Faktor- Faktor yang Mempengaruhi Cakupan Akseptor KB pada PUS pada saat Covid-19 di Kampung KB Kemantan Hilir Kabupaten Kerinci Provinsi Jambi Tahun 2021
Categorie(s):
Skripsi
Author(s):
Helmita
Advisor:
Oktavianis
Harisnal
Harisnal
ISSN/ISBN:
-
eISSN/eISBN:
-
Volume:
-
Keyword(s):
Pengetahuan, Persepsi, Dukungan Suami, Dukungan Petugas Kesehatan dan Cakupan Akseptor KB.
DOI:
-
Abstract :
Indonesia mengalami laju pertumbuhan penduduk sebesar 1.49% atau bertambah 4.5 juta orang setiap tahun. Hal ini tidak sesuai dengan program pemerintah dalam menggalakkan program Keluarga Berencana (KB). Selama masa pandemi Covid-19, program KB mengalami penurunan karena terbatasnya akses masyarakat menuju fasilitas kesehatan apabila dalam keadaan tidak terlalu urgent untuk menekan angka penyebaran infeksi virus Covid-19. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui Faktor -Faktor yang Mempengaruhi Cakupan Akseptor KB pada PUS pada saat Covid-19 di
Kampung KB Kemantan Hilir Kabupaten Kerinci Provinsi Jambi Tahun 2021.
Penelitian ini menggunakan metode survey analitik dengan pendekatan kuantitatif dan rancangan penelitian cross-sectional. Teknik pengambilan sampel menggunakan Purposive Sampling sebanyak 60 pasien kunjungan di Kampung KB Kemantan Hilir Kabupaten Kerinci. Penelitian telah dilaksanakan pada bulan Desember tahun 2020. Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar yaitu 41 responden (68,3%)menjadi akseptor KB pada saat Covid-19, sebagian besar yaitu 35 responden (58,3%) memiliki pengetahuan rendah, sebagian besar yaitu 34 responden (56,7%) memiliki persepsi efek samping kurang baik, sebagian besar yaitu 31 responden (51,7%) suami tidak mendukung PUS, sebagian besar yaitu 38 responden (63,3%) petugas kesehatan tidak mendukung PUS. Hasil uji statistik ada hubungan pengetahuan (P=0.010), dukungan suami (0.003), dukungan petugas (0.042) dengan cakupan akseptor KB, dan tidak ada hubungan persepsi efek samping (p=0.478) dengan cakupan akseptor KB.
Kesimpulan dari penelitian ini yaitu sebagian responden menjadi akseptor KB.
Tingkat pengetahuan, dukungan suami dan dukungan petugas kesehatan terdapat hubungan dan persepsi tidak terdapat hubungan dengan cakupan akseptor KB. Penggunaan kontrasepsi selama masa pandemi perlu diperhatikan mana yang tepat oleh ibu, selain itu kepada petugas kesehatan serta dukungan sosial oleh suami juga sangat diperlukan untuk meningkatkan kepercayaan serta semangat bagi ibu untuk menggunakan kontrasepsi dengan menerapkan prinsip pencegahan dan pengendalian infeksi dan physical distancing.
Kampung KB Kemantan Hilir Kabupaten Kerinci Provinsi Jambi Tahun 2021.
Penelitian ini menggunakan metode survey analitik dengan pendekatan kuantitatif dan rancangan penelitian cross-sectional. Teknik pengambilan sampel menggunakan Purposive Sampling sebanyak 60 pasien kunjungan di Kampung KB Kemantan Hilir Kabupaten Kerinci. Penelitian telah dilaksanakan pada bulan Desember tahun 2020. Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar yaitu 41 responden (68,3%)menjadi akseptor KB pada saat Covid-19, sebagian besar yaitu 35 responden (58,3%) memiliki pengetahuan rendah, sebagian besar yaitu 34 responden (56,7%) memiliki persepsi efek samping kurang baik, sebagian besar yaitu 31 responden (51,7%) suami tidak mendukung PUS, sebagian besar yaitu 38 responden (63,3%) petugas kesehatan tidak mendukung PUS. Hasil uji statistik ada hubungan pengetahuan (P=0.010), dukungan suami (0.003), dukungan petugas (0.042) dengan cakupan akseptor KB, dan tidak ada hubungan persepsi efek samping (p=0.478) dengan cakupan akseptor KB.
Kesimpulan dari penelitian ini yaitu sebagian responden menjadi akseptor KB.
Tingkat pengetahuan, dukungan suami dan dukungan petugas kesehatan terdapat hubungan dan persepsi tidak terdapat hubungan dengan cakupan akseptor KB. Penggunaan kontrasepsi selama masa pandemi perlu diperhatikan mana yang tepat oleh ibu, selain itu kepada petugas kesehatan serta dukungan sosial oleh suami juga sangat diperlukan untuk meningkatkan kepercayaan serta semangat bagi ibu untuk menggunakan kontrasepsi dengan menerapkan prinsip pencegahan dan pengendalian infeksi dan physical distancing.