Faktor- Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Asfiksia Neonatorum Di RSUD Sijunjung Tahun 2023
Categorie(s):
Skripsi
Author(s):
Rahayu, Puspita
Advisor:
Hasnita, Evi
Nurhayati
Nurhayati
ISSN/ISBN:
-
eISSN/eISBN:
-
Volume:
-
Keyword(s):
Asfiksia, Faktor Resiko, Neonatorum.
DOI:
-
Abstract :
Angka kematian neonatus dan bayi menjadi salah satu indikator keberhasilan derajat kesehatan masyarakat suatu negara. Salah satu penyebab kematian neonatal terbanyak pada tahun 2021 adalah asfiksia sebesar 27,8%. Asfiksia adalah kegawatdaruratan bayi baru lahir berupa depresi pernapasan yang berlanjut sehingga menimbulkan berbagai komplikasi. Beberapa faktor dapat meningkatkan risiko asfiksia baik dari faktor ibu maupun janin. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Faktor- Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Asfiksia Neonatorum Di RSUD Sijunjung Tahun 2023. Jenis penelitian penelitian kuantitatif dengan metode survei analitik dengan pendekatan case control. Populasi penelitian adalah seluruh bayi asfiksia di RSUD Sijunjung. Sampel berjumlah 216 orang. Terdiri dari 108 kelompok kasus dan 108 kelompok kontrol. Teknik pengambilan sampel secara Purposive Sampling. Pengumpulan data menggunakan data sekunder dari rekam medik. Analisa data dengan univariat dan bivariat. Hasil penelitian univariat didapatkan 50% responden dengan asfiksia, 59,7% paritas tidak berisiko, 73,6% kehamilan tidak postterm, 86,1% tidak partus lama, 66,7% tidak KPD, 57,4% tidak induksi persalinan, dan 77,3% berat bayi lahir normal. Hasil uji statistik didapatkan bahwa ada hubungan yang bermakna antara kehamilan postterm (p=0,000, OR 5,714), partus lama (p=0,000, OR 39,278), KPD (p=0,000, OR 5,555), induksi persalinan (p=0,000, OR 8,8), berat bayi lahir rendah (p=0,000, OR 14,162) dan tidak terdapat hubungan yang bermakna paritas (p=0,52, OR 1,789) dengan kejadian asfiksia di RSUD Sijunjung. Kesimpulan penelitian adalah paritas tidak berhubungan dengan kejadian asfiksia dan hubungan paling dominan dengan kejadian asfiksia adalah partus lama. Bagi bidan agar meningkatkan kemampuan diri dalam penanganan asfiksia serta bagi ibu hamil untuk mningkatkan pemeriksaan ANC sehingga dapat mendeteksi faktor risiko asfiksia sejak dini.