitian ini adalah untuk
mengetahui Hubungan Pola Asuh Pemberian MPASI dan ASI
Ekslusif Dengan Kejadian Stunting Pada Balita Usia 12 24 Bulan di
Puskesmas Talawi Kota Sawahlunto Tahun 2024. Jenis metode
penelitian yaitu kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Sampel
sebanyak 75 ibu balita usia 12-24 bulan dengan teknik Accidental
Sampling menggunakan rumus Slovin. Data diperoleh dari hasil
wawancara dengan menggunakan kuesioner. Penelitian ini
menggunakan uji chi-square. Hasil penelitian menunjukkan terdapat
hubungan antara pola asuh pemberian MPASI (p value = 0,031, OR
= 6,447), riwayat ASI eklusif (p value = 0,034, OR = 6,222), dengan
kejadian stunting di Wilayah Kerja Puskesmas Talawi Kota
Sawahlunto. Kesimpulan penelitian ini adalah dilihat dari p value dan
nilai OR, Pola asuh pemberian MPASI menjadi faktor yang paling
berhubungan dengan kejadian stunting (p value = 0,031 dan OR =
6,447), artinya ibu yang balitanya memiliki Pola Asuh Pemberian
MPASI kurang baik berpeluang 6 kali lebih besar bagi balitanya untuk
mengalami stunting. Upaya yang disarankan kepada tenaga kesehatan
adalah memberikan KIE kepada ibu balita untuk memberikan MPASI
berpatokan dengan isi piringku sekali makan untuk usia 12-24 bulan.
yang sering terjadi pada anak balita. Berdasarkan data SSGI,
prevalensi stunting secara nasional pada tahun 2022 yaitu (25,2%).
Menurut data SSGI tahun 2023, prevalensi stunting di Sumatera Barat
sebesar (23,6%) dan di Kota Sawahlunto sebesar (19,5%). Di
Puskesmas Talawi Kota Sawahlunto terdapat sebanyak 7 balita
stunting dari 75 total sampel balita. Tujuan penelitian ini adalah untuk
mengetahui Hubungan Pola Asuh Pemberian MPASI dan ASI
Ekslusif Dengan Kejadian Stunting Pada Balita Usia 12 24 Bulan di
Puskesmas Talawi Kota Sawahlunto Tahun 2024. Jenis metode
penelitian yaitu kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Sampel
sebanyak 75 ibu balita usia 12-24 bulan dengan teknik Accidental
Sampling menggunakan rumus Slovin. Data diperoleh dari hasil
wawancara dengan menggunakan kuesioner. Penelitian ini
menggunakan uji chi-square. Hasil penelitian menunjukkan terdapat
hubungan antara pola asuh pemberian MPASI (p value = 0,031, OR
= 6,447), riwayat ASI eklusif (p value = 0,034, OR = 6,222), dengan
kejadian stunting di Wilayah Kerja Puskesmas Talawi Kota
Sawahlunto. Kesimpulan penelitian ini adalah dilihat dari p value dan
nilai OR, Pola asuh pemberian MPASI menjadi faktor yang paling
berhubungan dengan kejadian stunting (p value = 0,031 dan OR =
6,447), artinya ibu yang balitanya memiliki Pola Asuh Pemberian
MPASI kurang baik berpeluang 6 kali lebih besar bagi balitanya untuk
mengalami stunting. Upaya yang disarankan kepada tenaga kesehatan
adalah memberikan KIE kepada ibu balita untuk memberikan MPASI
berpatokan dengan isi piringku sekali makan untuk usia 12-24 bulan.