Faktor –Faktor Yang Berhubungan Dengan Gangguan Pendengaran Pada Pekerja Bagian Produksi PT. Perkebunan Nusantara VI Pasaman Barat Tahun 2016
- Penulis
- Werlin Kasmia
- Pembimbing
- Silvia; Nurdin
- Jenis repository
- Skripsi
- Tahun
- 2017
- Fakultas
- Fakultas Ilmu Kesehatan
- Program studi
- S1 Kesehatan Masyarakat
- Metode penelitian
- —
- Jenis metode
- —
- Variabel
- —
- Sumber dana
- —
- Lokasi/wilayah penelitian
- —
- Dipublikasikan
- 07 April 2017
Abstrak
Gangguan pendengaran adalah suatu penyakit berkurang atau hilangnya fungsi pendengaran disalah satu atau kedua telinga. Gangguan pendengaran dibagi menjadi dua yaitu gangguan pendengaran yang bersifat sementara dan tetap. Pada tahun 2011 WHO menyatakan bahwa penderita gangguan pendengaran di seluruh dunia mencapai 222 juta jiwa. Indonesia merupakan salah satu dari empat negara di Asia Tenggara dengan prevalensi gangguan pendengaran cukup tinggi yaitu 4,6 %. Dari data kunjungan poliklinik PTPN VI, jumlah tenaga kerja yang menderita gangguan pendengaran pada tahun 2015 adalah sebanyak 17 orang (17,53%). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan gangguan pendengaran pada pekerja bagian produksi PT. Perkebunan Nusantara VI Pasaman Barat Tahun 2016. Penelitian ini merupakan jenis penelitian survey analitik menggunakan desain cross sectional. Pengambilan sampel menggunakan teknik total sampling dengan jumlah sampel sebanyak 97 orang. Penelitian telah dilakukan pada tanggal 25 Juli sampai 11 Agustus tahun 2016 di PT. Perkebunan Nusantara VI Pasaman Barat. Data yang terkumpul kemudian diolah secara univariat dan bivariat dengan memakai uji Chi-Square. Hasil penelitian ini menunjukkan ada hubungan antara masa kerja (p value = 0,022) dan pemakaian alat pelindung telinga (p value = 0,018) dengan gangguan pendengaran dan tidak ada hubungan pengetahuan (p value = 0,854) dengan gangguan pendengaran. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa masa kerja dan pemakaian APT memiliki hubungan dengan gangguan pendengaran. Perusahaan sebaiknya melakukan upaya pengendalian mulai dari pengendalian teknis, pengendalian administratif, penyediaan APD, maupun pengendalian lainnya untuk mengurangi terjadinya gangguan pendengaran. Abstract (EN): Hearing impairment is a diminished disease or loss of auditory function subjected to one or both ears. Hearing loss is divided into two hearing loss is temporary and fixed. In 2011 the WHO stated that hearing loss sufferers around the world reached 222 million. Indonesia is one of the four countries in Southeast Asia with prevalence of hearing loss is high 4.6%. From PTPN VI clinic visits data VI, the amount of labor that suffer from hearing impairment by 2015 is as many as 17 people (17,53%). This research is a type of analytic survey research using cross sectional design. Sampling using the technique of total sampling total sample with as many as 97 persons. Research has been conducted in 25 July - 11 August 2016 PT. Nusantara Plantation VI West Pasaman. The data collected are then processed in Univariate and bivariat using Chi-Square test. The results of this study showed no relationship between working period (p value = 0.022) and ear protectors tools usage (p value = 0.018) with hearing loss and no relationship of knowledge (p value = 0.854) and hearing loss. Based on the results of this research it can be concluded that the work and usage of APT has a relationship with hearing loss. The company should make an effort control ranging from technical control, administrative control, provision of personal protection, as well as other control to reduce the occurrence of hearing loss.