Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Praktik Pengawas Menelan Obat (PMO) pada Penderita Tuberkulosis Paru di Wilayah Kerja Puskesmas Ujung Gading Kabupaten Pasaman Barat tahun 2016
Categorie(s):
Skripsi
Author(s):
Lestari, Rahmadia
Advisor:
Femelia, Welly
Rudjito
Rudjito
ISSN/ISBN:
-
eISSN/eISBN:
-
Keyword(s):
Motivas, pengetahuan, sikap, prakek PMO
DOI:
-
Abstract :
Puskesmas Ujung Gading mempunyai suatu Wilayah kerja terdiri dari beberapa desa yang didudukinya. Berdasarkan data yang diperoleh dari koordinator program TB Paru Puskesmas Ujung Gading bahwa ditemukan penderita dengan kasus penyakit TB Paru setiap tahun meningkat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan praktik pengawas menelan obat (PMO) pada penderita tuberkulosis paru. Jenis penelitian ini bersifat deskriptif analitik dengan menggunakan pendekatan desain Cross Sectional. Penelitian ini di Wilayah Kerja Puskesmas Ujung Gading Kabupaten Pasaman Barat pada bulan Mei September 2016. Populasi penelitian adalah semua keluarga yang mempunyai pasien TB Paru yang berobat ke Puskesmas Ujung Gading Pasaman Barat berjumlah 106 orang. Sampel pada penelitian ini sebanyak 106 orang. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik stratified random sampling. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini berupa kuesioner. Pengolahan dan analisis data dilakukan secara komputerisasi menggunakan uji chi-square. Hasil penelitian didapatkan 55,7% PMO memiliki motivasi yang rendah, 70,8% PMO memiliki pengetahuan yang rendah, 59,4% PMO memiliki sikap yang negatif, 58,5% PMO memiliki praktik yang kurang baik. Terdapat hubungan motivasi, pengetahuan PMO, sikap PMO dengan praktik pengawas menelan obat (PMO) dalam pengawasan penderita tuberkulosis paru. Adanya hubungan motivasi, pengetahuan dan sikap PMO dengan praktik PMO dalam pengawasan TB paru. Untuk itu disarankan bagi Puskesmas melalui pimpinan agar dapat meningkatkan penyuluhan tentang TB paru dengan pemberian informasi yang lebih intensif kepada PMO. Disarankan juga bagi petugas kesehatan untuk mengupayakan dan mensosialisasikan kegiatan pencegahan penyakit TBC paru dengan melakukan penyuluhan langsung perorangan, hal ini sangat penting artinya untuk menentukan keberhasilan pengobatan penderita dan lebih besar kemungkinan untuk berhasil dibandingkan dengan cara penyuluhan melalui media.