Analisis Peran Lintas Sector dan Lintas Program dalam Penanganan Stunting di Wilayah Kerja Puskesmas Palembayan dan Puskesmas Koto Alam Kabupaten Agam 2025.
- Penulis
- Yelmita Juwarnis
- Pembimbing
- Evi Hasnita; Zainal Abidin
- Jenis repository
- Tesis
- Tahun
- 2025
- Fakultas
- Fakultas Ilmu Kesehatan
- Program studi
- S2 Kesehatan Masyarakat
- Metode penelitian
- —
- Jenis metode
- —
- Variabel
- —
- Sumber dana
- —
- Lokasi/wilayah penelitian
- — (Kabupaten Agam, Sumatera Barat)
- Dipublikasikan
- 03 Februari 2026
Abstrak
Prevalensi stunting di Indonesia sudah mengalami penurunan, namun berdasarkan kriteria WHO masih tergolong kategori tinggi (>20%). Walaupun pemerintah sudah berupaya maksimal, namun hasilnya belum optimal sesuai dengan yang diharapkan. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis peran lintas sector dan lintas program dalam penanganan stunting. Jenis penelitian Mixed Method dengan desain Sequential Explanatory. Tempat penelitian di wilayah kerja Puskesmas Palembayan dan Puskesmas Koto Alam pada bulan Agustus – September 2025. Populasi adalah seluruh orang tua yang memiliki balita stunting di wilayah kerja Puskesmas Palembaya dan Puskesmas Koto Alam, berjumlah 223 orang dengan pengambilan sampel secara total sampling. Informan terdiri dari kepala puskesmas, pemegang program KIA, pemegang program gizi, Bidan desa dan kader posyandu. Pengumpulan data menggunakan kuesioner dan wawancara mendalam kemudian diolah serta disajikan melalui tahap editing, coding, scoring, entry dan tabulating, serta reduksi data. Hasil penelitian didapatkan faktor penyebab stunting yaitu anemia (7,2 %), BBLR (7,2 %), infeksi penyakit (1,3 %), pendapatan rendah (75,8 %) dan faktor keturunan (16,6%). Sebanyak 52,0 % responden menyatakan peran lintas sektor pada kategori kurang baik dan 95,5 % menyatakan peran lintas program pada kategori baik. Ketersediaan input masih perlu upaya peningkatan agar intervensi bisa lebih optimal dan berkelanjutan. Proses penanganan stunting dimulai dengan perencanaan yang dilakukan secara terintegrasi dan komprehensif. Pada output masih terdapat tantangan seperti efektivitas penyuluhan, peran kader yang kurang, serta pemanfaatan teknologi digital belum optimal. Disimpulkan perlu peningkatan input, proses dan output dalam rangka optimalisasi penanganan stunting. Diharapkan pada dinas kesehatan agar memperkuat koordinasi lintas sektor dengan pemerintah desa, PKK, serta lembaga terkait. Abstract (EN): The prevalence of stunting in Indonesia has declined; however, based on WHO criteria, it still falls into the high category (>20%). Despite the government’s maximum efforts, the results have not yet been optimal as expected. The purpose of this study was to analyze the roles of cross-sector and cross- program collaborations in stunting management. This research employed a Mixed Methods approach with a Sequential Explanatory design. The study was conducted in the working areas of Palembayan and Koto Alam Health Centers from August to September 2025. The population consisted of all parents with stunted children under five in these areas, totaling 223 people, with samples taken using total sampling. Informants included the head of the health center, maternal and child health (MCH) program coordinators, nutrition program coordinators, village midwives, and posyandu cadres. Data collection was carried out using questionnaires and in-depth interviews, which were then processed and presented through the stages of editing, coding, scoring, entry, tabulating, and data reduction. The study found the causes of stunting to be anemia (7.2%), low birth weight (7.2%), infectious diseases (1.3%), low income (75.8%), and hereditary factors (16.6%). A total of 52.0% of respondents stated that cross-sector roles were in the poor category, while 95.5% stated that cross-program roles were in the good category. The availability of inputs still requires improvement to make interventions more optimal and sustainable. The stunting management process begins with integrated and comprehensive planning. At the output stage, challenges remain, such as the effectiveness of counseling, the limited role of health cadres, and the suboptimal use of digital technology. It is concluded that there is a need to improve inputs, processes, and outputs to optimize stunting management. The health office is expected to strengthen cross-sector coordination with village governments, Family Welfare Empowerment (PKK), and related institutions.