Analisis Integrasi Program Antar Lintas Sektor Dalam Percepatan Penurunan stunting Melalui Aksi Konvergensi Di Kota Solok.
- Penulis
- Sabria Octrina Juned
- Pembimbing
- Neila Sulung; Oktavianis
- Jenis repository
- Tesis
- Tahun
- 2025
- Fakultas
- Fakultas Ilmu Kesehatan
- Program studi
- S2 Kesehatan Masyarakat
- Metode penelitian
- —
- Jenis metode
- —
- Variabel
- —
- Sumber dana
- —
- Lokasi/wilayah penelitian
- — (Kota Solok, Sumatera Barat)
- Dipublikasikan
- 03 Februari 2026
Abstrak
Stunting masih menjadi masalah kesehatan gizi pada balita di seluruh dunia. Di Kota Solok, prevalensi stunting berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia tahun 2023 menurun dari 18,1% menjadi 16,3%, namun kembali meningkat menjadi 18,6%. Upaya tersebut membutuhkan keterlibatan multisektor dan sinkronisasi program. Namun, pelaksanaan aksi konvergensi lintas sektor masih belum optimal karena kurangnya koordinasi antar OPD dan adanya efisiensi anggaran. Penelitian ini menggunakan penelitian mix method dilakukan di Kota Solok pada bulan Juli-Agustus 2025. Sampel sebanyak 105 Ibu yang memiliki anak usia 6-23 bulan dan 14 informan dengan analisis Chi Square. Hasil analisis univariat distribusi frekuensi stunting 52,4%, ANC sesuai standar 77,1%, tidak ASI Ekslusif 54,3%, BBLR 54,3%, imunisasi lengkap 55,2%, sanitasi baik 88,6%, pendapatan keluarga tinggi 54,3%, usia ibu saat hamil tidak beresiko 62,9%, pola asuh tidak baik 50,5%. Analisis bivariat menunjukkan variabel yang berhubungan dengan kejadian stunting adalah riwayat ASI Ekslusif (OR = 2,617), riwayat BBLR (OR = 2,617), riwayat imunisasi (OR = 3,246), sanitasi lingkungan (OR = 5,333), pendapatan keluarga (OR = 2,957), usia ibu saat hamil (OR = 4,462), dan pola asuh (OR =3,111). Hasil wawancara diperoleh belum optimalnya integrasi lintas sektor dalam aksi konvergensi percepatan penurunan stunting karena adanya efisiensi pada tahun 2025, sehingga sasaran yang mendapatkan intervensi berkurang. Kesimpulan faktor paling berpengaruh terhadap kejadian stunting di Kota Solok adalah Riwayat ASI Ekslusif dengan P-value 0.000, OR 9,068. Harapannya agar Pemerintah membuatkan ruang laktasi dan dilakukan monitoring evaluasi terpadu lintas sektor untuk memastikan program berjalan sesuai target, dengan sistem data yang akurat dan terintegrasi. Abstract (EN): Stunting remains a nutritional health problem among toddlers worldwide. In Solok City, the prevalence of stunting based on the 2023 Indonesian Health Survey decreased from 18.1% to 16.3%, but then increased again to 18.6%. These efforts require multisectoral involvement and program synchronization. However, the implementation of cross-sectoral convergence actions is still not optimal due to a lack of coordination between regional government agencies and budget efficiency. This research used a mixed method approach conducted in Solok City during July-August 2025. A sample of 105 mothers who have children aged 6-23 months and 14 informants was analyzed using Chi Square analysis. The results of univariate analysis of the frequency distribution of stunting were 52.4%, ANC according to standards 77.1%, not exclusively breastfed 54.3%, LBW 54.3%, complete immunization 55.2%, good sanitation 88.6%, high family income 54.3%, mother's age during pregnancy not at risk 62.9%, poor parenting 50.5%. Bivariate analysis shows that the variables associated with stunting are a history of exclusive breastfeeding (OR = 2.617), a history of LBW (OR = 2.617), a history of immunization (OR = 3.246), environmental sanitation (OR = 5.333), family income (OR = 2.957), maternal age during pregnancy (OR = 4.462), and parenting practices (OR = 3.111). The interview results showed that cross-sector integration in convergence actions to accelerate stunting reduction was not optimal due to efficiency in 2025, resulting in a reduction in the number of targets receiving intervention. The conclusion is that the most influential factor affecting stunting in Solok City is a history of exclusive breastfeeding, with a P-value of 0.000 and an OR of 9.068. It is hoped that the government will provide lactation rooms and conduct integrated cross-sector monitoring and evaluation to ensure that the program runs according to its targets, with an accurate and integrated data system.