Determinan Pemberian Asi Ekslusif Di Wilayah Kerja Puskesmas Suliki Kabupaten Lima Puluh Kota Tahun 2024
- Penulis
- Rika Apriani
- Pembimbing
- Vitria Komala Sari
- Jenis repository
- Skripsi
- Tahun
- 2025
- Fakultas
- Fakultas Ilmu Kesehatan
- Program studi
- S1 Kebidanan
- Metode penelitian
- —
- Jenis metode
- —
- Variabel
- —
- Sumber dana
- —
- Lokasi/wilayah penelitian
- — (Sumatera Barat)
- Dipublikasikan
- 03 Februari 2026
Abstrak
Pemberian ASI eksklusif di dunia hanya mencapai angka 38%, padahal ASI ekslusif sangat penting dalam mencegah gangguan pertumbuhan dan perkembangan anak. Di Indonesia hanya 42% dari bayi yang berusia di bawah 6 bulan yang mendapatkan ASI eksklusif. Dari 22 puskesmas di Kabupaten Lima pulih Kota ,Puskesmas Suliki mengalami penurunan cakupan ASI Eksklusif sangat signifikan yaitu pada tahun 2022 sebesar 85,20% dan pada tahun 2023 mengalami penurunam menjadi 50,50%. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis determinan yang berhubungan dengan pemberian ASI eksklusif pada ibu dengan metode case control. Penelitian dilakukan dengan desain case control melibatkan 84 responden, terdiri dari 42 ibu yang memberikan ASI tidak eksklusif (kelompok kasus) dan 42 ibu yang memberikan ASI eksklusif (kelompok kontrol). Pengambilan data dilakukan melalui wawancara menggunakan kuesioner. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian ASI eksklusif dipengaruhi oleh paritas (p=0,000 OR 7,0), jarak kehamilan (p=0,043 OR 2,8), riwayat persalinan (p=0,000 OR 0,10), dukungan keluarga (p=0,000 OR 6,6), dan dukungan petugas kesehatan (p=0,000 OR 8,1). Ibu multipara, dengan jarak kehamilan lebih dari 2 tahun, riwayat persalinan pervagina, dukungan keluarga, serta dukungan petugas kesehatan memiliki peluang lebih besar untuk memberikan ASI eksklusif. Paritas, jarak kehamilan, riwayat persalinan, dukungan keluarga, dan dukungan petugas kesehatan merupakan determinan utama dalam pemberian ASI eksklusif. Diharapkan puskesmas dapat merencanakan konselor ASI khususnya bidan / SDM pengelola program IBU dan Anak dalam meningkatkan kualitas layanan. Abstract (EN): The global rate of exclusive breastfeeding only reaches 38%, while exclusive breastfeeding is crucial in preventing growth and developmental disorders in children. In Indonesia, only 42% of infants under 6 months of age receive exclusive breastfeeding. Out of the 22 community health centers in Lima Puluh Kota District, Suliki community Health Center has experienced a significant decrease in exclusive breastfeeding coverage, from 85.20% in 2022 to 50.50% in 2023. This study aims to analyze the determinants associated with exclusive breastfeeding among mothers using a case-control method. The research was conducted using a case-control design involving 84 respondents, consisting of 42 mothers who did not provide exclusive breastfeeding (case group) and 42 mothers who provided exclusive breastfeeding (control group). Data collection was conducted through interviews using questionnaires. The results show that exclusive breastfeeding is influenced by parity (p=0.000 OR 7.0), pregnancy interval (p=0.043 OR 2.8), birth history (p=0.000 OR 0.10), family support (p=0.000 OR 6.6), and health care worker support (p=0.000 OR 8.1). Multiparous mothers with a pregnancy interval of more than 2 years, a vaginal delivery history, family support, and health care worker support are more likely to provide exclusive breastfeeding. Parity, pregnancy interval, birth history, family support, and healthcare worker support are key determinants in exclusive breastfeeding. It is hoped that health centers can plan for breastfeeding counselors, particularly midwives or human resources managing maternal and child programs, to improve service quality.