Hubungan Peran Tenaga Kesehatan, Peran Kader Dan Dukungan Suami Dengan Perilaku Wus Dalam Pemeriksaan Iva Test Di Puskesmas Air Gemuruh Kecamatan Bathin III Kabupaten Bungo Tahun 2020
Categorie(s):
Skripsi
Author(s):
Fisca, Melia
Advisor:
Hasnita, Evi
Nurhayati
Nurhayati
ISSN/ISBN:
-
eISSN/eISBN:
-
Volume:
-
Keyword(s):
IVA Test, WUS, Peran Kader.
DOI:
-
Abstract :
Latar Belakang: Rendahnya minat WUS untuk pemeriksaan IVA test antara lain
karena merasa takut, malu dan tidak merasa butuh. Perilaku masih menjadi
penghambat deteksi dini kanker serviks atau IVA test. Proses perubahan/
pembentukan perilaku dipengaruhi oleh berbagai faktor baik dari individu maupun dari luar individu. Rata-rata kematian 13,9 per 100.000 penduduk. 40% kanker dapat dicegah dengan mendeteksinya sedini mungkin melalui penapisan/skrining massal, salah satu caranya melalui IVA test dan Paps Smear pada WUS 20 tahun ke atas, namun prioritas program pada perempuan umur 30-49 tahun serta tindak lanjut dini. Angka kanker serviks tahun 2018 sebesar 23,4 per 100.000 penduduk dengan rata-rata kematian 13,9 per 100.000 pendudukMetode: Analitik kuantitatif cross sectional, nonprobability dan acidental sampeling sebanyak 99 partisipan melalui wawancara kuesioner. Menganalisa hubungan Peran Tenaga Kesehatan, Peran Kader, dan Dukungan Suami dalam perilaku WUS dengan pemeriksaan IVA test tahun 2020. Hasil: Berdasarkan analisa univariat, sebanyak 99 Responden, 56,3% berperilaku
tidak memeriksakan IVA test, 53.7% menyatakan tenaga kesehatan berperan
Kurang baik, 59,5% kader kesehatan Berperan Kurang baik dalam memotivasi
Pemeriksaan IVA Test dan 50,5% suami tidak mendukung dalam Pemeriksaan
IVA Test. Berdasarkan bivariat, Ada Hubungan p=0,0005 dan peluang Peran
tenaga kesehatan OR=55,93, Peran kader kesehatan OR=43,55 dan dukungan
suami OR=5,89 dalam memotivasi WUS untuk pemeriksaan IVA test. Kesimpulan: Ada Hubungan Peran kader dalam memotivasi WUS untuk
pemeriksaan IVA test. Diharapkan pada petugas kesehatan, kader kesehatan dan suami meningkatka peran dan dukungan agar WUS termotivasi melakukan
pemeriksaan test secara berkala.
karena merasa takut, malu dan tidak merasa butuh. Perilaku masih menjadi
penghambat deteksi dini kanker serviks atau IVA test. Proses perubahan/
pembentukan perilaku dipengaruhi oleh berbagai faktor baik dari individu maupun dari luar individu. Rata-rata kematian 13,9 per 100.000 penduduk. 40% kanker dapat dicegah dengan mendeteksinya sedini mungkin melalui penapisan/skrining massal, salah satu caranya melalui IVA test dan Paps Smear pada WUS 20 tahun ke atas, namun prioritas program pada perempuan umur 30-49 tahun serta tindak lanjut dini. Angka kanker serviks tahun 2018 sebesar 23,4 per 100.000 penduduk dengan rata-rata kematian 13,9 per 100.000 pendudukMetode: Analitik kuantitatif cross sectional, nonprobability dan acidental sampeling sebanyak 99 partisipan melalui wawancara kuesioner. Menganalisa hubungan Peran Tenaga Kesehatan, Peran Kader, dan Dukungan Suami dalam perilaku WUS dengan pemeriksaan IVA test tahun 2020. Hasil: Berdasarkan analisa univariat, sebanyak 99 Responden, 56,3% berperilaku
tidak memeriksakan IVA test, 53.7% menyatakan tenaga kesehatan berperan
Kurang baik, 59,5% kader kesehatan Berperan Kurang baik dalam memotivasi
Pemeriksaan IVA Test dan 50,5% suami tidak mendukung dalam Pemeriksaan
IVA Test. Berdasarkan bivariat, Ada Hubungan p=0,0005 dan peluang Peran
tenaga kesehatan OR=55,93, Peran kader kesehatan OR=43,55 dan dukungan
suami OR=5,89 dalam memotivasi WUS untuk pemeriksaan IVA test. Kesimpulan: Ada Hubungan Peran kader dalam memotivasi WUS untuk
pemeriksaan IVA test. Diharapkan pada petugas kesehatan, kader kesehatan dan suami meningkatka peran dan dukungan agar WUS termotivasi melakukan
pemeriksaan test secara berkala.