Logo Repository App UFDK Repository UFDK Universitas Fort De Kock
← Kembali
Analisis Determinan Penyebab Anemia Pada Remaja Putri Melalui Skrining Anemia Di...
Buka Dokumen (Google Drive)
Tesis 2025

Analisis Determinan Penyebab Anemia Pada Remaja Putri Melalui Skrining Anemia Di Kota Sungai Penuh Tahun 2025.

Penulis
Monalisa
Pembimbing
Nurhayati; Oktavianis
Jenis repository
Tesis
Tahun
2025
Fakultas
Fakultas Ilmu Kesehatan
Program studi
S2 Kesehatan Masyarakat
Metode penelitian
—
Jenis metode
—
Variabel
—
Sumber dana
—
Lokasi/wilayah penelitian
— (Jambi)
Dipublikasikan
03 Februari 2026

Abstrak

Salah satu masalah kesehatan yang menjadi beban pada remaja, khususnya remaja putri adalah anemia. Data kesehatan Kota Sungai penuh (2024) diperoleh remaja putri yang melakukan skrining 1013 orang (80,1%), dan teridentifikasi anemia 343 orang (33,8%). Tujuan penelitian mengetahui Determinan Penyebab Anemia Pada Remaja Putri Melalui Skrining Anemia Di Kota Sungai Penuh. Metode penelitian mixed method. Penelitian dilaksanakan Mei – Juli 2025. Populasi siswi SMA 702 siswi. Sampel dengan simple random sampling 88 siswi. Desain penelitian kuantitatif pendekatan crossectionalstudy. Pengumpulan data dengan observasi. Kualitatif dengan indepth interview. Informan berjumlah 20. Analisa data univariate, bivariate uji chisquare-test. Multivariat menggunakan uji regresi logistik. Pengolahan data kualitatif menggunakan proses reduksi data, penyajian data, menafsirkan data serta analisa dengan triangulasi data. Hasil penelitian univariate (53,4%) mengalami anemia, 54 (61,4%) pengetahuan tinggi. 57 (64,8%) lama menstruasi yang tidak berisiko. 59 (67%) memiliki pola makan yang sesuai. 64 (72,7%) memiliki pola tidur yang baik. 55 (62,5%) memiliki IMT normal. 51 (58%) responden penghasilan orang tua remaja putri sudah diatas UMR. 54 (61,4%) mendapat dukungan orang tua. 48 (54,5%) mendapat dukungan guru. 57 (64,8%) peran tenaga kesehatan sudah baik. Analisa bivariate variabel yang paling berhubungan yaitu pengetahuan (0,005), dukungan orang tua (0,005), pola makan (0,006), lama menstruasi (0,024), dan peran petugas kesehatan (0,027). Kemudian untuk analisa multivariate diperoleh nilai Rsquare = 0,494 artinya semua variabel mempengaruhi kejadian anemia sebesar 49,4%. Dari nilai OR paling besar yaitu variabel lama menstruasi yang paling mempengaruhi kejadian anemia remaja OR yaitu 4,773. Hasil kualitatif diperoleh pelaksanaan skrining anemia pada remaja putri di Kota Sungai Penuh masih belum mencapai cakupan maksimal. Umumnya pemeriksaan Hb hanya dilakukan pada siswi kelas X (SMA) , dan belum menyeluruh ke semua kelas. Hal ini disebabkan oleh keterbatasan alat, tenaga, dan waktu. Meskipun ada yang menyebut kegiatan sudah sesuai sasaran, sebagian besar menyatakan cakupan masih rendah, berkisar 60–70%, bahkan ada sekolah yang belum pernah dilakukan pemeriksaan. Diharapkan kepada Remaja putri diharapkan aktif mencari informasi tentang penyebab, gejala, dan dampak anemia, serta cara pencegahannya, terutama melalui media edukatif atau konsultasi dengan petugas kesehatan sekolah maupun Puskesmas. Abstract (EN): One of the health problems that burdens adolescents, especially young women, is anemia. Health data from Sungai Penuh City (2024) obtained from 1,013 adolescent girls (80.1%) who underwent screening, identified anemia in 343 (33.8%). The purpose of this study was to determine the determinants of anemia in adolescent girls through anemia screening in Sungai Penuh City. The research method was mixed methods. The study was conducted from May to July 2025. The population was 702 high schoolstudents. The sample size was 88 students using simple random sampling. The quantitative research design used a cross-sectional study approach. Data collection was conducted through observation. Qualitative data collection was conducted through in-depth interviews. There were 20 informants. Data analysis used univariate and bivariate chi-square tests. Multivariate data analysis used logistic regression. Qualitative data processing used data reduction, data presentation, data interpretation, and analysis using data triangulation. The results of the study showed that univariate (53.4%) had anemia, 54 (61.4%) had high knowledge. 57 (64.8%) had a non-risky menstrual period. 59 (67%) had a proper diet. 64 (72.7%) had a good sleep pattern. 55 (62.5%) had a normal BMI. 51 (58%) of the respondents' parents' income was above the minimum wage. 54 (61.4%) received parental support. 48 (54.5%) received teacher support. 57 (64.8%) had a good role of health workers. Bivariate analysis of the most related variables were knowledge (0.005), parental support (0.005), diet (0.006), menstrual period (0.024), and the role of health workers (0.027). Then, for multivariate analysis, the Rsquare value was obtained = 0.494, meaning that all variables influenced the incidence of anemia by 49.4%. The highest OR value is the menstrual duration variable, which most influences the incidence of anemia in adolescents (OR 4.773). Qualitative results show that the implementation of anemia screening in adolescent girls in Sungai Penuh City has not yet achieved maximum coverage. Generally, Hb testing is only carried out on 10th grade (high school) female students, and not all classes. This is due to limited equipment, personnel, and time. Although some say the activity has met its target, most state that coverage is still low, ranging from 60–70%. Some schools have even never had screenings. It is hoped that adolescent girls will actively seek information about the causes, symptoms, and impacts of anemia, as well as how to prevent it, especially through educational media or consultations with school health workers or community health centers.

Kata Kunci

Anemia Remaja Putri Skrining