Pengaruh Hydrotheraphy Rendam Air Hangat Campur Garam Pada Kaki Ibu Hamil Dengan Hipertensi di Puskesmas Tanah Sepenggal Kabupaten Bungo Tahun 2024
- Penulis
- Sri Wahyuni
- Pembimbing
- VIsti Delvina
- Jenis repository
- Skripsi
- Tahun
- 2025
- Fakultas
- Fakultas Ilmu Kesehatan
- Program studi
- S1 Kebidanan
- Metode penelitian
- —
- Jenis metode
- —
- Variabel
- —
- Sumber dana
- —
- Lokasi/wilayah penelitian
- — (Jambi)
- Dipublikasikan
- 03 Februari 2026
Abstrak
Di Indonesia penyebab langsung kematian ibu terkait kehamilan dan persalinan masih didominasi oleh tiga penyebab utama yaitu perdarahan, infeksi, dan salah satunya hipertensi selama kehamilan. Dinas kesehatan Bungo tahun 2022 menyatakan 2 kasus kematian ibu dikarenakan eklampsia dan tahun 2023 ada kematian ibu sebanyak 7 orang dan salah satu penyebab kematian tersebut adalah eklampsia yang berhubungan dengan hipertensi pada kehamilan. Selain pemberian obat-obatan sebagai pengobatan Farmakologis salah satu tindakan Non Farmakologis yang dapat di lakukan dengan memberikan teknik hydrotherapy rendam kaki menggunakan air hangat untuk melancarkan peredaran darah serta air garam yang memiliki kemampuan mengaliri listrik dibandingkan dengan air tawar. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh hydrotherapy rendam air hangat campur garam terhadap penurunan tekanan darah pada ibu hamil dengan hipertensi. Metode penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain Posttest Only Control Design. Data dikumpulkan melalui observasi tekanan darah sebelum dan setelah intervensi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata tekanan darah sebelum intervensi adalah 148,90/96,00 mmHg, menurun menjadi 141,70/91,50 mmHg setelah intervensi. Analisis menggunakan Paired Sample T-Test menghasilkan nilai P < 0,001, hasil tersebut menunjukkan adanya pengaruh hydrotherapy rendam air hangat campur garam terhadap penurunan tekanan darah. Hasil ini mendukung bahwa hydrotherapy rendaman air hangat campur garam pada kaki ibu hamil dengan hipertensi merupakan metode nonfarmakologis yang cukup efektif untuk mengelola hipertensi kehamilan namun tidak untuk mengganti pengobatan secara Farmakologis (menggunakan obat-obatan). Bagi peneliti selanjutnya untuk lebih menelusuri terkait konsumsi obat ibu hamil selama kehamilan, menambahkan masa intervensi lebih dari tiga kali perlakuan agar mendapatkan ahsil yang lebih efektif lagi. Abstract (EN): In Indonesia, the direct causes of maternal death related to pregnancy and childbirth are still dominated by three main causes: hemorrhage, infection, and one of them being hypertension during pregnancy. The Bungo Health Office in 2022 reported two cases of maternal deaths due to eclampsia, and in 2023, there were seven maternal deaths, one of which was due to eclampsia related to hypertension during pregnancy. In addition to the use of pharmacological medications, one non-pharmacological treatment that can be done is hydrotherapy, which involves soaking the feet in warm water to improve blood circulation, along with saltwater, which has better electrical conductivity compared to freshwater. This study aims to analyze the effect of hydrotherapy using warm salt water soak on lowering blood pressure in pregnant women with hypertension. The research method used a quantitative approach with a Posttest Only Control Design. Data were collected by observing blood pressure before and after the intervention. The results of the study showed that the average blood pressure before the intervention was 148.90/96.00 mmHg, which decreased to 141.70/91.50 mmHg after the intervention. The analysis using Paired Sample T-Test yielded a P-value < 0.001, indicating that there was an effect of hydrotherapy using warm salt water soak on lowering blood pressure. These results support that hydrotherapy using warm salt water soak on the feet of pregnant women with hypertension is an effective non-pharmacological method to manage pregnancy-induced hypertension, but it is not a substitute for pharmacological treatment (medication). Future researchers are encouraged to further explore medication consumption during pregnancy and consider extending the intervention period beyond three treatments to achieve more effective results.