Perbedaan Pengaruh Pemberian Latihan Lompat Katak Dan Double Leg Speed Hop untuk Meningkatkan Daya Ledak Otot Tungkai Bawah Pada Pemain Sepak Bola Di SMAN 2 Lubuk Sikaping Tahun 2020
Categorie(s):
Karya Tulis Ilmiah
Author(s):
Tunisa, Fadila
Advisor:
Hasnita, Evi
Syah, Irhas
Syah, Irhas
ISSN/ISBN:
-
eISSN/eISBN:
-
Volume:
-
Keyword(s):
Daya ledak otot, Lompat katak, Double leg speed hop.
DOI:
-
Abstract :
Latihan Lompat katak adalah suatu bentuk gerakan meloncat mengangkat kaki ke atas ke depan dalam upaya membawa titik berat badan selama mungkin di udara (melayang di udara) yang di lakukan dengan cepat dengan jalan melakukan tolakan pada dua kaki untuk mencapai jarak yang sejauh-jauhnya.
Latihan Double leg speed hop adalah pelatihan yang dilakukan dengan latihan
melompat tegak ke depan dengan lutut dilipat tumit dikenakan patat, tolakan dengan kedua kaki dan mendarat dengan kaki menggepar. Penelitian ini dilakukan di SMAN 2 Lubuk Sikaping Kabupaten Pasaman. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling dengan sampel dalam penelitian ini berjumlah 10 pasien. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa nilai rata-rata daya ledak otot sebelum dan setelah diberikan latihan lompat katak adalah 3,701 dan 44,2 dan nilai rata-rata daya ledak otot sebelum dan setelah diberikan latihan double leg speed hop adalah 35,80 dan 41,20. Maka didapatkan hasil penelitian menunjukkan bahwa adanya perubahan nilai daya ledak otot tungkai bawah pada pemain sepak bola di SMAN 2 Lubuk sikaping, didapatkan hasil p = 0.203>a(0.05) yang berarti tidak ada perbedaan daya ledak otot sebelum dan sesudah pemberian latihan lompat katak dan double leg speed hop pada pemain sepak bola di SMAN 2 Lubuk Sikaping. Kesimpulannya adalah pemberian latihan lompat katak dan double leg speed hop sama-sama dapat meningkatkan nilai daya ledak otot tungkai bawah pada pemain sepak bola.
Latihan Double leg speed hop adalah pelatihan yang dilakukan dengan latihan
melompat tegak ke depan dengan lutut dilipat tumit dikenakan patat, tolakan dengan kedua kaki dan mendarat dengan kaki menggepar. Penelitian ini dilakukan di SMAN 2 Lubuk Sikaping Kabupaten Pasaman. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling dengan sampel dalam penelitian ini berjumlah 10 pasien. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa nilai rata-rata daya ledak otot sebelum dan setelah diberikan latihan lompat katak adalah 3,701 dan 44,2 dan nilai rata-rata daya ledak otot sebelum dan setelah diberikan latihan double leg speed hop adalah 35,80 dan 41,20. Maka didapatkan hasil penelitian menunjukkan bahwa adanya perubahan nilai daya ledak otot tungkai bawah pada pemain sepak bola di SMAN 2 Lubuk sikaping, didapatkan hasil p = 0.203>a(0.05) yang berarti tidak ada perbedaan daya ledak otot sebelum dan sesudah pemberian latihan lompat katak dan double leg speed hop pada pemain sepak bola di SMAN 2 Lubuk Sikaping. Kesimpulannya adalah pemberian latihan lompat katak dan double leg speed hop sama-sama dapat meningkatkan nilai daya ledak otot tungkai bawah pada pemain sepak bola.