Faktor Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Depresi pada Pasien Stroke di Ruang Rawat Inap A RSSN Bukittinggi Tahun 2015
Categorie(s):
Skripsi
Author(s):
Handayani, Tika
Advisor:
Liza, Fera
Ramayani, Shinta
Ramayani, Shinta
ISSN/ISBN:
-
eISSN/eISBN:
-
Keyword(s):
Aktifitas Dasar Sehari-hari, Usia, Jenis Kelamin, Depresi, Stroke.
DOI:
-
Abstract :
Tingginya depresi pasien stroke mencapai hampir 79% baik di awal atau pada tahap akhir setelah stroke. Depresi pada pasien stroke adalah keadaan sedih yang berkepanjangan pada pasien stroke sebagai respon terhadap situasi yang dianggap tidak menyenangkan, dimana salah satu faktor yang mempengaruhi tingkat depresi pada pasien stroke adalah tingkat ADL, usia dan jenis kelamin. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian depresi pada pasien stroke di ruang rawat inap A RSSN Bukittinggi Tahun 2015. Jenis penelitian ini adalah deskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional. Penelitian dilakukan di RSSN Bukittinggi pada bulan Februari 2015. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 35 orang. Sampel diambil secara accidental sampling. Data diperoleh melalui kuesioner dan wawancara langsung. Analisis data dilakukan meliputi analisis univariat dan analisis bivariat menggunakan uji Chisquare dengan tingkat signifikasi < 0,05. Dari hasil penelitian didapatkan sebagian besar responden mengalami ketergantungan dalam melakukan aktivitas dasar sehari-hari, sebagian besar responden berjenis kelamin perempuan, sebagian besar responden berusia <24 dan >44 tahun dan sebagian besar responden mengalami kejadian depresi. Hasil analisis bivariat menunjukkan terdapat hubungan antara aktivitas dasar sehari-hari , jenis kelamin dengan kejadian depresi pada pasien stroke, sedangkan tidak terdapat hubungan usia dengan kejadian depresi pada pasien stroke. Berdasarkan hal di atas dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara aktifitas dasar sehari dan jenis kelamin dengan kejadian depresi pada pasien stroke. Disarankan pada pihak RSSN agar dapat melibatkan keluarga pada setiap aktivitas yang dilakukan pasien stroke, seperti dalam pemenuhan ADL. Interaksi yang terjalin antara keluarga dan pasien stroke diharapkan dapat menurunkan angka kejadian depresi.