Pengaruh Variasi Suhu Pengeringan Terhadap Mutu Simplisia Ramuan Obat Tradisional Dayak Penurun Tekanan Darah
- Penulis
- Melysha Suci Putri
- Pembimbing
- Oryza Sativa Fitriani
- Jenis repository
- Skripsi
- Tahun
- 2025
- Fakultas
- Fakultas Ilmu Kesehatan
- Program studi
- S1 Farmasi
- Metode penelitian
- —
- Jenis metode
- —
- Variabel
- —
- Sumber dana
- —
- Lokasi/wilayah penelitian
- — (Kota Bukittinggi, Sumatera Barat)
- Dipublikasikan
- 05 Februari 2026
Abstrak
Proses pengeringan merupakan tahap penting dalam pembuatan simplisia karena dapat memengaruhi kandungan senyawa aktif dan mutu simplisia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh variasi suhu pengeringan terhadap mutu simplisia ramuan obat tradisional Dayak penurun tekanan darah yang terdiri dari daun meniran (Phyllanthus niruri L.), daun ceplukan (Physalis angulata L.), daun kumis kucing (Orthosiphon aristatus), dan rimpang lempuyang emprit (Zingiber zerumbet L.). Simplisia dikeringkan menggunakan oven pada suhu 45°C, 50°C, dan 60°C, kemudian dilakukan uji standarisasi mutu berdasarkan parameter spesifik dan nonspesifik sesuai Farmakope Herbal Indonesia (2017) dan BPOM (2019). Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua suhu pengeringan menghasilkan simplisia yang memenuhi syarat mutu. Suhu 50°C dan 60°C memberikan hasil optimal ditinjau dari organoleptik, susut pengeringan, kadar air, kadar sari larut, kadar abu, kadar abu tidak larut asam, cemaran logam. Analisis ANOVA menunjukkan variasi suhu berpengaruh signifikan terhadap beberapa parameter (p Abstract (EN): The drying process is a crucial stage in the preparation of simplisia (dried medicinal plant materials), as it can affect the content of active compounds and overall quality. This study aims to determine the effect of drying temperature variations on the quality of simplisia made from a traditional Dayak herbal remedy used to lower blood pressure. The formulation consists of meniran leaves (Phyllanthus niruri L.), ceplukan leaves (Physalis angulata L.), cat's whiskers leaves (Orthosiphon aristatus), and lempuyang emprit rhizome (Zingiber zerumbet L.). The simplisia was dried in an oven at temperatures of 45°C, 50°C, and 60°C, then evaluated for quality based on specific and non-specific standardization parameters according to the Indonesian Herbal Pharmacopoeia (2017) and BPOM standards (2019). Results showed that simplisia dried at all tested temperatures met quality requirements. However, drying at 50°C and 60°C provided optimal outcomes in terms of organoleptic properties, drying loss, moisture content, soluble extract content, total ash content, acid-insoluble ash, and heavy metal contamination. ANOVA analysis indicated that temperature variation had a significant effect on several parameters (p