Pengaruh Pemberian Electrikal Stimulation (ES) dan Propioceptive Neuromuscular Fasilitation (PNF) Pada Kasus Bells Palsy Terhadap Kekuatan Otot di Rumah Sakit Umum Daerah Pariaman Tahun 2016
Categorie(s):
Karya Tulis Ilmiah
Author(s):
Dewi, Novi Oktavia
Advisor:
Lazdia, Wenny
Segita, Riri
Segita, Riri
ISSN/ISBN:
-
eISSN/eISBN:
-
Keyword(s):
Pemberian Electrikal Stimulation (ES) dan Propioceptive Neuromuscular Fasilitation (PNF), Bell’s Palsy.
DOI:
-
Abstract :
Prevalensi Bells Palsy rata-rata berkisar antara 10-30 pasien per 100.000 populasi per tahun dan meningkat sesuai pertambahan umur. Di Amerika Serikat, Insiden Bells Palsy setiap tahun sekitar 23 kasus per 100.000 orang. Dari 4 buah rumah sakit di Indonesia di dapatkan hasil bahwa frekuensi Bells Palsy sebesar 19,55% dari seluruh kasus neuropati. Insiden Bells Palsy pada bulan januari sampai Desember 2015 adalah 327 orang pasien.
Jenis penelitian ini adalah quasi eksperiment dengan desain pre dan post test. Populasi pada penelitian ini adalah seluruh pasien Bells Palsy di RSUD Pariaman pada bulan Juli sampai Agustus tahun 2016. Pengambilan sampel menggunakan teknik accidental sampling sehingga didapatkan sampel sebanyak 10 orang Bells Palsy. Analisis data dilakukan secara komputerisasi menggunakan uji static t tes Dependen dengan sebaran data normal.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata kekuatan otot sebelum intervensi adalah 60,3 meningkat menjadi 69,70 setelah intervensi. Hasil analisis statistik menunjukkan ada perbedaan kekuatan otot dengan nilai p < 0,05 dengan hasil p = 0,000.
Dapat disimpulkan bahwa pemberian terapi dengan modalitas Electrikal Stimulation (ES) Dan Propioceptive Neuromuscular Fasilitation (PNF) efektif terhadap peningkatan kekuatan otot akibat Bells Palsy. Untuk itu diharapkan kepada pasien Bells Palsy untuk dapat dan selalu aktif dan disiplin mengikuti program terapi yang efektif dalam meningkatkan kekuatan otot dan aktivitas fungsional wajah.
Jenis penelitian ini adalah quasi eksperiment dengan desain pre dan post test. Populasi pada penelitian ini adalah seluruh pasien Bells Palsy di RSUD Pariaman pada bulan Juli sampai Agustus tahun 2016. Pengambilan sampel menggunakan teknik accidental sampling sehingga didapatkan sampel sebanyak 10 orang Bells Palsy. Analisis data dilakukan secara komputerisasi menggunakan uji static t tes Dependen dengan sebaran data normal.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata kekuatan otot sebelum intervensi adalah 60,3 meningkat menjadi 69,70 setelah intervensi. Hasil analisis statistik menunjukkan ada perbedaan kekuatan otot dengan nilai p < 0,05 dengan hasil p = 0,000.
Dapat disimpulkan bahwa pemberian terapi dengan modalitas Electrikal Stimulation (ES) Dan Propioceptive Neuromuscular Fasilitation (PNF) efektif terhadap peningkatan kekuatan otot akibat Bells Palsy. Untuk itu diharapkan kepada pasien Bells Palsy untuk dapat dan selalu aktif dan disiplin mengikuti program terapi yang efektif dalam meningkatkan kekuatan otot dan aktivitas fungsional wajah.