Analisis Manfaat Uji Kompetensi Bagi Alumni Sarjana Kesehatan Masyarakat STIKes Fort De Kock Bukittinggi Tahun 2018
Categorie(s):
Skripsi
Author(s):
Alfian, Indry
Advisor:
Hasnita, Evi
Sari, Mila
Sari, Mila
ISSN/ISBN:
-
eISSN/eISBN:
-
Volume:
-
Keyword(s):
Input, Proses, Output.
DOI:
-
Abstract :
Undang- Undang Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2014 tentang tenaga kesehatan Uji Kompetensi adalah proses pengukuran pengetahuan, keterampilan, dan perilaku peserta didik pada perguruan tinggi yang menyelenggarakan pendidikan tinggi bidang Kesehatan. Pelaksanaan uji kompetensi kesmas yang dilakukan hanya berupa ujian tertulis atau hanya pengujian pengetahuan saja, sedangkan syarat dilakukannya uji kompetensi ini harus melibatkan komponen pengetahuan, keterampilan dan sikap.
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi, dengan melihat komponen input, proses, dan output dari pelaksanaan uji kompetensi bagi sarjana kesehatan masyarakat. Informan berjumlah 6 orang yaitu ketua IAKMI Bukittinggi, Ketua STIKes Fort De Kock, Ka Prodi Kesmas STIKes Fort De Kock, dan Sarjana Kesehatan Masyarakat tamatan STIKes Fort De Kock. Penelitian ini mulai dilakukan juli 2018. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam dan telaah dokumen. pengolahan data dengan mereduksi, menyajikan dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian dari segi input kebijakan dilaksanakannya uji kompetensi untuk kesehatan masyarakat masih perlu ditinjau ulang dalam segi pelaksanaannya harus dievaluasi lagi. Dari segi proses pelaksanaan uji kompetensi institusi harus punya peran yang sama dengan panitia pelaksana pusat dalam pelaksanaan uji kompetensi secara keseluruhan. Dari segi Output pelaksanaan uji kompetensi kesehatan masyarakat harus mengujikan komponen pengetahuan, skill, dan sikap. Dapat disimpulkan, pelaksanaan uji kompetensi bagi sarjana kesehatan masyarakat belum perlu dilakukan dan pemerintah harus meninjau ulang kebijakan pelaksanaan ini dan mahasiswa dituntut lebih meningkatkan pengetahuan mengenai kesehatan masyarakat, baik uji kompetensi dan perkembangan pendidikan kesehatan masyarakat lainnya untuk dapat meningkatkan minat belajar bukan hanya sekedar mendapatkan nilai tapi juga ilmu penegtahuan yang bermanfaat dan berkualitas.
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi, dengan melihat komponen input, proses, dan output dari pelaksanaan uji kompetensi bagi sarjana kesehatan masyarakat. Informan berjumlah 6 orang yaitu ketua IAKMI Bukittinggi, Ketua STIKes Fort De Kock, Ka Prodi Kesmas STIKes Fort De Kock, dan Sarjana Kesehatan Masyarakat tamatan STIKes Fort De Kock. Penelitian ini mulai dilakukan juli 2018. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam dan telaah dokumen. pengolahan data dengan mereduksi, menyajikan dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian dari segi input kebijakan dilaksanakannya uji kompetensi untuk kesehatan masyarakat masih perlu ditinjau ulang dalam segi pelaksanaannya harus dievaluasi lagi. Dari segi proses pelaksanaan uji kompetensi institusi harus punya peran yang sama dengan panitia pelaksana pusat dalam pelaksanaan uji kompetensi secara keseluruhan. Dari segi Output pelaksanaan uji kompetensi kesehatan masyarakat harus mengujikan komponen pengetahuan, skill, dan sikap. Dapat disimpulkan, pelaksanaan uji kompetensi bagi sarjana kesehatan masyarakat belum perlu dilakukan dan pemerintah harus meninjau ulang kebijakan pelaksanaan ini dan mahasiswa dituntut lebih meningkatkan pengetahuan mengenai kesehatan masyarakat, baik uji kompetensi dan perkembangan pendidikan kesehatan masyarakat lainnya untuk dapat meningkatkan minat belajar bukan hanya sekedar mendapatkan nilai tapi juga ilmu penegtahuan yang bermanfaat dan berkualitas.