Faktor Resiko Kejadian Stunting Pada Anak Balita Umur 12-59 Bulan di Wilayah Kerja Pusksmas Perawatan Bidar Alam Kabupaten Solok Selatan Tahun 2019
Categorie(s):
Laporan Tugas Akhir
Author(s):
Silfiana, Metalia
Advisor:
Rifdi, Febriniwati
Kasoema, Rahmi Sari
Kasoema, Rahmi Sari
ISSN/ISBN:
-
eISSN/eISBN:
-
Volume:
-
Keyword(s):
Status Ekonomi, Penyakit Penyerta, Pendidikan, Pengetahuan dan Stunting.
DOI:
-
Abstract :
Masalah balita stunting (pendek) di Indonesia merupakan masalah kesehatan dalam kategori masalah gizi kronis, dampak masalah stunting jika dijumpai pada masa golden period perkembangan otak maka otak tidak dapat berkembang dengan baik sehingga menyebabkan penurunan kemampuan intelektual dan produktivitas. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui faktor resiko kejadian stunting pada anak balita umur 13-59 bulan di wilayah kerja Puskesmas Perawatan Bidar Alam Tahun 2019. Penelitian ini bersifat analitik observasional dengan disain Case control. Penelitian ini telah dilakukan pada bulan April 2019. Populasi penelitian adalah seluruh ibu yang mempunyai Anak balita umur 12 59 bulan yang bertempat tinggal di Wilayah Kerja Puskesmas Perawatan Bidar Alam berjumlah 893 anak balita, dengan cara acak dan sampel penelitian 80 responden, 40 kasus dan 40 kontrol. Pengumpulan data dengan wawancara menggunakan kuesioner. Analisis data dilakukan secara univariat dan analisis uji statistik dilakukan secara bivariat menggunakan uji chi-square. Hasil penelitian didapatkan bahwa ada hubungan status ekonomi (p=0,000) dengan stunting, ada hubungan penyakit penyerta (p=0,001) dengan stunting, ada hubungan pendidikan dengan stunting (p=0,002), dan ada hubungan pengetahuan dengan stunting (p=0,000). Penelitian ini terdapat hubungan kepada semua variabel (status ekonomi, penyakit penyerta, pendidikan, keadaan lingkungan dan pengetahuan ) dengan stunting pada balita. Saran kepada ibu balita dan pemberi pelayanan kesehatan seperti puskesmas untuk melakukan pemantauan status gizi anak balita secara berkala melalui informasi berupa media masa dan penyuluhan dari tenaga kesehatan lebih di optimalkan agar bisa mengurangi kejadian stunting pada balita.