Hubungan Status kesadaran Gizi Keluarga dengan Status Gizi Batita di Wilayah Kerja Puskesmas Guguk panjang Kota Bukittinggi Tahun 2015
Categorie(s):
Skripsi
Author(s):
Nandani
Advisor:
Yenni
Femelia, Welly
Femelia, Welly
ISSN/ISBN:
-
eISSN/eISBN:
-
Keyword(s):
Status gizi, Batita.
DOI:
-
Abstract :
KADARZI adalah suatu keluarga yang mampu mengenal, mencegah dan mengatasi masalah gizi setiap anggotanya. Secara nasional, prevalensi status gizi berat-kurang pada tahun 2013 adalah 13,9 persen gizi kurang. Sumatera Barat pada tahun 2012 terdapat 5% batita gizi kurang. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan status kesadaran gizi keluarga dengan status gizi batita di wilayah kerja Puskesmas Guguk Panjang Kota Bukittinggi tahun 2015. Metode penelitian ini adalah deskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional. Dengan teknik pengampilan sampel menggunakan sistematik random sampling. Penelitian ini dilakukan pada bulan Januari 2015. Jumlah sampel penelitian sebanyak 93 sampel. Uji statistik adalah Chi Square.
Hasil penelitian didapatkan Responden yang melakukan penimbangan berat badan batita kurang baik 35 (37,6%), tidak memberikan ASI eksklusif sebanyak 28 (30,1%), konsumsi makanan kurang baik pada batita sebanyak 42 (45,2%), tidak menggunakan garam beryodium sebanyak 2(2,2%), tidak mengonsumsi suplemen vitamin A sebanyak 35 (37,6%) dan status gizi kurang sebanyak 14 (15,1%). Ada hubungan penimbangan berat badan, pemberian ASI eksklusif, konsumsi makanan, dan konsumsi suplemen vitamin A dengan status gizi batita. Tidak ada hubungan penggunaan garam beryodium dengan status gizi batita. Pada penimbangan berat badan nilai p=0,002 dan OR=8,403. Pada pemberian ASI eksklusif nilai p=0,005 dan OR=5,684. Pada konsumsi makanan nilai p=0,003 dan OR=9,800.Pada konsumsi suplemen vitamin Ap=0,002 dan OR=8,403. Pada penggunaan garam beryodium nilai p=1,000 dan OR=1,182. Berdasarkan hal di atas dapat disimpulkan bahwa ada hubungan status kesadaran gizi keluarga dengan status gizi batita di wilayah kerja Puskesmas Guguk Panjang Kota Bukittinggi tahun 2015. Diharapkan pada petugas kesehatan untuk mengadakan penyuluhan terutama mengenai kesadaran gizi keluarga.
Hasil penelitian didapatkan Responden yang melakukan penimbangan berat badan batita kurang baik 35 (37,6%), tidak memberikan ASI eksklusif sebanyak 28 (30,1%), konsumsi makanan kurang baik pada batita sebanyak 42 (45,2%), tidak menggunakan garam beryodium sebanyak 2(2,2%), tidak mengonsumsi suplemen vitamin A sebanyak 35 (37,6%) dan status gizi kurang sebanyak 14 (15,1%). Ada hubungan penimbangan berat badan, pemberian ASI eksklusif, konsumsi makanan, dan konsumsi suplemen vitamin A dengan status gizi batita. Tidak ada hubungan penggunaan garam beryodium dengan status gizi batita. Pada penimbangan berat badan nilai p=0,002 dan OR=8,403. Pada pemberian ASI eksklusif nilai p=0,005 dan OR=5,684. Pada konsumsi makanan nilai p=0,003 dan OR=9,800.Pada konsumsi suplemen vitamin Ap=0,002 dan OR=8,403. Pada penggunaan garam beryodium nilai p=1,000 dan OR=1,182. Berdasarkan hal di atas dapat disimpulkan bahwa ada hubungan status kesadaran gizi keluarga dengan status gizi batita di wilayah kerja Puskesmas Guguk Panjang Kota Bukittinggi tahun 2015. Diharapkan pada petugas kesehatan untuk mengadakan penyuluhan terutama mengenai kesadaran gizi keluarga.