“Penetapan Kadar Asam Salisilat Pada Krim Anti Jerawat Yang Beredar Di Kabupaten Sarolangun Dengan Metode Spektrofotometri UV-Vis
- Penulis
- Zulianty Gusmi Adela
- Pembimbing
- Oryza Sativa Fitriani
- Jenis repository
- Skripsi
- Tahun
- 2025
- Fakultas
- Fakultas Ilmu Kesehatan
- Program studi
- S1 Farmasi
- Metode penelitian
- —
- Jenis metode
- —
- Variabel
- —
- Sumber dana
- —
- Lokasi/wilayah penelitian
- — (Kota Bukittinggi, Sumatera Barat)
- Dipublikasikan
- 05 Februari 2026
Abstrak
Asam salisilat merupakan salah satu bahan kimia obat yang sering ditambahkan didalam sediaan anti jerawat. Tujuan penelitian ini ialah untuk mengetahui kadar asam salisilat pada krim anti jerawat yang beredar di Kabupaten Sarolangun dengan metode Spektrofotometri UV-VIS. Sampel dalam penelitian ini sebanyak enam belas (16) produk krim anti jerawat yang beredar di Kabupaten Sarolangun. Teknik pengambilan sampel yang digunakan pada penelitian ini adalah Purposive sampling. Metode penelitian yang digunakan adalah uji warna dan Spektrofotometri UV-VIS. Hasil penelitian yang diperoleh dengan metode uji warna pada sampel 1, sampel 9, sampel 12, dan sampel 16 berwarna ungu. Sedangkan hasil penetapan kadar asam salisilat pada sampel 1 adalah 3,91 %; sampel 9 adalah 3,16 %; dan sampel 12 memiliki kadar tertinggi yaitu 4,50 %. Sementara itu, sampel 16 yang merupakan produk berizin BPOM memiliki kadar melebihi batas yang telah ditetapkan, yaitu 2,28 %. Maka dapat disimpulkan bahwa seluruh sampel tidak memenuhi ketentuan kadar maksimal yang ditetapkan BPOM. Abstract (EN): Salicylic acid is one of the active pharmaceutical ingredients commonly added to acne treatment formulations. The purpose of this study was to determine the salicylic acid content in acne creams circulating in Sarolangun Regency using the UV-VIS spectrophotometry method. A total of sixteen (16) acne cream products available in Sarolangun Regency were used as samples. The sampling technique applied was purposive sampling. The methods used in this research were color test and UV-VIS spectrophotometry. Based on the color test, samples 1, 9, 12, and 16 turned purple, indicating the presence of salicylic acid. The results of salicylic acid content determination were as follows: Sample 1: 3.91% Sample 9: 3.16% Sample 12 (highest concentration): 4.50% Sample 16 (a product registered with BPOM): 2.28%, which exceeds the maximum allowed limit. Conclusion: All tested samples did not meet the maximum salicylic acid content limit set by BPOM (Indonesian FDA), indicating non-compliance with regulatory standards.